Part 1 of 2 | The Bloody Game | 501 (Protector Vampire School) series

Details:

–          Title             : 501 (Protector Vampire School) Bloody Game

–          Genre          : Fantasy, Schoolship, Friendship

–          Category     : Fanfiction, Twoshoot

–          Author        : Zusli a.k.a Shin Sung Young

–          Casts :

  • Sung Young aka Mindbender
  • Young Saeng aka Waterbender
  • Hyo Ae aka Swordbender
  • Hyung Jun aka Airbender
  • Hyo Jin aka Earthbender
  • Kyu Jong aka Firebender
  • Jung Min aka Earthbender
  • Hyo Jae aka Firebender
  • Hyun Joong aka Swordbender
  • Other  casts…

 

Thanks to God, Casts, and Readers^^

Happy Reading~

 

©2014 zuSaeng501

 

 

*501*

 

            Annyeong! Joneun Sung Young imnida. Aku adalah vampire berdarah campuran berbakat pengendali pikiran. Vampire yang dimaksudkan benar-benar makhluk penghisap darah dan maksud dari berdarah campuran adalah aku dilahirkan dari kedua orang tua berjenis berbeda. Nae Appa adalah vampire dari Korea Selatan sementara Nae Eomma adalah seorang manusia dari Indonesia. Malang sekali nasib vampireku, mereka berdua sudah meninggal.

            Walau aku lahir di Indonesia, sekarang aku tinggal di Korea Selatan untuk bersekolah di sekolahan khusus vampire bernama 501 Protector Vampire School, sekolah yang mengajarkan tentang bagaimana caranya melindungi manusia. Kami melindungi manusia dari vampire-vampire jahat dan liar yang suka membunuh manusia demi mendapatkan darah. Jenis kami sendiri adalah vampire terlatih yang bisa berbaur dengan manusia.

            Satu hal yang paling aku sukai dari dunia vampireku yaitu kami diberi bakat istimewa yang berbeda-beda. Aku dianugerahi bakat pengendali pikiran yang katanya adalah bakat langka, hanya ada 3 vampire pengendali pikiran sebelumnya. Awalnya hagsaeng 501 school hanya mengetahui 5 bakat di dunia ini (Air, Api, Bumi, Udara, dan Senjata) seperti yang ada pada symbol sekolah,  tapi semenjak bakat pengendali pikiran muncul padaku, bakat vampire berubah menjadi 6, yang ternyata sudah terukir di symbol sekolah, yaitu symbol lingkaran di tengah-tengah bintang.

            Aku baru mengetahui bakat ini beberapa bulan lalu, jadi aku belum bisa menguasai, mengontrol, dan menggunakannya dengan benar. Karena ini adalah bakat pertama yang muncul pada hagsaeng, tidak ada guru yang bisa mengajariku. Untuk itu aku belajar autodidak dibantu oleh vampire namja jenius dari pengendali air yang tidak pernah mengikuti pelajaran karena sudah terlalu pintar. Hanya dia yang memiliki waktu luang dan k arena hubungan aneh kami, dia mau membantuku.

 

            “Sudah berapa kali kuingatkan, inti dari semua pengendalian adalah konsentrasi!  Kau harus benar-benar fokus pada targetmu,”

            “Oh ayolah, aku daritadi juga sudah berkonsentrasi. Young Saeng! Menari balet sekarang juga!,”

            “Aish, kau dari tadi berusaha menyuruh itu. Perintahkan hal-hal lain,”

            “Anieyo, aku mau melihatmu menari balet,”

            Namja Saeng itu hanya mendengus sebal sambil berjalan mendekatiku. Young Saeng mungkin adalah cinta pertama dalam kehidupan vampireku. Entah apa yang membuatku suka padanya, dia tampan tentu saja karena semua vampire mendekati sempura tapi dia sangat menyebalkan bahkan sejak pertama kami bertemu. Dia adalah vampire yang ditakuti oleh hagsaeng lain karena dia pengendali air yang sudah next level menjadi  pengendali darah. Dia juga galak saat mengajariku, tidak begitu ramah, dan sedikit pervert.

            Di samping semua itu, aku sangat menyukai senyum tulusnya yang jarang ia tunjukkan. Sebenarnya dia juga sangat baik, buktinya mau membantuku. Dan yang paling penting dia tidak bisa jauh dariku karena bau darah campuranku sangat mempengaruhinya. Yah, hubungan kami hanya dikarenakan bau darahku, selebihnya dia tidak pernah mengungkit-ungkit soal cinta atau apapun itu.

 

            “Selama ini kau memikirkan apa, sih? Sudah 3 bulan tapi tidak kunjung membuat kemajuan,”

            “Aku sudah fokus!”

            Young Saeng malah mendorongku ke pohon dan menghimpitku. Wajahnya sudah menempel di kulit leherku. Dia suka sekali membaui darahku dari jarak yang sangat sangat dekat, bahkan tidak berjarak, tapi anehnya aku hanya diam saja walau dia tidak sedang mengendalikan darahku. Perbuatannya selalu membuatku berdebar dan dia sangat senang karena menurutnya semakin cepat jantungku bekerja maka semakin tajam bau darah yang tercipta.

            “Kau harus benar-benar menginginkan apa yang akan kau perintahkan,” bisiknya di telingaku, membuat bergidik.

            “A..aku benar-benar ingin melihatmu menari,”

            Sekali lagi Young Saeng hanya mendengus sebal dan terus melanjutkan aktivitasnya. Lalu aku bisa merasakan tangan dinginnya menyelinap ke balik kaos sekolahku, menggelitik kulitku.

            “YA!! Apa yang kau lakukan?! Lepaskan!”

            Dalam sekejap Young Saeng langsung menjauh dua langkah dariku. Pandangannya kosong selama beberapa detik lalu kembali normal lagi.  Aku hanya terengah sambil menunduk, menyembunyikan wajahku yang merah padam. Ommo, jantungku sepertinya mau meledak.

