FF win Album Re : BIRTH : That Sense

Cast :

  • Hwang Su Jin
  • Kim Jong Hyun / JR
  • Hwang Min Hyun
  • Kwak Aaron
  • Kang Baek Ho
  • Hannah
  • Choi Min Gi

Genre :

  • Psychological

 

Rate :

  • PG-15

 

 

 

Min Hyun as lil’ brother.

Aron as Su Jin’s ex boy friend

Baek Ho as Aron’s friend

Min Ki as Min Hyun’s close friend

 

Bismillah,

Nita Aresanti.

 

 

Aku yang mencintaimu. Aku yang terobsesi membunuhmu.

 

 

Who is he?!

 

            Lenting lonceng dari luar menusuk telinga. Decitan kayu rumah terasa memberat. Tiupan angin mengetuk jendela, malam tanpa bintang terasa sangat lama berlalu.

            Peluh mulai membanjiri dahi dan pelipis, tubuh gemetar akibat desiran darah terlampau cepat. Gemertak giginya menandakan datanganya mimpi buruk.

            “Minhyun!!”

            “Ada apa nuna?!”

            Sosok laki-laki memasuki kamar gelap Sujin. Lelaki 180 cm itu menghambur, memeluk erat kakak satu-satunya di dunia ini. Matanya tertutup mencoba mengatur napas agar wanita ini merasa tenang.

            Semua hampir terulang di setiap malam. Kantung mata Minhyun tidak dapat membohongi. Ia nyaris tidak tertidur sepanjang malam, terjaga untuk Sujin kakak tercintanya. Ia yakin semuanya akan cepat berakhir.

            “Mengapa? Mengapa-dia-selalu-datang?” ucapan Sujin selalu terbata, diselingi tangisan sendu ketakutannya.

            Minhyun mencoba melepas pelukannya, ia merasa sakit melihat kakaknya harus menderita. Berat jika orang tuamu mati, karena seorang menginginkan itu. Minhyun tidak mengerti atau lebih tepatnya tidak tahu siapa yang selalu menghantui mimpi Sujin tiap malam. Namun lelaki ini tetap berusaha menjaga, sekuat yang ia bisa dan sampai jantungnya berdetak terakhir kali.

            “Nuna ingin kita pindah? Apa mungkin rumah kita memang berhantu? Setelah ayah mati karena tersentuh makhluk astral dan bunuh diri,” jawab Minhyun. Wajahnya berusaha untuk terlihat baik-baik saja.

            Sujin melihat adiknya tajam. “Itu ulah manusia gila yang selalu datang ke mimpiku Minhyun! Bukan karena hantu bodoh yang kau percayai!” pekik Sujin.

            Suara petir menggelegar, rintik hujan jatuh, sudah diramalkan malam ini terjadi badai. Minhyun melihat kakaknya dengan air mata yang hampir pecah. Ia tahu, seseorang memang menginginkan orang tuanya mati. Namun jika alasan itu terus dibicarakan, tak ada bukti! Sidik jari ayahnya lah yang tercetak di pisau milik ayahnya, tertusuk mengoyak diafragma lelaki tua itu. Siapa yang harus disalahkan?! Seorang yang selalu mendatangi mimpi? Damn! Kau mungkin penghuni rumah sakit jiwa jika percaya.

            “Nuna, lebih baik besok kita pindah. Sekarang aku tidak peduli apa itu hantu atau pembunuh yang nuna percayai, yang pasti nantinya akan membunuh kita.”

            Minhyun menyibak selimut yang dipakai Sujin, basah. Lelaki itu mengambil satu persediaan selimut dari lemari, akhirnya ia ikut terbaring di ranjang kakaknya.

***

            Minhyun meneguk air mineral, peluhnya sudah membanjiri seluruh tubuhnya. Permainan basket di kampus menguras seluruh tenaga.

            “Minhyun-ah, kakakmu masih gila?” celetuk lelaki cantik dengan handuk di kepalanya.

            Minhyun menoleh ke samping. “Kau mau mati? Kakakku tidak gila,” jawab Minhyun datar.

