[FF Freelance] Making A Lover [chapter 2 of 3]

-Pesta Penyambutan Kim Rava-

Malam ini Rava membawa gadis cantik berwajah manis dengan gaun merah menyala, membuatnya terlihat sexi. Berbeda dengan putra kedua nyonya Kim, dia mendandani Naja dengan gaun putih yang panjang, membuat Naja semakin terlihat ayu dengan dandanan sederhananya. Semua mata menatap Naja dengan terpesona hingga Ravapun tak berkedip melihatnya.
“Tuan apa saya terlìhat aneh? Kenapa semua memandangi saya” tanya Naja yang menundukkan kepalanya.
“Mereka hanya sedang terpesona denganmu, apa ku bilang kau sangat cantik” jawab Minhyun menguatkan hati Naja.
Rava yang menyaksikan itu sedikit kesal. “Tapi sekali pembantu tetap saja pembantu” ejek Rava dengan sinis.
“Kau ini kenapa sih Hyung, bilang saja kau terpesona tapi kalah cepat menyadarinya” tukas Minhyun yang sebal dengan kakaknya.

Usai pesta berlangsung seluruh pelayan membersihkan ruangan dan sisa – sisa pesta tadi termasuk Naja, setelahnya Naja mengantarkan segelas susu hangat untuk tuan mudanya agar efek mabuknya dapat hilang. Ketika Naja memasuki kamar Rava ternyata tuan mudanya itu baru selesai mandi.
“Tuan ini susu hangat anda, nyonya bilang susu bisa menghilangkan ma..” belum sampai Naja selesai ucapannya tubuhnya sudah dihempaskan keranjang oleh Rava.
“BERHENTILAH BERPURA – PURA, AKU MUAK” teriak Rava didepan wajah Naja. Rava juga menjambak dan mencium Naja dengan sangat amat ganas, hingga Naja menangis. Rava dengan emosi melakukan hal nista kepada pelayannya tersebut.

Hari – hari telah berlalu, Rava tak pernah lagi memaki Naja tiap kali dia mengantarkan susu atau menyiapkan keperluannya. Najapun juga bersikap seolah tidak pernah terjadi apapun diantara mereka.
“Kau baik – baik saja Naja, wajahmu pucat” tanya Minhyun yang menyadari wajah pucat Naja, sedangkan Rava hanya diam sesekali memandangnya walau sekilas.
“Saya tidak apa – apa tuan, mungkin hanya kecapekan” jawab Naja tak berani memandang tuan mudanya.
“Istirahatlah, biar pelayan lain yang mengerjakannya” perintah Minhyun.
“Saya permisi kebelakang tuan” pamit Naja yang segera menghilang dari ruang makan.
“Kenapa kau suruh istirahat, kau membuatnya jadi manja”
“Berhentilah menghinanya hyung, aku menyukainya. Puas kau”

Naja membaring badannya yang begitu lemas tak bertenaga, Naja bertekad untuk pergi dari rumah keluarga Kim. Dia merasa tidak sanggup lagi bekerja untuk mengurus tuan mudanya yg kasar apalagi akhir – akhir ini tubuhnya lemah, dengan gaji yang dimilikinya dia yakin mampu untuk mencukupi kebutuhannya.

Pagi ini Minhyun ingin melihat Naja karna 3 hari dia tidak melihatnya pasca dia menyuruh pelayan yang disukainya istirahat karna sakit. Namun Minhyun menemukan kamar Naja telah kosong tak berpenghuni, dan hanya menemukan sepucuk surat saja. Minhyun langsung berlari keruang makan dimana ibu dan kakaknya berkumpul.
“Umma…” ucap Minhyun yang ngos – ngosan.
“Wae? Kenapa berteriak” tanya nyonya kim sambil melipat koran paginya.
“Naja hilang umma dan semua tidak tau dia kemana, dia hanya bilang sudah tidak sanggup kerja pada kita. Itu semua pasti gara – gara hyung sering menghinanya jadi dia pergi karna ulahmu” tuding Minhyun kesal pada kakaknya yang dianggap menyebab kepergian Naja.
“Kenapa kau menyalahkanku. Salahkan umma yang berniat menjodohkan dia denganku hingga menyuruhnya menjadi pelayan, dia murahan” ucap Rava membela diri.
“Mwo?!”
“DIAM” teriak nyonya Kim yang tidak didengar oleh anaknya.
“Umma yang menyebalkan kenapa kau menyalahkan Naja, dia bukan wanita murahan” ucap Minhyun tak mau kalah.
“Kau dan umma sama saja, pintar membual dan membela Naja” sinis Rava.
Belum sempat Minhyun membela nyonya kim sudah menyela. “Tutup mulutmu Kim Rava, kau sudah 27 tahun tapi sikapmu seperti anak TK. Naja itu pelayan yang sudah ku anggap seperti anak. Umma tidak menyangka jika kau berpikir picik tentang umma yang akan menjodohkan kalian padahal tidak ada niat seperti itu, dan kau membuatnya tersiksa dengan sikap kasarmu itu hingga dia meninggalkan rumah ini, umma menyesal tidak menuruti Minhyun agar dia tidak membantu menyiapkan keperluanmu” tutur nyonya Kim dengan raut sedih.
“Tapi umma..” ucap Rava dengan sesal tapi langsung disela ibunya.
“Kalian pergilah kekantor. Nanti umma menyusul”

…..tbc…..

Gimana chapter 2 nya, capek ngetik dari hp dan langsung posted. Yang part ending besok malam kalo gak minggu. Ditunggu ya🙂

4 thoughts on “[FF Freelance] Making A Lover [chapter 2 of 3]

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s