FF//LIES//Chaper 5-END

 

 

“Ini… bukankah ini kalungku yang …..”.

 

 

 

Belum sempat Eunji melanjutkan kalimatnya.

Gadis itu terlebih dulu menyunggingkan senyumnya.

 

‘Dia masih memakainya! Ck.. dasar pencuriii!!!’.

Batin Eunji gemas, kemudian melanjutkan aktifitasnya yang sempat tertunda. Ia

menyeka tubuh Kevin dengan penuh kasih sayang.

 

Beberapa saat kemudian Eunji tercengang saat

melihat jemari lentik Kevin yang mulai bergerak-gerak. Eunji terperangah hebat

dan langsung menghentikan aktifitasnya.

 

“Oppaaa… Oppaaa kau sadar? Hahhh… benar

apa kau sudah sadar?”. Gadis itu meraih tangan Kevin kemudian

menggosok-gosoknya. Gadis itu tampak kegirangan saat mengetahui ada respon dari

tubuh Kevin. Sampai-sampai ia lupa harus memanggil dokter.

 

“Oppaaa.. Kevin Oppaaaaa… apa kau

mendengarku?”. Tanya Eunji pada Kevin yang mulai membuka matanya. Namun

pandangan laki-laki itu masih kosong. Tampak linglung seperti habis kehilangan

beberapa sukmanya.

 

“Eunji-ssi ada apa?”. Taya Elison yang tiba-tiba

saja muncul dari balik pintu.

 

“Kevin… Kevinnn..Kevinn”. Eunji hanya bisa

menunjuk-nunjuk sepasang mata Kevin yang masih menari-nari mengitari

sekitarnya. Agaknya Kevin tengah mengadaptasi kedua bola matanya dengan keadaan

sekitar. Walaupun masih terlihat kosong dan linglung.

 

Elison mengikuti arah telunjuk Eunji dengan

penasaran. Mata laki-laki setengah bule itu seketika membulat saat melihat

Kevin tersadar.

 

“Bodoh !!! kau sudah sadar??”. Tanyanya masih

dengan sebutan khasnya.

 

“Heiii.. kenapa kau tidak memanggil Dokter?”.

Tanya Elison pada Eunji yang masih sibuk tersenyum-senyum dalam dunianya

sendiri.

 

“Aigooooo… aku lupa.. “.

 

“Yaaaaaa!!!! Kau ini bagaimana? Biar aku yang

memanggilnya!!”. Dengan cepat Elison melesat menuju ruang Dokter.

 

Sedangkan Eunji, entahlah sepertinya gadis itu

terlalu bahagia. Sampai-sampai tingkahnya seperti orang gila. Senyum-senyum

sambil sesekali menghentak-hentakkan kakinya seperti anak TK yang sedang

belajar menari.

 

Sejak kejadian sadarnya Kevin dari tidur yang

berkepanjangan itu, kini Kevin mulai sadar sepenuhnya. Dokter mengatakan kalau

Kevin telah melewati masa Kritisnya. Dan hal itu membuat Eunji sangat sangat

bahagia. Walau Dokter belum bisa memastikan kesembuhan Kevin, namun Eunji tetap

berusaha dan berdoa untuk kesembuhan Kekasihnya itu. Baginya, melihat Kevin

bisa sadar dari komanya merupakan hal yang paling membahagiakan. Benar-benar

sebuah keajaiban, mengingat keadaan Kevin yang seakan tak ada lagi tanda-tanda

kehidupan. Sedetikpun gadis itu tidak ingin melewatkan moment-moment

berharganya bersama Kevin. Sedangkan Kevin yang awalnya masih berpura-pura acuh

dan dingin pada Eunji, Kini tak digubris oleh Eunji. Eunji sudah tahu semuanya.

Dan tentu saja Kevin langsung melempar deathglare pada Elison yang merupakan

tersangka utama dari terbongkarnya rahasia Kevin.

 

“Akan Ku bunuh Kau Elison Kim!!!!”. Begitulah

kata Kevin disela-sela nafasnya yang masih terdengar satu-satu saat itu. Sedangkan

Mpunya hanya bisa meringis menunjukkan deretan gigi-gigi putihnya sambil

mengangkat tangannya membentuk peace Hand.

 

 

 

 

 

Pagi itu suasana tampak cerah, matahari

bersinar kuning keemasan menyinari bumi, menghangatkan suasana dipagi hari.

Tidak berbeda dengan Eunji yang setiap pagi bahkan setiap saat ingin selalu

menjadi penghangat Kevin. Seperti janjinya saat itu. Eunji selalu berada

disamping Kevin. Gadis itu takut. Bahkan sangat takut jika suatu saat nanti dia

akan kehilangan Kevin lagi. Enam bulan tanpa laki-laki tampan itu adalah hal

tersulit bagi Eunji.

 

“Chagiya ..”. Panggil Kevin pada Eunji yang

masih setia berdiri didekat jendela bertirai itu. gadis cantik itu tak menoleh

kesumber suara. Entah memang tidak mendengar atau pura-pura tidak punya

telinga. Gadis itu masih asyik memejamkan matanya sambil menghirup udara yang

melewati sela-sela jendela disana. Kevin memutar bola matanya kesal.

