ff “Sajangnim” – Part 1 (YongJae couple)

Author: SJ. Yeong <Andien>

Tittle: (Sajangnim)

Genre: Romance – Family

Main cast:

Jung Yonghwa of CNBLUE

Song Jae yeong (author)

 

[Little notice]

 

Hai hai hai, i’m comeback

Ada yg menantikan kembalinya author abal-abalon(?) ini?? Ehehehehhee…

 

Tanpa bermaksud berlama-lama untuk ngumbar bacotan (?) kagak jelas author disini😛

Author hanya ingin menekankan bahwa ide dan konsep ff ini adalah murni isi otak author ditambah dengan beberapa referensi pendukung, diantaranya MV Kpop, dan lagu “Confession” milik Kangta oppa

 

Para cast adalah milik Tuhan, keluarga, para fans dan tentu saja diri mereka sendiri.

 

Author juga berterimakasih secara khusus pada dongsaeng author, @Saraswati meyda yg sudah membuatkan cover untuk ff ini. covernya cute ^^

 

Warning: Typo bertebaran #harap waspada.

 

Adapun kelebihan dan kekurangan dari ff ini, harap di maklumi.

Bahkan author professionalpun kadang luput dari kata kesempurnaan, apalagi nae yg hanyalah seorang author abal-abal.

 

So,

 

Happy reading, guys.

 

Keep continue to RCL.

 

Ppyong

 

—————————- [SAJANGNIM] ——————————-

 

Musim semi,   2014

 

“Hyung, kau benar-benar menerima gadis tadi untuk menjadi sekretarismu??”

“Ne. Aku menyukainya. Dia berpengalaman, professional, dan handal. Sosoknya juga terlihat menyenangkan. Ada apa??”

“Aniya. Aku hanya sangat setuju dengan pendapatmu.”

Yonghwa tersenyum tipis lalu kembali menekuri setumpuk berkas yg ada di mejanya.

Jungsin menatapnya, lalu, “eohh~ hyung, bukankah ini jam pulang sekolah Shina. Kau tidak menjemputnya??” tanya namja tampan itu menatap jam yg melingkar di pergelangan tangannya.

“Sudah ada Hara yg menjemputnya,” jawab Yonghwa, santai.

“Hara? Tunanganmu,” Hhh~ Jungshin menghela nafasnya panjang.

“Wae??” Yonghwa menatap Jungshin, lekat.

Namja tampan bergigi gingsul itu benar-benar  tidak mengerti kenapa adik sepupunya itu selalu menghela nafas panjang tidak suka setiap kali ia berbicara tentang Hara,tunangannya.

“Sebaiknya jauhkan Shina dari yeoja itu, hyung,” ujar Jungshin.

“Kenapa harus seperti itu??” Yonghwa menatap Jungshin,semakin tidak mengerti.

“Entahlah. Aku hanya tidak suka pada tunanganmu itu. Dan kalau boleh aku jujur, aku lebih menyukai gadis yg akan menjadi sekretarismu tadi itu. Kalian berdua terlihat serasi.”

Yonghwa diam, masih menatapi jungshin.

“Hhh~ sudahlah, hyung. Aku mau ke ruanganku saja,” dan Jungshin pun berlalu dari ruang kantor atasan sekaligus kakak sepupunya itu.

 

“Ck! Dasar aneh,” batin Yonghwa menatap punggung Jungshin yg sudah menghilang di balik pintu ruangannya.

 

                                                        ***

 

“Omo! Dia kenapa??” yeoja cantik bernama Shin Hyo ah itu segera menyongsong Jae yeong yg baru saja masuk ke dalam butiknya sambil menggendong seorang anak kecil dengan siku dan lutut berdarah.

“Bantu aku mengambilkan kotak P3K di lemari sana,” tunjuk Jae yeong pada sebuah lemari di pojok ruangan.

 

“Tenang yah, adik kecil. Ini tidak akan terlalu sakit,” ujar Jae yeong lalu mengoleskan obat merah di luka gadis kecil yg tampak meringis menahan perih saat tangan Jae yeong menyentuh siku dan lututnya, bergantian.

Jae yeong tersenyum tipis. Dalam hati ia merasa senang melihat gadis kecil itu patuh padanya.

