~ FF % Falling Star % One Shoot ~

Cast: Chunji / Lee Chan Hee (Teen Top)

LeeKi Seop (U-Kiss)

Kim HyunJoong (SS501)

LeeHyo Ri

Andother casts

 

Author : Wulan(Song Hyo Kyung)

 

Genre :Family life, AU, Brothership, Hurt

 

 

Annyeong readers
author kembali menenteng sebuah FF. kali ini castnya campur-campur. sekalian menyatukan alien ama Hyori eonni, wkwk. Sudahlah, author spechless nih. yuk, cups ke FF aja langsung. dan maaf kalo banyak typo. biasalah, spasi menyeramkan kalau abis dipost.

 

 

Summary : Ketika orang yang paling kau benci tiba-tiba menghilang. Apakah kau akan merindukannya dan mencarinya? Ataukah kau akan membiarkannya saja dan menjalani hidupmu tanpa rasa berdosa? Temukan jawabannya disini.

 

 

xXx  Falling Star xXx

 

AuthorPOV

 

“Chunji-ya, gwaenchanhayo?”Tanya Hyori begitu cemas melihat luka lecet di lengan Chunji.

“Dia baik-baik saja, yeobo. Untungtadi Kiseop datang tepat waktu”. Sambar Hyunjoong.

“Jinjja? Agh, Kiseop. Kau tau,eomma sangat bangga padamu. Kau anak yang paling bisa diandalkan”.

“Jangan berlebihan eomma, appa.Tadi aku hanya tak sengaja lewat. Sebagai hyung, tentu aku tak rela melihatnamdongsaengku dilukai makanya dengan refleks aku menghajar mereka”. JelasKiseop apa adanya.

 

“Tetap saja, kau sangatmembanggakan. Kemampuan taekwondomu benar-benar kau gunakan untuk hal berguna.Appa beruntung memiliki anak sepertimu”. Hyunjoong menepuk-nepuk pundakKiseop yang hanya tersenyum mendengar pujian dari appanya.

 

“Ouya, Chunji bagaimana keadaanmu?Lenganmu masih sakit?” Kiseop menyentuh lengan Chunji, bermaksud memeriksalukanya.

 

   Chunji menepis tangan Kiseop. Sedari tadi wajahnya terlihat sangatkesal. Kiseop tak mengerti. Dia hanya memandangi Chunji dengan raut wajahkebingungan. Semakin kesal, Chunji merasa semakin kesal. Dia memutuskan untukmenaiki tangga menuju kamarnya.

 

xXx  Falling Star xXx

 

ChunjiPOV

 

    Argh! Semua ini tak adil bagiku! Kenapa aku selalu terlihat lemah?!Kenapa selalu Kiseop hyung yang terlihat kuat?! Kenapa selalu dia yangdibanggakan?! Kenapa, kenapa, kenapa?!

 

   Aku sengaja mengajak mereka bertarung karena aku lelah dengan semua ini!Aku lelah dengan ejekan-ejekan mereka yang selalu bilang kalau aku hanya beraniberdiri di belakang Kiseop hyung! Mereka selalu bilang kalau aku lemah tanpaKiseop hyung! Aku benci kata-kata itu! Tapi kembali lagi Kiseop hyung mengacaudengan gaya sok heronya itu.

 

   Mungkin aku akan habis babak belur dihajar mereka jikalau Kiseop hyungtak datang tadi. Tapi bagiku itu lebih baik daripada dianggap anak lemah yangselalu dilindungi hyungnya. Aku ingin buktikan kalau aku pemberani! Aku bukanpengecut!

 

    Aku membenci Kiseop hyung! Sangat membencinya! Entah kenapa aku selalumerasa kalah darinya. Dia lebih tampan dariku. Tentu saja. Karena wajahkuterkesan cantik.Tubuhnya sangat bagus karena dia rajin ngegym berbeda dengankuyang tidak suka pergi ke gym. Aku malas mendatangi tempat itu sejak merekamengejek aku lebih pantas jadi seorang wanita.

 

   Bukan hanya itu saja. Appa juga tak mengizinkanku berlatih taekwondokarena merasa aku sangat lemah. Berbeda dengan Kiseop hyung yang mendapatdukungan penuh dari appa. Lengkap sudah perbedaan di antara kami. Itu membuatkusangat iri padanya. Sekali saja aku ingin lebih menonjol darinya tapi aku takbisa. Dan besok pastilah aku menjadi bahan tertawaan lagi di sekolah!

 

xXx  Falling Star xXx

 

AuthorPOV

 

   Chunji terlihat tak bersemangat. Langkahnya gontai meninggalkan ruangankelas yang sudah kosong sejak sepuluh menit yang lalu. Bagaimana mau semangatjika sedari masuk kelas hingga pulang sekolah dia dijadikan bahan tertawaanteman-teman sekelasnya? Bahkan seorangyeoja yang disukainya juga menertawainya.Itu sangat memalukan!

 

    Jaraknya dengan gerbang sekolah tinggal sepuluh meter lagi. Dia dapatmelihat dengan jelas hyungnya berada disana. Tapi Kiseop tak sendirian. Adaseorang yeoja yang wajahnya begitu dikenal Chunji. Bora! Yeoja yang tak lainadalah yeoja yang dicintai Chunji. Terlihat mereka sangat dekat. Satu lagikemalangan yang menimpa Chunji hari ini.

 

“Benarkah aku terlihat cantik,oppa?”

“Ne, kau terlihat sangat cantik,Bora-ya”. Kiseop berkata sambil tersenyum.