            “Nah, kau selalu bisa mengeluarkan bakatmu jika dalam keadaan terdesak. Coba lakukan seperti saat kau terdesak. Tanamkan keinginanmu! Kuatkan tekadmu! Dan fokuslah pada targetmu!” seru Young Saeng dengan tegas.

            Aku hanya menatapnya yang sedang bersedekap, menungguku. Rautnya benar-benar tidak menunjukkan rasa bersalah, justru seringai kecil menghiasai bibirnya. Itu menyebalkan, aku akan membalasnya. Kutarik nafas dalam-dalam dan kuserukan perintahku dengan tegas dan lantang.

            “Young Saeng! Menari balet sekarang juga!!”

            Sekali lagi aku melihat pandangan Young Saeng menjadi kosong kemudian dia menangkupkan kedua tangannya ke udara. Aku bersorak kegirangan, mengira berhasil menyuruhnya untuk menari balet, sesuatu yang bisa kugunakan untuk menertawakan dan membalas membullynya. Aku terkikik-kikik geli membayangkannya. Young Saeng mulai berjinjit dan bersiap melakukan lompatan balet tapi kemudian dia tersentak sadar.

 

            “Geurae, sudah cukup! Kau berhasil,” katanya dingin.

            “Hanya segitu? Kau bahkan belum melakukan lompatan,”

            Young Saeng yang sudah bersiap meninggalkanku langsung menatapku tajam,”Kau pikir aku akan membiarkan diriku menari balet?!”

            “Mwo? Aku tidak mengerti. Kupikir aku berhasil mengendalikan pikiramu,”

            “Chukhae, walau kemajuanmu lambat, tapi kali ini kau berhasil,” katanya sambil tersenyum sedetik lalu lenyap,”Tapi pengendalianmu masih level rendah, aku tadi menangkalnya. Tidak akan kubiarkan kau melihatku menari balet,” dan Young Saeng pun pergi.

            “YA! CURANG! Jamkkanman Young Saeng-ah!” aku berlari mengejarnya lalu kupukul  punggungnya karena sebal.”Menarilah sekarang juga!!”

            “Percuma. Selama ini aku membuka pikiranku agar kau bisa mengendalikanku dengan mudah. Kalau aku mau, aku bisa menangkal pengendalian level rendahmu dengan mudah,”

            Aku sudah bersiap mengeluarkan makian dan protes padanya tapi kerumunan di lorong utama kastil menyita perhatian kami. Lorong utama itu dipenuhi hagsaeng-hagsaeng yang kelihatannya sedang mengamati sesuatu yang tertempel di mading. Aku berjinjit-jinjit, mencari celah di antara kepala-kepala yang melongok untuk melihat apa yang membuat mereka tertarik.

            “Ada apa, Jung Min?” akhirnya aku menyerah dan memutuskan untuk bertanya pada namja jangkung yang baru saja keluar dari kerumunan.

            “Akhirnya setelah sekian lama ditiadakan, tahun ini, di akhir musim gugur Bloody Game akan diadakan lagi!. Woah, ini akan sangat menyenangkan,” serunya kegirangan.

            “Game…apa?”

            “Bloody Game,” kata seorang yeoja yang tiba-tiba muncul dari kerumunan. Dia adalah teman sekamarku.”Tenang saja Sung Young, ini hanya permainan atau bisa dibilang pertandingan. Bloody Game sangat terkenal tapi sudah lama ditiadakan karena hanya membuang-buang waktu,”

            “Membuang-buang waktu?! Permainan ini dihentikan karena sebelumnya ada yang mati!” seru Jung Min.

            “Mati?” sekali lagi vampire namja yang tampan dan super pucat muncul dari kerumunan,”Itu sebuah kecelakaan karena dia saja yaag sangat bodoh dan tidak memperhatikan aturan. Kuharap kali ini pesertanya bisa diseleksi dengan ketat dan tidak membiarkan vampire bodoh ikut bermain,” mata hijaunya menatap Jung Min tajam.

            “Apa maksud tatapan itu? Kaupikir aku tidak mampu bermain, ha? Justru kau yang tidak akan terpilih. Siapa sih yang membiarkan bayi raksasa super mesum ikut bertanding?” balas Jung Min sambil tersenyum menghina. Hyung Jun hanya mengerutkan kening, merasa tersinggung.

            “Oh, kalau begitu ayo kita buktikan! Kau dan aku harus mendaftar!” dan mereka pun pergi ke lantai paling atas untuk mendaftar di tempat Andy Gyojang.

 

            “Sung Young, kau juga ikut, kan? Ayo kita mendaftar! Kudengar permainan kali ini akan sedikit berbeda. Ini akan sangat menyenangkan. Dengan ikut permainan ini kita bisa belajar sekaligus mengasah kemampuan. Kuyakin kau akan lolos seleksi karena mereka ingin melihat bakat luar biasamu. Belum lagi kalau kau menang, hm, hadiah yang ditawarkan sangat menggiurkan. Bayangkan, 500.000 won, ada trofi emas juga, dan 40 katong darah.”

            “Wow,” hanya itu yang bisa kukatakan saking takjubnya.

            “Tunggu apa lagi, kkaja kita mendaftar!”

            “Kkaja! Eh, Young Saeng-ah, kau juga ikut kan?”

            “Hanya membuang-buang waktu,” jawabnya singkat lalu pergi ke lorong yang menuju kantin. Jujur aku sedikit kecewa karena dia tidak ikut, tapi di sisi lain aku juga senang dia tidak ikut. Bayangkan saja namja super jenius seperti dia ikut bermain. Dia pasti bisa menang dengan mudah.

 

*501*

 

            Seminggu setelah pengumuman ditempel, semua hagsaeng dikumpulkan untuk pembukaan Bloody Game di aula utama yang luas. Latarnya terbuat dari marmer mengkilap dengan sebuah panggung kecil di tengah-tengahnya, tempat duduknya disusun melingkar dan bertingkat seperti di stadion. Banner bertuliskan ‘BLOODY GAME’ dipasang di samping bendera-bendera bergambar symbol 501 school dan bendera bergambar masing-masing symbol dari pengendalian. Aku merasa sangat senang melihat bendera warna kuning bergambar lingkaran seperti obat nyamuk juga dipasang, itu symbol pengendali pikiran.