 

“Cha! Sudah selesai,” ujarnya lagi saat ia selesai menempelkan perban di luka gadis kecil itu.

“Gamsahamnida, bibi cantik,” ujar gadis kecil itu yg kemudian memeluk tubuhnya.

Ia dan Hyo ah saling pandang, lalu tertawa pelan bersama.

“Sama-sama, adik manis,” tuturnya, membelai lembut rambut panjang gadis kecil itu.

“Aah~ bibi yg cantik ini juga punya ice cream. Kau mau, adik kecil??” Hyo ah menawarkan.

Gadis kecil itu segera mengangguk.

“Baiklah. Akan bibi ambilkan. Tunggu ne,” Hyo ah segera berlalu.

 

“Siapa namamu??”

“Shina. Jung Shina.”

“Aah~ bibi, Jae yeong. Song Jae yeong. Dan bibi yg tadi itu, Hyo ah. Shin Hyo ah. Dia adalah adik sepupuku.”

 

Hening  sejenak.

 

“Ahh! Shina ya. Kau tinggal dimana? Bibi akan mengantarmu pulang nanti,” ujar Jae yeong, menatapi gadis kecil di hadapannya.

“Nanti saja, bibi. Biarkan aku makan ice cream dari bibi itu dulu dengan tenang,” tunjuk gadis kecil bernama Shina itu pada sosok Hyo ah yg sudah keluar membawa sebuah nampan dengan segelas ice cream diatasnya.

Jae yeong tercengang dengan kata-kata gadis kecil itu, namun sesaat kemudian iapun tertawa sambil mencubit gemas pipi Shina, “noemu kyeowo,” ujarnya.

 

“Siapa dia??” tanya Hyo ah sambil menyodorkan secangkir  teh hangat kesukaan Jae yeong.

Kedua yeoja cantik itu sedang berada di balkon lantai dua butik dan membiarkan little Shina menikmati ice cream  vanillanya di lantai satu.

“Aku menolongnya saat sebuah mobil menyerempetnya,” jawab Jae yeong mulai menyesap teh hangat di cangkirnya.

“Oh ya, gaun pengantin nona Go sudah siap??” tanyanya, lagi.

“Sudah siap. Kau mau melihatnya??”

“Tidak usah. Aku tidak ingin melihatnya,” Jae yeong mendongakkan kepalanya menatap langit cerah kota Seoul hari itu.

Hyo  ah menatap saudara sepupunya itu dan merutuki dirinya sendiri karena sudah bertanya seperti tadi.

“Mianhae,” ujarnya pelan, menyentuh pundak Jae yeong.

Jae yeong menoleh dan hanya tersenyum tipis, “gwaenchanna.”

 

[FLASHBACK]

 

“Kurang ajar!!!”

 

BUKK!!

 

Hyo  ah menghantamkan tas miliknya kearah tubuh namja bernama Park Jungmo dengan bertubi-tubi, membuat namja dengan mata besar itu hanya mampu mengerang kesakitan. Dan sementara di pojok kamar itu seorang yeoja yg hanya menutupi tubuhnya dengan selimut tampak bergidik takut melihat sosok Hyo ah yg membully Jungmo hingga benar-benar hampir tak berdaya seperti itu.

“Jangan muncul dihadapanku dan Jae yeong lagi. Arra??!” gertaknya yg kemudian menendang keras lutut Jungmo, lagi-lagi membuat namja itu mengerang dan berteriak kesakitan. Lalu iapun menyusul sosok Jae yeong yg sudah keluar dari kamar itu lebih dulu.

 

Hyo ah mendekap erat dan membiarkan kakak sepupunya itu menangis keras di dalam pelukannya.

Yah, setidaknya hanya hal itulah yg bisa dilakukannya untuk menenangkan sang kakak saat itu.

 

[FLASHBACK END]

 

Titik-titik airmata itu perlahan turun di kedua belah pipi Jae yeong, membuat si empunya langsung menyekanya dan menatap Hyo ah yg sudah lebih dulu menatapinya.

Jae yeong tersenyum tipis begitu Hyo ah mulai menepuk-nepuk punggungnya lagi.

