[cerpen] True Love

True Love (Jodohku Ditangan Ayah)

 

Hari ini tepat hari peringatan kematian Wulan saudara kembar dari Shina yang meninggal 2 tahun silam. Kejadian tak terduga 2 tahun itu meninggalkan luka yang mendalam untuk Shina juga pacar Wulan yang bernama Enggar.

2 tahun lalu Wulan mengalami kecelakaan ketika akan menemui Enggar sang pujaan hatinya ditaman kota ketika keduanya akan berkencan merayakan hari jadi mereka.

Shina dijemput Enggar untuk pergi kemakam Wulan yang berada dikawasan perdesaan yang lumayan jauh dari tempat mereka tinggal, walau keduanya tak saling sapa sejak kematian Wulan tapi keduanya berteman.

“Maaf menunggu lama?” ucap Shina cuek dan gugup.

“Iya. Nggak apa-apa. Bisa kita berangkat sekarang?” tanya Enggar yang sudah menunggu Shina dikursi depan.

 

Kawasan perdesaan yang sejuk ditambahi dengan sekeliling pepohonan yang rindang disepanjang jalan, Enggar memberhentikan mobilnya dikawasan pemakaman.

“Sudah tahun kedua kita merayakan kematian Wulan, aku kasihan dengan ayah yang sepertinya sangat terpukul dengan kematian adikku” tutur Shina yang membawa seikat bunga mawar putih.

“Hem, kenapa kau membawakannya bunga mawar putih bukannya dia suka lili putih?” tanya Enggar yang heran dengan sikap saudara kembar Wulan ini.

“Aku suka saja membawa bunga ini, lagian aku rasa disana Wulan tidak akan mempermasalahkan bunga dari kakaknya ini”

“Iya, karna dia sangat menyayangi kakaknya”

 

Senja sudah menampaknya bahwa sebentar lagi malam akan datang, pukul 7 Enggar mengantarkan Shina pulang kerumahnya. Rumah Shina tampak kedatangan tamu karena ada sebuah mobil yang bertengger dihalamannya.

“Mampir dulu Nggar, aku buatkan kopi dulu sekalian istirahat sebentar sebelum pulang” Ajak Shina ketika akan turun dari mobil Enggar.

“Boleh deh Shin? Sekalian menyapa Om Andre lama sekali tidak bertemu” ucap Enggar akhirnya ikut turun.

 

Keduanya masuk kedalam rumah dan betapa terkejutnya mereka bahwa tamu yang datang kerumah Shina adalah keluarga dari Enggar.

“Papa, mama kalian ada disini?” ucap Enggar terbelalak kaget melihat kedua orangtuanya.

“Iya, ada hal penting yang ingin kami sampaikan pada kalian” ucap Ibu Enggar dengan raut wajah serius.

“Duduklah dulu kami paham kalian pasti bingung?” kali ini Ayah Shina yang bicara.

Keduanya menurut dan duduk didepan para orangtua dengan saling meleparkan pertanyaan ‘ada apa ini sebenarnya’.

“Begini Enggar karena kami sudah berunding untuk masa depan kalian, maka kami ingin menjodohkan kalian?!  Papa nggak mau kamu terus bersedih atas meninggalnya Wulan” tutur papa Enggar.

“Tapi jangan begini juga pa, pikirin juga perasaan Shina jangan pada egois begini” Tolak Enggar sedikit membentak.

“Shina setujukan?” Ayah Shina pada putri satu-satunya.

“Entahlah yah, aku perlu berfikir dulu lagian aku juga nggak mau Cuma dianggap bayangan dari Wulan. Aku capek aku permisi dulu” Ucap Shina pamit kekamarnya.

 

Aku masih tidak dapat menghapusmu
Aku terus
menerus memikirkanmu
Aku sangat
merindukanmu
Aku bahkan mengeluh tidak dapat tidur sepanjang malam
Suara hujan yang mengetuk jendela hatimu
Tempat yang kau tinggalkan
Aku juga sangat merindukanmu
Aku bahkan mengeluh tidak dapat tidur sepanjang malam

 

Shina melihat bayangan dirinya sendiri pada cermin rias yang ada disebelah ranjangnya. Dia tampak gelisah karna terlihat raut wajahnya yang bimbang.