 

“Uhm”. Chunji berdehem,membuat mereka langsung menoleh.

 

“Eh, Chunji-ya. Kau sudah turunrupanya. Kalau begitu, aku pulang duluan”.

“Tidak mau kami antar saja?”Tawar Kiseop.

“Tidak usah oppa. Aku masih adaurusan”. Ucapnya lalu beranjak meninggalkan mereka.

 

    Sepeninggalnya Bora, Chunji langsung menaiki mobil. Kiseop juga bergegasnaik dan menjalankan mobilnya. Mereka hanya diam sepanjang perjalanan. Ya!Chunji memang paling malas berbicara pada Kiseop. Terkadang Kiseop merasafrustasi karena dongsaeng satu-satunya sekaligus orang yang palingdisayanginyaitu malah tidak menyukainya sama sekali.

 

“Chunji-ya, kenapa kau tadi lamasekali?” Chunji tak menjawab, masih melihat keluar kaca mobil.”Chunji? Kau mendengarku kan? Kenapa tak menjawab?” Tanya Kiseoplagi, hati-hati sekali. Tapi Chunji masih tak bergeming. “Chunji-ya?”PanggilKiseop lagi.

 

“Tak bisakah hyung diam?! Kalauhyung masih mengoceh, turunkan saja aku! Biar aku pulang naik taxi”.Ketusnya. Kiseop terdiam. Helaan nafasnya terdengar begitu berat.

 

xXx  FallingStar  xXx

 

    Kiseop memasang wajah kesal. Dia menarik tangan Chunji untukmengikutinya memasuki rumah. Keadaan malam yang sepi berubah menjadi riuhkarena umpatan-umpatan yangterus meluncur dari mulut Chunji. Tentunyaditujukanpada Kiseop.

 

   Chunji tadi menemui anak-anak brandalan itu di taman. Dia inginmembuktikan kalau dia pemberani. Dia tak ingin diejek lagi. Tentu sajaanak-anak brandalan itu senang menerima tantangan Chunji. Namja itu pasti akanmenjadi makan malam yang lezat untuk mereka. Tapi belum sempat salah seorangdari mereka menyentuh Chunji, Kiseop sudah menerjang mereka. Membuat merekalari ketakutan. Bukannya berterima kasih, Chunji malah merutuki perbuatanhyungnya.

 

“Lepaskan aku, Kiseop-sshi!”Sentak Chunji ketika mereka memasuki ruang tamu. Kiseop berbalik, menatap kagetpadanya. Kedua orangtua mereka yang mendengar keributan, bergegas menghampirimereka.

 

“Kau bahkan tak memanggilkuhyung?!”

“Iya! Aku tak sudimemanggilmudengan sebutan hyung!”

“Chunji, kau!” Kiseop taksanggup melanjutkan kata-katanya.

 

“Mwo?! Asal kau tau, akumembencimu! Aku tak suka menjadi dongsaengmu! Kau hanya pengganggu dalamhidupku! Kau perusak kebahagiaanku! Semua orang tidak melihatku karena kau!Hanya kau yangdilihat mereka! Hanya kau yang dibanggakan mereka! Aku benci itu!Kau selalu ikut campur urusanku! Kau selalu sok menjadi pelindungku! Kau pikiraku suka, hah?! Aku tak suka! Aku muak padamu!”

 

   Dada Chunji naik turun, emosi sekali. Wajahnya memerah dan tangannyaterkepal. Dia menatap Kiseop tajam sebelum berlari menuju kamarnya. Kiseop yangmasih shock, akhirnya terduduk di sofa. Wajahnyaterlihat sangat pucat mendengaromelan Chunji tadi.

 

“Kiseop-ah, apa yangterjadi?”Hyori duduk di sebelah Kiseop, mengelus pundak anak sulungnya.

“Kiseop-ah, gwaenchanhayo?”Kali ini Hyunjoong yang terlihat panik.

 

“Aku hanya ingin melindungi Chunji.Aku tak ingin dia terluka. Aku sangat menyayangi dirinya. Apa aku salah eomma,appa?” Kiseop menatap eomma dan appanya bergantian. Matanya sudahberkaca-kaca.

 

“Kau tidak salah. Kau hyung yangsangat baik. Mungkin dia hanya iri karena kau yang lebih menonjol”.Hyunjoong mencoba menenangkan Kiseop.

“Itu benar. Suatu saat Chunji pastimenyadari kasih sayangmu yang teramat besar padanya”. Timpal Hyori. Kiseophanya tertunduk.

 

xXx  Falling Star xXx

 

ChunjiPOV

 

  Dia selalu saja menyebalkan! Kesempatanku satu-satunya untuk membuktikankalau aku bukan pengecut, lagi-lagi dihancurkannya. Rasakan! Akusudah muakmemendam kekesalanku ini di dalam hati! Biar kau tau kalau aku membencimu! Biarkau tau kalau sedikitpun aku tak menyukaimu!

 

  Sekarang aku berada di atap, merebahkan tubuhku sambil melihat ribuanbintang yang berkelap-kelip di langit yang hitam. Kembali lagi aku teringathyungku. Argh! Untuk mengatakan dia hyungku saja rasanya berat sekali. Lidahku takrela. Aku tak ingin ada dirinya. Tak ingin dia menjadi hyungku.

