FF//Perahu Kertas//Twoshot-Part I

Title : Perahu kertas

Cast: Kevin Woo (UKISS)

          ShinRi Mi (Kevinian)

Genre: Romance, Sad

Length : Twoshot

Rate    : 17+

Disclaimer : Shin Ri Mi is Herself. Kevin ishimself. But story is mine !!

Warning: Typo ! Just fiction, if you don’t likedon’t read and please out for here !!

 

 

 

Happy Reading

 

 

Bismillah

 

 

 

****************************PerahuKertas*********************************

 

 

 

Senjahari akan segera berlalu. Percikan sinar sang surya semakin tak terlihat. Hanyarona jingga membentuk garis siluet yang begitu indah menggores langit yangmulai menggelap. Sebentar lagi sinarnya sang penguasa siang hari yang menjadisumber energi, sumber kehidupan akan menghilang untuk sesaat. Sang matahariakan pergi sejenak bersembunyi. Memberi kesempatan kepada sang rembulan yangpastinya juga ingin berjasa kepada semua penghuni yang ada dibumi. Mataharinyasudah pergi. Sudah pasti suasana sedikit menjadi gelap. Aku masih saja dudukditempat ini. Memegang sebuah perahu kertas. Aku menatap langit yang mulaimenghitam. Aku tersenyum miris.

‘Kapan kau akandatang?’.

Pertanyaanyang sama. Yang selalu terbatin dalam hati setiap hari. Aku sangatmerindukannya. Sangat terasa begitu menyesakkan dada. Kalau saja dadaku adalahbuatan manusia, mungkin dadaku sudah meledak. Aku bisa apa? Aku hanya bisamenunggu tanpa tahu kapan dia akan kembali? Tanpa tahu khabar dia setiapharinya. Dia menghilang. Benar-benar musnah dari peredaran. Heyy.. Apa dia lupakalau aku masih kekasihnya? Yang selalu menunggu kedatangannya?. Kevin Woo. Laki-lakiyang sangat tampan. Saking tampannya sampai terlihat cantik melebihi cantiknyaseorang perempuan. Ya dia lak-laki yang memiliki wajah tampan dan cantikdiwaktu yang bersamaan. Wajahnya manis,ramah dan penuh kehangatan. Senyumnyasangat sangat manis. Senyum yang selalu membuatku merasa nyaman dan tenang.Matanya yang teduh menggambarkan kepribadian yang bersahabat. Seperti itulahgambaran singkat seorang Kevin Woo. Orang yang selama ini aku rindukan. Orangyang selama ini nantikan. Bagiku dialah kekasih terbaikku. Aku menyesal telahmenyia-nyiakannya semasa dia masih disini. Masih bersamaku. Dua tahun sudah diameninggalkanku disini. Bukan untuk selamanya. Dia berjanji akan kembali. Tapisampai saat ini dia belum juga menampakkan batang hidungnya. Apa dia lengah?Apa dia bosan dengan hubungan ini?.

 

*******VinMi*******

 

 

“Chagiya.. Bisakah kau menghabiskan waktubersamaku besok? Aku tunggu di danau tempat biasa kita bertemu”.

“Tapi besok aku harus kerja full timeKev”.

“Jebal. Hanya untuk sehari Mimi-ya”.Mohonnya padaku. Tentu saja dengan bbuing-bbuing andalannya.

Aku menghela nafas lelah. Ku tatap wajah imutdisampingku. Kenapa tiba-tiba Kev-ku mendadak manja seperti itu. Tak biasanyadia bersikap seperti itu.

“Ayolahh Chagi. Kau tahu kan? Aku harusbekerja. Untuk memenuhi kebutuhanku dan juga adikku Dongho”. Aku mencobameminta pengertian padanya.

“Just for oneday Mimi-ya. Setelah itu aku tidakakan meminta apa-apa lagi padamu. Ayolah Chagi. Mimiku..aigooo!! Nae Ri Mineomu Yeppeo !”. Rajuknya seraya merayuku. Dasar tukang rayu!.

“Aishh!! Arrasseo arrasseo. Besok aku akanmeminta ijin pada paman Jungsoo”. Jawabku menyerah.

“Kyaaa!! Gomawo Chagiya.. Mmuaachh”. Diamemelukku sambil mengecup sekilas pipiku saking girangnya. Entah kenapaperasaanku begitu ganjal. Sebenarnya ada apa dengan Kev-ku? Sikapnyabenar-benar berbeda. Cepat-cepat aku menepis perasaan negatifku.

