Part 1 of 2 | The Lost Talent | 501 (Protector Vampire School) series

Details:

–          Title             : 501 (Protector Vampire School) Bakat yang hilang

–          Genre          : Fantasy, Schoolship, Friendship

–          Category    : Fanfiction, Twoshoot, Series

–          Author       : Zusli a.k.a Shin Sung Young

–          Casts :

  • Sung Young aka ??
  • Hyo Jin aka Earthbender
  • Young Saeng aka Waterbender
  • Hyun Joong aka Swordbender
  • Kyu Jong aka Firebender
  • Hyung Jun aka Airbender
  • Jung Min aka Earthbender
  • Other  casts…

 

Thanks to God, Casts, and Readers^^

Happy Reading~

 

©2014 zuSaeng501

 

 

 

*501*

 

            Terlahir sebagai sesosok vampire didunia fana yang dipenuhi manusia sebenarnya tidak terlalu buruk seperti yangdianggap kebanyakan orang. Tinggal bagaimana caranya kau membaur dan menyikapimakhluk yang sudah menjadi rahasia umum sebagai makanan vampire. Berkat didikandari Appa, aku bisa membaur bersama manusia dengan sangat baik walau tetapharus menutupi jati diri yang sebenarnya bahwa aku adalah sesosok vampire.

            Manusia memang sangat menggiurkan, tapi aku diajari untuktidak menyantap mereka secara langsung dengan menggigit leher seperti yang bisadilihat di film-film manusia kebanyakan. Itu sangat menjijikkan, aku lebih sukajika darah manusia sudah dikemas dalam kantong darah dan disajikan dengan gelasatau cangkir minum. Aneh memang, terkesan lebih manusiawi. Tapi itulah kami, aku dan nae appa. Mungkinitu semua karena pengaruh nae eomma yang notabenenya adalah manusia.

            Yah, appa yang seleranya aneh menikah dengan manusia  dan manusia itu menlahirkan aku, vampireberdarah campuran. Sayang sekali eomma sudah meninggal begitu melahirkanmonster sepertiku. Tapi sampai saat ini aku terus meyakinkan diriku bahwa akubukan monster, untuk itulah kuturuti semua pengajaran appa tentang bagaimanamenyikapi manusia, mengabaikan insting liar vampire yang sudah mendarah dagingdan tak tertahankan.

 

            Kisah ini tidak akan menceritakanmasa laluku secara mendetail. Kisah ini berisi rahasia kekuatan vampire yang hanya bisa diketahui melalui sekolah vampire. Itulah yang akan kuceritakan, mengenaibagaimana aku bisa masuk ke sekolah itu dan mengetahui kejutan tak terduga tentangsiapa diriku sebenarnya dan kekuatan apa yang selama ini tak kuketahui.

            Semua itu berawal ketika Appa pulangdari kepergiannya yang sudah 1 minggu dalam keadaan yang mencemaskan. Tubuhnyabersimbah darahnya sendiri, yah vampire seperti kami mempunyai darah dari hasilmakanan. Berhari-hari aku merawat lukanya yang semakin parah. Appa bilang lukaini didapatnya ketika melawan vampire liar jahat waktu perjalanan dari Jakarta,sebuah kota yang terletak di Negara bernama Indonesia. Negara yang mengagumkanmenurutku, tempat kelahiranku karena eomma tinggal di Indonesia, sementara appaadalah vampire dari Korea Selatan. Itulah mengapa aku bisa berbahasa korea.

 

            “Anakku, mianhae. Kau harusmelanjutkan hidupmu secara mandiri tanpa bantuan Appa lagi. Luka ini akanmerenggutku dari keabadian sosok vampire,” dia mengambil secarik kertas untukdiberikan padaku,”Pergilah ke Korea Selatan, dan temukan satu-satunya sekolahvampire di Seoul. Alamat ini akan membawamu ke sana. Gunakan saja transportasimanusia dan jika mau kau bisa menggunakan nama Koreamu. Pergilah,”

            Aku sudah menduga jauh-jauh haribahwa ajal sebentar lagi akan merenggut keabadian Appa, mengingat luka-lukanyasemakin parah. Tapi aku masih tidak mengerti kenapa Appa menyuruhku untuk keluar negeri dan bersekolah. Dia juga memberiku catatan kehidupannya yang sudahmenguning.

            “Ini untukku?”

            “Ne, mian hanya ini yang bisakuwariskan. Aku tahu ini tidak berarti apa-apa untukmu, tapi maukah kau menjagacatatanku? Agar kau bisa mengingat aksi-aksi ‘baik’ yang bisa kau pelajari. Kaubisa membacanya begitu siap. Dan berjanjilah untuk tidak memperlihatkannya padasiapa-siapa kecuali seseorang yang benar-benar kau percaya.”

            Rasanya catatan ini bertambah beratdalam cengkraman tanganku. Aku tahu catatan ini penting dan berisi petualanganAppa yang akan membuatku tahu apa yang membuat appa seperti ini. Matakuperlahan memanas, tapi tak ada air mata yang keluar. Beberapa hari ini akusudah banyak menangis, semenjak appa sakit.

            “Tidak bisakah aku di Indonesiaterus?” tanyaku serak.

            “Anieyo, kau perlu pelajarantambahan mengenai vampire dan aku sangat berharap kau menjadi vampire yang‘baik’, jhagi. Indonesia sudah tidak aman, manusia-manusia di sekitarmu sudah mulaicuriga. Mereka tidak biasa menerima kehadiran vampire. Pergilah sesegeramungkin, jhagiya,”

            Aku masih belum memahami sepenuhnyaapa yang dimaksudkan Appa. Sebelum aku bertanya lebih lanjut, tiba-tiba citraAppa yang jelas secara perlahan mengabur lalu tubuhnya yang kekar dan padatmenguap menjadi gas. Tidak sampai 5 detik sosok Appa, keluargaku satu-satunyalenyap. Proses kematian vampire benar-benar sangat cepat. Sampai saat ini airmataku tidak mau keluar. Ternyata aku benar-benar sudah siap  menerima kepergian Appa walau terasa sangatmenyedihkan bahkan untuk ukuran makhluk berdarah dingin sepertiku.