 

    Aku sedikit menoleh. Ekor mataku menangkap hal yang aneh. Ada sesuatuyang bergerak di langit. Bintangnya berjalan, cepat sekali. Tunggu dulu! Itubukan bintang berjalan. Itu bintang jatuh. Kata orang-orang, jika mengucapkanpermintaan saat bintang jatuh, pasti permintaan akan dikabulkan. Baiklah! Akuharus segera membuat permintaan.

 

   Kututup mataku perlahan. Menarik nafas dalam-dalamlalu mulai mengucapkanpermintaanku. “Tuhan, aku mohon padamu. Hilangkan Kiseop hyung darihidupku. Lenyapkan dia dan jangan pernah hadirkan dia di dalam hidupku, Tuhan.Amin”. Kuakhiri doaku seraya tersenyum, berusaha optimis kalaupermintaanku akan terkabul.

 

“Chunji-ya?”

 

   Samar-samar kudengar suara halus nan merdu. Itu suara eomma. Kucobamembukamataku perlahan, tapi kenapa rasanya berat sekali? Aku merasa sangatmengantuk. Mulutku menguap lebar dan sesaat kemudian aku berhasil membukamataku. Dimana ini? Bukankah ini kamarku?

 

“Ireona Chunji-ya. Kau harus segerabersiap ke sekolah”. Ucap eomma, membuatku berhenti memperhatikan sekitar.

“Ne, eomma”. Jawabku masihlinglung. Daebak! Ternyata itu hanyalah mimpi. Aku pikir bintang jatuh itusungguh terjadi. Agh. Sudahlah.

 

xXx  Falling Star xXx

 

   Sekarang aku sedang menikmati sarapan bersama eomma dan appa. Tentunyasetelah aku memakai seragamku dan bersiap-siap. Tapi tidak ada Kiseop hyungdisini. Dimana dia? Agh, untuk apa juga aku mencarinya. Tidak penting. Diatidak ada disini malah membuatkuberselera sekali melahap makanan-makanan ini.

 

“Chunji-ya”. Appa memanggilku.Aku menoleh tapi tak menjawab karena mulutku penuh dengan makanan. “Kausudah membawa kunci mobil kan?” Lanjutnya.

 

“Uhuk…. Uhuk….”. Segerakutenggak susu yang berada di hadapanku. Appa bilang apa tadi? Mobil? Aku taksalah dengarkah?”Appa bilang mobil?” Tanyaku meyakinkan.

 

“Iya, kalau tidak naik mobil, lalukau mau naik apa? Appa hanya mengingatkanmu. Kau kan sering lupa mengambilkunci mobil sebelum turun”.

 

   Astaga! Aku tidak salah dengar. Appa bilang naik mobil. Appamemperbolehkan aku membawa mobil. Padahal mereka selalu melarangku membawamobil dan selalu menyuruh Kiseop hyung yang menyupiriku kemana-mana. Tapisekarang semuanya berbeda. Apa mungkin permintaanku terkabul?

 

“Chunji-ya?”

“Uhm, iya appa. Aku lupa mengambilkunci mobil. Aku ambil dulu ya”.

 

    Segera aku berlari menuju kamarku. Wajahku pasti sangat sumringah.Sampai di kamar, kuedarkan pandanganku mencari kunci mobil. Itu dia! Sebuahkunci tergeletak di atas meja nakas. Kulihat lambang yang tertera di kunci itu.Lambang kuda. Ferrari! Ini kunci mobil ferrari!

 

“Yes!” Pekikku.

 

  Segera aku keluar kamar. Tak sabar melihat semua keajaiban dalam hidupkuini. Namun langkahku terhenti di depan sebuah kamar. Kamar Kiseop hyung. Denganragu aku memutar knopnya, pintu terbuka perlahan. Tapi kamarnya kosong.Berbagai pigura, poster, dan barang-barang Kiseop hyung tak ada di kamar ini.Sepertinya permintaanku itu terkabul. Ini bukan mimpi.

 

“Yes!” Aku memekik gembirauntuk kedua kalinya.

 

xXx  Falling Star xXx

 

   Ku langkahkan kakiku dengan gembira menapaki sekolah. Hah! Aku takpernah merasa sebahagia ini seumur hidupku. Bahagia karena pengganggu dalamhidupku menghilang. Aku tak peduli dia lenyap entah kemana. Yang jelas inisungguh awal kebahagiaan dalam hidup baruku.

 

     Sepanjang perjalanan menuju kelas, semua mata memandangku. Ada yanganeh. Pandangan mereka begitu menusuk. Apa yang salah denganku? Memangnyapenampilanku aneh? Rasanya aku memakai seragam yang sama dengan mereka. Lantas,apa yang salah?

 

    Mataku masih memperhatikan sekitar. Orang-orang di kelasku jugamemandangku aneh. Aku duduk dengan gelisah. Kenapa mereka menatap tak sukapadaku? Aigo. Chunji-ya! Kau harus sadar! Mereka kan memang tak pernahmemandang suka padamu. Mereka selalu mengucilkanmu! Ucap hati kecilku.

 

   Argh! Iya ya. Semua orang tak pernah suka padaku karena aku begitu lemahdan pengecut. Aku sering frustasi karena ulah mereka. Biasanya di saat sepertiini, Kiseop hyung yang selalu menemaniku. Dia yang selalu bilang kalau dia akanselalu menjadi hyung sekaligus teman sejatiku. Eh? Kenapa aku jadi teringatKiseop hyung? Ayolah Chunji! Kau baru saja memulai hidup barumu yang bahagia.Jangan kau rusak dengan mengingat pengganggu itu. Batinku kembalimengingatkanku.

