[FF Freelance] Making a Lover [chapter 3 of 3 End]

Rava sedikit menyesal setelah mendengar semua kata ibunya tentang perjodohan yang ternyata hanya karangan sang ibu agar Rava cepat pulang dan tidak bermain – main terus diparis.
Selama 3 bulan Rava berfikir dan akhirnya secara diam – diam dia meminta alamat rumah Naja kepada salah satu pegawai dirumahnya. Setelah mendapatkan alamat itu Rava langsung mendatangi rumah Naja yang sangat sederhan, hanya tanaman hias yang mengelilinginya. Rava mengetuk pintu berwarna coklat itu berkali – kali tapi pintu tidak ada yang membuka, rumah itu seperti tidak berpenghuni. Rava memutar otaknya apa dia salah rumah atau mungkin Naja sudah pindah karna takut didatangi, dia merasa sia – sia datang ingin mempertanggung jawabkan semuanya. “Semua sudah sia – sia” ucap Rava pada dirinya sendiri sambil menghela nafas, tapi dia merasakan ada yang menyentuh pundaknya, dia berfikir tidak mungkin ada hantu siang – siang begini, dia menoleh dan mendapati seorang wanita dengan rambut kuncir kuda.
“Tuan muda sedang apa disini?” tanya wanita yang ternyata adalah Naja.
“A…ku ingin melihatmu, iya aku ingin melihatmu karena kau main pergi tanpa pamit” jawab Rava sambil menggaruk tengkuknya untuk menutupi gugupnya.
“Mian tuan, nyonya pasti terkejut karna saya pergi tapi saya sudah menulis surat”
“Apa kau tidak ingin mempersilahkan aku masuk”
“Ah iya saya lupa, mari tuan”
Naja membuka lebih lebar pintu rumahnya, Rava masuk lebih dulu sedang Naja mengikuti dari belakang.
“Kau tinggal sendiri” tanya Rava celingak celinguk memperhatikan isi rumah kecil itu.
“Iya tuan, anda mau minum apa?”
“Apa saja”
Naja membawa barangnya menuju dapur namun baru berjalan beberapa langkah kakinya lemas, tubuhnya roboh seketika namun belum sampai dilantai Rava sudah menangkap tubuhnya lebih dulu dan membopongnya kekamar didekat dapur.
Rava meletakkan tubuh Naja diranjang dengan pelan, lalu bergegas menuju dapur mengisi baskom dengan air panas dan mengambil selembar kain untuk mengompres dahi Naja yang demam. Rava juga memasakan bubur dengan keahlian memasaknya ketika diparis, dia meletakkan dimangkuk dan membawanya kekamar Naja.
Detik demi detik terlewati hingga siang berganti dengan malam, namun Naja belum juga tersadar. Rava dengan telaten mengganti kompres didahi Naja dengan berulang kali, Rava mulai lelah dan mengantuk sehingga dia membaringkan tubuhnya disamping Naja yang masih terlelap.
Pagi menyapa dengan sinar mentari yang masuk kecelah jenfla kamar membuat Naja terbangun, dia mengangkat kain yang ada didahinya lalu menoleh kesamping mendapati Rava yang miring memperhatikannya.
“Tuan apa yang terjadi? Kenapa anda masih disini” tanya Naja yang bangun dari tidurnya dan duduk dikasurnya.
“Semalam kau pingsan dan aku tidak tega meninggalkanmu sendirian apalagi kau tengah hamil” jawab Rava yang ikut duduk.
“Gomawo tuan muda telah menjaga saya”
“Ada yang ingin kutanyakan? Bisakah kau menjawabnya dengan jujur?”
“Tanya tentang apa tuan?”
“Apa kau sudah menikah?” tanya Rava sedikit ragu walau naluri hatinya yakin anak yang dikandung Naja adalah anaknya.
“Ani tuan”
“Jadi itu anakku. Maafkan aku, aku sangat menyesal memalukannya” ucap Rava dengan penuh sesal.
“Tidak apa – apa tuan, aku tidak masalah bila membesarkannya sendiri” ucap Naja dengan senyum tulusnya.
“Ani, aku akan bertanggung jawab dan segera menikahimu”
“Tapi bagaimana dengan nyonya dan adik tuan muda, mereka pasti tidak akan setuju”
“Tenang, aku akan mengurusnya”
“Gomawo tuan”
“Panggil oppa mulai sekarang”
“Ne”

-Beberapa bulan kemudian-

Seluruh keluarga kim tegang diruang tunggu menunggu Naja diruang bersalin, Rava mondar – mandir seperti setrika sedang nyonya tak henti – hentinya berkomat kamit mengucap doa khusuk kepada Tuhan.
“Tenang hyung, semua baik – baik saja” tutur Minhyun menenangkan.
“Ini sudah 3 jam, tapi dokternya tidak keluar – keluar. Aku takut mereka kenapa – kenapa didalam” ucap Rava masih gelisah.

Tak lama kemudian seorang suster keluar dengan membawa seorang bayi yang sudah dibersihkan, dan dibuntel dengan selembar selimut bayi bergambar Angry bird merah. Rava menerima bayi mungil itu dari tangan suster. “Anak anda laki – laki, Ibunya akan dipindahkan kekamar rawat tuan sebentar lagi”
“Iya suster”
Setelah suster pergi Rava menimang anaknya. “Appa akan menamaimu Kim Chanie” ucap Rava lalu mencium kening putranya.
“Selamat Hyung kau sudah jadi appa, aku jadi adjushi dan umma jadi halmoni”
“Gomawo Minhyunie”
“Ne, umma ayo kita pulang dulu” ajak Minhyun menggandeng ibunya.
“Kami pulang dulu, besok pagi kami datang lagi” pamit nyonya kim yang diangguki oleh Rava yang masih menikmati menimang anaknya.

…..END….

Bagaimana? Sudah puaskan mereka bersama akhirnya.
Next ffku Myungzy ya kalau gak OC.

2 thoughts on “[FF Freelance] Making a Lover [chapter 3 of 3 End]

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s