            Lelaki dengan nama punggung Choi itu tersenyum sengit. Melihat ke lapangan dengan tatapan remeh. “Katamu kau berniat menumpang? Di rumahku?”

            “Tidak tahu, bukankah keluarga Choi itu ‘Big Family’ termasuk Choi Mingi? Shh,” tawa Minhyun.

            Lelaki itu melepas handuknya, mengibaskannya ke teman dekatnya itu. “Sial kau!”

            Minhyun hanya meringis dan tetap tertawa ringan. “Ayo, aku lapar.” Minhyun bangkit dan berjalan mendahului.

            Hembusan angin terasa berbeda, lebih cepat dan bertambah intensitas. Daun mengering, berterbangan mencapai jarak terjauhnya. Langit tidak nampak biru, sepia layaknya daun jati kering. Pertengah musim gugur yang kelam.

***

            “Di rumah keluarga Kwak? Bekas pemuas batinmu dulu?”

            Minhyun menjawab seadanya setelah Sujin melontarkan kata Aaron, mantan kekasihnya. Wanita itu menjitak kepala Minhyun, tidak terima jika mengganggap hubungannya dengan Aaron terlalu hina.

            “Dia datang, aku menceritakan hampir semua kejadian yang kita alami, dan pertengkaran sengit kita semalam,” terang Sujin, wanita itu kembali memakan Ramyun pedasnya.

            Mingi hanya menjadi orang bodoh yang tidak dianggap kakak beradik di sebelahnya. Lelaki ini hanya terus menenggak coke yang digenggam sembari mendengar kata perkata yang dilontarkan.

            “Aku tidak melarangmu nuna! Jika dia mau mengandangi kita berdua, ingat kita berdua! Bukan hanya dirimu cinta sesaatnya,” dengus Minhyun.

            “Arrayo~ lagi pula aku sudah mengenal keluarganya. Terutama Grace dan Hana, adik kecilnya.”

            Minhyun terlihat menekuk wajahnya. Ia memang ingin ke luar dari rumah, hanya saja bukan tertampung di rumah lelaki keturunan Los Angeles itu.

***

            “Awh,” ringis Minhyun pelan.

            Hwang bersaudara itu sudah memutuskan untuk menginap di rumah Aaron. Minhyun membawa dua koper besar hitam dengan kedua tangannya. Lelaki itu nampak kelelahan, menarik dua koper keperluan ia dan kakak perempuannya.

            Mereka berdiri di pinggiran jalan. Menunggu Aaron yang akan datang dengan sedannya. Minhyun bersandar di palang jalan seraya menepuk-nepuk pinggangnya. “Nuna, kau harus berjanji padaku. Saat nanti tiba di sana, jangan sekali pun bermalam dengan lelaki itu.”

            Sujin melihat adiknya tertawa. “Kau mengkhawatirkanku?” balasnya dengan mengelus pelan rambut Minhyun.

            “Aku tidak bercanda nuna. Kita masih dapat hidup dengan uang yang ditinggalkan ayah!” teriak Minhyun.

            Wanita itu mengangguk, tersenyum karena Minhyun sangat mempedulikannya. “Aku berjanji,” jawab Sujin dengan senyuman manis terukir.

            Suara mobil terdengar dari arah selatan, sedan hijau berhenti tepat di depan Sujin dan Minhyun.

            “Merindukanku?” celoteh seseorang dari balik kaca mobil.

            Orang itu turun dari sedannya. Membuka garasi, membantu Minhyun dan Sujin mengangkat semua tas. Wajahnya selalu tersenyum, lekukan tajam di pipinya makin membuat ia terlihat tampan, namun misterius bagi seorang Minhyun. Apa maksud senyuman lelaki itu?

***

 

Is He?

 

            Warna jingga langit mulai nampak. Semakin memerah saat surya hampir menghilang. Daun musim gugur yang berterbangan perlahan mereda. Hanya beberapa yang terjatuh menyambut malam.