 

xXx  Falling Star xXx

 

    Berhari-hari kulalui tanpa Kiseop hyung. Dia sungguh lenyap begitu sajaseakan tak pernah terlahir di dunia ini. Tak ada lagi pengganggu di hidupku.Tak ada lagi orang yang sok melindungiku. Tak ada lagi Kiseop yang selaludibanggakan. Tak ada lagi dia di dalam hidupku. Semua ini sangat membahagiakanpada awalnya. Tapi seiring berjalannya waktu, aku mulai kesepian.

 

   Aku tak bisa memungkiri betapa kesepiannya aku sekarang ini. Tadinya hanyadia yang ada di dekatku. Dia yang selalu menemaniku. Dia yang selalumelindungiku. Dan itu membuatku merasa muak padanya. Aku tau dia melakukan itukarena tak ingin aku terluka. Tapi aku malah merasa seperti anak kecil yangdiikuti baby sitternya.

 

“Hei! Kalian anak nakal! Kembalikanmainanku!”

 

   Aku tersentak kaget. Kulihat seorang bocah lelaki berumur sekitar enamtahun tengah diganggu oleh bocah seusianya yang berjumlah empat orang.Anak-anak nakal pastinya. Mereka merebut mobil-mobilan anak tadi.

 

“Kau itu lemah! Ambil kalau kaubisa!” Ejek mereka.

“Kalian jahat! Lihat saja kalauhyungku datang! Kalian akan habis dihajar olehnya”. Teriaknya lagi.

 

“Hyungmu sudah pulang! Diameninggalkanmu sendirian disini! Kau akan celaka tanpanya!”

“Kalian bohong! Hyungku tak mungkinmeninggalkanku!” Bocah itu mulai terisak.

“Dasar anak cengeng!” Merekakembali mengejeknya.

 

“Heh! Jangan ganggu dongsaengku!Dasar anak brandalan!” Teriak seorang anak lelaki berusia sekitarsepuluhtahun yang berjalan menghampiri mereka.

 

“Kyaaa! Kabur!” Teriak salahseorang anak nakal itu mengomando temannya untuk berlari.

 

“Woohyun-ah, gwaenchanhayo? Adayang luka? Mana yang sakit?”

“Gwaenchanha hyung. Tadi merekamengejekku lagi. Mereka bilang hyung meninggalkanku disini. Aku takut tanpahyung. Hanya hyung yang mampu melindungiku”.

 

    Sang hyung menghapus air mata dongsaengnya yang meleleh di pipi. Diatersenyum berusaha menghibur dongsaengnya. “Woohyun-ah, dengarkan hyung.Hyung takkan pernah meninggalkanmu apapun yang terjadi. Hyung sangatmenyayangimu. Hyung akan selalu di sampingmu untuk menjaga dan melindungimuselamanya”. Ucap hyungnya. Bocah bernama Woohyun itu memeluk hyungnyasekilas sebagai tanda terima kasih.”Nah, sekarang kita pulang ya. Hyungbisa dengar suara perutmuyang kelaparan itu”. Canda hyungnya.

 

“Ne, hyung. Kajja”. Bocah itumemegang tangan hyungnya dan mereka meninggalkan taman ini dengan riang.

 

   Hyung! Kiseop hyung? Aku tak percaya akan mengatakan hal ini. Tapisungguh, aku merindukan Kiseop hyung. Bogoshipta hyung. Aku sendirian disini.Dulu aku selalu ketus jika dia perhatian padaku. Tapi sekarang? Aku rinduperhatian itu. Aku ingin hyung ada disini. Menemaniku seperti kedua bocah tadi.Hyung, dorawa!

 

     Apa ini? Kenapa pipiku basah? Apa aku menangis? Aku menangis karenamerindukan Kiseop hyung? Aku pasti sudah gila! Segera kuhapus air mataku. Akutak boleh menangis di tempat umum begini meskipun tak ada siapa-siapa disini.Lagipula ini pertama kalinya aku menangis. Ya! Walaupun aku lemah tapi aku takpernah menangis. Tapi sekarang aku menangis karena merindukan orang yang kubenci. Aku menangis dan berharap Kiseop hyung menemaniku? Baiklah! Aku rasapermintaan konyolku itu berakibat fatal! Aku ingin Kiseop hyung kembali. Tuhan,kembalikan Kiseop hyung ke hidupku. Aku, aku, aku, uhm, aku menyayanginya.

 

“Kau sendirian disini, anaklemah?”

 

    Glek! Itu suara Minsoo. Mereka pasti akan membullyku. Aku menoleh dengansangat perlahan. Dugaanku benar! Dibelakangku sudah ada Minsoo, Byunghun, Niel,Changhyun, dan Jonghyun. Mereka menatap penuh nafsu padaku. Apalagi kalau bukannafsu untuk menghajarku. Dan disaat seperti ini, aku benar-benar berharapKiseop hyung kembali. Hyung, tolong aku!

 

“Kau takkan bisa selamat lagisekarang. Sudah tak ada lagi orang yang akan melindungimu!”Ucapan Byunghunmembuatku merinding.

“Kau akan mati kali ini!” Nielikut mengancam dengan memberikan senyuman iblis.

 

   Wajahku pasti sudah pucat sekarang. Mendengar ancaman tiga orang tadibelum lagi Changhyun dan Jonghyun yang menggunakan bahasa tubuh mereka.Meletakkan jari ke leher lalu seolah mengiris leher mereka. Aku tau maksudmereka apa, itu bahasa tubuh dari kalimat ‘Kau akan mati!’