            Awalnya aku langsung muram saat diberitahu bahwa semua hagsaeng harus duduk sesuai bakat yang dimiliki. Ini tidak akan menyenangkan, mengingat aku satu-satunya hagsaeng pengendali pikiran di sini. Tapi aku kembali ceria lagi karena ternyata aku boleh duduk di tempat pengendali air seperti biasa. Setiap mengikuti pelajaran non-bakat seperti Pelajaran Sejarah Vampire atau Pelajaran Kemanusiaan, jadwalku pasti  selalu disamakan dengan pengendali air karena muridnya hanya sedikit.

            Tentu saja aku langsung duduk di sebelah Young Saeng, di tempat duduk paling atas yang tersembunyi oleh bayang-bayang. Alasan aku memilih duduk dengan Young Saeng adalah yang pertama sudah kubilang aku menyukainya, yang kedua kami sama-sama dijauhi.

Saat pertama ke sini, semua namja berebut ingin menyapaku, tapi setelah bakatku diketahui, semua vampire kecuali teman-teman dekatku langsung menjaga jarak. Mereka seperti segan, takut, tapi juga ingin mengenalku. Terutama  vampire yeoja yang semula bersikap seolah-olah iri sekarang sudah berani mencemoohku. Aku sih santai-santai saja asal Young Saeng tidak menjauhiku juga.

 

            Setelah beberapa saat menunggu dan suara gemuruh antusias hagsaeng lenyap, seorang namja penuh wibawa yang kutahu sebagai Andy Gyojang(headmaster) melangkah ke panggung kecil.

            “Selamat datang semuanya. Kalian tentunya sudah tahu kenapa kita dikumpulkan di sini, yeah kita akan membuka sebuah permainan bergengsi yang sudah lama ditiadakan, Bloody Game!” suara gemuruh tepuk tangan memenuhi aula. Beliau melanjutkan begitu tepuk tangan berhenti,” Untuk kalian semua yang belum tahu, bloody game adalah permainan atau bisa disebut juga pertandingan bagi kalian yang ingin mengadu bakat dan mengasah keterampilan dalam tugas menantang yang sangat berguna untuk bekal kalian ketika keluar dari sini.

            “Kalian semua sudah mendaftar, kan? Nah, mengingat banyaknya hagsaeng yang mendaftar bahkan hampir semua, aku dan seonsaeng(teacher) dari masing-masing pengendali selaku juri sepakat mengubah peraturannya. Jika dulu hanya dilakukan secara individual, maka sekarang diubah menjadi kelompok.”

            “Kelompok? Aku kan hanya sendiri di bakat pengendali pikiran,”

            “Kasihan,” timpal Young Saeng yang langsung kutatap sinis.

            “Kelompok ini terdiri dari 4 hagsaeng yang mana sudah diseleksi dari para pendaftar. Anggota kelompok ini acak, jadi tidak melulu satu kelompok dengan teman sepengendalian,” aku langsung memekik kegirangan,”Itulah tujuannya, kami ingin menguji kerjasama antar pengendali dan kelompok beragam ini bisa sangat menguntungkan untuk menjalankan tugas.

            “Nah,  kami sudah mendapatkan para pesertanya yaitu 5 kelompok. Akan kupanggilkan empat-empat dan yang namanya dipanggil harus turun ke sini. Nama pertama adalah ketuanya, ok? Geurae, kelompok pertama, Kibum dari pengendali air, ya kemarilah, lalu Kyuhyun dari pengendali api, Sunkyu dari pengendali udara, dan Taeyeon dari pengendali udara,” Setiap pemanggilan diberi jeda beberapa saat untuk membiarkan hagsaeng lain bertepuk tangan dan menunggu para peserta turun ke lantai marmer.

            “Kelompok kedua, Taeyang dari pengendali pedang, Seungri dari pengendali bumi, Sandara dari pengendali udara, dan Nicole dari pengendali api. Kita lanjut ke kelompok tiga, Kyu Jong dari pengendali api,” aku berteriak girang,”Hyo Jin dari pengendali bumi,” aku semakin keras berteriak sampai-sampai Young Saeng harus menutup telinga. Aku berharap semoga satu kelompok dengan mereka,”Jung Min dari pengendali bumi,”

            Semoga yang terakhir ini aku, tapi ternyata,”Hyo Jae dari pengendali api,” bisa kulihat Hyo Jin di bawah sana memasang tampang shock. Tentu saja, yeoja Hyo Jae itu adalah musuh bebuyutan Hyo Jin dan berniat memulai permusuhan denganku juga. Aku kembali merosot lesu ke kursi.

            “Masih ada dua kelompok,” kata Young Saeng menenangkan, tumben.

            “Kelompok empat, Seung Yeon dari pengendali udara, Donghae dari pengendali pedang, Minho dari pengendali bumi, dan Gyuri dari pengendali api. Kelompok terakhir, yang pertama adalah Sung Young dari pengendali pikiran,” aku langsung tersentak, terkejut. Tidak ada gairah seperti sebelumnya, justru cemas dan sedikit gugup karena aku dipanggil pertama.

            Aku terus didorong Young Saeng untuk segera turun. Tidak ada sorakan maupun pekikan gembira ketika aku turun, kecuali seruan semangat dari Hyo Jin, Kyu Jong, Jung Min, dan mungkin juga Hyung Jun yang masih duduk di bangku.

            “Chukhae!” kata Kyu Jong. Aku hanya meringis sambil menunggu anggota selanjutnya.

            “Hyo Ae dari pengendali pedang,” lanjut Andy Gyojang yang langsung membuatku membeku. Hyo Ae adalah yeoja yang paling membenciku karena alasan cemburu dan pernah mencelakaiku dengan menyabetkan pedangnya pada lenganku. Hyo Ae terlihat muak satu kelompok denganku.