.

            .           .           .

Keesokan harinya aku pergi ke tempat yang sudah kamijanjikan kemarin. Tepi danau disekitar pinggiran kota Seoul. Dari kejauhansudah terlihat laki-laki berkulit seputih susu mengenakan hoodie berwarna birutengah sibuk melipat-lipat kertas. Dia benar-benar orang yang tepat waktu. Akutersenyum sebelum menghampirinya.

“Maaf aku terlambat”. Sahutku. Aku dudukdisampingnya menatap langit biru pagi itu. Aku dapat merasakan, dia kini sedangmenatapku. “Kau datang Mimi-ya?”. Tanyanya. Aku tersenyum kemudianmenatapnya. Aku menemukan sepasang matanya yang begitu menyejukkan hatiku.”Apakah aku pernah ingkar padamu?”. Aku balik bertanya. Diamenggeleng polos. Kemudian dia memelukku erat. Aku nyaris tak bisa bernafas.”Yaaa! Kev.. Aku tidak bisa bernafas”. Aku sedikit berontak saatpelukannya semakin erat.

“Aku pasti akan sangat merindukanmu”.Bisiknya masih mendekapku. Aku terkejut. Memangnya dia mau kemana?. Aku melepaspelukannya secara paksa. Mencari tahu maksud dari pernyataannya itu.

“Apa maksudmu? Memangnya kau mau kemana?”.Tanyaku penasaran. Aku melihat dia menghela nafasnya dengan berat.

“Besok! Aku akan pergi ke Amerika?”.

“MWO??”.

“Hanya setahun”. Seketika sekujur tubuhkuseakan membeku. Dia akan pergi? Meninggalkanku? Demi apapun aku belum siap.

“Untuk apa Kev?”. Tanyaku. Sekuat mungkinaku berusaha menahan agar suaraku tidak terdengar bergetar.

“Kampusku mengadakan pertukaran mahasiswadengan salah satu universitas ternama di California. Dan… Park Seongsaengnimmemilihku untuk mengikutinya”. Telak. Penjelasan Kevin sukses menamparhatiku.

“Jadi begitu”. Sahutku lirih. Aku menundukdalam-dalam. Tanpa terasa mataku mulai memanas. Aku belum siap. Iya aku tidakrela.

“Hanya satu tahun Mimi-ya”. Kevinmengerling wajahku mencoba meyakinkanku. Aku tidak berani mengangkat wajahku.Air mataku sukses mengucur dari sudut mataku. “Mimi-ya. Jebal jangan marah! Aku tidak akan lama ! Aku janji”. Kevin memaksa untuk mengangkat wajahkuyang sudah penuh dengan air mata. Aku terpaksa menatap wajahnya. Tatapan kamibertemu. Dia mengusap lembut air mataku. “Jebal, jangan menangis Mimi-ya!Aku tidak ingin melihat air matamu. Aku tidak ingin melihat air mata setetespundiwajah cantikmu. Aku tidak ingin melihat kau bersedih. Tersenyumlah untukkuChagi!”. Dia menangkupkan kedua telapak tangannya diwajahku. Dapatkurasakan hangatnya sentuhan itu. Aku tidak ingin berpisah dengannya. Sungguhaku tak ingin. Aku menggeleng cepat.

“Aku tidak bisa Kev. Ini terlalu mendadak. Akubelum siap berpisah denganmu”. Rajukku.

“Kau harus bisa! Aku pasti kembali ! Dan kauharus menungguku”. Sekali lagi dia menguatkanku. Air mataku semakinmengucur deras. Aku dapat melihat sepasang mata beningnya memerah. Aku tahu diasedang menahannya. Aku yakin dia juga sedih. Aku menyentuh pipi mulusnya yangtirus. Dia terdiam masih menatapku. “Hanya sebentar kan? Setelah itu kauakan kembali lagi kan?”. Tanyaku masih setia menyapu pipinya lembut. Diamengangguk. Tangannya menghentikan aktifitas tanganku. Kini dia menggenggamtanganku.

“You must believe me, Shin Ri Mi”.Tuturnya. Aku menghela nafas sangat berat. Seperti ada yang menghimpit bilikjantungku. Sehingga pernafasanku terhambat. Benar-benar menyesakkan.