 

                                                     ***

 

“Nona muda, apa yg terjadi??!” pekik wanita setengah baya yg menyongsong Jae yeong dan Shina begitu keduanya membuka pagar rumah mewah tersebut.

“Aku terserempet mobil, bibi Ahn,” jawab Shina, membuat wanita setengah baya yg di panggil ‘bibi Ahn’ itu menatap tajam kearah Jae yeong.

Shina mengguncangkan tangan bibi Ahn lalu menggeleng pelan,“bukan dia, bibi Ahn. Justru bibi cantik inilah yg menyelamatkan dan mengobati lukaku,” ujar Shina yg bisa melihat kesalahpahaman di mata bibi Ahn itu pada Jae yeong.

Bibi Ahn menyeringai malu, “maafkan saya, nona,” katanya,membungkuk hormat.

Jae yeong tersenyum, “tidak apa-apa. Saya mengerti,” ucap yeoja cantik itu.

“Shina ya, bibi pulang ne,” Jae yeong berjongkok di hadapan gadis kecil itu.

“Bibi tidak masuk ke dalam dulu. Aku ingin mengenalkan bibi kepada appa,” ujar gadis kecil itu.

“Mianhae, Shina ya. Bibi harus segera pulang. Bibi perlu menyiapkan semua perlengkapan bibi untuk hari pertama bibi bekerja besok.”

“Bibi akan bekerja??”

“Ne.”

“Dimana??”

“Di salah satu perusahaan mode terkenal di Cheongdamdong.”

“Bibi akan bekerja sebagai apa??”

“Sekretaris  direktur.”

Little Shina menghela nafasnya, “kita akan bertemu lagi kan,bibi??” gadis kecil itu menatap Jae yeong. Kedua mata teduhnya berbinar penuh harap.

Jae yeong tersenyum, “jika itu takdir, kita pasti akan bertemu, Shina ya. Percayalah,” ujarnya, mengusap pelan puncak kepala gadis kecil itu.

“Bibi pulang ne,” ujarnya lagi dan mulai beranjak pergi ketika gadis kecil itu memeluk pinggangnya.

“Gomawo, bibi,” ujar little Shina.

Jae yeong kembali berjongkok di hadapan gadis kecil itu lalu membelai rambutnya dan mengecup pipi Shina, “Annyeong, Shina ya. Kita pasti akan bertemu lagi,” ujarnya dan berlalu dari hadapan little Shina dan bibi Ahn.

 

                                                     ***

 

Yonghwa memasuki rumah mewahnya dan tersenyum tipis mendapati sosok bibi Ahn yg tertidur di dekat pintu. Menopangkan wajah dan tubuhnya kearah tembok di dekatnya.

Wanita setengah baya yg sudah dianggapnya ibu itu lagi-lagi tertidur menunggu kepulangannya.

“Bibi Ahn, irona!” ujarnya, mengguncang pelan pundak bibi Ahn.

“Eohh~ tuan muda sudah pulang,” ujar bibi Ahn mengucek matanya dan segera berdiri.

“Tidurlah di kamar, bibi,” Yonghwa mendorong tubuh bibi Ahn menuju kamar wanita setengah baya itu.

“Tuan muda, nona muda Shina kecelakaan,” ujar bibi Ahn yg membuat Yonghwa menghentikan langkahnya.

“Nona muda terserempet mobil saat pulang sekolah tadi. Untung saja seorang nona cantik menolongnya, mengobati lukanya, dan bahkanmengantarkannya pulang,” tambah bibi Ahn, memperhatikan raut wajah cemas Yonghwa.

“Nona muda sudah tertidur di kamarnya. Hanya siku dan lututnya yg terluka,” bibi Ahn menepuk pelan lengan Yonghwa dan membuat namja tampan itu mengangguk lalu tersenyum tipis.

Ia segera beranjak menuju kamar Shina.

 

“Tuan muda,” panggil bibi Ahn.

Yonghwa menoleh.

“Sesekali ajaklah nona muda menikmati hari libur bersamamu,” lanjut wanita setengah baya itu.

Yonghwa tersenyum, “ne, bibi Ahn. Gomawoyo.”

Dan iapun kembali melanjutkan langkahnya.

