[FF MYUNGSOO] Don’t Forget Me

Autor : Shina
Fb : http://www.facebook.com/shina.kissme/
Twitter : http://twitter.com/purpleshina
Blog : http://www.sunflowersku.wordpress.com

Cast : Kim Myungsoo (Infinite), Kim Himchan (B.A.P), Kim Jung Ah (After School)

Genre : family

Himchan, Jung Ah dan Myungsoo adalah anak dari seorang direktur sukses tapi keduanya berbeda ibu. Himchan dan Jung Ah anak tuan Kim dengan seorang wanita dari hasil perjodohan sedangkan Myungsoo adalah anak tuan Kim dengan cinta jaman SMA.
Tuan kim menikah dengan ibu Himchan karena sebuah perjodohan orangtuanya ketika tuan kim baru menjabat sebagai direktur muda. Ayahnya memaksanya menikah demi menaikkan harga saham, itulah politik. Namun walaupun sudah menikah tuan Kim masih berhubungan dengan mantan kekasihnya hingga lahirlah Myungsoo.
Tuan Kim selalu membiayai sekolah Myungsoo sama dengan Himchan dan Jung ah tanpa diketahui oleh mereka.
Ketika beranjak Kuliah tuan Kim membawa Myungsoo pulang, tuan kim tidak peduli apapun resikonya yang penting dia ingin Myungsoo mendapatkan haknya sama seperti kedua kakaknya.
“Yeobo siapa yang kau bawa” tanya Ibu Himchan ketika melihat suaminya membawa seorang anak.
“Dia anakku Ah young, adik mereka. Mianhe” jawab tuan Kim yang membuat keluarganya shock.
“Appa apa yang kau katakan. Lelucon apa ini” bentak Himchan tidak terima.
“Appa aku kembali kerumah umma saja” ucap Myungsoo hendak menarik kopernya lagi tapi dicegah tuan Kim.
“Tidak Myung. Ini sudah saatnya kau mendapatkan hakmu juga sebagai anakku, aku sudah berdosa karena tidak mengurusmu selama ini. Tolong semua terima dia karena dia juga sodara kalian. Jung Ah antarkan Myungsoo kekamarnya”
“Ne appa. Ayo ikut aku, Himchan bawa kopernya” ucap Jung Ah mengajak Myungsoo untuk mengikutinya menuju kamarnya sedangkan Himchan dengan ogah – ogahan menyeret koper Myungsoo.

Suami istri itu masih masih enggan membuka suara. Sang istri sepertinya masih mengatur hati untuk melapangkan dadanya.
“Sejak kapan kau begini? Kau berbohong padaku selama ini”
“Maaf, aku tidak sengaja melakukan ini. Aku mengetahuinya juga setelah Myungsoo lahir. Kau tau bahwa aku begitu mencintainya sejak kuliah walau aboji melarang tapi aku tetap saja berhubungan diam – diam. Maaf aku membuatmu terluka kau boleh membenciku tapi jangan benci Myungsoo biarkan dia merasakan haknya sebagai anakku”

-Room Myungsoo-
Myungsoo kagum dengan kamarnya yang begitu besar berbeda dengan rumahnya yang dia tinggali dengan ibunya.
“Cih kampungan” seru Himchan tapi Myungsoo tidak menggubrisnya.
“Yak Kim Himchan jaga bicaramu. Tuan muda tidak boleh seperti itu” ucap Jung Ah menjewer telinganya.
“Appo noona … telingaku bisa patah” ucap Himchan mengaduh dan memegang telinganya.
“Kalau kau sadar anggap Myungsoo adik, ingat kata appa tadi dia adik kita walau berbeda ibu”
“Baiklah.”
“Myung kau Kuliah dimana?” tanya Jung Ah.
“Seoul National noona” jawab Myungsoo malu – malu.
“Wah kau satu kampus dengan Himchan kebetulan sekali”
“Ne, aku sering melihatnya” ucap Myungsoo masih menunduk karena dia tau siapa Himchan dikampus.
“Noona dia ini anak yang sering dibully dan dikatai anak haram seantero kampus” ucap Himchan dengan nada mengejek yang langsung mendapat jitakan noonanya lagi.
“Noona kau mau membuatku bodoh”
“Makanya jangan bicara asal”
“Tapi memang benar begitu”
“Kau harus membelanya mulai sekarang karena dia adikmu, ara. Dan kau Myungsoo kalau Himchan macam – macam laporkan padaku biar ku jitak kepalanya”
“Ne noona”