“Bagaimana kalau Enggar tau kalau aku adalah Wulan bukan Shina. Shina tolonglah adikmu ini” ucapnya sendu sambil memandangi foto gadis kembar yang tergeletak disamping kaca.

Memang tidak akan ada yang bisa membedakan antara Shina dan Wulan yang benar-benar bagai pinang dibelah dua, sejak kematian kembarannya Wulan berjanji akan menjadi Shina sampai saat memang harus diungkap bahwa dia adalah Wulan.

“Tapi 2 tahun dia tidak mengenaliku jadi aku rasa dia tidak akan tau, ayah saja tidak tau apalagi Enggar. Aku harus tenang dan pura-pura tidak tau agar semua percaya bahwa aku adalah Shina. Maafkan aku ya Shin? kalau aku tidak memaksamu kencan dengan Enggar pasti aku yang meninggal padahal dulu aku ingin kamu senang karna kamu yang suka lebih dulu ke Enggar daripada aku tapi aku berjanji akan menjaganya seperti janjiku pada Shina waktu itu”

Tok… Tok… Tok…

“Shin boleh ayah masuk, ada yang ingin ayah bicarkan?” ujar Ayah Shina yang sudah berdiri didepan pintu kamar putrinya.

“Iya yah, masuklah!”

 

Pintu terbuka dan ayah berjalan duduk disofa yang tergeletak dipinggir pintu beranda, Shina duduk dihadapan ayahnya sambil menatap penuh tanda tanya.

“Ada apa yah?”

“Apa kau keberatan ayah meminta Enggar untuk menikahimu. Bukan maksud ayah membuatmu menggantikan Wulan untuk Enggar tapi kamu putri ayah satu-satunya dan ayah yakin kamu juga mempunyai rasa kepada Enggar”

“Bukan masalah suka atau nggak sukanya yah, tapi bagaimana kedepannya kami. Kami tidak pernah saling akrab yah bertegur sapapun tidak pernah bertemu juga waktu hari kematian Wulan saja. Apa kami bisa akrab bila terpaksa begini”

“Tapi waktu pasti bisa membuat kalian saling mencintai nanti. Lagian kamu tidak pernah punya pacar sampai usia 26 tahun ini, kau membuat ayah khawatir karna tak pernah sekalipun mengenalkan pacarmu sejak SMU. Percayalah pada ayah karena ayah memilihkan jodoh yang baik untukmu”

“Tapi yah aku ini…”

“Pikirkanlah dulu permintaan ayah, tidak selamanya ayah ini mampu menjagamu Shin jadi turuti permintaan ayah. Kau selama ini tidak pernah membantah bahkan tidak keras kepala seperti almarhum adikmu, walau sikapmu keras tapi hatimu lembut”

“Baiklah. Aku akan memikirkannya lagi yah”

 

Entah mengapa hatiku trus gelisah

Apa yang kan terjadi?

Air mata pun jatuh tak tertahan Melihatmu terdiam

Ternyata kau pergi tuk slamanya

Tinggalkan diriku dan cintaku

Apa kau melihat dan mendengar

Tangis kehilangan dariku

Baru saja ku ingin kau tau perasaanku padamu

 

Enggar duduk ditaman kota menikmati suasana senja sambil melamunkan masa pacarannya dengan Wulan, Enggar meneteskan air matanya mengingat kenangan-kenangan indahnya bersama Wulan yang telah tiada.

Seseorang yang duduk disebelah Enggar menyodorkan sebuah Tissu untuk menghapus air matanya, Enggar mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang memberinya Tisu dan ingin mengucapkan terima kasih.

“Shina… Kau sedang apa disini?” tanya Enggar gugup dan malu karena dipergoki sedang menangis.

“Aku baru pulang kerja dan ingin membelikan ayah bubur ayam dibelakang taman ini, jadi sambil menunggu aku ingin jalan-jalan. Kau sendiri kenapa menangis disini nggak malu apa dilihat orang lewat” tukas Shina dengan nada sinisnya padahal dalam hati Wulan yang sedang menjadi Shina ini ingin menangis melihat pujaan hatinya menangis.

“Itu bukan urusanmu.”

“Memang siapa yang mau peduli denganmu?”