“I do believe you, Kevin Woo”. Balaskuakhirnya. Susah payah aku menarik ujung bibirku agar aku bisa tersenyum. Diaikut tersenyum. Senyum yang akan selalu kurindukan.

“Hari ini aku ingin bersenang-senang bersamamu.Jadi aku tidak ingin melihat kau menangis”. Cercahnya. “Baiklah kitaakan menghabiskan waktu hari ini berdua”. Sahutku ceria. Sejenak melupakanperpisahan itu.

“Bagaimana? Kau sudah bisa membuat perahukertas?”. Tanyanya sambil meraih kertas yang ada disampingnya.

“Belum. Susah sekali membuatnya”. Keluhkumalas.

“YAAA! Kau ini. Aku kan sudah pernahmengajarimu tempo hari”. Gertaknya. Aku hanya bisa mempoutkan bibirku.Namun dia hanya bisa terkekeh melihatku. Apanya yang lucu?.  “Ingat ya? Kalau aku kembali nanti. Kausudah harus bisa membuatnya dengan baik. Arrachi !!”.

 

Satu tahun? Diaberjanji hanya satu tahun. Tapi buktinya tahun ini adalah tahun ke dua. Tanpamemberiku kabar.

“Kev, whereare you now?”. Aku menatap perahu kertas yang aku buat sendiri. Aku bahkansudah bisa membuat perahu kertas dengan baik. Tapi dia belum datang juga. Apadia kecewa padaku karena aku tak mengantarnya kebandara waktu itu?. Aishh kalausaja saat itu Dongho tidak rewel. Aku pasti tidak akan terlambat menemuinyadibandara. Huhh sudahlah! Aku tidak mungkin menyalahkan adik kecilku yang tidaktahu apa-apa selain bermain dan belajar itu.

Aku menataparloji yang melingkar dipergelangan tanganku. Kemudian aku beranjak dari kursidipinggir danau itu. Sudah terlalu lama aku duduk dikursi itu. Mungkin sajakalau aku meletakkan ubi dibawah pantatku maka ubi itu akan matang dengansendirinya.

 

 

‘Krekk

 

Aku membukapelan pintu rumahku. Ya rumah sederhana namun membuatku nyaman dan selalubersyukur. Inilah hidup !

Senyumku terkembangsaat pandanganku tertuju pada seorang bocah tengah meringkuk disofa. Donghotertidur sambil memeluk Bbobbonya. Anjing kesayangannya. Buku-buku sekolahnyajuga terlihat berantakan dimeja. Tentu saja dia sedang belajar sebelumtertidur. Aku mendekatinya pelahan. Si anjing hanya menatapku cengo saat akumeletakkan telunjukku dibibir. Pertanda agar anjing lucu itu tidak berisik. Akuberjongkok didepan Dongho yang terlelap dengan imutnya. Aku terkikik saatmendapati ada cairan kental mengalir dari sudut bibir mungilnya. Aku mengambiltissue dari dalam tasku kemudian mengusap cairan itu. Sontak mpunya menggeliatsedikit merasa terusik.

“Noona”.Sahutnya dengan suara yang masih parau.

“Sayang!Kenapa tidur disini?eummhh?”. Tanyaku penuh kelembutan. Dia tidak segeramenjawab pertanyaanku. Lebih sibuk mengucek-ucek matanya dengan lucu.Sepertinya, sukma adik kecilku ini belum terkumpul sepenuhnya. Aku tersenyummelihat tingkahnya yang menggemaskan itu. Tapi senyumku tiba-tiba memudarketika mendengar suaranya yang terisak. “Dongho-ya? Kenapa menangis?  Maaf noona mengganggu tidurmu sayang”.Sahutku cemas. Dia masih terisak. Tangan mungilnya masih mengusap-usap matanya.”Hikz..bukan begitu”. Selanya ditengah-tengah isaknya.

