FF// Love In Goal // Chapter 2

Title                 : Love in Goal

 

Cast                 : Xi Luhan (EXO M)

 

                          Wu Yi Fan (EXO M)              

 

                         Choi Sulli F(x)

 

 

 

Genre       : Romance, Friendship

 

 

 

Length      : Chaptered

 

 

 

Rate

                : 17+

 

Author     : Fenita Yonata

 

 

 

Disclaimer : Cast is

Themself. Taaaaaapi… kalau Readers gak keberatan Xi Luhan buat Author !!

Theliuth pake thumvah-thumvah Author gak nolak #plakk

 

 

Warning : Gaje, OOC, Just

fiction. Just for fun. Don’t like don’t read then please out from my note !! *Sadis

 

 

 

 

 

 

 

Happy Reading

 

 

 

Bismillah

 

 

 

 

 

^^ Love In Goal Chapter 1

 

 

 

################Love In Goal !!#######################

 

 

 

 

 

“Rusa!!! Ayo oper

bolanya !!!”. Seorang gadis imut tengah berteriak heboh ditengah lapangan

futsal. Keringatnya kini membanjiri wajah moleknya. Dia tampak senang hari ini.

Tak peduli dengan wajahnya yang cantik dan mulus. Dia tetap berlari-lari

mengejar bola bersama salah seorang sahabatnya.

 

 

 

DUAGGGHHH…!!!!!!!!!

 

 

 

Seorang laki-laki berparas

manis itu menendang bola kesembarang arah dan berjalan kepinggir lapangan

dengan wajah cemberut. Wajahnya begitu menggemaskan.

 

 

 

“Yaaa!! Kenapa kau

berhenti Luhan?”. Tanya gadis imut itu menghampiri laki-laki yang

dipanggil Luhan sambil mengusap peluhnya.

 

“Kau curang Sulli-ya…

Kau tidak pernah menjadi kiper!”. Sahut Luhan bersungut-sungut. Sulli hanya

terkekeh mendengar rutukan sahabatnya itu.

 

“Baiklah lain kali aku

akan menjadi kiper. Kau tidak perlu merengut begitu. Wajahmu mirip sekali

dengan rusa kalau begitu”. Sulli mengerling wajah manis Luhan sambil

mencubiti pipi laki-laki itu.

 

“YAAAA!!! APPO !

Hentikan  Sulli-ya ! Tidak Lucu !”.

Teriak Luhan kesakitan memegangi pipinya yang mulai memerah. Sulli semakin

memperlebar tawanya membuat Luhan semakin kesal.

 

 

 

GREPPP

 

 

 

“Baiklah.. Aku minta

maaf Luhanie”.

 

Luhan terdiam. Matanya

membulat saat kedua tangan lembut milik Sulli melingkar dipinggangnya. Sulli

memeluk tubuh kurus laki-laki itu. Wajah manis Luhan semakin merona. Tubuhnya

seakan membeku. Degup jantungnya berdetak begitu cepat.

 

‘Apa ini?’. Rutuknya dalam

hati.

 

“Aigooo!!!!. Lepaskan

aku Sulli-ya!”. Berontaknya pada gadis yang masih memeluknya erat.

 

“Tidak mau! Sebelum kau

bilang kalau kau tidak marah padaku”. Tolak Sulli mentah-mentah.

 

“Iya..iya !! Aku tidak

akan marah tapi lepaskan dulu !”. Luhan kembali protes. Sulli tersenyum.

Sebenarnya itu adalah kebiasaan Sulli memeluk Luhan jika ada maunya. Dan hal

itu membuat Luhan nyaman. Namun kali ini tidak. Dia justru memberontak keras

membuat Sulli bingung.

 

“Kenapa? Biasanya kau

senang kalau aku memelukmu”. Tanya Sulli.

 

“Ehmm…”. Luhan

terdiam membuat Sulli tambah bingung. Tiba-tiba Luhan menampakkan senyum. Ah

bukan sebuah senyuman tapi lebih tepat seringaian.

 

“Kenapa?”. Tanya

Sulli sekali lagi.

 

“Ehmm… Kau.. Eughh..

KAU BAU CHOI SULLI !!!”. Luhan berteriak sambil berlari menjauhi Sulli

yang kini sudah memasang deathglare kearah Luhan.