            “Hyung Jun dari pengendali udara,” keberadaan Hyung Jun tidak membuatku menjadi lebih baik karena dia namja super mesum, yah walau bisa diandalkan.

            “Dan yang terakhir Young Saeng dari pengendali air,”

            Kali ini tidak hanya aku yang terkejut, semua hagsaeng memekik terkejut dan samar-samar aku mendengar kata ‘curang’. Tentu saja sudah menjadi rahasia umum bahwa Young Saeng adalah hagsaeng paling pintar seperti yang pernah  kubilang sebelumnya.

            “Kau bilang ini hanya akan membuang-buang waktu,”protesku begitu Young Saeng sampai di sebelahku.

            “Aku memang ingin membuang-buang waktuku,” jawabnya sambil menyeringai. Jujur saja kebaradaan Young Saeng membuatku tenang dan merasa lebih baik walau dia selalu bersikap menyebalkan. Paling tidak aku cukup merasa puas mendapat teman satu kelompok yang sangat jenius.

 

            Andy Gyojang melipat kertas berisi daftar peserta tadi dan berbalik menghadap ke ke-20 peserta.”Chukhae untuk kalian semua yang lolos seleksi dan diberi kesempatan untuk bermain. Tentunya kalian sudah mendengar hadiah-hadiah yang ditawarkan pada juara.  Trofi kemenangan! Uang sebesar 500.000 won! Dan 40 kantong darah yang bisa digunakan untuk persediaan selama berbulan-bulan,”

            Semuanya bertepuk tangan dan bersorak-sorak. Wajah-wajah para peserta telihat sangat antusias, tidak sabar untuk bermain dan memenangkan permainan. Aku pun sudah melupakan kecemasanku.

            “Tapi, tentunya ada tantangan-tantangan yang harus kalian lewati untuk bisa meraih hadiah-hadiah itu. Dalam Bloody Game tahun ini kalian akan diberi 4 tugas. Dalam setiap tugas dilakukan pada hari yang berbeda, jadi pelaksanaan Bloody Game ini memerlukan waktu 4 hari. Tugas-tugas apa saja yang harus kalian hadapi akan diberitahu saat hari H dalam arti siap atau tidak siap kalian harus bisa menyelesaikannya.

            “Penilaiannya mudah sekali. Dalam setiap tugas, kelompok yang mempunyai skor tersendah atau gagal menyelesaikan tugas akan langsung dieliminasi sehingga pada tugas ke-4 hanya akan menyisakan 2 kelompok saja. Peraturan permainan pun sama seperti kebanyakan permainan, yaitu kalian tidak boleh curang atau kalian akan langsung didiskualifikasi. Kalian hanya diijinkan menggunakan bakat dan strategi. Jadi di sini para ketua mempunyai peran penting untuk mengarahkan anggota kelompoknya.”

            Aku hanya tertegun, merasa seolah-olah semua mata mengarah padaku. Aku belum begitu tahu tentang strategi, aku kan baru di sini beberapa bulan yang lalu. Akan lebih baik jika Young Saeng yang menjadi ketuanya, tapi aku harus bisa membuktikan bahwa aku juga bisa dan akan membawa kelompokku ke kejuaraan.

            “Eottokae? Apakah sudah jelas?”

            “Yes, sir!” jawab ke-20 vampire kompak.

            Andy Gyojang tersenyum,”Geurae, permainan hari pertama akan dimulai besok jam 9 malam di aula ini,”

 

*Day 1*

 

            “Eottokhae Sung Young?! Eottokhae?!”

            “Hyo Jin-ah, tidak hanya kamu yang merasa tertekan,”

            Aku dan Hyo Jin sedang duduk-duduk di tangga dengan lesu. Permainan baru dimulai 1 jam lagi dan aula utama masih ditutup. Sejak meninggalkan aula kemarin, Hyo Jin terus saja mengeluh dan merutuki nasibnya yang mendapat kelompok paling payah.

            “Eottokhae? Aku satu kelompok dengan orang yang paling tidak ingin kujadikan teman satu kelompok, Hyo Jae si yeoja petir itu. Aku juga satu kelompok dengan hagsaeng paling bodoh di 501 School, Jung Min yang tidak pernah serius, bagaimana mungkin dia lolos seleksi? Dan Kyu Jong, ah mungkin hanya dia yang bisa diandalkan, tapi tetap saja, dia seorang pengendali api. Kelompokku pun paling tidak bervariasi, 2 pengendali api dan 2 pengendali bumi. Sementara kelompokmu semuanya dari pengendalian yang berbeda, terlebih ada Young Saeng si jenius yang akan membawa kelompokmu ke peringkat atas dengan mudahnya. Argh~Eottae?”

            Aku tidak bisa menyangkalnya tapi aku juga tidak menyetujui pendapatnya,”Mungkin kelompokku memang yang paling bervariasi tapi itu tidak menjamin kami untuk menang, walau ada Young Saeng sekalipun. Aku satu kelompok dengan orang yang hampir membunuhku, bayangkan itu. Aku juga ditunjuk sebagai ketua, bagaimana bisa aku mengatur 3 orang yang satu keras kepala, yang satu membenciku, yang satunya lagi sangat mesum dan sama tidak seriusnya seperti Jung Min. Argh~bayangkan saja kau satu kelompok dengan orang paling mesum di sekolah,”

            Hyo Jin akhirnya tersenyum setelah sekian lama hanya murung saja. Lalu waktu yang tersisa kami gunakan untuk menebak-nebak tugas atau permainan apa yang akan kami mainkan di hari pertama.

            Akhirnya lonceng kastil berbunyi 9 kali dan satu per satu hagsaeng berbondong-bondong memasuki aula utama yang tidak seperti biasanya. Aula yang biasanya berbentuk lingkaran sekarang berbentuk segi lima, Lantai marmer diperluas sehingga bangku-bangku penonton hanya tersisa 5 baris paling atas. Antara bangku dan lantai marmer pun dibatasi oleh suatu dinding transparan yang hanya bisa dilihat bila kita fokus. Kira-kira permainan macam apa yang akan kami mainkan.