“Dasar gadis aneh, dulu kau itu adalah gadis lemah yang selalu berdiri dibelakang Wulan kenapa sekarang kau mau menggantikan posisi Wulan tapi aku tidak akan membiarkanmu mengambil posisi Wulan”

“Hey tuan muda Enggar yang terhormat, adikku meninggal itu juga karena bertemu denganmu jadi untuk apa kau menyalahkanku dengan alasan ingin merebut posisinya. Posisi yang mana yang kau maksud?!”

“Kalau kau tidak ingin merebut posisinya lalu untuk apa kau menerima perjodohan kita dan merubah sikapmu menjadi dia setelah dia meninggal, aku tau dulu kau memang menyukaiku tapi yang ku cinta itu Wulan bukan dirimu”

“Aku mungkin memang mencintaimu tapi aku nggak pernah memintamu untuk membalasnya, kalaupun kau tidak mencintaiku itu bukan masalah toh memang pada kenyataannya aku tidak punya rasa padamu. Aku menerima perjodohan ini hanya karna ayah juga Wulan. Huhf permisi”

Shina geram lalu pergi meninggalkan taman, namun sebelum benar-benar pergi dia mengambil pesanan bubur kacang ijo yang dia sengaja beli untuk ayah tercintanya.

 

 

Malam ini adalah dating antara Shina dan Enggar untuk mempersiapkan masalah pertunangan sekaligus pernikahan mereka yang akan diadakan sebulan lagi.

Keduanya hanya diam tak ingin ada yang mengungkapkan apa yang ada dalam hati mereka.

“Kau ingin pernikahan ini seperti apa Shin? Biar mamaku yang mengurus karna dia semangat sekali merecoki semua”

“Biasa saja karena aku tidak suka hal yang mewah apalagi yang terlalu mencolok”

“Hem, nanti aku sampaikan namun kau jangan berharap lebih karna aku tak bisa mengganti Wulan sekalipun kau adalah kakaknya”

“Aku tau. Tenanglah Tuan, huft…”

 

 

 

Pagi ini wajah Shina atau lebih tepatnya Wulan telah disulap menjadi wanita yang anggun dan cantik, dalam hati Wulan bahagia karena bisa menikah dengan laki-laki yang selama ini dicintainya, namun dia juga gundah karena dia tidak bisa mengungkapkan identitas aslinya pada sang pujaan hati.

Pukul 9 malam pesta usai dan para tamu silih berganti pamitan kepada mempelai dan keluarga.

“Kalian istirahatlah pasti capek sekali” perintah Mama Enggar. “Sekalian mama mau pamit pulang, baik-baik disini sekarang om Andre papa kamu juga”

“Iya”

 

Shina keluar dari kamar mandi dan mendapati Enggar sudah tiduran sambil mengotak-atik hpnya. Shina naik keranjang dan merebahkan dirinya disamping Enggar yang beberapa jam lalu resmi menjadi suaminya.

Shina menarik selimut agar menutupi separuh badannya yang hanya memakai babydoll tanpa lengan, namun ketika membalikan tubuhnya Enggar menarik sebelah tangannya agar menghadap kearah suaminya tersebut.

“Ada apa? Kau tidak rela tidur denganku” ketus Shina menatap Enggar tajam.

“Apa alasanmu membohongiku?” tanya Enggar yang membuat Shina bingung dan menyerngitkan dahinya menatap suaminya tersebut.

“Maksudmu? Sejak kapan aku membohongimu?” ketus Shina lagi.

“Wulan permata sari kau mungkin bisa membohongi semua orang, tapi kau tidak akan bisa membohongiku.”

“Kau ini bicara apa Enggar?! Aku ini Shina Puspita sari bukan Wulan permata sari”

“Tanda lahir dibelakang telinga itu hanya Wulan jadi mau mengelak seperti apalagi kamu ha, apa belum cukup penyiksaan yang kau lakukan padaku”

“Maaf Enggar. Aku memang keterlaluan tapi aku punya alasan sendiri kenapa aku berpura-pura menjadi Shina”

 

 

#Flasback

Pagi ini Wulan memakai gaun merah jambu dan memoleskan make up tipis kewajahnya. Shina datang menghampirinya dengan seulas senyuman yang tulus.