 

“Yaaaa.. Jung Eunji!!!”. Panggilnya sekali

lagi. Kali ini suaranya agak keras sehingga mampu membuat gadis bersweater biru

itu tersentak kaget.

 

“Oppa!! Kau mengejutkanku!”. Kesalnya sambil

mengelus dada.

 

Kevin yang sudah duduk diranjang mendecak

kesal sambil melipat kedua tangannya didada.

 

“Kau ini tidak mendengar atau pura-pura tidak

mendengar? Huhhh!! aku memanggilmu berulang kali tapi kau tetap

tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila!!”. Kesal Kevin.

 

Bukannya menjawab, Eunji justru kembali

tersenyum tidak jelas. Gadis itu berjalan mendekati Kevin.

 

“Aku suka sekali dengan warna matahari disaat

pagi. Suhunya juga begitu hangat. Kau tahu? Matahari pagi itu menyehatkan !”.

Terangnya dengan mata berbinar.

 

“Iya.. aku juga tahu. Dokter Lee juga selalu

bilang seperti itu”. Sahut Kevin.

 

Sedetik kemudian keduanya diterpa keheningan

sesaat. Kemudian deheman Eunji berhasil memecah keheningan tersebut.

 

“Oppa… bagaimana kalau kita pergi

jalan-jalan?”. Tawar Eunji mencoba memecah keheningan.

 

“Jalan-jalan?”. Tanya Kevin. Keningnya

berkerut.

 

“Ehmmmm…bukankah Dokter Lee bilang kalau

sinar matahari pagi itu menyehatkan? Kalau begitu Oppa harus sering-sering

menghirup udara pagi”. Terang Eunji dengan unsur membujuk.

 

Kevin tampak berfikir sejenak.

 

“Bagaimana?”. Tanya Eunji lagi.

 

“Baiklah”. Sahut Kevin akhirnya. Eunji

tersenyum senang.

 

“Baiklah kalau begitu kau duduk saja dikursi

roda, aku akan mendorongnya!”. Pinta Eunji sambil menggeret kursi roda yang

kebetulan ada disampingnya.

 

“Apa-apaan? Kursi roda? Aku naik kursi roda?

Aishh.. aku tidak mau!!!”. Tolak Kevin mentah-mentah.

 

“Memangnya kenapa?”. Tanya Eunji bingung.

 

“Kau pikir aku orang lumpuh? Kau pikir aku

selemah itu!! aku tidak mau..”. Tolak Kevin lagi.

 

“Aishhh… bukan seperti itu maksudku!!! Kau

itu sedang sakit,tentu saja kau harus duduk dikursi roda”. Kekeh Eunji. Mencoba

meyakinkan kekasihnya yang keras kepala itu.

 

Kevin menggeleng cepat. Tetap bersikeras

menolak.

 

“Aku masih bisa jalan!! Ayooo…!!!!”. Sahutnya

sambil mencoba turun dari ranjangnya yang sudah beberapa minggu ditidurinya

itu.

 

“Ck.. dasar keras kepala!!”. Decak Eunji

sambil mengambil kantong infus yang digantung disebuah tiang kecil samping

ranjang Kevin.

 

Dua sejoli itu berjalan beriringan melewati

koridor rumah sakit yang sedikit gelap. Tidak ada percakapan diantara keduanya.

Sesekali Eunji mencuri pandang kearah Kevin yang masih bermuka tanpa ekspresi.

Entah sejak dia sadar dari komanya sikapnya sedikit lebih pendiam. Laki-laki

itu cenderung tidak banyak bicara. Namun tatapan mata tidak bisa berbohong.

Kevin sangat bahagia saat Eunji ada disampingnya.

 

Tak butuh waktu lama mereka berdua akhirnya

sampai ditaman rumah sakit itu. tidak terlalu luas, namun cukup nyaman untuk

sekedar menghilangkan penat atau jalan-jalan menghirup udara segar dipagi hari.

 

“Whoaaaa… udaranya sejuk sekali !”. Eunji

lebih dulu memulai pembicaraan. Gadis itu tersenyum sambil merentangkan kedua

tangannya mencoba menangkap seluruh udara segar yang masuk.

 

“Eunji-yaa”. Sahut Kevin. Nada suaranya

terdengar sangat serius.

 

“Ya?”.

 

“Kenapa kau lakukan ini?”. Tanya Kevin datar.

 

Eunji mengerutkan keningnya bingung.

 

“Maksudmu?”.

 

Kevin memutar kepalanya memandang wajah cantik

gadis yang ada disampingnya itu.

 

“Bagaimana bisa kau masih bersikap baik

padaku? bukankah aku sudah menyakitimu? Ahh… tidak hanya itu, bahkan aku

sudah membuatmu tersiksa selama ini”. terang Kevin dengan nada menyesal.

 

Bukan menjawab. Eunji justru tersenyum

kehangat menatap Kevin.

 

“Karena aku mencintaimu, Oppa”. Sahut Eunji

santai.