           

            Berawal dari situ lah, aku sekarang berhasil sampai diSeoul, Korea Selatan. Kupandangi terus alamat yang tertera di secarik kertaspemberian Appa. Kupikir akan sangat sulit menemukan sekolah vampire di kotabesar yang dipadati manusia-manusia. Tapi ternyata di sepanjang jalan Seouldipasangi poster-poster dan baliho bertuliskan “501 (Protector Vampire School).Sekolah vampire terbesar di Korea untuk vampire-vampire baik pelindung manusia”

            Kuikuti saja poster-poster itu danbenar saja, tidak lama kemudian aku bisa melihat siluet menara-menara danbenteng-benteng dari batu yang dibangun sangat tinggi guna  mengelilingi bangunan besar di dalamnya. Anehsekali, tempat ini berada tepat di pusat kota, di mana manusia-manusia hilirmudik dengan cueknya, seolah bangunan itu sudah menjadi hal biasa di sana.Tanpa sadar aku menganga saking terpesonanya dengan bangunan yang hampir miripdengan kastil dalam film Harry Potter, namun lebih kecil dan hanya punya 4menara.

            Kulangkahkan kakiku semakin dekat kegerbang besi besar yang menghalangi pandanganku untuk melihat ke dalam benteng.Lambang bintang besar yang bersinar-sinar terpahat di puncak gerbang. Bintangdengan lima sudut itu masing-masing bergambar symbol aneh yang tidak kuketahuiartinya. Satu-satunya yang kutahu adalah tulisan 501 pada lingkaran yangtergambar di tengah-tengah bintang. Kutebak itu adalah nama sekolahnya.

            “Ada yang bisa kubantu, agashi?”sapa seorang namja yang muncul dari pos kecil di depan gerbang. Matanyaberwarna merah sama seperti punyaku. Pasti dia vampire penjaga gerbang.

            “Aku ingin mendaftar di sini,bagaimana caranya?”

            Dia memandangiku dari atas ke bawah,membuat risih. Aku hanya mengernyit saat namja itu tersenyum penuh arti.

            “Tentu saja kau harus menemui gyojang(headmaster).Tapi sebelum kau masuk ke gerbang, aku harus memastikan bahwa kau bukanpenyusup.”

            Namja itu mengeluarkan alat-alatyang akan digunakan untuk membuktikan bahwa aku bukan penyusup. Nampaknya diatidak yakin bahwa aku adalah vampire asli. Dia mengecek mataku dengan alatseperti barcode scanner yang biasa dijumpai di minimarket. Sinarnya yang silaumembuatku mengerjap-ngerjapkan mata untuk beberapa saat. Dia juga mengeceksidik jariku, denyut jantungku, dan lain-lainnya.

            “Pure 100%, silakan masuk, cantik,”katanya sambil mengerling.

            Menyebalkan. Aku buru-buru menyeretkoperku dan  melangkah masuk ke gerbangyang sudah terbuka. Aku semakin tercengang melihat pemandangan di balik tembok.Kastil atau bangunan apapun itu terlihat lebih mengagumkan jika dilihat daritempatku berdiri. Jendela-jendela kastil berkelap-kelip karena cahaya yang adadi dalam. Halamannya sangat luas dan hijau. Banyak taman dan kolam terhampar disana.

            Hiruk-pikuk dan suara dentingan besilangsung menyambutku. Halaman ini dipenuhi oleh makhluk-makhluk berkulit pucatyang tengah melakukan segenap aktivitas seperti yang dilakukan manusia saatberada di sekolah. Ada yang asik membaca di bangku taman, ada yang menggeromboldi rumput sambil berbincang, dan ada yang sedang asik menikmati minum minumanwarna merah (yang kuyakin itu sejenis darah) sambil bercanda denganteman-temannya. Semua terlihat sangat senang.

            Tapi yang membuatku tertarik adalah aktivitasyang sedang dilakukan oleh kira-kira selusin vampire dan satu vampire yangkuduga sebagai instruktur atau semacam seonsaeng (guru). Masing-masing membawa2 pedang perak sepanjang setengah meter dan melakukan gerakan-gerakan yangdicontohkan oleh namja vampire berperawakan kekar, tinggi, dan pastinya sangattampan itu. Dia terlihat terlalu muda untuk menjadi seorang seonsaeng. Yah,sebagian vampire terutama yang berdarah murni akan berhenti tumbuh di usia 20th.

            Setelah puas melihat, kuputuskanuntuk segera melanjutkan perjalanan menuju kantor gyojang yang tidak kuketahuitempatnya. Tiba-tiba kelompok vampire yang sedang berlatih pedang itu berhentibegitu aku lewat di depan mereka. Tatapan mata mereka membuatku risih. Taksedikit dari mereka menggumamkan kata ‘yeppeo’, ‘kyeopta’, ‘kawaii’ dansebagainya. Apakah aku secantik itu? Hehe. Mereka baru tersadar begitu dibentakoleh seonsaeng kekar tadi. Namja itu menatapku tajam dengan mata hitamnya,seolah menyuruhku untuk segera pergi dari hadapannnya.

            Ternyata tidak hanya kelompok ituyang memandangiku. Semua vampire yang ada di halaman mengarahkan tatapanmatanya padaku sambil menggumamkan kata-kata yang sama, terlebih vampire namja.Aish, aku seolah-seolah ditelanjangi oleh tatapan aneh mereka. Yeoja-yeoja jugamenatapku, tapi kesannya seperti iri.

            “Hola, cantik!” seru vampire diantara kerumunan.