 

“YAAA!! XI LUHAN

KEMBALI !!”. Pekik Sulli bersiap mengejar Luhan. Luhan mempercepat larinya

sambil sesekali menengok kearah belakang memastikan kalau Sulli tak mengejarnya.

Mustahil Sulli tak mengejarnya. Gadis itu bukanlah gadis yang gampang menyerah

sebelum dia mendapatkan apa yang dia inginkan.

 

” XI LUHAN JANGAN LARI

!!”. Sulli masih mengejar Luhan. Luhan terus berlari sambil menoleh

kebelakang dan…

 

 

 

SYUUUUUUUUUUUUUTTTTTTTTT……!!!!!!

 

 

 

“AAAAAAAAAAAAAAAA……!!!!!”

 

 

 

BRRRRRUGGGG………!!!!!!!!!!!!!!!!

 

 

 

“Auwhh.. APPO !!”.

 

Tepat sekali !! Luhan

terpeleset karena tak sengaja menginjak kulit pisang. Dia meringis sambil

memegangi pantatnya yang berciuman dengan tanah secara tidak elit. Sepasang

matanya menemukan kulit pisang itu. Dengan kesal dia menyambar kulit pisang

itu.

 

“Siapa yang membuang

kulit pisang sembarangan disini?”. Tanyanya pada diri sendiri dan langsung

membuang kulit pisang tak berdosa itu kesembarang tempat.

 

“Ouhh.. Pantatku!!”.

Erangnya meringis kesakitan. Laki-laki berdarah cina itu masih sibuk mengusap

pantat tipisnya.

 

“Mau lari kemana kau

sekarang?”. Tiba-tiba suara Sulli mengejutkan Luhan. Dia begidik menatap

Sulli yang kini terlihat begitu menakutkan menurutnya.

 

“Kau bilang apa tadi?

YAAA! Sesama orang bau dilarang saling mengatai!!!”. Cerocos Sulli sambil

menarik blazer bagian belakang milik Luhan.

 

“Aku bau? Aku

tidak….”. Luhan mencoba mengendus-enduskan hidungnya kearah ketiaknya.

Ekspresi wajahnya berubah menjadi lucu.

 

 “Hahahaha.. Iya kita sama”. Luhan

tertawa renyah begitu merasakan bahwa dirinya juga sama dengan Sulli. Sulli

memutar bola matanya sebal. Namun dalam sekejab mata Sulli teralihkan dari

pemandangan yang mendadak indah dihadapannya.

 

“Kau lihat apa?”.

Tanya Luhan bingung.

 

“Wu Yifan ! Tampan

sekali”. Seru Sulli tak mau berkedip saat mendapati seorang laki-laki yang

ternyata Wu Yifan yang tak sengaja lewat tak jauh dari tempat Sulli sekarang.

 

 “Wu Yifan?”. Tanya Luhan.

 

“Luhanie? Kau tidak

tahu? Dikelasku ada murid baru pindahan dari Canada. Namanya Wu Yifan. Itu !!

Yang baru saja lewat ! Omoo ! Dia tampan sekali”. Sulli mencoba

menjelaskan sekilas tentang sosok Wu Yifan yang dikaguminya semenjak laki-laki

separuh bule itu menjadi murid baru dikelasnya. Luhan mendecak kesal melihat

tingkah Sulli. Seakan tak suka kalau sahabatnya itu menyukai Yifan.

 

“Kau suka

padanya?”. Tanya Luhan penuh selidik.

 

“Tentu saja. Perempuan

mana yang tidak tertarik pada laki-laki setampan dia,tubuhnya

tinggi,berkharisma”. Sahut Sulli sambil senyum-senyum tidak jelas. Luhan

hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Baru kali ini dia melihat sahabatnya

jatuh cinta. Yang Luhan tahu, sahabatnya hanya suka asyik dengan dunianya

sendiri. Bermain sepak bola bersama Luhan tanpa peduli dengan tanggapan

orang-orang disekitarnya  yang menurut

mereka anak perempuan tidak cocok bermain sepak bola. Luhan tersenyum tiba-tiba

saat melihat Sulli yang begitu terlihat bahagia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

###########Love In Goal################

 

 

 

 

 

“XI LUHAN !!! RUSA

KECIL !!!”. Sulli berteriak-teriak heboh didepan rumah Luhan. Membuat

seseorang yang ada didalam rumah itu menyembulkan kepalanya.