Himchan dan Myungsoo diantar Jung Ah kekampus karena ini memang sudah tugasnya sejak Himchan SMA, hanya sesekali saja Himchan boleh membawa mobil.
Jung Ah menurunkan mereka didepan gerbang kampus, Himchan berjalan melangkah dengan penuh kharismanya sedangkan Myungsoo berjalan dengan wajah menunduk.
“Lihat anak haram itu ditumpangi pangeran kampus kita, apa mereka saudara wah ini berita seru” seru salah seorang dari segerombolan yang sedang berdiri dipelataran kampus, Myungsoo hanya diam saja sedangkan Himchan yang geram langsung mendatangi dan memberikan bogemannya pada namja yang berbicara tadi.
“Ku peringatkan padamu sekali lagi kau menginanya anak haram maka ku jamin besok kau tidak akan bisa bicara lagi, paham” ucap Himchan menarik kerah namja itu.
“I … iya…”
Himchan melepaskan cengkramannya dan berjalan kearah Myungsoo yang takjub dengan hyungnya yang membelanya.
“Hyung gomawo sudah membelaku” ucap Myungsoo sambil tersenyum kearah Himchan.
“Aku tidak membelamu. Aku hanya tidak suka ada yang menghina keluarga Kim” ucap Himchan yang berlari kegedung fakultasnya sedangkan Myungsoo juga berjalan kearah fakultasnya yang bersebrangan dengan kakaknya.

Pulang kuliah Myungsoo masuk kedalam rumah dan melihat ibu Kim sedang memasak sambil memasak, Myungsoo yang haus karena berlari dari halte segera menuju dapur.
“Nyonya kenapa melamun? Masakanmu bisa gosong” tegur Myungsoo yang baru ingin membuka kulkas.
“Astaga.” Ucap ibu Kim yang langsung membalik tumisannya. “Kau tidak pulang bersama Himchan” tanyanya.
“Tidak nyonya. Aku sendirian” jawab Myungsoo.
“Panggil aku ibu, aku juga ibumu mulai sekarang”
“Ne ibu.”
“Nah kau ganti baju dulu ya? Aku akan siapkan makan siang untuk kita”

Myungsoo mengangguk lalu melesat kekamar untuk mandi kilat, setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian santai Myungsoo turun keruang makan. Ibu Kim menghidangkan tumis ayam dan telur untuk makan keduanya.
“Makanlah”
“Ibu juga makan.”
“Ne”
“Pasti sepi ya ibu karena makan sendirian. Umma selalu mengajakku makan bersama kecuali makan siang karena aku jarang pulang sebelum jam makan siang tapi jika pulang pagi aku selalu makan siang ditempat kerja ibuku sebagai penjual bunga” ucap Myungsoo yang membuat ibu Kim terharu, dia tidak pernah merasakan mempunyai anak karena hanya makan pagilah mereka bersama.
“Myung. Apa kau tidak keberatan jika makan dirumah dengan ibu jika kau tidak punya kegiatan diluar rumah”
“Tentu ibu. Aku juga selalu seperti itu dengan umma tapi sekarang umma pasti makan Cuma dengan adjuma pekerja dirumah kami”
Ibu Kim senang karena Myungsoo ternyata anak yang baik juga penurut, andai kedua anaknya tidak terlalu dimanja pasti mereka juga akan bersikap begini.
“Nah makan yang banyak setelah itu ikut ibu belanja, kita memasak bersama nanti malam”
“Ne ibu”