            Semua peserta dikumpulkan di lantai marmer sementara hagsaeng-hagsaeng lain sudah memenuhi bangku penonton. Dari bawah sini aku seperti melihat lautan darah karena kaos seragam kami hari ini berwarna merah. Tiap harinya warna seragam kami berbeda-beda. Hari Senin warna merah, Selasa putih, Rabu hitam, Kamis hijau, Jumat libur jadi kami memakai baju bebas, Hari Sabtu kami tidak memakai kaos, tapi benar-benar seragam sekolahan (kemeja, dasi, dan jas), dan Hari Minggu juga diperkenankan untuk memakai bebas.

Dari sini aku juga melihat lima seonsaeng utama duduk tepat di setiap sudut. Perutku rasanya seperti dililit ular saking gugupnya melihat hiruk-pikuk ini, apalagi saat teman-teman satu kelompokku mendekat.

            “Err~Aku harap kita bisa bekerjasama dengan baik,” kataku gugup.

            “Tentu saja, woah aku benar-benar tidak menyangka bisa masuk ke kelompok yang luar biasa ini. Young Saeng pasti bisa memecahkan semua teka-teki permainan dan aku merasa beruntung bisa berada di kelompok yang ada 2 yeppeo yeojanya,” seru Hyung Jun sambil menatapku dan Hyo Ae bergantian. “Neomu yeppeo Sung Young, seperti biasa, dan kau Hyo Ae yeoja pedang itu, kan? Sudah lama aku mengagumimu! Kau cantik dan sangat kuat dan sangat pintar dan sangat manis dan sangat…”

            “Oh, shiggeureot!” bentak Hyo Ae.

            “Yeoja pengendali pedang memang galak dan sedikit kasar, tapi type seperti itulah yang kusuka, jangan tersinggung ya.” bisik Hyung Jun padaku. Aku hanya mengedikkan bahu tidak peduli. Dia selalu berkata seperti itu setelah berbincang dengan yeoja.

 

            Hiruk-pikuk dan kehebohan hagsaeng langsung lenyap begitu Andy Gyojang memasuki aula. Dia terlihat sangat segar dan luar biasa tampan dengan seragam kaos 501 Schoolnya. Andy Gyojang membawa sebuah kantong kulit berwarna merah.

            “Selamat datang semuanya, di hari pertama Bloody Game! Mungkin kalian sudah bisa menebak  permainan pertama kali ini. Yah, Permainan atau tugas pertama adalah masing-masing kelompok harus menghadapi tantangan yang diberikan oleh salah satu guru pengendali. Satu kelompok melawan satu pengendalian. Kemarilah para ketua kelompok, ambil benda di kantong ini yang mewakili tantangan kalian, jja! Dari kelompok pertama,”

            Seorang namja tampan yang kutahu bernama Kibum maju dan merogoh kantong tanpa diperbolehkan melihat. Dia mengambil sebuah bintang bersymbol  sayap yang berarti kelompoknya harus menghadapi tantangan Sookie Seonsaengnim alias udara. Seharusnya ini tidak akan menjadi sulit bagi mereka karena dua anggota kelompok mereka dari pengendali udara.

            Namja kedua yang bertubuh kekar maju dan melakukan hal yang sama seperti Kibum. Dia menggenggam sebuah bintang dengan symbol lingkaran aneh yang kutahu sebagai symbol pengendali bumi. Kelompok Kyu Jong mendapat tantangan pengendali api yang langsung membuat Hyo Jin tambah pucat tapi juga senang karena dua anggotanya dari pengendali api. Ketua kelompok empat memperoleh symbol air, dan itu berarti…

            “Nah, berarti sisanya adalah pengendali pedang untuk kelompok lima. Apakah kalian siap? Kelompok pertama maju terlebih dahulu sementara yang lainnya bisa menonton di kursi penonton khusus. Penilaian didasarkan pada seberapa cepat kalian berhasil mendapatkan tiket emas yang sudah dikendalikan dan menyelesaikan tantangan yang diberikan. Kelompok yang paling lama lah yang akan dieliminasi. Dan satu hal lagi, penilaian juga didasarkan pada luka-luka yang kalian dapat. Jadi jangan sampai ada yang terluka apalagi terbunuh.” Andy Gyojang menyeringai,”Geurae, dengan begitu Tugas Bloody Game pertama dimulai!”

            Para penonton bersorak-sorak memberi semangat kepada kelompok pertama yang sudah maju ke tengah-tengah aula. Aku dan kelompok lain yang menunggu giliran duduk di kursi strategis. Dari sini kami bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi.

            Symbol bintang sekolah yang terukir di lantai marmer aula tiba-tiba menyala saat Sookie Seonsaengnim berdiri dan melambaikan tangan. Bersamaan dengan itu muncul angin ribut yang sempat membuat kelompok Kibum panik. Angin itu mengibarkan rambut dan pakaian mereka dengan ganas. Tapi anehnya, angin itu hanya bisa dirasakan oleh peserta yang menerima tantangan itu. Kami yang duduk di kursi penonton tidak terganggu dengan angin manapun. Kelihatannya hagsaeng-hagsaeng sempat terpana dan kebingungan dengan fenomena ini.

            “Sepertinya dinding pelindungnya berhasil,” gumam Young Saeng yang duduk tepat di sebelahku. Tangannya teracung ke depan dan dia membuat gerakan seolah-olah sedang membelai sesuatu di udara kosong. Selama sedetik aku bisa melihat gelenyar aneh di antara tangan Young Saeng. Ah, itu pasti dinding yang membatasi penonton dengan arena permainan.

            Perhatianku kembali tertuju pada permainan yang masih berlangsung. Ternyata aku ketinggalan banyak. Kelompok satu sudah bisa mengatasi kekacauan ini. Yah, cukup mudah bagi mereka karena 2 anggota adalah pengendali udara. Dua yeoja pengendali udara itu bertugas menghalau angin ribut dan tornado-tornado mini sementara Kibum dan namja satunya sedang memicingkan mata, berusaha mencari-cari tiket emas yang dimaksud. Akhirnya setelah 5 menit mencari mereka bisa  menemukan dan dengan kerjasama yang bagus, Kibum berhasil menggenggam selembar kertas berwarna emas. Penonton bersorak lebih ramai daripada biasanya.  Stopwatch raksasa yang digunakan untuk mengukur waktu para peserta berhenti di angka 00.15.32.50.