 

Yonghwa meletakkan tas kerjanya keatas sofa Hello kitty dikamar little princessnya tersebut lalu melangkah mendekati Shina yg sudah tertidur pulas di tempat tidurnya.

Ia memperhatikan perban yg menempel di siku kiri little princessnya itu.

“Maafkan appa, Shina ya,” gumamnya, membelai lembut rambut panjang Shina yg menutupi wajah manis little princessnya itu, kemudian mengecup keningnya.

Tanpa sadar mata namja tampan itu mulai basah oleh airmatanya sendiri.

 

[FLASHBACK]

 

-New York, USA-

 

“Aku yg akan membawanya pergi. Aku yg akan melindungi dan membesarkannya sebagai putri kandungku sendiri. Kalian berdua, terutama kau, hyung. Kau tidak perlu membuang anak ini ke jalanan. Dan juga eomma tidak perlu pusing. Anak ini akan ku bawa sejauh mungkin dari kalian sehingga kehormatan keluarga ini tetap terjaga dari aib memalukan ini,” geram Yonghwa yg kemudian mengambil alih bayi kecil yg sedang tertidur pulas di pangkuan bibi Ahn.

Namja itu menggendong sang bayi, sementara satu tangan lainnya menarik travel bag miliknya.

Ia melangkah menuju pintu. Sekali lagi berbalik memandangi sosok ibunya, hyungnya, dan sang kakak ipar.

“Kami pergi. Aah! Satu hal, aku tidak peduli bahkan jika eomma menghapus namaku dari daftar keluarga ini. Aku hanya ingin merawat bayi ini,” ujarnya dan benar-benar berlalu meninggalkan rumah tersebut.

“Jung Yonghwa!!” pekik histeris sang ibu melihat kepergian namja tampan itu.

 

“Aku  akan menjadi appamu. Appa yg terbaik untukmu, Jung Shina. Itulah namamu,” gumam Yonghwa menatap bayi kecil yg tertidur pulas di gendongannya dan kembali beranjak saat seseorang  memanggilnya.

Namja tampan itu menoleh, mendapati bibi Ahn yg sudah berlari kecil kearahnya.

“Bawa ini, tuan muda,”ujar wanita itu dan menyodorkan sebuah kalung berbandul bintang kecil berwarna biru kearah Yonghwa.

“Itu adalah hadiah saya untuk nona muda, tuan muda,” tambahnya, mengalihkan tatapannya pada bayi kecil di gendongan tuan mudanya itu. Wanita itu menangis.

“Uljima, bibi Ahn.Gomawoyo,” tutur Yonghwa dan melanjutkan langkahnya kembali.

 

[FLASHBACK END]

 

                                            ***

 

Jae yeong menghela nafasnya panjang dan memandangi gedung berlantai sepuluh di hadapannya.

“Jae yeong ah~ Hwaitingg!” ia menyemangati dirinya sendiri lalu berjalan memasuki gedung tersebut.

“Annyeonghaseyo. Aku adalah sekretaris baru direktur,” ujarJae yeong pada yeoja yg berada di meja receptionist.

Yeoja itu menatapnya sekilas, “aah~ naiklah ke lantai delapan. Kantor direktur ada disana,” jawab yeoja itu.

“Gamsahamnida,” Jae yeong membungkuk hormat pada yeoja itu dan berlalu menuju lift.

 

“Annyeonghaseyo, sajangnim,” sapa Jae yeong begitu memasuki ruang kerja Yonghwa dan melihat namja tampan itu sudah sibuk dengan setumpuk berkas di hadapannya.

“Eohh~ Jae yeong ssi. Selamat datang dan selamat bekerja dikantor ini. Meja kerjamu ada disana,” tutur Yonghwa dan menunjuk sebuah meja lain, tidak jauh dari tempatnya.

Jae yeong tersenyum dan segera  menuju meja tersebut.

 

                                               ***

 

Hampir sebulan Jae yeong bekerja sebagai sekretaris Yonghwa.Yeoja cantik itu terlihat begitu menikmati pekerjaannya. Iapun akrab dengan sang boss, Yonghwa. Walaupun tidak seakrab jika dirinya bersama dengan Jungshin dan rekan-rekannya yg lain di kantor itu.