 

    Aku harus bagaimana sekarang? Mereka sudah mendekatiku. Kakiku taksanggup berdiri, rasanya aku kehilangan tulang bagian bawah tubuhku. Aku takberkutik. Kuputuskan untuk menutup mata dan menyerahkan hidupku pada takdirselanjutnya. Hyung, aku mohon! Pinjamkan kekuatanmu. Doaku dalam hati.

 

“Chunji-ya”. Aku mendengarsuara seseorang. Kiseop hyung!”Jangan takut, hyung ada disini. Hyung adadi hatimu”. Ucapnya lagi. Jebal, tolong aku hyung. Doaku dalam hati.”Kau pasti kuat untuk berlari dari sana. Hyung akan membantumu”. Akumengangguk mendengar titah Kiseop hyung yang hanya terdengar suaranya tanpawujud itu. “Sekarang kau buka matamu, hitung sampai tiga lalu kau berlari.Arraseo?” Aku kembali mengangguk.

 

   Kuhirup udara sebanyak-banyaknya, mengumpulkan keberanianku. Huh! Akupasti bisa! Kubuka mataku, lalu berbalik menatap mereka, menatap mereka tajamseolah penuh dendam. Baiklah, aku mulai menghitung sekarang. Hana…. Dul….Set….

 

“Kyaaaa…..”. Teriakku sambilberlari. Mereka yang terkejut dengan ulahku, malah ada yang sampai bersembunyi.Yang sadar aku sudah kabur, langsung mengejarku.

 

   Sekuat tenaga aku berlari menjauh dari mereka. Berhasil! Aku bisaberlari dengan sangat cepat. Darimana keajaiban ini datang? Agh, ya! PastiKiseop hyung! Kiseop hyung sungguh membantuku. Gomawo hyung. Kau sungguhmalaikat penyelamat dan pelindung untukku.

 

   Itu dia! Segera aku memasuki mobilku, menghidupkan mesin dan langsungtancap gas meninggalkan tempat yang hampir membuat nyawaku terancam. Yes!Mereka tak mungkin bisa mengejar mobil super cepat milikku ini. Hahaha! Pertamakalinya aku bisa kabur sendiri. Uhm, tentunya dengan bantuan hyungku. Aku jadimerasa bersalah karena sudah membencinya.

 

xXx  Falling Star  xXx

 

    Usai makan malam, aku berniat kembali ke kamarku. Entah mengapa,langkahku berhenti di tempat yang tidak seharusnya. Ini bukan tujuanku karenaini kamar Kiseop hyung.Hatiku merasa aneh. Aku ingin memasuki kamar ini. Akurasa, aku sungguh merindukan Kiseop hyung.

 

Ckleek

 

   Kubuka pintunya perlahan, gelap. Tanganku meraba dinding, mencari saklarlampu. Ketemu! Lampu menyala, ruangan terang benderang seketika. Tapi, kamarini sangat asing di penglihatanku. Walaupun aku jarang masuk kamarnya, tapi akutau kamar Kiseop hyung tak se’gersang’ ini.

 

   Seharusnya di dinding bagian atas kepala tempat tidurnya terdapat banyakpigura berisi fotonya, fotoku dan foto keluarga kami. Di dinding bagian atasmeja belajarnya, ada banyak poster idolanya. Harusnya di sudut tenggara dekatjendela ada sebuah lemari kaca berisi banyak piala, piagam, dan sertifikatmiliknya. Di belakangku ini juga harusnya ada rak buku yang di sebelahnyaterdapat rak aksesoris untuk meletakkan berbagai earphone, topi, gelang, kalungdan berbagai koleksi miliknya.

 

   Kenapa semua barang-barang itu tidak ada? Agh, ya! Jangankanbarang-barang seperti itu, pakaian miliknya satupun tak tersisa di lemari.Bahkan jaket dan kaos kesayangannya juga tidak ada. Kemana semua barang itumenghilang? Kenapa semuanya seolah tak pernah ada di kamar ini? Kenapa yang adahanya tempat tidur dan lemari kosong saja? Apa Kiseop hyung sungguh lenyapbersama semua barang-barangnya? Atau dia malah tak pernah ada di hidupku?

 

    Argh! Berat sekali rasanya untuk menghela nafas. Tubuhku terasa lemas.Kuputuskan untuk duduk di pinggir ranjangnya. Menekuk wajahku sedalam mungkin.Aku merasa malu sekali. Malu sudah membenci hyungku yang sangat menyayangiku.Kini, aku menyesal akan perkataanku. Aku merindukannya. Aku ingin bersamanya.

 

“Chunji-ya?”

 

   Aku mengangkat wajahku. Kulihat eomma berjalan menghampiriku dan ikut dudukdi sampingku. Dia mengusap pundakku lembut, senyumnya begitu indah. Senyumnyamengingatkanku pada Kiseop hyung. Agh,benar juga! Aku tanyakan tentang Kiseophyung saja pada eomma.

 

“Eomma, hyung dimana?”

“Hyung?” Eomma mengernyitkankening, terlihat bingung. Apa dia tak tau tentang Kiseop hyung?Aku rasa diapasti tau.”Uhm. Kau itu anak tunggal, Chunji-ya”. Ucapnya lagi.

 

Jleegaarr

 

  Telingaku bagai tersambar petir mendengarnya. Anak tunggal? Aku anaktunggal keluarga ini? Tidak mungkin! Aku punya hyung! Masih ada Kiseop hyung!Eomma pasti bercanda!