            “Wow, daebak, mereka hanya menyelesaikannya dalam waktu 15 menit,” gumamku.

            “Kita bisa kurang dari 5 menit,” timpal Hyung Jun mantap.

 

            Kibum dan teman-temannya terlihat sangat kacau dengan rambut yang acak-acakan dan pakaian tak karuan tapi di sisi lain mereka terlihat puas. Sebuah tiket emas masih tergenggam di tangan Kibum.

            “Nah, sekarang aku persilakan kelompok 2 untuk turun ke tengah aula,”

            Lantai marmer aula sudah kembali seperti semula, seperti tidak ada tanda-tanda kerusakan akibat tornado sebelumnya. Kelompok dua yang terlihat lebih tangguh dan sangar sudah turun ke tengah aula dengan raut tidak sabar.

            Setelah isyarat hitungan ketiga dari Onew Seonsaengnim, symbol bintang di lantai kembali menyala dan saat Onew Seonsaengnim berdiri tiba-tiba terdengar suara gemuruh seperti longsor  atau gempa bumi atau apapun itu dari dalam aula. Bersamaan dengan itu muncullah retakan-retakan di lantai marmer. Kelompok dua terkejut dan melompat menghindari retakan. Tapi begitu melompat, lantai yang mereka pijak langsung retak dengan cepat dan membuat mereka terperosok.

            Seorang yeoja dari pengendali udara langsung terbang agar tidak terperosok dan namja pengendali bumi dari kelompok mereka segera menyeimbangkan lantai untuk menyelamatkan teman yang lain. Para penonton memekik dan berteriak-teriak cemas saat mereka terus saja terperosok. Tapi kelompok dua cepat tanggap dan terus berkonsentrasi. Akhirnya tepat ketika stopwatch munjukkan angka 00.10.00.00, yeoja pengendali udara dari kelompok mereka berhasil menggenggam secarik kertas emas setelah mengejarnya sampai ke dalam lubang di lantai.

            “Awesome! Pencapaian yang luar biasa,” kata Andy Gyojang dari mikrofon. “Langsung saja kelompok 3 aku persilakan turun,”

            Hyo Jin yang duduk di belakangku berdiri dengan gugup. Wajahnya masih lebih pucat tapi dia terlihat bersemangat.

            “Fighting!” kataku memberi semangat yang hanya dibalas dengan anggukan gugup. Sejenak mataku bertemu pandang dengan tatapan benci Hyo Jae.

            Ommo, yeoja Hyo Jae itu. Dia vampire kedua yang sangat tidak menyukaiku setelah Hyo Ae. Dia terus mencemoohku dan berkata kalau aku ini pamer, sok-sokan, dan sebagainya. Tapi aku tidak ambil pusing, dia mungkin hanya ini karena aku berhasil bergaul dengan lima vampire tampan tanpa terluka. Terlihat jelas dari tatapannya tiap kali aku bersama salah satu dari lima vampire tampan yang dijauhi hagsaeng-hagsaeng lain.

 

            Kelompok tiga sudah bersiap di lantai marmer aula yang sudah kembali seperti semula. Karena mereka mendapat tantangan pengendalian api maka GD Seonsaengnim berdiri dan melambaikan tangannya untuk memunculkan rintangan yang akan mereka hadapi. Sejenak tidak terjadi apa-apa setelah symbol di lantai menyala. Tapi tiba-tiba sebuah petir yang muncul dari langit-langit aula menyambar tepat ke tengah-tengah kelompok tiga yang langsung kocar-kacir kecuali anggota yang dari pengendali api.

            Sedetik kemudian api-api yang entah  dari mana datangnya mulai menjalari lantai mendekati mereka. Hyo Jin dan Jung Min membentuk retakan dan penghalang agar api tidak sampai pada mereka. Walau bisa menghadang api tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa terhadap petir  yang terus menyambar. Untuk itu Kyu Jong dan Hyo Jae yang bertindak. Lalu siapa yang akan mencari tiket emas jika semuanya hanya mengurus rintangan?

            Aku terus menggigit jari-jariku saat waktu sudah melewati 15 menit. Mereka belum juga bertindak dan semakin lama api maupun petir itu semakin ganas. Namun akhirnya ketika stopwatch menunjuk angka 00.25.17.02, Hyo Jae yang nekat menembus api berhasil mendapatkan tiketnya. Aku dan penonton lain tetap bersorak kegirangan dengan keberhasilan mereka walau waktu yang ditempuh jauh lebih lama dari yang lain, yang terpenting mereka semua selamat. Hanya Hyung Jun yang mencemooh apalagi saat kelompok 3 kembali ke bangku penonton. Kaos Hyo Jin dan Jung Min masih berasap. Aku mencium bau gosong begitu mereka mendekat yang ternyata berasal dari rambut panjang Jung Min yang separo terbakar. Penampilan mereka sangat lucu tapi aku tidak bisa tertawa melihat raut muram di wajah Hyo Jin, sementara Jung Min hanya cengengesan dan beradu mulut dengan Hyung Jun.

            Aku terus menghibur Hyo Jin sampai lupa pada permainan dari kelompok 4 yang hanya memakan waktu 5 menit. Ternyata mereka tidak berhasil mendapatkan tiketnya karena mereka semua tenggelam saat aula itu berubah menjadi lautan. Hal itu membuat Hyo Jin kembali semangat karena ada kelompok lain yang skornya lebih rendah dari skor kelompoknya. Bahkan sudah dipastikan kalau kelompok 4 akan dieliminasi tapi masih ada kelompok terakhir yang menentukan.

            “Kelompok lima sekaligus kelompok terakhir silakan turun!” seru Andy Gyojang.