 

Kevin terdiam, mencoba mencerna kalima Eunji.

Kalimat singkat memang. Namun bermakna segudang.

 

“Harusnya,, saat itu kau tidak perlu

berpura-pura seperti itu Oppa. Sekalipun kau jujur, aku tidak akan pernah

meninggalkanmu. Justru aku akan selalu berada disampingmu,semampuku. Aku ingin

kita selalu bersama-sama Oppa. Justru aku menyesal, disaat kau melewati

masa-masa sulitmu, aku tidak ada disampingmu….”. Eunji menelan ludahnya

membuat jeda didalam kalimat panjangnya.

 

“Oppa.. aku harap itu adalah kebohonganmu yang

pertama dan terakhir. Karena bagaimanapun juga, aku selalu percaya padamu.

Bahkan disaat kau berbohongpun aku masih mempercayaimu. Tolong jangan seperti

itu lagi. Karena….. aku bisa gila nanti”. Imbuh Eunji yang berakhir dengan

kepala yang tertunduk.

 

Kevin menatap Eunji nanar, laki-laki itu dapat

merasakan kedua matanya mulai memanas. Dia menyesal, sedih bahkan merasa

bersalah karena telah menyia-nyiakan gadis setulus Eunji. Laki-laki itu tidak

menyangkan kalau Eunji masih seperti dulu. Masih mencintainya dengan tulus.

Sikapnya masih sehangat dulu. ‘Dia tidak berubah’. Batinnya.

 

“Maafkan aku, Eunji-yaa”. Sahut Kevin lirih.

 

Eunji mengangkat kepalanya menatap Kevin.

 

“Untuk apa kau meminta maaf?”. Tanya Eunji

bingung.

 

“Untuk semua perlakuanku saat itu”.

 

Eunji tersenyum lagi.

 

“Aku sudah memaafkanmu Oppa”. Sahutnya lembut.

 

Kevin membalas senyuman Eunji dengan senyum

malaikat andalannya. Ya Eunji sangat menyukai senyum itu. Dia sudah lama tidak

melihat senyum itu.

 

“Tapi…. bagaimana jika suatu saat aku

meninggalkanmu lagi? Apa kau akan tetap menungguku seperti sebelumnya?”.

Tiba-tiba Kevin mengejutkan Eunji dengan pertanyaan yang menurut Eunji terlalu

aneh untuk didengar. Tentu saja, Eunji tahu maksud dari kata –Meninggalkan-

yang dikatakan oleh Kevin. Kevin memang bisa saja meninggalkan Eunji kapan

saja. Tuhan bisa kapan saja menjemput laki-laki itu.

 

Eunji menggeleng cepat saat telah mencerna

kalimat Kevin.

 

“Aku tahu apa maksudmu Oppa. Aku mengerti.

Tapi tolong, disaat-saat seperti ini jangan bicarakan itu. Aku sedang tidak

ingin mendengarnya”. Desis Eunji tajam.

 

“Aku juga tidak ingin. Kalau saja aku bisa

menghindar, aku pasti akan menghindar. Kalau saja Tuhan bisa membuatku hidup

seribu tahun lagi, aku tidak akan menolak. Tapi aku tidak bisa melawan takdir

Tuhan. Aku hanya bisa menunggu saat itu datang”. Terang Kevin datar.

 

Eunji terdiam. Kedua matanya mulai memanas dan

siap kapan saja meluncurkan cucuran air didalamnya.

 

“Aku tahu Oppa. Aku sangat tahu. Justru itu

aku tidak ingin melewatkan sedetikpun waktu bersamamu. Aku selalu ingin

bersamamu, kalau saja Tuhan mengijinkan aku untuk pergi bersamamu, aku juga

akan ikut pergi bersamamu Oppa. Aku tidak ingin berpisah lagi denganmu….”.

terang Eunji panjang lebar.

 

“Terimakasih Chagiya, Terimakasih untuk

semuanya. Aku mencintaimu Jung Eunji. Sangat mencintaimu. Aku akan berusaha.

Aku akan berdoa kepada Tuhan agar aku bisa diberikan waktu lebih lama lagi

supaya kita bisa bersama-sama sampai kita tua nanti”. Sahut Kevin sambil

memeluk tubuh mungil Eunji. Eunji yang sempat kaget hanya mampu bungkam didalam

dekapan Kevin. Jantungnya berdegup begitu kencang. Kebiasaan itu masih saja

melekat dalam diri Eunji. Padahal itu bukan kali pertama Eunji mendapat

perlakuan seperti itu oleh Kevin. Tak sadar air matanya yang sedari tadi

mati-matian ia tahan, kini dengan seenaknya meluncur menyusuri pipi mulus gadis

itu.

 

“Kita akan selalu bersama-sama Oppa. Kalau kau

pergi, aku juga akan pergi bersamamu tidak peduli apa yang kau katakan…….”.

 

Kevin yang saat itu menenggelamkan wajahnya

dibahu Eunji nampak menganggukkan kepalanya.

 

“Iya…Kita kan selalu Bersama Chagiya !!”.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

~

THE END~

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s