Myungsoo merasa senang diterima oleh ibu barunya walau tidak dapat dipungkiri bahwa dia juga rindu sekali dengan ibu kandungnya, tapi ibu kandungnya meminta agar Myungsoo melupakannya dan berlaku seolah dia adalah putra dari tuan Kim dan istrinya.
Itu begitu menyesakkan untuk Myungsoo hingga dia berfikir apa ibunya tidak sayang padanya. Hal ini begitu dipendamnya seorang diri tanpa ada seorangpun tempat untuk membaginya.
Ini sudah hampir 3 bulan Myungsoo ikut ayahnya, dia begitu rindu dengan masakan ibunya yang sederhana tapi bisa membuatnya tersenyum bahagia dengan merasakannya.
“Appa aku ingin pulang saja dengan umma” seru Myungsoo.
“Yak bocah kau mau buat masalah lagi” gertak Himchan.
“Himchan jaga ucapanmu” ibu Himchan mnegur putranya.
“Tidak bisa Myungsoo ibumu sudah menyerahkanmu padaku, dia inginkau mendapat hidup yang layak disini.” Ucap tuan Kim.
“Ayahmu benar Myung. Apa ada orang yang menyakitimu”
“Tidak ibu, aku rindu umma aku ingin memeluknya”
Ibu Kim paham, wajar jika Myungsoo merindukan ibu kandungnya karena dia ibu yang melahirkan Myungsoo, tapi dia juga tidak rela Myungsoo pergi karena dia benar – benar merasa menjadi ibu ketika ada Myungsoo. “Kau disini saja. Ibu janji kapan – kapan akan membuat ibumu mau menemuimu”
“Benarkah?”
“Tentu”
“Ibu anakmu itu aku kenapa kau begitu sayang padanya, dikampus bahkan semua memandangnya anak haram”
“HIMCHAN sekali lagi kau bicara tidak sopan aku akan mematahkan lehermu tidak peduli kau anakku” bentak ibu kim yang membuat Himchan langsung diam.
Semua makan dengan hikmat tapi malam ini Jung Ah tidak ada karena sedang ada kerjaan diluar kota.

Ibu Myungsoo merangkai bunga dengan tidak konsentrasi, walau dia meminta Myungsoo pergi dengan ayahnya dan melupakannya tapi hati kecilnya selalu saja merindukan dan menyanyagi putranya itu. Tapi dia sadar putranya berhak hidup enak tanpa kekurangan apapun berbeda jika harus tinggal dengannya.
“Nyonya kau merindukan tuan muda”
“Ne bibi. Aku ingat dia itu paling benci jika makan sendirian. Apa disana dia makan dengan baik? Apa ibu barunya memperlakukannya dengan baik? Apa ibunya tau Myungsoo alergi udang? Apa anak mereka bisa menerima anakku?”
“Tuan muda pasti bisa adaptasi dengan saudaranya nyonya? Bila rindu nyonya bisa mengunjunginya”
“Nanti saja bi aku tidak mau dia manja jika aku datang sekarang”

Myungsoo termenung dikelasnya karena merasa kepalanya pusing, dikelas berikutnya dia memutuskan untuk membolos saja dan ingin beristirahat dirumah. Ketika sampai dirumah ibu kim telah selesai memasak makan siang.
“Myung kau sudah pulang”
“Aku pusing jadi aku membolos saja ibu”
“Ya sudah makan dulu setelah itu minum obat”
“Ne”
Myungsoo makan dan minum obat lalu merebahkan dirinya dikasur, dia mengambil fotonya dan ibunya ketika lulus SMA. Myungsoo begitu rindu dengan ibunya tapi kata – kata ibunya yang menyesakkan itu muncul lagi.
“Umma apa benar kau tak ingin bertemu lagi denganku. Aku merindukanmu umma” ucap Myungsoo memeluk foto ibu kandungnya. Myungsoo menangis sampai dia tertidur karena kepalanya sangat pusing dan tubuhnya terasa panas dingin.

Makan malam.
Semua sudah berkumpul diruang makan tapi Myungsoo belum menampakkan batang hidungnya. Ibu kim heran tumben sekali Myungsoo tidak turun padahal ini sudah 15 menit berlalu dari jam makan malam biasanya.
“Kapan kita mulai makannya. Aku sudah lapar” seru Himchan merengek yang langsung dijitak Jung Ah.
“Noona kau ini ish”
“Makanya diam kau. Kita harus menunggu Myungsoo turun”
“Tapi dia lama sekali aku bisa kelaparan”
“Jung Ah coba cek. Tadi dia sakit dan ibu menyuruhnya istirahat tapi sampai sekarang dia tidak turun”
“Ne ibu”
Jung Ah memundurkan kursinya menggeser tubuhnya untuk berdiri kemudian dia berjalan kearah tangga menuju kamar Myungsoo yang ada dilantai 2 depan kamar Himchan.
“Ayah…. Ibu…………” teriak Jung Ah yang membuat semua langsung berlari menuju lantai 2.
Ibu Kim, tuan Kim dan Himchan sampai pada kamar Myungsoo dimana Jung Ah berteriak.
“Lihatlah wajah Myungsoo pucat dan membiru tapi dia masih bernafas” ucap Jung Ah memandang Myungsoo seolah mayat hidup.
“Siapkan mobil kita bawa kerumah sakit sekarang juga, Himchan bantu ayah mengangkat Myungsoo”
“Ne ayah”