“Lalukenapa kau menangis?”. Tanyaku bingung. Dia bangkit dari tidurnya. Masihsesenggukan. “Aku tidak bisa mengerjakan PR matematikaku. Aku sudahberusaha bersama Bbobbo tapi aku tetap tidak bisa. Huweee…!”. Jelasnyadengan polos. Bersamaan dengan itu tangisnya semakin pecah. Aku tersenyumtipis. Ingin tertawa karena kepolosannya. Ingin menangis karena tak tegamelihatnya menangis. “Aigoo!! Adik noona yang tampan mana boleh menangis.Sudah jangan menangis. Biar nanti noona akan membantu. OKE!”. Hiburkusambil mengacungkan ibu jariku. Dan hal itu sukses membuatnya lebih tenang. Akumenariknya kedalam dekapanku. Dia satu-satunya keluarga yang aku punya disini.Kedua orang tuaku meninggal beberapa tahun yang lalu. Sehingga memaksaku untukhidup mandiri. Dan Dongho? Dia harus hidup tanpa kedua orang tua. Hanya ada akuyang menyayanginya. Kadang aku merasa kasihan pada adik kecilku yang tidakjarang menangis ketika pulang sekolah karena diejek teman-temannya. Aku hanyabisa diam. Mana mungkin aku memarahi manak-anak nakal itu. bukankah mereka Cumaanak-anak yang masih belum mengerti apa-apa?. Beruntung aku bertemu Kevin. Diayang selalu mewarnai hari-hariku. Memotivasiku. Dia adalah semangat hidupku.Tapi sekarang? Aku bahkan tidak tahu keberadaannya. Aku seperti kehilanganseparuh jiwaku. Semangat hidupku. Hanya ada Dongho adik kecilku yang polos danlucu. Yang bisa membuatku terus bisa dan harus bisa menjalani hidup ini. DuluKevin sangat dekat dengan Dongho. Mengajaknya bermain, membelikannya lollypopdan cokelat setiap dia datang kerumahku. Dongho selalu bilang padanya ‘Hyungboleh mengajak Ri Mi Noona kencan asalkan Hyung membelikanku Lollypop dancokelat yang banyak’. Tawa khas Kevin akan selalu terdengar setiap mendengarkata-kata Dongho yang polos namun mengandung unsur modus itu. Benar-benar bocahyang memanfaatkan keadaan. “Coba saja Kevin Hyung ada disini. Pasti diasudah membantuku membuat PR”. Cletuk Dongho membuatku tersentak. Kenapahatiku begitu sakit.

“Noona akusangat merindukan Kevin Hyung”. Rengeknya membuatku sedih. Namun sebisamungkin aku tersenyum. “Kau merindukan Kevin Hyung atau merindukanLollypop dan cokelatnya?”. Ledekku sambil menyentil hidungnya.

“YAAA!!Kalau cuma Lollypop dan cokelat aku bisa meminta pada Noona. Tapi aku sungguhmerindukannya”. Sergahnya tegas. Dapat ku lihat kejujuran terpancar darimata bulatnya. Aku tersenyum kecut. Dalam hati aku juga sangat merindukannya.Air mataku kembali lolos. Menangis untuk kesekian kalinya. “Noona pastisangat merindukan Kevin Hyung”. Aku dapat merasakan tangan mungilnya mengusapair mataku. Aku tak menyangka bagaimana bisa bocah sekecil Dongho bisa cepattanggap dengan perasaan orang dewasa. Aku tersenyum seraya menangkap tanganmungilnya. “Noona harus percaya padanya. Aku saja yakin kalau sebenarnyaKevin Hyung juga merindukan kita terlebih pada Noona”. Demi Tuhan akusangat bersyukur memiliki adik seperti Dongho. Pemikirannya benar-benar tidaksesuai dengan umurnya. I’m proud of my little brother.

 

***************************PerahuKertas***********************************

 

Pagi ini akukembali beraktifitas seperti biasanya. Mengantar Dongho ke sekolah sebelumpergi ketempat kerjaku. Aku bekerja disebuah rumah makan milik paman Jungsoo.Ditempat itulah pertama kali aku mengenal Kevin. Tempat yang penuh dengankenangan. Kami berdua memanglah sangat berbeda. Dia adalah putra dari seorangpengusaha kaya. Sedangkan aku hanyalah seorang pelayan biasa. Tapi Kevin tidakpernah mempermasalahkan hal itu.

“Selamatpagi paman”. Aku membungkuk kearah paman Jungsoo yang tengah sibuk denganbuku keuangannya. Sudah bukan rahasia umum lagi kalau paman Jungsoo adalahorang yang sangat pelit. Namun begitu, beliau adalah orang yang sangat baik danbijaksana.

“Pagi Ri Mi-ya.Kau datang pagi-pagi sekali”. Aku tersenyum menanggapinya. Aku bersiap untukberaktifitas di rumah makan itu.