            Sepanjang jalan Aaron selalu mengukir senyuman manis miliknya. Perlahan lelaki itu mulai menautkan tangannya ke Sujin. Teman baik Sujin semasa di sekolah menengah atas dua tahun lalu. Lelaki yang baik, ramah, dan penuh humor menurut seorang Sujin.

            “Kurasa, bahkan berterima kasih tidaklah cukup,” mulai Sujin.

            Mata Aaron menyipit dari balik kacamatanya. Lelaki itu kembali tersenyum dengan tekukan tajam di pipinya. “Kupikir ini yang terbaik, lupakan masa lalumu yang kelam itu. Banyak yang akan memberimu kasih sayang.”

            Minhyun yang berada di kursi belakang hanya memutar mata. Apa sekarang ia sedang menyaksikan drama Telenovela secara langsung?

***

            “Kita sampai.”

            Suara Aaron menggema dari luar rumah. Rumah berukuran sedang dengan sentuhan Persia di seluruh dinding, berwarna satin pudar dengan ukiran romawi tua. Mereka mulai melangkahkan kaki untuk memasukinya.

            “Kalian telah datang. Sujin, kami turut berduka,” ucap wanita paruh baya dengan wajah melemas. Memberikan seluruh perhatiannya kepada anak perempuan keluarga Hwang itu.

            Sujin hanya melempar senyum tanpa mengucapkan sepatah kata. Begitu pun Minhyun yang kini hanya menarik satu koper saja.

            “Mom, you’ve promised to me for not make Sujin feels sad,” jawab Aaron dengan dialek Inggrisnya setelah memasuki rumah.

            Seorang lelaki dan wanita paruh baya, beserta dua anak perempuan menatap sendu Sujin dan Minhyun. Tetapi senyuman mereka dapat memberikan Sujin semangat, dan merekalah keluarga baru Kwak.

            Hana, gadis kecil nan imut itu mendekat. Keluarga ini memang sudah sangat dekat dengan Sujin, terlebih Aaron adalah mantan dari wanita itu.

            “Kakak ingin aku berbagi kamar?” ucap Hana.

            Sujin membalasnya dengan senyuman. “Kurasa itu pemikiran yang bagus,” Sujin sedikit menekuk lutut di hadapan Hana.

            Tanpa perintah gadis kecil itu mulai menarik tangan Sujin, membuat wanita berambut lurus itu berjalan dengan cepat ke kamar milik Hana.

            Minhyun merasa canggung di keluarga ini. Entah mengapa lelaki itu masih menaruh curiga dengan Aaron. Pertama Sujin memutuskan hubungan mereka, kemudian selang beberapa waktu ayahnya mati karena seseorang yang diyakini Sujin, sekarang mereka akan hidup di rumah orang yang kau yakini pembunuh ayahmu.

            “Ayo, kutunjukan kamar untukmu.” Aaron menepuk pelan bahu Minhyun, ia berjalan masuk rumah lebih dalam. Minhyun hanya menurut namun masih dengan ribuan spekulasi akan lelaki keturunan itu.

***

            Minhyun belum dapat memejamkan mata, pukul dua pagi terlihat dari ekor matanya. Rasanya gelisah, ia mengkhawatirkan sesuatu. Sujin, apa kakaknya tidur dengan tenang di rumah keluarga Kwak ini?

            Lelaki itu berbaring sendiri di kamar tamu. Terus menatap jam dinding. Dari jendela terdengar suara riuh angin beserta hujan deras. Halilintar pun tidak seperti biasanya.

            Minhyun memutuskan untuk ke luar kamar, mencari dapur dan meneguk segelas air. Suasana rumah yang sepi dan gelap tidak menciutkan nyalinya. Bahkan ia ingin tahu apa seorang Aaron sudah terlelap di pagi ini.

            Minhyun melangkahkan kaki ke ruang keluarga Kwak. Televisi masih menyala, dengan tayangan yang sesekali buram dan ramalan cuaca. Seseorang duduk di sofa, kepalanya masih tegak melihat televisi. Tidak menyadari Minhyun mengintipnya dari balik pintu.