-At Hospital-
Semua menunggu diUGD dengan hati galau nan gelisah, ibu Myungsoo berurai air mata ketika sampai dirumah sakit.
“Dimana anakku” tanya ibu Myungsoo yang tak kuasa menahan tangis mendengar putranya tak sadarkan diri.
“Didalam. Dokter masih menanganinya” jawab Tuan Kim. “Jung Ah ajak Himchan dan ibumu pulang biar ayah dan ibu Myungsoo yang menjaga Myungsoo malam ini”
“Ani. Aku mau menunggu juga bukankah dia juga anakku”
“Ya sudah. Kalian berdua pulanglah dan istirahat. Besok kalian harus aktifitas”
“Ne ayah”
Jung Ah membawa Himchan pulang bersamanya, menyisakan tiga orang yang masih saling membisu hingga dokter keluar.
“Dokter bagaimana anakku?” tanya ibu Myungsoo yang berlari menghampiri sang dokter.
“Dia sudah tidak apa – apa setelah kami mengeluarkan racun yang ada pada tubuhnya. Apa dia alergi dengan makanan laut?”
“Ne dok, dia alergi udang sama sepertiku” ucapan ibu Myungsoo membuat ibu Kim merasa bersalah karena siang tadi dia memasak udang.
“Sepertinya tadi dia makan udang ditambah sakit lambung yang dideritanya membuatnya terserang typus nyonya, tapi dia hanya butuh pemulihan dan asupan nutrisi yang cukup agar dia pulih”
“Gomawo dok”

Myungsoo sudah dipindahkan keruang rawat, 3 orang itu terus saja terjaga karena tidak ingin melewatkan ketika Myungsoo sadar.
“Myung bangunlah nak. Umma menyesal seharusnya umma tidak perlu memberikanmu pada ayahmu jika umma tau kau begini” ucap ibu Myungsoo sambil membelai wajah putranya.
“Kau tidak salah. Aku yang salah karena memisahkanmu dengan anakmu” ucap tuan Kim menenangkan.
“Lebih baik kita istirahat agar Myungsoo juga istirahat dengan tenang”

Pagi – pagi tuan Kim sudah harus pergi karena ada telpon penting dari perusahaan yang mengadakan meeting pagi ini. Sekarang diruangan hanya menyisakan ibu Kim dan ibu Myungsoo yang belum bertegur sapa sejak semalam.
“Hey Kim Ah Young kau pasti menganggapku wanita murahan karena sudah merusak keluargamu ditambah dengan hadirnya Myungsoo”
“Kenapa kau berpikir begitu Park Hain”
“Semua pasti begitu. Tapi kau tidak tau bukan aku dan ayah Myungsoo berpacaran tapi tuan Kim tidak mengizinkan anaknya menikahiku dan menjodohkan kalian. Kau tau hatiku sangat sakit? Awalnya aku merasa bersalah padamu karena menjalin hubungan dibelakangmu, ketikka anak pertamamu lahir aku begitu merasa dihianati oleh senyuman. Aku juga tidak tau kenapa bisa terbuai hingga hadir Myungsoo. Aku tidak berniat meminta tanggung jawab karena aku yang salah? Aku yang tidak tau diri merebut suamimu tapi ketika Myungsoo TK dia sering diejek anak haram hingga akhirnya aku memberitau suamimu, dia yang membiayai sekolah Myungsoo meskipun Myungsoo tidak tau. Suatu malam Myungsoo bertanya siapa ayahnya? Kalau kau jadi aku apa kau tega melihat putramu menangis ingin bertemu ayahnya karena dia lelah diejek sebagai anak haram, akhirnya aku meminta Myungsoo tinggal bersama ayahnya dan memintanya melupakanku tapi aku tidak menyangka dia akan begini. Maafkan aku Ah young kau boleh memakiku dan mengatakan aku murahan tapi aku begini karena aku ingin anakku bahagia. Aku akan membawanya pergi jauh jika dia selama ini begitu merepotkanmu”
“Kau tau Hain, aku tidak pernah menyalahkanmu bukankah cinta itu tidak pernah salah. Aku yang harusnya berterima kasih karena kau telah menghadirkan Myungsoo ditengah keluargaku yang begitu membuatku kesepian. Anakmu datang dan membuatku merasa benar – benar sebagai seorang ibu, dia membantuku memasak menemaniku makan siang dan tidak malu menemaniku belanja. Dia bahkan selalu bercerita hal kecil yang selalu dilakukannya bersamamu. Anakku bahkan tidak menyadari ketika dia sedih aku selalu menghiburnya tapi dia tidak memperlakukanku bahkan tidak pernah mengungkapkan rasa sayangnya. Gomawo Hain kau telah memberikan Myungsoo padaku, kita ini sudah tua harusnya kita bersikap rukun melihat anak kita tumbuh besar dengan baik”
“Kau benar Ah young.”
“Mari kita hidup berdampingan dan membesarkan putra kita bertiga bersama – sama”
“Umma…………” igau Myungsoo dengan mata terpejam membuat dua orang wanita itu langsung menghampiri.
“Myung buka matamu nak umma ada disini” pinta ibu Myungsoo yang membuat mata berat Myungsoo terbuka.
“Umma…. Aku rindu padamu hiks jangan tinggalkan aku” ucap Myungsoo yang langsung memeluk ibu kandungnya.
“Ne, umma tidak akan meninggalkanmu. Tenanglah umma, ayahmu dan ibu kim tidak akan meninggalkanmu. Kami menyanyangimu” ucapnya yang memeluk putranya dengan erat.
Diluar ada Jung ah, tuan Kim yang begitu terharu melihat adegan didalam. Himchan walaupun cuek, dingin tapi sebenarnya dia menyayangi Myungsoo hanya saja dia gengsi untuk mengakui kalau dia sayang pada adiknya.