 

“Kau berisik Sulli-ya

!!”. Sahut Luhan didepan pintu rumahnya.

 

“Ayo !!”.

 

“Kemana?”. Tanya

Luhan bingung.

 

“Ke taman kota, ayo

cepat!”. Jawab Sulli semangat. Luhan mengerutkan alisnya saat mendapati

bola yang dipegang Sulli. Mengerti kebingungan Luhan, Sulli tersenyum.

 

“Kita akan bermain bola

basket !”. Sambungnya.

 

Luhan tertegun. Selama ini

yang ia tahu Sulli sangat menyukai sepak bola bukan basket.

 

“Kenapa harus…”.

 

“Ayooo!! Kau terlalu

lelet Luhanie. Rusa itu cekatan tidak lelet seperti keong”. Cletuk gadis

itu sambil menarik tangan Luhan yang masih terbengong-bengong. 

 

 

 

 

 

 

 

“Kenapa kau ingin

bermain basket? Bukankah kau lebih suka sepak bola?”. Tanya Luhan setelah

sampai dilapangan basket yang ada ditengah-tengah taman kota. Sulli tersenyum

penuh arti.

 

“Kau tahu? Ternyata

Yifan adalah seorang kapten basket! Whoaaa benar-benar hebat! Pantas saja jika

dia memiliki banyak penggemar”. Terang Sulli sambil mendrabble bola. Luhan

menghela nafas dalam-dalam. Dalam hatinya bicara kalau sahabatnya benar-benar

jatuh hati dengan laki-laki jangkung itu. Entah kenapa dia merasakan dadanya terasa

sedikit sesak setiap gadis itu menyebut nama Yifan. Dia masih berdiri mematung

ditengah lapangan basket menatap Sulli yang asyik dengan bola yang dipegangnya.

 

 

 

BRUKKKK !!!

 

 

 

“AUWHHH..Appo!”.

 

Luhan tersentak melihat

Sulli yang tiba-tiba terjatuh. Entah karena terpleset atau karena yang lain.

Cepat-cepat dia berlari kearah Sulli.

 

 “Kau tidak apa-apa?”.

 

Sontak langkah Luhan

terhenti saat ada tangan besar yang mendahuluinya membantu Sulli.

 

“Yi…Yifan?”.

Lagi. Sulli menyebut nama itu saat tahu siapa yang menolongnya. Laki-laki itu

tersenyum kearah Sulli. Sulli hanya terdiam beku. Pasrah saat Yifan mencoba

membantunya untuk bangun. Menyaksikan adegan dramatis itu Luhan seketika mundur

perlahan. Entah kenapa dadanya kembali terasa sakit.

 

 ‘Ada apa denganmu Xi Luhan?’. Batinnya.

 

“Kenapa kau bisa ada

disini?”. Tanya Yifan pada Sulli yang tengah duduk dipinggir lapangan.

 

“Rumahku dekat dari

sini”.

 

“Benarkah? Akupun

begitu”. Sambung Yifan.

 

Sulli tersenyum. Ngilu

dikakinya seakan hilang saat memandang wajah tampan dihadapannya itu.

 

“Berarti kita bisa

sering bertemu disini”. Tambah Yifan berbinar.

 

“Oh.. Iya”. Jawab

Sulli sedikit gugup. Entah bagaimana rona wajahnya sekarang. Sedari tadi

jantungnya berdegub begitu kencang. Mereka tak menyadari kalau ditempat itu tak

hanya ada mereka berdua. Melainkan ada Luhan yang sedari tadi hanya diam

terpaku di ujung lapangan. Terdengar umpatan-umpatan lucu yang keluar dari

bibir manisnya.

 

“Kau sendirian?”.

Tanya Yifan pada Sulli.

 

“Tidak. Aku

bersama….”. Sulli menggantungkan kalimatnya dan mengedarkan pandangannya

kesegala arah. Mencari sosok Luhan.