            Kucoba untuk tidak mempedulikannya.Ah, kenapa jalan setapak ini sangat panjang. Aku harus menemukan seseorang yangbisa kutanyai tentang ruangan gyojang. Namja-namja itu pasti mau mengantarku kesana, tapi aku sangat malas bertanya pada mereka jika ditatap seperti itu. Laluaku melihat seorang namja berambut hitam tengah membaca buku sendirian di bawahlampu taman di ujung jalan setapak. Dia memakai kaos hijau muda dengan tulisan501 warna merah darah di dadanya seperti kaos yang dipakai semua vampire disini. Dia satu-satunya vampire yang mengabaikanku. Itu bagus, aku harusbertanya padanya.

            “Annyeong!” sapaku begitu sampai didepannya. Kulihat vampire-vampire lain sedikit terkejut melihatku mendekatinamja ini.

            Namja yang kusapa menghentikanaktivitas membacanya lalu mendongak menatapku tanpa membalas sapaanku. Ouh, dianamja yang tampan. Aku tahu sebagian besar vampire memang mendekati sempurna.Tapi dia…

            “Em, aku vampire baru. Bisakah kaumemberitahuku ruangan gyojang?”

            Cuping hidungnya sedikitkembang-kempis, seolah membaui sesuatu. Aku sempat khawatir perjalanan panjangtadi membuatku bau. Dia masih menatapku tajam dengan mata ungunya yangberpendar aneh. Seharusnya aku takut ditatap seperti itu tapi yang kurakanjustru jantungku berdebar cepat dan perutku langsung melilit.

            “Anieyo,” jawabnya singkat lalumelanjutkan membaca.

            Aku sempat ingin mengatakan sesuatutapi suara seorang namja lain menginterupsi.

            “Ya! Young Saeng, di mana sopansantunmu?” seorang vampire berambut coklat duduk di sebelah namja dingin yangkutanyai tadi. Yah, satu lagi vampire tampan.

            “Diamlah, Kyu!”

            “Maafkan dia, ne? Oh, aku dengarkamu mencari kantor gyojang?” tanya namja yang dipanggil Kyu tadi sambiltersenyum. Dia sepertiya namja yang ramah. Walau iris matanya berwarna putihmenyeramkan, sehingga hanya pupil hitam kecil yang terlihat di sana tapitatapannya justru tampak hangat dan tidak seperti menelanjangiku.

            “N..ne, bisakah Anda menunjukkannyapadaku?”

            “Haha, panggil saja aku Kyu Jong.Nah, ayo ikut aku,”

            Kutatap Young Saeng sekali lagi,namun dia tidak sadar dan masih asik membaca. Lalu aku cepat-cepat menyusul Kyuyang sudah berjalan mendahului.

           

            Kami berjalan sepanjang koridor yanghanya diterangi obor-obor yang dipasang berderet-deret di tembok batu. Tempatini benar-benar mengingatkanku pada kastil Hogwarts di film Harry Potter, hanyasaja lebih gelap sedikit. Seperti vampire-vampire di halaman, semua vampireyang kulewati di koridor juga menatapku sambil sesekali tersenyum jahil. Akuberusaha mengabaikan tatapan mereka dengan memperhatikan tengkuk Kyu Jong yangditulisi angka 501. Bukan ditulisi, tengkuk Kyu seperti dicap dengan besi panasyang berbentuk 501.

            “Jadi, ireumi mwoyo?” tanya Kyumemecah keheningan.

            Aku buru-buru mengalihkanpandanganku dari tengkuknya,”Sung Young imnida,”

            Aku ingin menanyakan luka itupadanya, tapi sepertinya tidak sopan jika tiba-tiba bertanya pada vampire asingyang baru saja dikenal. Kyu seperti ingin mengatakan sesuatu tapi dua vampirejangkung yang mendekati kami membuatnya tidak jadi membuka mulut.

            “Woah! Siapa yeppeo yeoja ini?”sekali melihat vampire ini, aku langsung tidak menyukainya karena tatapannyalebih liar dari vampire namja lainnya. Dia hanya menyeringai saat kutataptajam.

            “Kenapa kau tidak bilang-bilangkalau punya yeojachingu, Kyu?” kata vampire yang satunya sambil cengengesanseperti orang bodoh.  

            “Yeoja ini vampire baru. Tentu sajadia bukan yeojachinguku.”

            “Alah, kau pasti tidak beranimenyatakan perasaanmu padanya. Aku bisa membantumu,” vampire babo itu merangkulKyu sambil mengangkat kedua alisnya penuh arti. Sok tahu benar dia.

            “Anieyo, gomawo Jung Min-ah. Kamisedang buru-buru ke kantor Andy Gyojang. Kkaja Sung Young,”

            Vampire berkulit pucat, bahkan lebihpucat dari vampire kebanyakan itu masih saja menatapku mesum dengan matahijaunya saat aku berlalu melewatinya. Aku hanya bisa melakukan satu hal yangsedari tadi sudah kucoba, mengabaikan. Sebenarnya dua vampire ini super tampan.Tapi sayang sekali yang satu mesum dan yang satu lagi babo.

            Aku dan Kyu Jong terus berjalanmenyusuri lorong demi lorong, menaiki tangga demi tangga, dan akhirnyasampailah kami di tingkat paling atas gedung utama itu. Tingkat atas hanyaberisi lorong panjang dan dua pintu yang saling berhadapan. Pintu gandaberwarna kehijauan di sebelah kiri bertuliskan ‘Seonsaeng’ pada papan kayunyasementara pintu di seblah kanan yang berwarna kemerahan bertuliskan ‘Gyojang’.

            “Silakan masuk, Sung Young. Mianhae,aku tidak bisa menunggumu,”

            “Tidak perlu Kyu. Gomawoyo sudah maumengantarku,” dia tersenyum sekilas sebelum pergi.

            Aku merasa gugup sekarang. Selamabeberapa detik aku hanya berdiri diam di depan pintu. Aku belum pernahmembayangkan sosok kepala sekolah vampire sebelumnya. Semoga dia  tidak menyeramkan. Akhirnya tangankuterangkat untuk mengetuk pintu kayu besar itu. Tapi sebelum kuketuk, pintu itusudah terbuka lebih dahulu.