            “Aronie, kau belum mau tidur?”

            Suara berat seseorang mengagetkan Minhyun. Datang dari pintu kamar Aaron. Membawa dua Sprite di tangannya. Dengan kaus putih tipis yang dikenakan, membuat ototnya terlihat jelas. Lelaki dengan model potongan jambul di rambutnya duduk di sebelah orang yang dipanggil Aron olehnya.

            Minhyun masih berada di posisinya. Merasa kejanggalan melihat sosok laki-laki yang baru saja datang itu. Ia memilih untuk mendengar detail percakapan dua orang yang membuatnya menyipitkan mata.

            “Aku belum mengantuk Baekho.”

            “Dia kau suruh untuk tinggal di sini? Aku tidak menyangka, sshh,” ledek lelaki yang bernama Baekho itu.

            “Aku mencintai Sujin,” jawab singkat Aaron.

            Baekho terkekeh, lelaki itu meneguk soda. “Cinta? Kau masih bicarakan itu setelah apa yang kau lakukan kepada dia? Lantas, mengapa tidak kau tiduri saja? Lalu ajak menikah?”

            Minhyun menggigit bibir. Napasnya menderu hebat. Detakan jantungnya bertambah. Rasanya ingin sekali ia balas perbuatan lelaki itu. Setelah tahu Aaron lah yang membuat keluarga Hwang hancur. Apa bisa sekarang ia mengambil pisau dan mengoyak tubuh lelaki itu? Minhyun memutuskan untuk pergi.

            Lelaki itu memilih untuk kembali ke ranjangnya. Pikirannya berkutat dengan realitas yang baru saja ia dengar. Ia yakin, sangat yakin dengan apa yang ia spekulasi selama ini. Besok mungkin ia akan memaksa kakak perempuannya pindah. Tidak peduli semahal apa pun sebuah apartemen di Seoul, mereka harus pergi dari sini secepatnya.

***

 

He is . . .

 

            “Minyeo-ah, kau mau temani aku belanja ke mini market?”

            Kepala Sujin menyembul dari balik pintu. Melihat Minhyun memasukkan bajunya ke dalam koper. Sujin menatap Minhyun heran, ada apa dengan adiknya?

            Belum selesai Minhyun membereskan seluruh barang, ia menarik tangan kakaknya. Mengunci dari dalam pintu ruangan itu.

            “Ada apa?”

            Minhyun memegang erat tangan Sujin. Menatapnya intens dan menghela napas. “Aku ingin kita pindah. Banyak fakta yang kudapat menunjukan Aaron sengaja menghilangkan nyawa ayah.”

            Mata kecoklatan Sujin refleks membulat. “Apa maksudmu?!” Plak! Tangan wanita itu bersarang di pipi tirus Minhyun. “Lebih baik kau mandi bersihkan pikiranmu, temani aku ke mini market. Di sana kau boleh beli apa pun. Kajja!”

            “Nuna~” rengek Minhyun. Sujin tidak menggubris rengekan Minhyun. Ia tetap ke luar ruangan ini.

            Minhyun mengelus pelan pipinya, melihat Sujin berlalu dari kamarnya. Mungkin bukan hari ini mereka akan pergi, tapi Minhyun berjanji sampai sejengkal pun lelaki brengsek itu menyentuh Sujin, ia akan langsung membuat Aaron menyesal telah dilahirkan.

***

            Minhyun menghentikan motor tepat di depan Soujae Minimarket. Motor yang sengaja dipinjamkan oleh Aaron untuk Hwang bersaudara ini. Lelaki itu dengan senang hati meminjamkan motor miliknya setelah Sujin mengatakan ingin membeli keperluan pribadi bersama sang adik.

            “Kita masuk bersama?”

            Sujin melepaskan helm hitam yang ia kenakan. Tersenyum melihat adiknya Minhyun. “Untuk apa aku mengajakmu? Kau tidak mau membeli beberapa kudapan?”