 

“Luhanie !! Apa yang

kau lakukan disitu? Kemarilah!”. Teriaknya saat menemukan sosok laki-laki

imut yang tadi bersamanya. Gadis itu melambai kearah Luhan. Yifan ikut menoleh

kearah Luhan. Dengan malas Luhan berjalan kearah Sulli dan Yifan.

 

“Yifan! Kenalkan. . .

Ini temanku. Namanya Xi Luhan, Luhanie kenalkan dia Wu Yifan”. Sulli mulai

memperkenalkan kedua laki-laki itu secara bergantian.

 

Yifan tersenyum kearah

Luhan. “Aku Wu Yifan. Senang berkenalan denganmu”. Yifan mengulurkan

tangannya kearah Luhan dengan ramah.

 

“Aku Luhan. Xi

Luhan”. Luhan membalas uluran tangan Yifan. Sulli tersenyum melihat

keduanya. Dalam hatinya dia berharap Luhan dan Yifan akan berteman baik.

 

“Oh iya kudengar kau

adalah kapten sepak bola disekolah?”. Yifan membuka suara.

 

“Benar. Aku kapten

sepak bola disekolah. Bagaimana kau tahu?”. Tanya Luhan balik.

 

“Kau cukup populer

disekolah. Aku sering mendengar dari siswi-siswi yang mengidolakanmu !”.

 

“Oh..jadi kau hobi

bergosip?”. Cibir Luhan.

 

“Tidak ! Aku hanya

tidak sengaja mendengarnya”. Sangkal Yifan sedikit tak terima.

 

“Yaaak! Rusa

berhentilah mencibir Yifan !”. Teriak Sulli membuat Luhan terdiam. Yifan

pun ikut terdiam.

 

“Yifan-ahh maafkan

Luhan ya? Dia memang seperti itu?”. Sahut Sulli. Yifan hanya tersenyum

seadanya membalas ucapan Sulli. Laki-laki jangkung itu memang irit bicara.

 

Luhan yang merasa ada

ketidakadilan disitu hanya bisa menghela nafasnya. Dia bahkan lebih membela si

tiang listrik itu ketimbang aku yang sahabatnya selama bertahun-tahunnya. Rutuk

Luhan dalam hati.

 

 

 

 

 

##############Love In

Goal###################

 

 

 

Semakin hari Sulli semakin

dekat dengan Yifan. Baik disekolah maupun diluar jam sekolah. Sulli yang

dulunya sangat menyukai sepak bola kini berputar haluan menyukai basket. Hampir

setiap sore gadis itu menghabiskan waktunya untuk bermain basket ditaman kota.

Tujuan utamanya adalah ingin selalu bertemu dengan Yifan. Laki-laki yang tengah

membuat hatinya merekah. Tapi tidak sadarkah kalau akhir-akhir ini dia tengah

melupakan seseorang? Seseorang yang selalu bersamanya, kemana-mana bersama?. Xi

Luhan. Laki-laki itu merasa terabaikan oleh sahabatnya yang kini tengah

dimabukkan oleh pesona seorang Kapten basket baru disekolahnya. Luhan sengaja

tak berontak atas apa yang terjadi padanya saat ini. Dia tidak ingin merusak

kebahagiaan sahabatnya itu. Akan terdengar egois jika dia hanya memikirkan

perasaannya sendiri.

 

“Luhanie!! Kenapa kau

tidak ke kelasku? Biasanya jam istirahat kau selalu mengajakku kekantin”.

Sahut Sulli saat sampai dikelas Luhan. “Maafkan aku Sulli. Aku sedang

malas. Kau kan bisa pergi bersama Yifan. Bukankah kau sudah kenal dekat

dengannya?”. Ucap Luhan tenang. Tidak ada nada mengejek dalam kalimat

Luhan. Namun Sulli terlihat kesal menatap Luhan. “Kau kenapa Xi

Luhan?”. Tanyanya dingin.

 

“Aku? Aku kenapa? Aku

tidak kenapa-kenapa”. Kilah Luhan. Tak ingin ada pertengkaran disitu,

laki-laki manis itu mencoba mengalah.