 

Siang ini tidakterlalu panas. Kadang cerah kadang redup. Sepertinya akan turun hujan. Aku takpunya kesempatan untuk istirahat. Setidaknya untuk melemaskan persendiankusejenak. Pengunjung yang datang hari ini lumayan banyak. Membuat aku danrekan-rekan pelayan harus menguras tenaga melayani pengunjung dengansebaik-baiknya. Baru saja aku mengantar dua mangkuk ramyeon kesalah satupelanggan rumah makan ini. Aku duduk sejenak didekat pintu dapur. Sekedarmenyeka keringat didahiku.

“Agasshi.Bisakah aku meminta dua gelas coklat panas?”. Samar-samar aku mendengarseorang pengunjung memesan minuman. Yang pasti tidak memesan padaku. Anehsekali. Siang-siang begini kenapa memesan yang panas-panas. Aku menggelengcepat.  Aku teringat sesuatu. Dulu Kevinsangat menyukai cokelat panas buatanku. Haaahh.. Aku teringat dia lagi.

“Ri Mi-yakau bisa antar cokelat panas ini ke meja nomor 07 tidak? Aku tidak tahan inginke toilet”. Pinta salah satu teman seprofesiku sembari menyerahkan nampanberisi dua cokelat panas. “Eoh. Baiklah. Dengan senang hati!”. Akutersenyum padanya. Belum sempat mengucap terimakasih, dia sudah melesat menujutoilet. Aku terkekeh geli menatapnya. Aku berjalan kearah meja yang dimaksudtemanku tadi. Aku melihat dua orang berbeda gender duduk disana. Seorangperempuan berpakaian serba putih. Mirip sekali dengan seorang dokter. Yangsatunya lagi seorang laki-laki berkulit putih susu yang mengenakan kaca matahitam ditambah dengan topi bergambar monster dikepalanya. Aku tidak dapatmelihat wajahnya. Lagipula itu tidak penting. Setampan apapun laki-laki yangaku lihat. Aku tetap menganggap Kev-ku lah yang tertampan.

“Andamemesan cokelat panas?”. Tanyaku pada si perempuan dengan sangat sopan.Bukannya menjawab. Perempuan itu justru menatapku intens dari ujung kepalasampai ujung kaki. Memangnya ada yang aneh denganku?.

“Benar.Kami yang memesannya. Terimakasih”. Laki-laki itu yang menjawabnya. Tapitunggu dulu. Suaranya seperti tidak asing ditelingaku?. Aku mencoba menataplaki-laki itu dengan seksama. Dan sontak mataku membulat seakan bola matakumenggelinding keluar saat melihat laki-laki itu membuka kaca matanya.

“K…Ke..Kevin..!!”.

Tanpa sadarmulutku menganga. Apa aku bermimpi? Dia benar Kevin. Kev-ku yang selama ini akunantikan. Dengan girang aku menghambur kearahnya. Memeluknya seakan tak inginmelepaskannya lagi.

“Selama inikau kemana saja Kev? Aku sangat merindukanmu. Jahat sekali kau membiarkankumenunggu selama ini”. Aku terus mengomel tanpa melepaskan pelukanku.

 

 

“Kausiapa?”.

 

 

 

DEGGG

 

 

Aku terkejut.Bersamaan dengan itu dia melepas paksa pelukanku dan sedikit mendorongku.

“Kev! Kautidak ingat aku? Aku Ri Mi. Kekasihmu Kev”.

“Ri Mi?”.Kevin tampak mengerutkan alisnya. Seperti sedang mengingat sesuatu. Janganbilang dia telah melupakanku.

“Tapi akutidak mengenalmu. Mungkin kau salah orang”.

“TIDAK !!aku tidak salah orang. Kau benar Kevin Woo. Kekasihku. Ayolah Kev kau janganbercanda! Kau sedang mengerjaiku ya?”. Tebakku mencoba menepis semua pikirannegatifku.

“SUDAH KUBILANG AKU TIDAK MENGENALMU!!!!”. Aishh..dia membentakku. Kevin yangbahkan tak pernah marah padaku kini berani membentakku. Mulutku terkatup rapat.Kata-katanya sukses menghujat jantungku. “Kev…”. Ucapankubenar-benar tercekat ditenggorokan. Mataku mulai memanas. “Maaf, namakumemang Kevin. Tapi aku benar-benar tidak mengenalmu”. Kevin menatapkudingin.