            Bibir Minhyun mengembang, kakaknya sangat tahu apa yang ia inginkan. Ia turun dari motor dan mengekor dari belakang Sujin.

            Dua kakak beradik itu dengan asyiknya membeli keperluan dan makanan ringan. Sampai troli yang didorong Sujin nyaris penuh. Wanita itu merogoh tasnya, tidak ditemukan dompet miliknya.

            “Minyeo, dompetku tertinggal di bagasi motor. Bisa kau ambil?”

            Minhyun menatap malas kakaknya. Mereka hendak mendorong troli ini ke kasir.

            “Ah? Itu orangnya!” Sujin terkejut, berusaha bersembunyi di balik rak-rak. Minhyun mengerutkan dahi.

            Sujin terlihat kalut. “Orang yang selalu datang ke mimpiku, dia yang membunuh ayah. Berada di kasir sekarang,” Sujin berusaha berbisik, jelas ia tidak ingin pembicaraannya dengan Minhyun terdengar.

            Klenteng!

            Suara loceng pintu minimarket berbunyi, bertanda seseorang telah ke luar. Minhyun melihat kakaknya dengan rasa ingin menjaganya. “Tenanglah, kuyakin ia sudah ke luar, aku melihatnya sebentar.”

            Minhyun melangkah,  jantungnya berdetak menuju gelombang alpha, gelombang saat di mana jiwamu merasa terancam. Matanya menyipit, kosong. Kasir dan orang yang dibicarakan Sujin kakaknya telah menghilang. Sedikit menghela napasnya, Minhyun kembali ke Sujin.

            “Ia sudah pergi, kulihat penjaga kasir pun sedang tidak ada di tempat. Kau kutinggal sendiri di sini, jangan takut walau hanya kita sendiri di mini market ini. Aku mengambil dompetmu sebentar,” ucap Minhyun dengan rasa tenangnya. Kedua tangan lelaki itu menggenggam pipi Sujin, meyakinkan kakak tercintanya.

            “Kau yakin?” Deru napas Sujin sudah mulai kembali normal. Minhyun membalasnya dengan anggukan. Lelaki itu berjalan ke luar menuju motor, meninggalkan Sujin sendiri.

            “Sujin~ aku merindukanmu~”

            Mata Sujin seketika membulat, suara itu! Ya suara itu yang membuatnya mimpi buruk sejak ia melihat secara langsung ayahnya dibunuh.

            Wanita ia berbalik, terlihat sosok orang itu. Sujin menutup bibirnya, berjalan mundur berusaha menghindar. Namun orang itu tetap berjalan mengikutinya. Ia memegang pisau lipat di tangan. Tanpa sengaja Sujin melihat penjaga kasir tergeletak di balik mejanya. Sujin berlari tanpa arah dalam mini market itu.

            “Sujin-ah! Kau ingat aku?” teriak orang itu dengan suara beratnya.

            Tidak! Sujin tidak mengingatnya! Sujin tidak ingin mengingat wajah seseorang yang membunuh ayahnya. “Aku tidak ingin mengingatmu Jonghyun-ah!” pekik Sujin. Bulir air mata terjatuh di pelupuk.

            “Aku merindukanmu!” Orang itu menggapai tangan Sujin, memeluk gadis itu erat. “Kau tidak boleh melupakan aku!”

            “Ingatlah! Ingat semua masa saat kita bersatu! Saat di mana kau bicara cinta kepadaku!”

            Orang yang dipanggil Jonghyun oleh Sujin menangis. Air matanya terjatuh di bahu wanita itu. Pikiran Sujin memutarbalikan semua masa lalunya.

 

            “Jonghyun-ah! Aku mencintaimu!”

            Seorang gadis dengan pakaian sekolah menengah atas berteriak di antara kerumunan siswa. Sujin, gadis muda itu berseru untuk adik tingkatnya Jonghyun, lelaki yang telah mencuri hatinya.

            Jonghyun menatap bingung. Mengapa tiba-tiba ada seorang senior yang mengatakan cinta? Pipinya bersemu, ia tidak dapat menyembunyikan rasa senangnya. Minhyun, sahabat karib yang berada di sebelahnya tersenyum.