 

“Anak tunggal? Tapi aku punyaseorang hyung, eomma. Kiseop hyung”. Jelasku.

“Kiseop?” Ekspresi eommaberubah. Aku yakin eomma pasti tau jika aku menyebut Kiseop hyung.

 

“Ne, eomma. Kiseop hyung. Diahyungku satu-satunya”. Tegasku.

“Uhm. Kau tidak ingat,Chunji-ya?” Eomma terlihat bimbang, aku menggeleng. “Kiseop meninggaldua tahun yang lalu”.

 

Jleeggaarr

 

   Kembali lagi telingaku bagai tersambar petir mendengarnya. Matakumembulat kaget. Aku sangat shock mendengarnya. Hyung meninggal? Kenapa aku taktau itu?

 

“Dia meninggal tertabrak mobil duatahun yang lalu. Saat menyelamatkanmu”.

 

Jleeggaarr

 

   Untuk ketiga kalinya, telingaku bagai tersambar petir. Kata-kata eommamenghujam ke relung hatiku. Sakit sekali. Kurasakan mataku mulai berkaca-kaca.Bibirku gemetar dan tak sanggup menjawab perkataan eomma. Hyung meninggalkarena menyelamatkanku? Andwae! Ini semua tak mungkin terjadi!

 

“Chunji-ya, gwaenchanhayo?”

“Ke, kenapa? Kenapa aku tak bisaingat kejadian itu, eomma?”

“Entahlah. Dokter bilang, jiwamuterguncang setelah melihat hyungmu meninggal di depan matamu sendiri dengancara mengenaskan”.

 

Nyuuutt

 

   Hatiku sesak sekali mendengarnya. Hyung? Kenapa aku tak bisa ingat halitu? Kenapa aku bisa-bisanya merasa bahagia tak menemukanmu di sekitarku?Kenapa aku tak tau kalau kau pergi karena aku? Kau sungguh pergi karenapermintaanku itu! Kenapa permintaanku berakhir menyedihkan seperti ini? Kenapasemua menyakitkan?!

 

Aku tak sanggup lagi. Segera aku berlarimeninggalkan kamar Kiseop hyung. Panggilan eommaku saja tak kugubris samasekali. Andwae! Aku tak mau ini terjadi! Aku tak mau hyung pergi! Aku tak maudia meninggalkanku.

 

   Segera aku keluar dari jendela, berbaring di atas atap. Pandangankudengan liarnya menyisiri langit yang bertabur bintang. Tujuanku mencari bintangjatuh. Aku harap ada keajaiban yang bisa mengembalikan semua seperti semula.Dimana? Dimana ada bintang jatuh? Kenapa semua bintang kelihatan tertancapkokoh di tempatnya? Agh, itu dia! Di sebelah sana ada bintang jatuh.

 

   Kututup mataku, berusaha konsentrasi. Kedua tangan kukatupkan di depandada. Setelah menghirup udara, aku mulai membuka bibirku. “Tuhan, akumohon kebaikan hatimu. Jangan ambil Kiseop hyung dari hidupku. Hiks. Aku ingindia selalu ada di sampingku, Tuhan. Aku tak ingin dia meninggalkanku. Tuhan,dengan segala kerendahan hati, aku memohon padamu. Aku sangat menyayanginya,Tuhan. Kembalikan dia ke hidupku. Amin”.

 

   Kurasakan mataku basah dan ada yang mengalir dari sudut mataku. Airmata. Tak bisa lagi kupungkiri kalau aku sangat sedih sekarang ini. Aku takutsekali. Aku bahkan lebih takut kehilangan Kiseop hyung daripada berhadapandengan anak-anak brandalan itu.

 

   Argh! Aku tersentak kaget saat ada seseorang yang menyentuh pundakku.Kubuka mataku sambil menoleh. Ini keajaiban! Kiseop hyung ada di sampingku.Ekspresinya terlihat sangat merasa bersalah padaku. Apapun itu, yang jelas akusangat bahagia sekarang. Terimakasih Tuhan. Kau telah mendengar doaku.

 

“Uhm, Chunji-ya? Kau masih marahpada hyung karena kejadian di taman tadi?”

 

   Aku tak menjawab. Kuputuskan untuk mengambil posisi duduk. Pandangankumemperhatikandirinya dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas, berkali-kali.Benar! Ini hyungku! Kiseop hyungku masih hidup. Aku bahagia sekali.

 

“Chunji-ya, mianhae. Hyung tak maukau benci pada hyung. Hyung akan lakukan apapun yang kau inginkan. Asal kau takmembenci hyung”. Pintanya dengan penuh pengharapan.

 

   Mataku semakin berkaca-kaca. Kupeluk hyungku erat, penuh kasih sayang.Air mataku ikut tumpah dalam pelukannya. Membuat kaos oblong yang dipakainyaikut basah. Aku tak mau kehilangan hyungku.

 

“Chunji?” Panggilnyahati-hati. Sepertinya dia terkejut dengan kelakuanku.

“Mianhae hyung. Jangan pernahtinggalkan aku. Aku tak mau hidup tanpa hyung”. Isakku.

 

   Dia melepaskan pelukanku. Menatapku dalam-dalam. Mata coklatnya berair,pasti dia juga menangis. Sesayang itukah kau padaku, hyung? Mianhae. Maafkandongsaengmu yang bodoh ini.

 

“Hyung sudah memaafkanmu,Chunji-ya. Tanpa kau minta sekalipun,hyung pasti memaafkanmu.Hyung akan selaludi sisimu jika kau minta. Hyung takkan pernah meninggalkanmu”.