            “Kenapa berdiri lama di luar?Masuklah,” kata suara berat dari dalam.

            Aku menjadi merasa semakin gugupsaat melangkah kedalam. Selama beberapa detik aku hanya memandangi ruanganberbentuk segilima ini. Interior dan barang-barang yang ada di dalam tampakkalasik. Tembok-temboknya dipenuhi lukisan, symbol-symbol sekolah yangberbentuk bintang, dan pedang-pedang entah itu hiasan atau asli. Ruangan inisangat hangat berkat perapian yang menyala terang. Di sebelah perapian adaakuarium besar berisi ikan…piranha?. Di tembok atas akuarium ada tirai merahyang menyembunyikan sebuah lukisan di baliknya. Aku tahu itu lukisan karenabingkai emasnya sedikit terlihat. Lantai ruangan ini dilapisi karpet-karpettebal berwarna merah yang sesuai dengan batu tembok dan pintu yang kemerahan.

            Setelah puas mengamati ruangan itu,mataku tertuju pada sebuah meja kayu besar yang di letakkan persis berhadapandengan pintu. Di baliknya ada seorang namja yang tengah duduk. Itukah AndyGyojang? Ternyata dia masih muda dan yang paling penting sangat tampan. Pastidia vampire murni yang berhenti tumbuh saat umur 20 th. Tapi aku yakin diasudah hidup lebih dari 20 th. Dari wajahnya jelas tersirat kewibawaan,kebijaksanaan, dan pengalaman hidup yang membuatnya tampak lebih tua dariseharusnya.

            “Penjagaku jelas sudah memberitahukutentang kedatangan vampire yeoja baru,” dia berdiri dan berjalan ke depan meja,menghadapku,”Nuguseyo?”

            “Jo neun Sung Young imnida,”

            “Teruskan, ceritakan tentangdirimu,”

            “Saya vampire dari Indonesia. Naeeomma orang Indonesia, namanya Alice. Dia..dia manusia. Tapi nae appa vampiredari Korea Selatan, namanya Jasper. Eomma sudah meninggal ketika aku masihkecil dan appa menyusul belum lama ini. Dia menyuruhku untuk mandiri danmempelajari kehidupan vampire lebih baik dengan bersekolah di sini,”

            Selama aku bercerita Andy Gyojanghanya mengangguk-angguk paham dan mengamatiku penuh minat,” Menarik sekali,vampire berdarah campuran. Belum ada hagsaeng berdarah campuran di sini. Berapaumurmu?”

            “Saya baru hidup selama 18 tahunini,”

            “Dan bakatmu?”

            “Mian?” aku mencengkram koperku kuatsaat beliau menatapku penuh selidik.

            “Bakat, keahlian. Semua vampirepunya itu, yah walau ada beberapa pengecualian,”

            “Mianhae, gyojang, tapi sayabenar-benar tidak mengerti,”

            “Geurae, perhatikan symbol itu, SungYoung-shi,” jarinya menunjuk symbol sekolah yang berbentuk bintang,”Sekolahvampire ini dibentuk bukan tanpa tujuan atau hanya untuk mengisi sebagian hidupabadi vampire. Sekolah ini jelas mempunyai tujuan yaitu seperti yang tertulisdi bawah symbol bintang itu. ‘Protector Vampire School’ atau yang berartiSekolah bagi Vampire Pelindung,”

            “Apa yang kita lindungi?”

            Andy Gyojang tersenyum,”Manusia.Kita melindungi manusia. Kita tidak memangsa mereka dengan menggigit bagiantubuh manusia seperti yang bisa disaksikan di film-film aneh buatan manusia.Kau pasti tahu itu kan?” Aku mengangguk. Wah, pola pikir beliau sama persisdengan appa. Bertahun-tahun aku sudah menerapkan itu, seperti yang kusebutkandi awal tadi.

            “Melindungi manusia dari apa?” akutidak tahan untuk tidak bertanya. Tampaknya beliau justru senang aku terusbertanya.

            “Tentunya kau tidak berpikir semuavampire itu ‘baik’ kan? Nah, sebenarya manusia-manusia itu benar mengenai filmitu, bahwa memang ada vampire yang mengigit leher manusia untuk mendapatkansantapan. Tugas kitalah melindungi mereka dari vampire yang seperti itu. Kamisudah bekerjasama dan meyakinkan para manusia bahwa jenis kami yang ada disekolah ini tidak akan berbuat seperti itu, justru akan melindungi mereka. Kamihanya minum darah manusia yang diberikan dengan sukarela atau yang sudahdikemas. Mereka baik sekali sesekali mau menyumbang darah untuk kami,”

            Aku mengangguk-angguk sekilas,“Tapigyojang, saya masih belum mengerti mengenai bakat yang Anda katakan tadi,”

            “Nah, sabar sedikit. Kita sekarangmenuju kesana…” Perkataan Andy Gyojang terhenti saat mendengar ketukan daripintu.

            Seorang yeoja cantik  berambut pendek masuk begitu beliaumempersilakan. Dia menatapku sejenak sebelum berkata pada Andy Gyojang,”Andasudah ditunggu di lantai 2,”

            “Ah, benar, aku lupa pertemuanmembosankan itu. Mianhae Sung Young-shi, kau bisa bertanya pada Hyo Jin-shimengenai pembicaraan kita. Dia ramah dan pintar,” yeoja tadi hanya menunduk,wajahnya merona,”Cepat atau lambat kita semua akan mengetahui bakatterpendammu. Setelah kau tahu, temuilah aku di sini, kita akan melaksanakanupacara penerimaanmu sebagai hagsaeng(student). Selamat belajar!”

            Lalu aku dan Hyo Jin sama-samakeluar ruangan bersama Andy Gyojang. Tapi beliau lebih dulu menghilang saatmenuruni tangga dengan buru-buru. Aku menoleh pada yeoja bernama Hyo Jin tadi,ternyata dia terus memandangiku tanpa berkedip. Bahkan saat aku memergokinyatengah memandangku, dia tidak mengalihkan matanya. Tapi tatapannya itu jelasbukan tatapan mesum. Dia hanya penasaran.