 

“JANGAN BOHONG !! Kau

tidak biasanya seperti ini ! Kau berubah Xi Luhan”. Luhan terhenyak

mendengar kalimat Sulli. Dalam hatinya dia berfikir bukankah Sulli yang berubah

akhir-akhir ini?. Diam. Luhan kembali terdiam. Mencoba mengalah kepada

sahabatnya.

 

“Baiklah. Ayo kekantin

!!”. Tiba-tiba Luhan dengan semangat menarik tangan Sulli. Bertolak

belakang dengan hatinya yang sedang kalut dia mencoba tersenyum semanis

mungkin. Sulli yang masih terheran-heran dengan sikap aneh Luhan hanya bisa

pasrah mengekor dibelakang Luhan.

 

Sesampainya dikantin sekolah

Luhan dan Sulli menuju kursi favouritnya. Tentu saja sebuah kursi dipojok

kantin.

 

“Kau mau pesan apa

Luhanie?”. Tanya Sulli saat telah mendudukkan diri dikursinya.

 

“Aku tidak lapar. Kau

saja yang makan !”. Jawab Luhan pelan.

 

“Tumben sekali kau

tidak mau makan? Biasanya kau yang paling semangat soal urusan makan”.

Cibir Sulli. Luhan hanya tersenyum menanggapi cibiran Sulli. “Apa kau

sakit?”. Sulli berniat menyentuh dahi Luhan. Namun cepat-cepat Luhan

menahan tangan Sulli.

 

“Aku tidak apa-apa

Sulli. Aku hanya  sedang tidak nafsu

makan”. Kilah Luhan.

 

Sulli menatap Luhan

lekat-lekat. Ada segurat kekhawatiran terpancar dari wajah imut milik gadis itu.

Luhan yang merasa diperhatikan oleh Sulli cepat-cepat mengalihkan pandangannya

kesembarang arah.

 

“Jangan menatapku

seperti itu ! Cepatlah pesan makanan. Sebentar lagi bel masuk berbunyi”.

Cercah Luhan. Namun Sulli tak segera beranjak dari kursinya untuk memesan

makanan. Gadis itu mencondongkan tubuhnya kearah Luhan yang ada dihadapannya.

Luhan tersentak saat kini wajah Sulli hanya berjarak beberapa centi dari

wajahnya.

 

“A…apa yang kau

lakukan Pabo !!”. Luhan sedikit memundurkan wajahnya. Jantungnya berdetak

cepat tak tertahankan. Laki-laki itu menahan nafasnya. Sulli bahkan tidak

peduli banyak tatapan aneh kini menatapnya.

 

“Benar kau tidak

apa-apa?”. Tanya Sulli sekali lagi. Luhan hanya mengangguk. Dia tak mampu

mengucap sepatah katapun. Lidahnya kelu. Dia benar-benar gugup sekarang.

 

“Tapi kau tidak

terlihat ba….”.

 

“Maaf ! Apa boleh aku

bergabung dengan kalian?”. Tiba-tiba terdengar suara barithon menyela

kalimat Sulli. Luhan dan Sulli menoleh kearah sumber suara secara bersamaan.

Diliatnya seorang laki-laki menjulang seperti tiang listrik bertegangan tinggi

kini berdiri disamping mereka.  Sontak

Sulli menjauhkan wajahnya dari wajah Luhan. Dia terlihat salah tingkah didepan

Yifan.

 

“Ten..tu saja boleh

!”. Sulli terlihat gugup. Luhan membuang wajahnya kesembarang arah. Merasa

malas melihat sosok Yifan. Terkesan egois memang.

 

“Baiklah kalau begitu

aku pesan makanan dulu. Kalian berdua tunggulah sebentar !”. Pinta Sulli

sebelum beranjak dari tempatnya. Yifan mengangguk sambil tersenyum. Kini hanya

tinggal Yifan dan Luhan dimeja itu. Tidak ada yang mulai pembicaraan diantara

keduanya. Suasananya tampak kaku. Benar-benar membosankan menurut Luhan. Dengan

malas laki-laki manis itu menatap kearah jendela sambil mengetuk-ngetukkan

jemarinya diatas meja.

 

“Kau tidak makan

Luhan-ssi?”. Tanya Yifan yang mulai jengah dengan keheningan disitu.

 

“Aku tidak lapar”.