            “Kakakku sudah lama menyukaimu Jeiyar! Apa kau akan menyukai kakakku juga?” tanya Minhyun yang membuat Jonghyun bertambah gugup. Kakak adik Hwang ini sudah merencanakan semuanya.

            Jonghyun menarik Sujin dari kerumunan. Ia tidak ingin terlihat oleh banyak siswa lainnya. Membawa Sujin menuju balkon sekolah, Minhyun mengejarnya dari belakang. “Aku, aku adalah adik tingkatmu, bahkan baru saja memasuki sekolah ini. Dan kau, kau sudah tingkat tiga, apa aku pantas nuna?” tanya Jonghyun akhirnya.

            Sujin tersenyum, terlihat sangat cantik dengan rambut tergerainya. “Sifatmu, caramu memperlakukan orang lain. Aku terhipnotis oleh kharismamu. Aku juga menyukai keluguanmu.” Sujin menautkan tangannya. “Aku hampir lupa, mulai sekarang kau tidak perlu memanggilku nuna. Arrachi?”

            “Akhirnya Jonghyun memiliki kekasih! Dan itu kakakku yang paling cantik!” Minhyun berteriak dari belakang Sujin dan Jonghyun. Mereka tertawa bersama.

 

            “Katakan, kau tidak melupakannya bukan? Kau janji padaku akan menjaga semuanya! Tapi apa yang kau lakukan! Seakan aku hanyapermen karet?!”

            Jonghyun menggenggam bahu Sujin. Wanita itu tidak sanggup melihat Jonghyun. Ia yang memulainya.

 

            Hampir enam bulan Sujin dan Jonghyun berhubungan. Mereka layaknya pasangan remaja pada umumnya, bercanda, tertawa, bahkan tak jarang Jonghyun berani mencium pipi Sujin. Walau pun Jonghyun lebih muda dari Sujin, ia telah merasa terikat dengan gadis itu. Sekarang, ia sudah sangat mencintai gadis cantik kakak sahabatnya itu.

            Jonghyun berniat memberikan bunga Tulip yang ia curi dari kebun ibunya. Baru kali ini ia merasa ingin berbuat romantis kepada Hwang Sujin. Menemuinya di taman belakang sekolah dan memberikan bunga itu. Terlihat sangat biasa bagi remaja berusia belasan tahun seperti mereka.

            Dada Jonghyun bergemuruh, jantungnya berdegup tanpa tempo. Ia melihat semuanya, gadis miliknya terbuai. Senior dari kelas akreditasi -kelas dengan bahasa asing- membawa Sujin terhanyut dalam kecupannya. Bahkan Jonghyun belum sekali pun berani menyentuh bibir Sujin.

 

            Jonghyun meneteskan air mata. Matanya terlihat sendu. “Mengapa? Mengapa kau mengatakan semuanya? Jika pada akhirnya aku tidak boleh memilikimu?”

            “Kau lulus, mungkin bagimu aku hanya sampah sampai kau lupa. Tapi aku, aku sudah sangat, sangat cinta denganmu! Kau memilih pergi dengan Aaron, lelaki yang terlihat dewasa bagimu. Sedangkan aku hanya benalu? Yang tidak pernah kau rasakan timbal balikku?” tanya Jonghyun merendah.

            Sujin ingin merengek, ia tidak ingin mendengar semua pertanyataan Jonghyun betapa jahat dirinya. Ia memegang kepalanya, rasanya ingin sekali ia benturkan kepala bodohnya. Sekarang pun menangis tidak ada gunanya.

            “Aku menjauhi Minhyun, tidak ingin ia merasakan perih yang aku dapat. Janggal memang, tetapi ia terlihat baik setelah kita lulus bersama. Tapi di saat itu aku ingin meminta penjelasan darimu, penjelasan akan obsesiku terhadap cintamu. Puluhan kali aku datang mencarimu, dengan enteng ayahmu berkata ‘Apa kau masih berani mengunjunginya? Carilah orang lain!‘ Di minggu terakhir ini aku sudah muak dengan ucapan ayahmu.”