            “Jadi, kau vampire baru yang terusdibicarakan itu ne?” tanyanya.

            “Terus dibicarakan? Aku baru datangkemari 30 menit yang lalu,” dengusku.

            “Haha, ternyata begitu,” aku tidakmengerti apanya yang lucu,”Vampire-vampire di sini memang berlebihan, ne.Terutama yang namja, lihat yang cantik saja langsung berkoar-koar. Abaikan sajakalau kau tidak suka. Oiya, Hyo Jin imnida, yah kau pasti sudah tahu namaku danaku sudah tahu namamu, tapi untuk formalitas saja,”

            Astaga, yeoja ini cerewet. Tapisepertinya dia cerdas dan menyenangkan,” Sung Young imnida,” untung sebuahsenyuman berhasil tersungging di bibirku.

            “Nah, Sung Young, apakah kamu mauberkeliling?”

            “Yah, ide yang bagus. Sekalianberitahu aku tentang bakat-bakat vampire di sini,”

            Hyo Jin tampak bersemangat sekali,kelewat semangat malah. Pasti bercerita ataupun menjelaskan adalah sesuatu yangsangat digemarinya. Hm, sudah jelas sih sebenarnya. Dia menyuruhku untukmenitipkan barang-barangku sebentar agar kami bisa bebas berkeliling sekolah.

           

            “Jadi begini, chingu, seperti yangbisa kau lihat dari symbol sekolah. Symbol bintang itu dibagi menjadi 5 bagiankarena bakat yang ada pada vampire di sini ada lima. Tentu saja masing-masingvampire hanya mempunyai satu bakat.” Tiba-tiba Hyo Jin memelankansuaranya,”Kecuali Andy Gyojang. Dia bisa menguasai kelimanya. Tapi selain itukita juga punya bakat kedua atau yang disebut next level, kelanjutan dari bakatyang kita miliki,”

            Aku tidak mengatakan apa-apa, makadia melanjutkan,”Bakat yang dimaksud adalah bakat untuk mengendalikanunsur-unsur tertentu. Bakat pertama yang paling kuno, tapi anehnya hanyasedikit muridnya adalah pengendalian air. Next level mereka adalah pengendaliandarah, menyeramkan sekali.”

            Kami tiba di depan sebuah pintubesar bercat biru. Pintu itu diukir huruf W dan symbol air seperti yang ada dibintang. Di atasnya terdapat papan bertuliskan ‘Hanyutkan Kebodohanmu – BersamaLeeteuk Seonsaeng’. Hyo Jin menyuruhku melihat ke dalam melalui jendela kecildi dekat pintu. Aku hanya menganga melihat ruangan itu tidak seperti ruangkelas yang kubayangkan. Di dalamnya terdapat kolam renang yang mengisisepertiga ruangan besar itu. Kolam itu pasti lebih dari 2 meter kedalamannya.Aku tidak bisa melihat apa-apa lagi karena jendela ini sangat kecil, bahkanmenurutku tidak seperti jendela, hanya fentilasi. Tidak ada orang di dalamnya.

            “Sepi sekali,”

            “Tentu saja, ini jam 12 malam SungYoung, waktunya istirahat. Sebagian besar vampire menghabiskan waktu di luarruangan saat istirahat. Mereka tidak mau menyia-nyiakan kesempatan karenasebagian besar waktu kami dihabiskan di dalam ruangan. Terlebih saat sianghari, huh, kami dipaksa tidur seharian,”

            “Geurae, ayo kita lanjutkanjalan-jalannya,”

            “Sekalian saja ya kita di lantaisatu. Lorong kiri itu menuju kantin sekolah, tapi kita tidak kesana, kitamenuju bakat berikutnya yaitu pengendalian bumi atau tanah,” Kami berjalanmemasuki lorong sebelah kanan yang menurun dan lebih gelap. Ini pasti bawah tanah,”Sekarangkita menuju kelasku. Yah, aku pengendali tanah. Sebenarnya kami lebih sukadisebut pengendali bumi,” Hyo Jin tersenyum berseri-seri.

            “Bagaimana rasanya bisamengendalikan bumi?”

            “Oh, sangat menyenangkan Sung Young.Seolah-olah bisa mengendalikan bumi dan seluruh isinya. Sebenarnya memangbegitu, karena next level kami adalah bisa mengendalikan benda-benda padat.”

            Aku melangkah masuk begitu pintunyadibuka Hyo Jin dengan cara yang mengagumkan. Dia hanya menghentakkan kakinyacukup keras dan kemudian pintu yang ternyata dari batu itu runtuh, kecualisebuah papan yang masih tergantung di atas pintu yang berbunyi ‘TanamkanTekadmu – Bersama Onew Seonsaeng’ (nama yang aneh menurutku). Aku sempatkhawatir Hyo Jin justru menghancurkan pintunya, tapi setelah kupkir-kupikirmemang begitulah cara membukanya, agar tidak ada seorang pun kecuali murid danguru yang bisa masuk.

            Tidak ada yang menarik sejujurnya,hanya ruangan batu dengan alas tanah. Gundukan-gundukan batu yang menyerupaikursi memenuhi sudut ruangan. Mungkin barang-barang di sini sengaja disembunyikan di suatu tempat di bawah tanah. Mereka hanya perlu menghentakkankaki atau memukulkan tanah untuk mendapatkannya kembali. Hyo Jin mengaku tidakbisa memperlihatkan sesuatu lebih jauh karena belum tentu aku adalah pengendalitanah juga. Aneh memang mengingat sesama murid saling berahasia. Tapi yahmungkin memang itu peraturannya.