Myungsoo pulang kerumah ayahnya setelah dirawat hampir seminggu.
Mungsoo tentu saja sangat bermanja pada ibu kandungnya yang membuat semua tertawa dengan tingkah kekanakannya.
“kau tidak malu bermanja dengan umma begini didepan kakak – kakakmu” ucap Ibu Myungsoo yang memeluk anaknya karena Myungsoo tidak mau lepas.
“Ani. Aku hanya mau bersama umma” ucap Myungsoo yang memeluk ibunya dengan erat diranjang seperti minta dikelonin, wkwk.
“Astaga Kim Myungsoo kau ini sudah 21 tahun bukan anak kecil yang takut petir”
“Alah umma”
“Sudah biarkan saja. Himchan dulu juga begitu ketika sakit selalu bermanja dengan ibunya” ucap tuan Kim yang menahan tawa.
“Yak ayah aku tidak begitu” ucap Himchan dengan sebal.
“Hain temanilah Myungsoo, yang lain ayo keluar” ucap ibu Kim kenapa suami dan anaknya.
Dengan serempak mereka keluar dari kamar Myungsoo yang kini hanya menyisakan Myungsoo dengan ibunya.
“Maafkan umma ya sudah menyuruhmu melupakan umma” ucap ibu Myungsoo sambil membelai rambut anaknya.
“Ne umma”
“Umma janji tidak akan meninggalkanmu walau mereka mengurusmu, ibu kim juga ibu yang baik”
“Ne, dia dulu bilang dia akan berterima kasih padamu karena sudah mau memberikan kesempatan dia menjadi ibu yang sesungguhnya. Aku bingung kenapa dia bilang begit padahal dia juga punya noona dan hyung”
“Dia terpikat dengan anak umma yang tampan ini makanya bilang begitu”
“Hehehe padahal hyung itu imut menurutku, ya walau dia galak tapi aku tau dia sayang padaku dia bahkan memukul teman yang mengejekku anak haram”
“Kau beruntung karena punya 2 kakak dan 2 ibu yang sayang padamu”
“Iya, umma aku sangat bahagia punya ayah tampan dan 2 kakak yang keren juga 2 ibu yang cantik”
“Kau ini, sekarang tidurlah” ucap ibu Myungsoo yang meletakkan kepala anaknya pada bantal.
“Umma aku harap ini bukan mimpi yang hanya datang sekejap dalam hidupku” ucap Myungsoo yang membuat ibunya tersenyum. Ibunya mengecup dahi Myungsoo menarikkan selimut untuk menutupi tubuh Myungsoo yang memejamkan matanya sambil tersenyum, berharap ini memang bukanlahh mimpi yang datang hanya sekejap.

———————————End——————————–

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s