            “Jadi kau dengan tega membunuhnya?!” Sujin berteriak dengan parau.

            “Bahkan rasanya aku ingin membunuhmu agar obsesi cintaku mati dan pergi menjauhiku!”

            Jonghyun melepaskan pelukannya. Melihat wanita itu dengan nurani yang terkikis. Ia menghapus air mata di pelupuk Sujin.

            “Jeiyar?!” Minhyun sudah memasuki mini market itu kembali. Lelaki itu mendengar seluruh percakapan Jonghyun dengan kakaknya.

            Jonghyun berdiri, ia kembali memegang pisau lipatnya. Menghapus kasar air matanya, hendak berlari menjauhi Minhyun.

            Sujin menahan kaki lelaki itu. “Aku menyesal! Bunuh aku saat kesempatan itu tiba. Jangan biarkan aku kembali melukaimu.”

            Jonghyun berlari. Tidak mempedulikan apa yang baru saja Sujin katakan.

            Minhyun berjalan mendekati Sujin. Kakaknya terlihat menyesal, merasa sangat bersalah. Lelaki itu memeluk erat kakaknya, berusaha menenangkan jiwa wanita itu.

            “Bodoh! Mengapa aku bisa lupa dengan wajahnya! Mengapa aku lupa dengan semua kenanganku dengannya! Aku hanya mengingatnya sebagai pembunuh,” ucap Sujin, suaranya hampir menghilang karena tangisannya.

            “Nuna, sudah. Jangan salahkan dirimu lagi. Aku akan tetap menjagamu, walau,” ucapan Minhyun terputus. Ia mendengar, semua memang kesalahan kakaknya. Semua yang ia dengar memang tidak logis.

            Brak!

            Minhyun dan Sujin melihat ke luar. Dari balik kaca terlihat seseorang tergeletak. Van putih baru saja menabrak pejalan kaki. Sujin dengan cepat bangun, matanya yang sembab terlihat jelas.

            “Jonghyun-ah!” teriak Sujin.

            Entah apa yang membuat Sujin berteriak memanggil nama Jonghyun. Wanita itu baru saja teringat potongan kenangan lain bersama lelaki itu.

 

            “Bahkan jika aku tidak dapat bersamamu. Biar aku yang terpaksa melupakanmu.”

            “Hush! Aku tidak akan meninggalkanmu. Kita akan selalu bersama.”

 

            Bibir Sujin bergetar, kakinya sudah tidak sanggup berdiri. Seseorang yang selama ini mencintainya memutuskan untuk pergi. Memaksa dirinya untuk melupakan rasa yang mendalam itu. Mata Sujin menyaksikan bagaimana pisau lipat tertanam di jantung lelaki itu, dan membiarkan tubuhnya terhempas karena benturannya dengan sebuah van.

            “Jonghyun-ah! Gajima!” Sujin berlutut di depan tubuh tanpa nyawa Jonghyun. Wanita itu tersedu karena rasa bersalahnya dan rasa yang belum terbalas.

 

Aku hanya lelaki lugu tanpa cinta.

Tanpa aku ketahui perasaan macam apa itu.

Rasa itu adiktif, aku selalu memikirkanmu.

Sampai kutemui rasa itu layaknya  timah panas laras panjang yang menembus.

Sakit? Tidak, kurasa itu lebih perih dari sebuah luka yang diberi garam.

Janji, seuntai kata candu dalam sukma.

Kautemui janji itu terasa hambar.

Aku Jonghyun seseorang yang mencintaimu, tapi kau memaksaku melupakan rasa nikmat itu.

Aku Jeiyar seseorang yang ingin membunuhmu, melupakan seluruh kenangan dalam memori akan dirimu.

Jika kita tidak dapat bersama, biarkan aku yang mengakhirinya.

 

Obsesi merasuki rasa itu.

                                                            End~

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s