            Setelah puas melihat-lihat kamimenuju lantai dua. Dia menunjuk-nunjuk lorong sambil memberitahuku letak kelassejarah vampire yang diajar oleh Moon Seonsaeng dan rumah sakit. Sekali lagi HyoJin tidak memawaku ke sana, dia membawaku ke depan pintu kelas bersimbol apipada ukirannya. Seperti pintu kelas lainnya, di sana terpasang papanbertuliskan ‘Kobarkan Semangatmu – Bersama G-Dragon Seonsaeng’. Apakah mungkinguru pengendali api itu naga? Tidak aneh sih, mengingat naga juga bisamenyemburkan api dari mulutnya.

            “Ini adalah kelas pengendali api,next levelnya bisa mengendalikan listrik. Mian, aku tidak mau dekat-dekat kelasini. Kau tahu, hagsaeng-hagsaeng yang bukan dari pengendali api enggan sekalibergaul dengan hagsaeng pengendali api. Sebagian besar hagsaeng pengendali apisikapnya sangat tidak menyenangkan, angkuh, suka mencemooh, sok-sokan, dan lain-lain,”

            “Jangan begitu. Pasti tidak semuanyabersikap seperti itu kan,”

            “Yah, mungkin saja. Tapi kami semuatetap enggan. Aku juga sama tidak sukanya karena seorang yeoja pengendali apisudah lama berseteru denganku.”

            Aku mengabaikan Hyo Jin yang terus menarikku untukmenyingkir. Kurasa ini kelas yang keren. Aku berjalan lebih dekat ke pintu.Tapi sebelum aku sempat mengintip, pintu itu tebuka. Seorang vampire namjajangkung berambut panjang menatapku tajam dengan mata beriris putihnya,menyeramkan apalagi eyeliner yang dipakainya. Rambutnya yang licin dan berwarnamerah terang berkibar-kibar. Aku terkesima menatapnya.

            “Ada yang bisa kubantu, agashi?” suaranya dingin, tidakseperti bakat api yang dimilikinya.

            “Anda Pak Naga?” duh, aku keceplosan. Selama sedetikkukipikir aku akan menjadi vampire panggang.

            “Aku lebih suka dipanggil G-Dragon,” guru itu hanyamenyeringai lalu pergi tanpa berkata apa-apa lagi.

            “Babo babo! Kkaja! Kita lanjut ke lantai 3,” Hyo Jinmenarikku menuju tangga batu di dekat situ,” Hampir saja kita hangus, SungYoung. Bagaimana bisa kau berkata seperti itu pada GD Seonsaengnim?”

            “Hey, aku tidak salah kan? Namanya saja Dragon. Aku hanyamengucapkan dalam bahasa kita,” kataku bandel.

            “Semua seonsaeng di sini tidak menggunakan nama asli, kecualiHyun Saeonsaeng,” kupikir Hyo Jin marah, tapi ternyata tidak. Dia langsungtersenyum cerah begitu kami sampai di depan pintu warna hijau berukir sayap danhuruf A yang berarti Air atau udara, plus papan yang tergantung di atasnya yangberbunyi ‘Terbangkan Kesengsaraanmu – Bersama Sookie Seonsaeng’.

            “Satu-satunya seonsaeng utama yang yeoja,” jelas Hyo Jinsambil menunjuk papan. “Next level mereka sejauh ini belum diketahui. SookieSeonsaeng maupun Andy Gyojang juga tidak tahu. Mungkin memang tidak ada. Merekasudah dibilang mencapai next level jika sudah bisa terbang, menyenangkansekali.”

            Ternyata kelas pengendali udarasedang dipakai, jadi kami tidak bisa mengintip dan langsung turun lagi. Sebelumturun Hyo Jin menunjukkanku aula utama yang super luas dan pelajarankemanusiaan yang diajar oleh CL Seonsaeng, satu-satunya guru yang berwujudmanusia. Hyo Jin mengajakku ke halaman yang masih dipenuhi vampire-vampire.Sebenarnya aku sangat enggan, mengingat mereka hanya akan memelototiku terlebihyang namja, menatapku tanpa berkedip dengan pikiran mesum memenuhi otakvampirenya. Selama di Indonesia aku tidak pernah mendapat perhatian sepertiitu. Mereka justru sedikit menjaga jarak padaku, pasti itu naluri mereka yangmengatakan bahwa aku ini berbahaya. Aku tidak menyalahkan mereka.

            “Kita di dalam sekolah saja, Hyo,aku tidak mau ke halaman.”

            Hyo Jin sepertinya mengerti, tapidia tetap keras kepala,”Kau bilang kau ingin ditunjukkan semuanya. Kita bahkanbelum selesai dengan 5 bakat. Ini yang terakhir. Abaikan saja mereka, SungYoung. Lama-lama juga mereka bosan,”

            Akhirnya aku menurut . Benar saja,seperti kejadian tadi, semua vampire memandangiku tanpa berkedip. Mereka jugamasih bisik-bisik.

            “Hey, vampire baru! Bergabunglah bersama kami,” teriaksalah satu vampire namja di tengah-tengah kerumunan vampire yang sedang dudukdi dekat air mancur. Aku hanya tersenyum kecut. Sebisa mungkin kudekatkanjarakku dengan Hyo Jin. Tapi aku justru jadi memikirkan hal lain. Kulirikkanmataku cepat ke bangku taman di ujung jalan setapak. Tentu saja vampireberambut hitam bernama Young Saeng tidak mau berlama-lama duduk di sana seorangdiri.

            Kukembalikan pandanganku agar menatap ke depan. Namun akujustru terlonjak karena terkejut. Ternyata Young Saeng duduk di salah satubangku yang menghadap meja masih sambil membaca buku yang sama. Ah, sebentarlagi aku melewati mejanya.  Dia bersama4  namja yang terlihat familiar. Vampiredi depan Young Saeng yang berambut coklat tak lain dan tak bukan adalah KyuJong. Tiga vampire di samping Young Saeng nampak samar-samar di benakku. Ohiya, yang dua adalah namja mesum dan babo. Tapi yang terakhir siapa ya?