 

   Kupeluk lagi tubuh atletis hyungku. Aku tak pernah merasa sebahagia inisaat mendengar ucapan manisnya. Ini hal terindah yang sesungguhnya. Sangatindah.”Saranghae hyung. Aku sangat menyayangi hyung”. Ucapku dalampelukannya.

 

“Nado saranghae. Kau tau, hyungmenyayangimu lebih dari hyung menyayangi diri hyung sendiri”. Bisiknyaseraya mengelus-elus rambutku. Aku merasa sangat nyaman.

 

“Chunji-ya, Kiseop-ah? Cepatlahturun! Makan malam sudah siap!” Teriak eomma.

 

  Kami melepaskan pelukan kami. Tangan Kiseop hyung dengan lembutnyamengusap air mataku. Tangan kekar namun penuh kasih sayang. Senyumnya! Argh!Senyum malaikatmu itu sungguh sangat kusukai, hyung. Sayangnya aku baru sadarsekarang.

 

“Kajja, kita turun. Eomma, appapasti sudah menunggu”. Ucapnya seraya mencoba berdiri. Aku menahantangannya. Dia kembali berbalik dan menatapku bingung.

 

“Aku tak mau turun kalau hyungtidak menggendongku”.

“Gendong? Kau memintakumenggendongmu?” Tanyanya, meyakinkan. Aku mengangguk. “Bukannya kautak pernah mau kugendong lagi. Terakhir kali saja kau kugendong saat berumursepuluh tahun. Itu juga karena kakimu terkilir dan tidak bisa jalan”.Lanjutnya. Aku memanyunkan bibir.

 

“Kalau hyung tak mau, aku tak mauturun! Aku tak mau makan! Biar saja aku sakit!”Rajukku.

“Aigo, baiklah. Aku akanmenggendongmudengan senang hati. Naiklah”. Dia berjongkok dan aku langsungmenaiki punggungnya dengan senyum penuh kemenangan. Kau tau hyung, aku sangatsenang bisa dekat denganmu lagi. Untungnya tadi hanyaimajinasi mengerikan saja.Kalau tidak, mungkin aku akan depresi dan memilih menyusulmu ke surga, hyung.

 

xXx  FallingStar  xXx

 

AuthorPOV

 

   Chunji lebih banyak tersenyum. Dan tentunya lebih banyak bersyukur.Bersyukur karena dia bisa menjalani hidupnya yang indah ditemani hyungtersayangnya. Ya! Tak ada lagi yang lebih berharga bagi Chunji selain hyungnya.Kiseop, namja itu segalanya bagi Chunji sekarang ini.

 

“Chunji-ya”.

 

   Chunji menoleh. Rasa kaget, gugup, dan senang menyerbu hatinya ketikamelihat sesosok wanita cantik berdiri di sampingnya. Wanita cantik yang selamaini disukainya, Bora. Tapi Chunji sadar kalau Bora menyukai hyungnya. Baiklah!Bora, yeoja yang cantik dan baik hati. Dia cocok untuk Kiseop. Rasanya Chunjiharus semakin mendekatkan mereka.

 

“Boleh aku duduk disampingmu?”

“Ough, silahkan saja. Dengan senanghati”. Chunji mengumbar senyumnya.

 

“Uhm, bagaimana kabarmu?” Boramulai berbasa-basi.

“Aku? Aku baik, sangat baik. Bahkanaku tak pernah merasa sebaik ini sebelumnya”.

“Baguslah. Kalau Kiseop oppabagaimana?” Tanyanya lagi. Chunji memamerkan senyum yang lebih lebarsebelum menjawab pertanyaan Bora.

 

“Kiseop hyung? Dia juga sangatbaik. Semakin hari, ketampanannya semakin bertambah. Tubuhnya juga semakinbagus. Apalagi taekwondonya? Kau tau, 30 orang bisa dilumpuhkan Kiseop hyungseorang diri dengan tangan kosong. Dia sangathebat. Dia hyung terbaik sepanjangmasa”.

 

  Bora terbengong, tak percaya mendengar kalimat-kalimat itu meluncurdengan lancarnya dari mulut seorang Chunji. Sedang Chunji masih saja tersenyum.Khayalannya kembali terbang pada hyungnya. Hyung yang sekarang amat sangatdibanggakannya.

 

“Chunji-ya? Aku tak salah dengar?Kau memuji hyungmu? Bukannya kau sangat tidak suka membicarakan tentang Kiseopoppa?”

 

   Chunji kembali menoleh pada Bora. Lagi-lagi senyum memukau ituditunjukkannya. “Sekarang sudah berbeda, Bora-ya. Aku sangat bangga padaKiseop hyung. Dia sangat hebat, sangat pantas untuk dibanggakan. Kau tau,Kiseop hyung adalah namja paling sempurna yang pernah ada”. Chunji kembalimembanggakan Kiseop. Berharap Bora akan terkagum-kagum pada hyungnya.

 

“Ne, aku juga tau hal itu. Kiseopoppa adalah namja paling sempurna yang pernah ada”. Ucap Bora, pelan. Yes!Dia akan semakin menyukai hyungku. Pekik Chunji dalam hati.

 

“Uhm,bukan hanya itu…..”.

“Tapi”. Potong Bora. Yeoja itumenatap lurus ke depan. Chunji mengernyitkan kening. “Sempurna bukan alasanuntuk mencintai seseorang. Walaupun Kiseop oppa sempurna, tapi yangkusukaitetaplah bukan dia”.Lanjutnya tetap menatap ke depan. Chunji makinbingung dan penasaran.