            Perutku rasanya sangat mual saking gugupnya. Sedari tadi aku sibuk menonton dan berbincang dengan Hyo Jin sampai lupa membuat strategi atau rencana pada teman satu kelompok. Duh, aku kan ketuanya.

            “Eottae? Kita belum membuat rencana,” kataku takut-takut saat kami sudah menuruni tangga.

            “Nah, kau baru sadar sekarang. Ketua macam apa itu?!” cibir Hyo Jae . Aku semakin merasa tidak enak pada mereka.

            Sebuah tangan tiba-tiba mendarat di bahuku,”Gwaenchana, lagipula kita tidak tahu tantangannya bakal seperti apa,” ternyata Young Saeng.

            “Ne, akan lebih seru jika dadakan. Aku sudah  tidak sabar! Kkaja, jhagi!” Hyung Jun yang sudah sampai di dasar tangga mengulurkan tangan sok gentleman kepada Hyo Ae, tapi yeoja itu malah mengulurkan ujung pedangnya.

            Kami sudah berdiri di atas symbol yang terukir di lantai. Kuamati wajah-wajah para seonsaengnim yang terlihat tenang. Andy Gyojang tersenyum padaku dan seperti bergumam ‘fighting’. Aku balas tersenyum dan langsung mengalihkan tatapanku pada Hyun Seonsaengnim yang duduk di sebelah beliau. Kali ini Hyun Seonsaengnim terlihat benar-benar seperti guru dengan aura dan pakaian formalnya hari ini. Aku terus menatapnya berusaha menunjukkan kegelisahanku agar dia tidak memberikan tantangan yang sulit.

            Hyun Seonsaengnim menyeringai sambil mengedipkan sebelah matanya padaku. Aku langsung sadar, inilah saatnya. Symbol yang kuinjak langsung menyala dan kami bersiaga saling memunggungi, mengawasi setiap sudut ruangan. Hyo Ae mensiagakan dua pedang panjangnya, Young Saeng sudah mengeluarkan air yang sekarang berada di genggamannya seperti cambuk, sementara Hyung Jun membuat pusaran angin di tangannya. Lalu apa yang harus kulakukan? Aku membawa belati, tapi tidak yakin akan menggunakannya. Apakah bakatku berguna di sini?

            Serangan pertama akhirnya muncul setelah kami nanti selama 5 detik. Sebuah pedang perak yang umum digunakan oleh pengendali pedang muncul dari tembok dan melesat kearah Young Saeng. Dia langsung mencambuknya dengan air, membuat pedang itu terbelah menjadi dua. Ada jeda yang cukup lama setelah serangan pertama.

            Lalu semuanya terjadi secara bersamaan. Selusin tombak muncul dari lantai di tegah-tengah lingkaran yang kami buat. Kami sangat terkejut dan berusaha menjauh dari tombak tapi pedang-pedang bermunculan dari berbagai sudut sementara anak panah melesat dari langit-langit. Semua ujung runcing benda-benda itu mengarah ke satu titik yaitu kami.

            Young Saeng langsung menyambar pinggangku, memelukku, dan membuat tameng di sekeliling kami berdua dari air yang berpusar cepat. Hyo Ae dan Hyung Jun lah yang mengatasi kekacauan itu. Aku bisa melihat Hyo Ae dengan kemampuan luar biasa berusaha menangkisi pedang-pedang di sekitar kami sementara Hyung Jun menerbangkan semua anak panah dengan bakatnya yang luar biasa. Suara dentingan besi dan perak yang jatuh menggema ke seluruh ruangan.

            “Young Saeng-ah, aku mau membantu!”  teriakku di tengah hiruk-pikuk ini.

            “Tidak ada yang bisa kau bantu,”

            “Aku tidak bisa membiarkan mereka berdua saja yang mengatasinya,”

            “Memang apa yang akan kau lakukan, ha?! Kau akan mengendalikan pedang-pedang itu? Baboya, mereka benda mati dan tidak punya otak jadi tidak bisa kau kendalikan,”

            “Tapi biarkan aku melindungi diri sendiri!”

            “Dengan apa?! Dengan pikiran mesummu? Sudah diam saja!  Jika kau tertusuk semuanya akan sia-sia. Peraturannya tidak boleh ada yang terluka,” aku ingin sekali menginjak kaki Young Saeng tapi kuurungkan.

            “Bagaimana dengan mereka?! Mereka bisa terluka!”

            “Mereka tidak akan terluka, lihatlah,”

            Tameng air Young Saeng sudah lenyap. Aku memandang heran ke sekeliling aula yang terlihat bersih. Penonton bersorak-sorak riang dan aku langsung menyadari kalau permainan sudah usai. Hyung Jun berteriak kegirangan sambil terbang mengelilingi aula dan memerkan kertas kuning di tangannya.

            “Kalian lihat bagaimana aku menangkapnya tadi!? Uhuuuuy!”

            Aku melihat ke stopwatch raksasa dan terkejut mendapati angka yang tertera adalah 00.09.59.55. Aku sangat senang, tentu saja tapi juga merasa sangat jengkel. Aku kan  belum sempat melakukan apa-apa tadi, hanya berada di rangkulan Young Saeng sambil menonton.

            “Bergembiralah,” kata Young Saeng. Mwoya? Dia sendiri hanya memasang wajah datar dan dinginnya yang biasa.

            “Bagaimana aku bisa gembira kalau sedari tadi tidak melakukan apa-apa?” gumamku.

Hyo Ae menimpali dengan wajah puas,”Bukankah memang seharusnya begitu? Pengendali pikiran kan kerjanya hanya menonton dan menyuruh bukan bertarung,”

            Ini sama sekali tidak membuatku semakin baik, justru sebaliknya. Aku sudah bersiap membalas Hyo Ae tapi suara-suara langkah kaki yang mendekat membuatku bungkam. Kelompok-kelompok lain bergabung ke tengah aula.

            “Waktu yang luar biasa, Sung Young!” pekik Hyo Jin sambil berlari dan memelukku.