Ia masih membatasi dirinya untuk tidak terlalu akrab dengan sang boss itu.

 

Krieekk! #bunyi pintu yg di buka dari luar

 

Jae yeong menatap sosok Jungshin yg masuk ke ruangan Yonghwa dengan wajah di tekuk.

Hhh, Jungshin menghela nafasnya panjang. Menyandarkan kepalanya kearah kepala sofa.

“Manajer Lee, bukankah anda ikut dengan sajangnim dan nona Go untuk foto pre wedding mereka??” tanya Jae yeong, menatap salah satu atasannya itu.

“Aku frustasi dengan tingkah manja ular berbisa itu,” jawab Jungshin seenak  jidatnya.

Untunglah Yonghwa sedang tidak ada disana dan mendengar Jungshin menyebut tunangannya dengan sebutan ‘Ular berbisa’.

Jae yeong tertawa pelan.

Sama seperti Yonghwa, yeoja cantik itupun sama sekali tidak mengerti alasan kenapa seorang Lee Jungshin sangat membenci Go Hara yg notabene adalah tunangan saudara sepupunya sendiri.

 

“Jae yeong ssi,”

“Ne, manajer.”

“Minggu depan kalian berdua jadi ke Macau, kan??”

“Ne, manajer. Saya sudah menyiapkan beberapa  jadwal untuk sajangnim selama kunjungan ke Macau minggu depan.”

“Good job. Ku harap, setelah dari Macau kau dan Yonghwa juga membawa perubahan.”

“Nde??”

Jae yeong tertegun mendengar kata-kata Jungshin barusan itu.

Ia membuka mulutnya untuk berbicara, namun segera menutupnya kembali saat dilihatnya sosok Jungshin yg sudah melangkah keluar dari ruangan tersebut.

Jae yeong menghela nafasnya, berusaha untuk tidak terlalu memikirkan kata-kata Jungshin tadi itu.

 

                                                      ***

 

“Kau benar-benar menikmati pekerjaanmu, Jae yeong ah~,” ujar Hyo ah memperhatikan kakak sepupunya itu yg sibuk mengepak beberapa  setel pakaian yg akan dibawanya ke Macau,esok hari.

“Ne. rekan-rekan di kantorku sangat menyenangkan. Mereka baik dan ramah. Lingkungan kerjanya benar-benar mengingatkanku saat aku bekerja sebagai sekretaris mister Edward Lee di LA setahun yg lalu,” ujar Jae yeong, flashback pada kantor lamanya di LA.

“Berapa lama kau disana??”

“Hanya lima hari.”

“Jangan pulang jika tidak membawa sesuatu untukku.”

Jae yeong tertawa, melemparkan sebuah bantal guling kearah Hyo ah yg dengan mudahnya di tangkis oleh yeoja cantik itu.

 

“Bagaimana rencana pernikahanmu dengan Jonghyun ssi??” Jae yeong melirik Hyo ah yg berbaring di sampingnya.

“Hampir rampung. Akhir pekan ini, Jonghyun oppa, bibi dan paman akan datang dari Inggris.”

“Chukkae, Hyo. Kau sangat beruntung memiliki calon suami seperti Jonghyun ssi.”

“Suatu saat kau juga pasti akan menemukan calon suami seperti Jonghyun oppa. Bahkan lebih dari dia. Cha! Tidurlah. Bukankah besok kau harus berangkat pagi sekali,” Hyo ah mematikan lampu kamar Jae yeong.

Memaksa agar sepupunya itu segera memejamkan matanya.

 

                                                        ***

 

-Macau-

 

“Tidak ku sangka jika sekretaris Song yg selama ini dibangga-banggakan oleh mister Edward Lee itu adalah kau, Jae yeong ssi,” ujar Yonghwa menyodorkan sekaleng Americano latte kearah Jae yeong lalu duduk disamping sekretarisnya itu.

Mereka berdua sedang duduk di sebuah taman, memperhatikan sekumpulan anak-anak kecil yg sedang bermain bola di dekat kolam air mancur.

Semilir  angin sore mempermainkan rambut keduanya.

 

“Mister Edward Lee adalah atasan yg sangat baik. Dia seperti saudara laki-laki bagiku, sajangnim,” ujar Jae yeong, tanpa mengalihkan tatapannya dari anak-anak yg sedang bermain bola tersebut.