“Lan bolehkah aku berkencan dengan Enggar sekali ini aja. Aku janji tidak akan mengganggu hubungan kalian setelah ini. Kamu taukan Lan aku suka Enggar ketika melihatnya ditaman sore itu tapi dia mengira aku itu kamu” pinta Shina dengan wajah memelas membuat Wulan tak tega.

“Baiklah Shin, kamu kan tau aku sangat mencintainya meski kamu kembaranku tapi aku nggak mau melepasnya”

“Maka dari itu izinkan aku kencan dengannya satu kali ini saja, please!”

“Iya, sini aku dandani kamu biar mirip denganku. Nanti aku juga akan merubah poniku biar tidak ada yang tau”

“Makasih Wulan”

“Sama-sama”

“Tapi Wulan aku gugup sekali bagaimana kalau ketahuan Enggar. Dia pasti akan marah besar padaku”

“Nanti aku akan mengikutimu supaya kalau ada apa-apa aku bisa membantumu nanti”

“Iya Wulan kau jangan jauh-jauh dariku nanti”

“Pasti”

 

Setelah mendandani kakaknya Wulan juga bersiap untuk mengikuti kemanapun Shina pergi bersama Enggar. Hingga ketika Shina akan menyebreng ada mobil dengan kecepatan tinggi mementalkan tubuhnya hingga 200meter.

Wulan shock namun dia hanya bisa merasakan sakit yang akan mendalam dihatinya, bahkan dia tak  mampu berkata namun airmatanya tak henti-hentinya keluar dari pelupuk mata.

 

Ayah Shina menangis melihat jasad putrinya bersama Wulan, melihat tangis ayahnya Wulan bertekat akan menjadi Shina selamanya karena semua mengira bahwa itu adalah dirinya.

 

“Ayah jangan bersedih masih ada Shina disini?” Ucap Wulan menenangkan hati ayahnya sebagai Shina.

“Tapi kenapa harus Wulan Shin, ayah belum bisa mendidiknya jadi anak yang dewasa”

“Tenanglah yah, aku akan selalu berusaha membuat ayah bahagia”

Wulan berjanji pada dirinya sendiri selama menjadi Shina dia akan berusaha jadi anak yang lembut dan lebih tidak mengandalkan emosinya. Dia membuka hatinya untuk menjadi lebih baik setelah kematian kakaknya.  Dia sadar selama ini dia banyak sekali menyusahkan kakak juga ayahnya dengan sikapnya.

 

#Flasback end

 

Wulan mengakhiri ceritanya sambil beruraian airmata, Enggar merengkuhnya dalam pelukan hangatnya dan menenangkannya.

“Sudahlah jangan menangisi kejadian yang lalu, anggaplah ini jalan hidupmu”

“Tapi harusnya aku yang mati bukan Shina, dia itu lemah saat kejadian itu pasti asmanya sedang kambuh makanya tak bisa lari”

“Mungkin aku orang yang bodoh karna tidak mengerti apa yang dirasakan orang yang kusayang tapi mulai sekarang aku yang akan melindungimu selamanya”

“Thankz my husband”

“Iya”

 

Lihatlah luka ini yang sakitnya abadi

Yang terbalut hangatnya bekas pelukmu

Aku tak akan lupa tak akan pernah bisa

Tentang apa yang harus memisahkan kita

Saatku tertatih tanpa kau disini

 

Kau tetap ku nanti demi keyakinan ini

Jika memang dirimulah tulang rusukku

Kau akan kembali pada tubuh ini

Kuakan tua dan mati dalam pelukmu

Untukmu seluruh nafas ini

 

Kita pernah lewati masa yang pernah mati

Bukan hal baru bila kau tinggalkan aku

Tanpa kita mencari jalan untuk kembali

Takdir cinta yang menuntunmu kembali padaku

Saat ku tertatih tanpa kau disini

Kau tetap ku nanti demi keyakinan ini

 

Jika memang kau terlahir hanya untukku

Bawalah hatiku dan lekas kembali

Ku nikmati rindu yang datang membunuhku

Untukmu seluruh nafas ini

Dan ini yang terakhir (Aku menyakitimu)

Dan ini yang terakhir (Aku meninggalkanmu)

Takkan ku sia-siakan hidupmu lagi

 

——-End—————

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s