            “Apanya, aku tidak melakukan apa-apa tadi,” kataku muram.

            “Oh, jadi sang pengendali pikiran yang dielu-elukan gyojang kerjaannya hanya menonton dan membiarkan teman-temannya yang bekerja?”

Aku sudah hafal betul dengan nada bicara dan cemoohan itu. Siapa lagi kalau bukan Hyo Jae. Hyo Jin melepas pelukannya dan menatap yeoja itu sengit.

            “Kau tidak boleh berkata seperti itu?!”

            “Heh, sadarlah! Kau ini di kelompok mana?” cibir Hyo Jae lalu pergi menuju Kyu Jong dan Jung Min yang berdiri di ujung.

            “Kau tidak memikirkan perkataan yeoja tengik itu kan, Sung Young? Bersemangatlah! Hajiman, mianhae aku harus ke kelompokku,” aku hanya mengangguk dan Hyo Jin langsung berlari ke kelompoknya.

 

            Andy Gyojang yang masih berada di deretan penonton berdiri sambil memegangi mic. Layar di belakangnya yang menampilkan stopwatch sudah berganti menjadi tabel 5 baris 1 kolom. Masing-masing baris ditulisi ‘Kelompok 1’, ‘Kelompok 2’, dan seterusnya.

            “Nah, kita sudah menyaksikan kelima peserta melewati tugas pertama Bloody Game! Tentu saja kelimanya sudah berusaha dengan sangat baik. Tapi di setiap pertandingan akan ada yang menang dan ada yang kalah. Jika aku tidak salah, perolehan saat ini adalah sebagai berikut,”

            Andy Gyojang terlihat seperti sedang menyentuh sesuatu yang tergeletak di mejanya. Itu pasti laptop atau sejenisnya. Semua vampire mengamati baris-baris tabel di layar yang mulai berubah. Di baris pertama tertulis ‘Kelompok 5’, kedua ‘Kelompok 2’, ‘Kelompok 1’, ‘Kelompok 3’, dan yang terakhir ‘Kelompok 4’.

            “Berdasarkan waktu yang dicapai, kelompok tigalah yang menduduki posisi terbawah. Tapi mereka masih beruntung karena kelompok empat tidak berhasil menyelesaikan permainan. Dengan sangat menyesal,” Tiba-tiba baris paling bawah yang bertuliskan ‘Kelompok 4’ menghilang,”Kelompok 4 dieliminasi,”

            Ketua kelompok 4 yang kutahu bernama Seung Yeon menangis. Aku dan peserta lain mengerubungi mereka, memberi semangat dan menghibur. Para penonton berdiri sambil tepuk tangan untuk memberi penghormatan terakhir pada kelompok 4 yang sudah berusaha hari ini.

 

            “Jangan lupa tugas Bloody Game kedua akan dilaksanakan di halaman depan pada jam yang sama!” seru Andy Gyojang untuk yang terakhir pada hari ini.

Pada pukul 12 malam lebih para penonton sudah mulai meninggalkan aula utama. Seonsaeng-seonsaeng juga turun dan bergabung ke tengah aula. Hyun Seonsaengnim mendekati kelompok kami bersama seorang yeoja cantik yang merangkul lengannya mesra. Yeoja itu Sookie Seonsaengnim.

            “Kerja bagus!” kata Hyun Seonsaengnim sambil tersenyum.”Kalian juga,” lanjutnya pada kelompok 3 yang baru saja mendekat.

           “Ne, kalian sangat hebat bisa melewati tantangan Hyun Joong dalam waktu singkat. Terlebih kau, Hyo Ae, kudengar kau asisten Hyun Joong,” kata Sookie Seonsaengnim sambil tersenyum juga. Hyo Ae hanya mengangguk tapi tidak menatap Sookie Seonsaengnim. Sepertinya aku tahu apa masalahnya.

            “Tapi kan aku yang mendapatkan tiketnya, seonsaengnim,” rajuk Hyung Jun dengan tampang aegyo yang membuat Jung Min memasang ekspresi mau muntah.

            “Ne ne, kau sangat hebat, Hyung Jun-ssi, nae hagsaeng yang pintar. Aku mengamati gerak pengendalianmu dan tadi itu sangat bagus,”

            Sookie Seonsaengnim mengacak-acak rambut Hyung Jun gemas yang tentu saja langsung membuat Hyung Jun kegirangan diperlakukan seperti itu oleh yeppeo seonsaengnim. Kali ini tidak hanya Jung Min yang mencibir tapi kami semua. Bahkan setelah itu Hyun Seonsaengnim langsung menjitak Hyung Jun.

            “Ah, Hyuuung. Huff, geurae bagaimana kalau sekarang kita ke kantin saja?! Kutraktir!” seru Hyung Jun.

            “Jinja?” pekik kami semua.

            “TENTU SAJA TIDAK!” dan Hyung Jun pun berlari sambil cekikikan dengan Jung Min di belakangnya.

            “Kkaja Sung Young! Kita juga pergi,” aku langsung ditarik Hyo Jin. Kutatap Young Saeng berniat untuk mengajaknya juga tapi sepertinya dia masih asyik mengobrol dengan Kyu Jong, Hyun dan Sookie Seonsaengnim.

            “Eh, Hyo Jin-ah, apakah Sookie Seonsaengnim itu yeojachingu Hyun Seonsaengnim?”

            “Ne, mereka sudah lama pacaran,”

            Mendengar itu membuatku sedikit kasihan pada Hyo Ae yang menyukai guru muda nan tampan itu. Dia pasti sangat sedih. Aku mengerti bagaimana dia bisa cepat marah terutama jika menyangkut Hyun Seonsaengim. Aku korbannya. Tapi aku tidak memikirkannya, aku lebih memikirkan tugas kedua Bloody Game. Kira-kira apa, ya? 

 

*TBC*

 

Seru nggak nih series keduanya?😀 moga betah baca yaa~

siblaah nantikan next partnya.

 

DON’T FORGET TO RCL!

NO PLAGIATOR!! NO SILENT READER!!

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s