 

            “Oiya, ini kan istirahat, mereka sudah bubar,”

            Hyo Jin duduk di bangku yang tepat bersebrangan dengantempat duduk namja-namja itu. Tapi sepertinya 5 vampire itu tidak menyadarikehadiran kami, kecuali namja berambut hitam cepak yang menatap kami sekilas.Oh aku baru ingat. Dia adalah namja yang memandangku tajam saat aku pertamakali melangkah di  halaman ini. Diaadalah si instruktur.

            “Yang terakhir itu pengendali pedang atau semacamnya,kan?”

            “Yeah, mereka lebih suka dipanggil  pengendali pedang atau senjata, atau jugakekuatan karena mereka bisa memainkan semua senjata tajam terlebih pedang, itulahmengapa symbol mereka adalah pedang. Di sanalah tempat yang biasa merekagunakan untuk berlatih,” Hyo Jin menunjuk lahan bersemen yang sudahkuketahui,”Mereka sangat kuat dan gesit. Sangat jago berkelahi. Next levelnyaadalah mereka bertambah ahli dan gesit dalam memainkan pedang. Bahkan HyunSeonsaeng, guru mereka, bisa menyerang tanpa suara, jeongmal daebak. Sebenarnyapengendali ini tidak termasuk 4 unsur, tapi karena dirasa sangat penting danberperan besar dalam perlindungan manusia, akhirnya pengendali pedang justrudimasukkan ke tingkat atas, seperti yang bisa kau lihat pada symbol sekolah,”

            Sekolah ini ternyata lebih keren dan hebat dari yangkubayangkan. Aku ingin sekali menjadi salah satu pengendali seperti mereka.Hanya saja, aku kurang yakin karena selama ini tidak pernah menunjukkantanda-tanda akan bakatku. Aku tidak bisa berenang, bagaimana mungkin akupengendali air? Aku tidak suka makhluk melata atau serangga tanah yang akansangat sering kulihat jika aku pengendali bumi. Aku bahkan melolong kesakitansaat tanganku terkena air panas, tentunya pengendali api tahan panas dansemacamnya. Aku juga sedikit kikuk dan ceroboh, bagaimana bisa aku memegangpedang tanpa melukai siapapun? Yang tersisa adalah pengendali udara yangtampaknya mustahil. Bagaimana mungkin mereka mengendalikan sesuatu yang tidakbisa dilihat?

            “Hyo Jin, apakah semua vampire yang ada di sini haruspunya bakat? Bagaimana dengan yang tidak? Apakah mereka tetap bolehbersekolah?”

            “Tentu saja boleh bersekolah asal mereka punya tekaduntuk melindungi manusia. Mereka akan tetap diajari strategi dan bergulat olehHyun Seonsaeng, dengan kata lain mereka tetap masuk pengendali pedang. Tapi adajuga yang dilatih untuk petugas medis.”

            Untung saja masih diberi kesempatan bagi vampire tanpabakat. Tapi aku sangat ingin bisa salah satunya. Aku harus berusaha. Selama inikan aku tidak tahu tentang bakat vampire, mungkin mereka masih terpendam danbelum diketahui, perlu dipancing.

 

            “Kau teman yang menyenangkan, Sung Young. Jujur saja,sebenarnya aku tidak punya banyak teman. Oh, kita bisa membujuk gyojang agarmenempatkanmu di kamar asaramku. Kebetulan yeoja yang sekamar denganku sudah lulus,”

            “Kita tidak tidur dengan teman yang bakatnya sama?”

            “Tentu saja tidak harus, kita bebas memilih siapa sajauntuk dijadikan teman. Menara tenggara adalah asrama namja, Barat Daya milikguru dan staf, Barat Laut adalah asrama yeoja dan menara Timur Laut berisiperalatan, senjata, binatang, dan lain-lain.”

Aku hanya menatap menara-menara yang menjulang tinggi itudengan takjup. “Oiya, memangnya sampai kelas berapa kita bisa dinyatakanlulus?”

            “Kelas? Haha, kita tidak mengenal kelas. Kelulusandidasarkan pada sejauh mana kami menguasai bakat yang dimiliki. Tapi itu tidakmenjamin, sebenarnya tidak ada kelulusan resmi. Kami diberi kebebasan untukterus tinggal di sini sekaligus memperdalam bakat begitu mencapai next level,atau ingin keluar, mencari pengalaman lain. Walau begitu mereka yang keluar tetapterikat janji dengan 501 School mengenai tugas utama yaitu melindungi manusia.”Hyo Jin menunjuk  ukiran 501 ditengkuknya. Ternyata itu tanda.

            “Berarti bagi yang belum lulus, tidak boleh keluarbenteng untuk membantu?”

            “Konsep sekolah tidak seperti itu. Justru sebaliknya,kami dipersiapkan untuk itu. Vampire-vampire dan manusia-manusia yangmemerlukan pertolongan atau tengah diserang bisa mengirimkan sinyal bantuan ke501 School dengan semacam telepon. Gyojang dan beberapa seonsaeng akanmengerahkan hagsaeng maupun seonsaeng itu sendiri untuk membantu. Semua bisadipilih, tanpa kecuali dan bisa mengajukan diri. Jadi setiap saat kita haruswaspada juga. Yah, tapi jangan khawatir, sudah lama tidak ada penyerangan vampireliar dalam jumlah besar. Aku harap…”

            Sambil mendengarkan penjelasan Hyo Jin, sesekali akumengerling ke arah meja seberang, yaitu ke lima namja yang asik mengobrolsambil minum darah dalam gelas, kecuali Young Saeng yang masih asik membaca.Tiba-tiba wajah Young Saeng terangkat dari bukunya dan dia menatapku. Akucepat-cepat memandang Hyo Jin, focus pada apa yang tengah ia jelaskan.

            “…Jadi begitulah, kita harus siap setiap saat,”

             “Apakah kau tahu bagaimanakita bisa membedakan vampire dengan bakat apa tanpa harus membuat merekaberaksi?” tanyaku cepat-cepat.