 

“Lalu siapa yang kausukai? Dialebih sempurna dari hyungku?”

 

   Bora menoleh. Pandangannya beradu dengan Chunji. Dug! Hati Chunjirasanya mau melompat keluar dari tubuhnya. Chunji tak tahan lebih lamabertatapan dengan Bora. Dia memalingkan wajahnya.

 

“Dia tak lebih sempurna darihyungmu. Karena orangnya adalah kau, Chunji”.

 

   Chunji terbelalak, dia kembali menatap Bora. Mencoba mencari kebenaranatas hal yang baru saja didengarnya. “Kau, menyukaiku?” Chunjiberusaha meyakinkan. Bora mengangguk.

 

“Eh, bukannya kau dekat denganhyungku?”

“Aku memang dekat dengannya. Kautau apa yang kami bicarakan jika kau tak ada?” Chunji menggeleng.”Kami membicarakan tentangmu. Aku selalu menanyakan tentangmu pada Kiseopoppa”.

 

“Ja, jadi? Kau….”.

“Selama ini aku menyukaimu,Chunji-ya. Kau memang tidak sempurna. Tapi hatiku tak menuntut kesempurnaanuntuk bisa membuatku mencintaimu. Kau terlihat sempurna saat kau menjadi dirimuapa adanya”.

 

   Chunji tersenyum bahagia. Dia merengkuh Bora ke dalam pelukannya. Satulagi hal yang perlu disyukurinya. Tuhan itu sangat adil. Dia memberikan kebahagiaanyang berlimpah untuk Chunji. Bukan hanya orangtua dan hyungnya saja yangmembuatnya bahagia. Tapi sekarang ada Bora yang menambah daftar kebahagiaannya.

 

“Chunji-ya?” Chunji hanyamenggumam. “Lepaskan aku. Kita berada di lingkungan sekolah. Kalau gurutau, kita bisa dihukum”. Chunji refleks melepas pelukannya.

 

“Agh, kau benar. Mianhae. Akuterlalu bahagia”. Rona malu terlihat di wajah Chunji namun tak sedikitpunmengurangi kesumringahandalamsenyumannya.

 

xXx  FallingStar  xXx

 

    Chunji menikmati waktu santainya. Diamendengarkan lagu melalui earphone yang terhubung ke i-podnya. Sedang matanyatak lepas dari komik yang berada di hadapannya. Chunji terhanyut dalamkeasyikannya sendiri. Bahkan dia tak bergeming saat merasa tempat tidurnyabergoyang.

 

   Chunji tau ada seseorang yang ikut menaiki tempat tidurnya. Dia yakinKiseoplah orangnya, dan memang benar. Karena tak lama setelah itu, kepalaKiseop mulai tersembul. Dia mengambil posisi sama seperti Chunji, tengkurap.

 

   Chunji yakin kalau Kiseop tak berani mengganggunya. Terakhir kali Kiseopmencoba ikut menyerobot kegiatan Chunji, Chunji mengamuk habis-habisan.Lihatkan? Kiseop hanya membuka-buka buku Chunji, mungkin mencari nilai yangdihasilkan namdongsaengnya itu.

 

Kiseop tak menyadari kalau sedari tadiChunji meliriknya. Chunji berharap Kiseop akan mengganggunya seperti dulu tapinihil. Kiseop tak mungkin melakukannya karena dia takut Chunji akan marah danmembencinya. Ayolah, hyung! Aku sudah berubah. Jerit Chunji dalam hati.

 

   Chunji melepaskan sebelah earphonenya, memakaikannya pada salah satutelinga Kiseop. Hyungnya menoleh, menatapnya kaget. Namun Chunji menunjukkansenyum tulusnya. Senyum yang dipersembahkannya khusus untuk Kiseop denganharapan hyungnya bisa merasakan kasih sayang yang kini tumbuh di hatinya.

 

“Hyung, kajja. Kita mendengarkanmusik sambil membaca komik bersama-sama”. Kiseop tersenyum mendengarnya.

“Ne, kajja”.

 

   Chunji menggeser komik itu ke tengah. Ada keseruan tersendiri saatmelakukan kegiatan itu bersama-sama. Tentunya karena kegiatan itu semakinmemupuk kasih sayang diantara mereka.

 

   Chunji kembali melirik Kiseop. Terlihat kabahagiaan dari tawa kecil yangmuncul di bibir Kiseop. Entah mengapa Chunji kembali merasakan matanyaberkaca-kaca. Rasa haru dan bahagia menggebu-gebu di hatinya.

 

“Saranghae hyung”. Gumamnya.Kiseop menoleh.

“Nado saranghae, Chunji-ya”.

“Jangan pernah tinggalkan aku,hyung. Tetaplah menjadi pelindungku”.

“Hyungtakkan pernah meninggalkanmu.Hyung akan tetap berada di sisimu. Melindungi dan menjagamu selamanya”.

“Yaksok?” Chunji mengulurkankelingkingnya.

 

“Yaksok”. Kiseop menautkankelingking mereka. Sesaat kemudian, Chunji menerjang tubuh Kiseop hinggamembuat Kiseop terbaring di ranjang. Chunji memeluknya erat, sangat erat. Diatak ingin berpisah dari Kiseop dan takkan membiarkan siapapun memisahkan merekaberdua. Karena kini Chunji sadar betapa dia sangat menyayangi hyungsatu-satunya itu.

 

xXx Falling Star xXx

 

TAMAT

 

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s