Jawab Luhan seadanya.

 

“Maaf aku sudah membuat

kalian menunggu”. Tiba-tiba suara Sulli menginterupsi keduanya. Gadis itu

tersenyum dengan nampan berisikan ramyeon dan jus orange ditangannya.

 

“Tidak apa-apa Sulli-ya

! Ayo makan !”. Sahut Yifan tersenyum hangat. “Luhanie! Kau benar

tidak ingin makan?”. Tanya Sulli pada Luhan yang masih terdiam.

 

“Ah.. Iya ! Kalian

berdua makanlah dulu !”. Perintah Luhan sambil beranjak dari tempat

duduknya.

 

“Kau mau kemana?”.

Tanya Sulli.

 

 “Aku ke kelas duluan. Aku lupa kalau tadi

ada janji dengan Minseok. Tak apa kan?”. Ucap Luhan sedikit berbohong.

 

“Tapi..

Luhanie…”.

 

“Tidak apa-apa

Sulli-ya. Kau bisa kembali ke kelas bersamaku. Bukankah kita satu kelas?”.

Sambung Yifan menyela kalimat Sulli.

 

“Yifan benar Sulli-ya.

Kalian bisa pergi bersama”. Luhan tersenyum masam sebelum membungkuk

kearah Yifan dan Sulli. Dengan malas dia melangkahkan kakinya.

 

 ‘Lupakan ! Dia itu sahabatmu Xi Luhan’.

Batinnya dalam hati. Kini langkah Luhan terhenti sejenak. Dia menoleh kearah

Yifan dan Sulli yang kini larut dalam dunianya. Terdengar gelak tawa dari

keduanya. ‘Mereka bahagia’. Gumam Luhan lantas kembali melangkahkan kakinya.

 

 

 

 

 

Cuaca siang itu tidak

terlalu bagus. Ada sedikit gumpalan awan di langit pertanda hari itu akan turun

hujan entah sebentar lagi atau nanti. Siang itu semua siswa XOXO high school

berhamburan setelah terdengar bel pulang berbunyi beberapa menit yang lalu.

 

“Kau tidak pulang

Luhan-ahh?”.

 

“Aku masih menunggu

Sulli, Minseok-ahh”.

 

“Baiklah, aku pulang

duluan!”. Minseok menepuk pundak Luhan yang kini tengah bersandar disebuah

tugu tak jauh dari pintu gerbang.

 

“Baiklah,Hati-hati

dijalan Minseok-ahh ! Kalau ada yang menculikmu. Makan saja orang itu !

Anggaplah itu Bakpao rasa kacang”. Canda Luhan pada laki-laki berpipi

tembem itu.

 

“Tenang saja. Tidak

akan ada yang mau menculikku! Karena aku banyak makan. Justru aku khawatir kau

yang diculik”. Minseok balik melempar skak pada Luhan.

 

 “Kenapa bisa aku?”. Tanya Luhan

heran.

 

“Karena kau cantik

seperti wanita. Hahahaha!”. Minseok tertawa renyah dan segera berlari

menjauhi Luhan saat dia mulai merasakan aura hitam menyelubung dalam diri

Luhan.

 

“YAAAAA !!!

BAOZI-YAAAA!!!!”. Teriak Luhan kesal. Laki-laki itu mengerucutkan bibirnya

dengan lucu. Tak terima dianggap seperti seorang wanita.

 

“Luhanie.. Ada

apa?”. Tiba-tiba sebuah suara mengalihkan perhatian Luhan. Ada sedikit

gurat kekecewaan saat melihat Sulli tidak sendiri. Sulli bersama Yifan.

 

“Tidak ada apa-apa

!”. Dusta Luhan meringis.

 

 “Ahh.. Iya Luhanie. Aku dan Yifan akan

pergi ke toko buku dulu. Ada buku yang ingin kami beli”. Sahut Sulli.

 

“Oh.. Baiklah kalau

begitu aku pulang duluan saja”. Jawab Luhan. Laki-laki itu kecewa. Tentu

saja kecewa. Biasanya Sulli selalu mengajaknya kemanapun dia pergi. Bahkan ke

toko buku sekalipun. Tapi sekarang? Sulli bahkan tidak menawarkan Luhan untuk

ikut dengannya.