            Hyo Jin terlihat tambah bersemangat,”Itu gampang sekali,kau hanya perlu mengamati iris mata mereka. Iris mata pengendali air berwarnabiru, jika mereka sudah mencapai next level irisnya berubah menjadi ungu.Pengendali Api jelas orange, tapi akan berubah menjadi putih mengerikan jikasudah next level. Bumi berwarna coklat, tentu, dan next levelnya berubahmenjadi toska. Pengendali udara sejauh ini hanya berwarna hijau, karena sepertiyang kubilang tadi, belum ada next levelnya, dan pengendali pedang abu-abu,tingkat lanjutnya hitam,”

            Aku hanya diam saking kagumnya akan keajaiban yangdimiliki vampire seperti kami. Kupandang sekelilingku, aish vampire-vampiremasih saja mengamatiku sambil berbisik-bisik. Apakah mereka tidak bosan? Bahkanada vampire yang tersenyum begitu aku menatapnya dan jelas sekali berusahamenyapa.

            Kemudian aku teringat appa. Kucoba untuk mengingat irismata appa, mungkin bisa membantuku mengetahui bakat apa yang diturunkannya.Tapi sejauh yang kutahu iris mata appa berwarna merah, sama sepertiku.

            “Apa artinya jika berwarna merah?” tanyaku takut-takut.

            Hyo Jin menatapku prihatin sebelum menjawab,”Merah adalahmata asli vampire, atau umm..untuk vampire biasa yang tidak punya bakat. Oh!Atau vampire  yang belum mengetahuibakatnya. Banyak hagsaeng di sini yang matanya dulu berwarna merah, tapisetelah tahu bakatnya, lama-kelamaan matanya berubah,”

            Cukup menghibur tapi belum cukup melegakan. Semoga akumemang belum mengetahui bakatku. Aku ingin sekali punya bakat seperti mereka,akan sangat menyenangkan pasti.

            Aku jadi teringat 5 namja tampan yang duduk di seberang.Melegakan, mereka masih di sana. Kuamati satu per satu mata mereka dan akulangsung tahu apa bakat-bakat yang mereka miliki. Young Saeng sekali lagimemergokiku tengah menatap mereka. Kali ini aku tidak mengalihkan mataku. Diamengedik sekilas pada Kyu dan namja yang duduk membelakangiku berbalik. KyuJong tersenyum ramah sambil melambai padaku, member isyarat untuk bergabung.Mau tak mau aku balas melambai yang ternyata membuat Hyo Jin terpekik.

            “Ada apa?”

            “K..kau..ada hubungan apa dengan mereka?” Entah kenapadia jadi sulit bicara, padahal sebelumnya terus mengoceh dengan lancar.

            “Hubungan apa maksudmu? Aku hanya tahu mereka karenasebelum aku bertemu denganmu, aku lebih dulu bertemu mereka. Kyu terutama, diayang mengatarku ke kantor gyojang.”

            “Kusarankan kau untuk tidak dekat-dekat dengan salah satudari mereka?”

            “Memangnya kenapa? Mereka kan hanya vampire, yah denganbakat luar biasa tentunya. Selain kau, aku lebih menyukai mereka daripadavampire-vampire di sekeliling kita yang tengah menatap tanpa berkedip. TerutamaKyu Jong, dia ramah,”

            “Apalagi Kyu Jong, dia dari pengendali api, sudah nextlevel pula. Jangan dekat-dekat, ok? Semua di sini yang waras enggan bergauldengan mereka,”

            “Oh, berarti selama ini aku sudah gila. Memangnya kenapa sih?”

            Hyo Jin menggeser duduknya lebih mendekatiku,sampai-sampai tubuh kami menempel,” Mereka seolah mengintimidasi kita dengan ketampanan, kepintaran, dan sikap aneh mereka,”

            “Ayolah, jangan konyol,”

            Hyo Jin seolah-olah tidak mendengarku,”Kau tentunya sudahmengenal Kyu Jong. Dia adalah namja pengendali api tingkat tinggi. Tadi sudahkujelaskan, kelas pengendali api berisi vampire-vampire yang yah, kurang menyenangkan.Mereka terkenal kejam,”

Aku hanya memutar bola mataku,”Kujamin, setelah kaumengenal Kyu, kau akan menyukainya,”

            “Kau tidak tahu apa-apa Sung Young. Kyu Jong memang ramahdan baik sekali tapi siapa tahu, kan.”

            “Cukup Hyo. Sekarang akan kubuktikan kalau mereka tidakseburuk yang kalian kira. Aku akan ke sana dan kau bisa memastikan bahwa merekatidak akan mencelakaiku. Kalian saja yang terus negative thinking tanpa maumengenal mereka lebih jauh. Aku tahu kau ingin berteman dengan mereka, tapi kautidak cukup berani untuk mendekati mereka, kan?”

            “Memang siapa yang cukup bodoh dan berani mendekatimereka?”

            Sejujurnya aku sedikit tersinggung mendengarnya. Akubangkit berdiri, memutuskan untuk menghampiri 5 namja itu.

            “Lihat saja,”

            “Apa yang akan kau lakukan, Sung Young?”

 

*TBC*

Ini adalah salah satu FF seriesku^^ Tapi beda sama yg series Daesung’s Gender Bender. Kalau yang Daesung itu tiap FF beda genre beda alur beda cast maybe, tapi tetep ada unsur pertukaran gendernya. Kalau series ini mungkin masih satu genre+cast tp beda2 konflik. Bisa dibilang kaya sequelnya atau gimama gitu😀 Nah di series ini konfliknya masih sederhana banget😄 Bisa dibilang baru penjelasan mengenai 501 School.. Nggak papa dongs ya, tetep RCL😉 Tunggu part end nya~

DON’T FORGET TO RCL!

NO PLAGIATOR!! NO SILENT READER!!

Btw, kok spasinya jadi kacau yak–” Mian, itu kesalahan FB

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s