“Aku ingat bagaimana marahnya dia saat mister Adam Lee,kakaknya memindahkan aku ke New York untuk menjadi sekretarisnya. Dia itu benar-benar menyeramkan saat marah,” tambah Jae yeong dan tersenyum-senyum sendiri  tanpa menyadari bahwa Yonghwa sejak tadi terus saja memperhatikannya.

Namja itu menelan ludahnya sendiri saat tiba-tiba dirasakannya jantungnya berdesir aneh melihat senyuman Jae yeong.

 

                                                            ***

 

Yonghwa menepuk-nepuk pergelangan kakinya yg terasa pegal saat di dengarnya ponselnya bergetar diatas meja. Ia meraih ponsel itu dan menempelkannya ke telinga.

“Hai, mister Jung. Apa kabar??” sapa seseorang dari seberang telepon sana bahkan sebelum Yonghwa mengucapkan kata ‘Yoboseo’.

Yonghwa tertawa memperlihatkan gigi gingsulnya.

Namja itu tau benar siapa yg berada di seberang telepon itu.

Lee Jonghyun, sahabatnya dari SMA yg akan segera menikah.

“Hei Yongstar, kau masih ada disana??” Yonghwa kembali tertawa. Sudah begitu lama ia tidak mendengar sahabatnya itu memanggilnya dengan nama ‘Yongstar’. Nama yg begitu populer di kalangan para yeoja saat mereka masih SMA dulu.

“Yya! Kau melamun, yah??” bentak Jonghyun dari seberang telepon membuat Yonghwa tersadar.

“Aniya. Hanya begitu lama hingga aku mendengar suaramu lagi. Apa kabar, mister Burning??” terdengar gelak tawa Jonghyun dari seberang.

“Aku ingat kapan terakhir kali kau memanggilku begitu,Yong,” ujar Jonghyun.

“Ne. Sudah sangat lama,” Yonghwa menambahkan.

“Ku dengar dari Jerry, kau sedang di Macau sekarang,” tutur Jonghyun, lagi-lagi membuat Yonghwa tertawa.

Tidak asing baginya jika Jonghyun masih memanggil Jungshin dengan sebutan ‘Jerry’. Ia ingat kedua anak itu memang selalu berselisih satu sama lain, persis seperti tokoh kartun ‘Tom & Jerry’. Dan mau tidak mau, ia dan Minhyuk akhirnya memberi gelar ‘Tom & Jerry’ untuk Jonghyun dan Jungshin.

 

“Aah! Bagaimana kabar rencana pernikahanmu??” tanya Yonghwa.

“Hampir rampung. Dan setidaknya aku maju selangkah darimu,” jawab Jonghyun sambil terkekeh.

“Kapan kau akan menyusul kami?? Jangan hanya berstatus tunangan terus  menerus,” Jonghyun balik bertanya.

Yonghwa diam. Ia menghela nafasnya panjang.

 

Menikah. Yah, menikah.

Entah kapan ia akan menyusul Jonghyun dan menikah dengan Hara, sang tunangan.

Tiba-tiba saja ia ragu akan semuanya itu.

 

“Yongstar, kau masih ada disana, kan??” suara Jonghyun membuyarkan lamunannya.

“Ne. Aku masih ada disini,” jawab Yonghwa, mengalihkan pandangannya pada langit malam kota Macau.

Namja itu kembali menghela nafasnya panjang.

 

#Continue to part 2.

 

Apakah yonghwa akan menikahi Hara?? atau terjebak dalam dengan hatinya yg mulai dimasuki oleh sosok Jae yeong??

Bagaimana nasib Shina??

Akankah dia akan bertemu kembali dengan Jae yeong??

 

Keep waiting and RCL ne.

 

Gomawo

 

 

 

 

 

FF [SAJANGNIM] - PART 1 (YONGJAE COUPLE) 

SJ. YEONG STORYLINE & COVER BY @SARASWATI MEYDAFF [SAJANGNIM] – PART 1 (YONGJAE COUPLE) SJ. YEONG STORYLINE & COVER BY @SARASWATI MEYDA

Batal Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s