 

 “Bagaimana kalau kau ikut dengan

kami?”. Tawar Yifan dengan ramah.

 

“Tidak ! Kalian berdua

saja yang pergi. Aku pulang saja. Aku tidak ingin mengganggu kalian”. Ucap

Luhan sekenanya.

 

“YAAA !! XI LUHAN

!”. Teriak Sulli sambil melirik Yifan. Sedikit tersirat rona kemerahan

diwajah Sulli. Gadis itu tertunduk malu.

 

Yifan terkekeh pelan melihat

tingkah  dua sahabat yang menurutnya

lucu.

 

“Tidak apa-apa

Luhan-ssi. Kau ikut saja”. Paksa Yifan.

 

“Tidak usah Yifan-ssi.

Orang tuaku sedang tidak dirumah. Jadi aku harus pulang”. Terang Luhan. Semuanya

terdiam sejenak. Sampai akhirnya Luhan kembali membuka suara.

 

“Baiklah aku pergi

dulu, kalian ! Hati-hati dijalan”. Luhan kini berjalan cepat menjauhi

Sulli dan Yifan. Luhan melangkahkan kakinya dengan segala gejolak yang mendera

hatinya. Hatinya benar-benar sakit.

 

Sedangkan Sulli dan Yifan

kini memandang punggung Luhan yang semakin hanyut dari pandangannya.

 

 

 

“Aku merasa tidak enak

padanya”. Sahut Yifan tanpa mengalihkan pandangannya dari Luhan yang sudah

tak terlihat.

 

Sulli menatap Yifan selintas

kemudian ikut memandang kedepan.

 

“Tidak apa-apa”.

Jawabnya singkat.

 

“Biasanya kau selalu

bersamanya kemana-mana, karena aku.. Kau jarang bersamanya”. Bantah Yifan.

 

 “Bicara apa kau ini? Luhan bukanlah orang

yang seperti itu. Aku tahu betul bagaimana seorang Xi Luhan, Yifan”.

Sergah Sulli.

 

“Tapi aku merasa dia

tidak suka jika kita bersama-sama seperti ini”.

 

“Aishh.. Itu kan hanya

perasaanmu aja Wu Yifan. Sudahlah ayo pergi, sebelum sore tiba”. Sulli

menarik tangan Yifan. Ada rasa bahagia dalam dirinya. Bisa dekat dengan Yifan

seperti itu rasanya seperti mimpi bagi Sulli.

 

 

 

Disepanjang perjalanan

keduanya tampak senang. Terlihat dari canda tawa yang mereka ciptakan. Tak

jarang banyak mata memandang keduanya. Terlebih untuk kaum perempuan yang

berdecak kagum dengan ketampanan Yifan. Namun laki-laki berdarah Cina-Canada

itu tak pernah menyadari dengan kekaguman para perempuan-perempuan disekitarnya

termasuk Sulli.

 

 

 

“Apa kau sudah

menemukan bukunya Sulli-ya?”. Tanya Yifan sambil menyibak-nyibak deretan

buku-buku yang tertata rapi di rak buku. Mereka berdua sudah sampai ditoko buku

tersebut.

 

“Aku belum

menemukannya, Yifan-ahh. Bagaimana ini?”. Dengan raut cemas Sulli terus

menyibak-nyibak buku-buku di rak yang berbeda dengan Yifan. Yifan melirik

kearah Sulli yang tengah sibuk dengan buku-buku itu. Ada seulas senyum dibibir

Yifan.

 

 ‘Cantik’. Pikir  laki-laki tampan itu.

 

Entah apa yang dipikirkan

laki-laki itu, tiba-tiba dia berjalan kearah rak yang berlawanan dengan rak

yang kini ada dihadapan Sulli. Kini posisi Yifan dan Sulli tengah berhadapan

walaupun terhalang oleh satu rak yang dipenuhi oleh buku. Bahkan Sulli pun tak

menyadari keberadaan Yifan saat ini. Sampai akhirnya dia menyibak salah satu

jajaran buku yang ada disitu dan mengambil satu buku.

 

“Ttaraaaaaaaaaaaaa!!!”.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

———————————— To Be Continue———————————–

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s