“Noona, ayopergi !!”. Dia bergegas keluar sambil menarik paksa tangan perempuanberseragam putih yang sedari tadi hanya menatapku dengan tatapan bingung. Akujuga tak kalah bingung. Siapa perempuan itu? Mungkinkah dia kekasih baruKevin?. Aku menatap kepergian Kevin bersama perempuan itu. Entah kemanaperginya energiku. Tiba-tiba tubuhku luruh ke lantai. Aku bahkan tak bisa menopangtubuhku. Bersamaan dengan itu air mataku pun luruh. Dengan seenaknya meluncurdari sudut mataku. Aku bahkan tak peduli dengan tatapan orang-orang yang adadirumah makan tersebut.

“Ri Mi-yagwenchanayo? Ayo bangun lah nak!”. Paman Jungsoo mendekati mencobamenenangkanku. Aku menatapnya dengan air mata yang masih mengalir menyusuppori-pori wajahku. Dia melihat kekanan dan kekiri. “Ri Mi-ya. Bangunlah !Tidak enak dilihat pelanggan”. Imbuhnya berusaha membantuku berdiri. Tapiaku masih seru dengan air mataku. “Paman tahu kan? Dia Kevin. Dia Kev-kupaman”. Rajukku menatap orang tua itu intens. Dia menatapku dengan tatapaniba. Aku sangat tidak suka tatapan itu. Dia mengangguk pelan. “Diamelupakanku Paman. Dia tidak mengingatku !”. Tangisku semakin menjadi.Paman Jungsoo sudah seperti Appaku sendiri. Dia mengusap rambutku penuhkelembutan. Aku dapat merasakan naluri seorang Ayah menyusup dalam dirinya.”Semua akan baik-baik saja nak !”. Satu kalimat bijak yang akhirnyaterucap darinya.  Aku menatap wajahnyakembali. Dia mengangguk mantap seakan menguatkanku atas apa yang terjadi hariini. Suatu kejutan yang berhasil menghujam jantungku dengan sadisnya.

 

Sejak kejadianitu paman Jungsoo memberiku cuti selama beberapa hari. Sekedar menenangkanpikiranku. Terkadang paman Jungsoo begitu pengertian padaku termasuk karyawanyang lainnya. Dan sudah dua hari aku mengurung diri dikamarku. Bahkan aku takmempedulikan teriakan-teriakan  Donghoyang terus saja menyuruhku keluar untuk makan. Anak sekecil itu mana tahudengan masalah seperti ini. Hahahaha aku tertawa miris mengingat apa yang telahterjadi dua hari yang lalu. Kevin benar-benar melupakanku. Benar dia sudahkembali tapi bukan untuk menemuiku. Haruskah dia berpura-pura tidak mengenalikuseperti itu saat bersama perempuan lain?. Kenapa dia setega itu padaku?. Kenapadia menyuruhku menunggunya jika pada kenyataannya kedatangannya bukan untukku.Aku benar-benar kehilangan Kevinku yang dulu. Kevin yang selalu bersikap lemahlembut padaku. Sakit. Rasanya benar-benar sakit. Seperti ada ribuan jarum yangmenusuk hatiku. Lebih sakit lagi saat Kevin berhasil menancapkan paku runcingtepat di medium hatiku. Apa dia tidak merasakan sakit yang ku derita karenaperbuatannya?.

 

Tok

 

Tok

 

Tok

 

Untuk kesekiankalinya daun pintu kamarku terketuk. Dan itu pasti tangan mungil adikkupelakunya.  Aku memutar bola matakumalas. Memilih untuk tak menggubrisnya.

“Noonakeluarlah! Ada yang mencarimu!”. Katanya dari balik pintu. Aku menariksebelah bibirku. Aku tahu ini hanya akal-akalan Dongho agar aku mau keluar darikamarku.

“Kecil-kecilsudah berani mengelabui noona !!”. Cibirku masih dengan posisi semula.Menekuk lutut diatas ranjang miniku. “Noona tidak percaya padaku? Ya sudah! Hikz”. Ada suara isakan diakhir kalimatnya. Dia menangis. Dia memangsangat benci dicibir. Aku menghela nafas panjang. Dengan malas aku beranjakkearah pintu. Masih dengan balutan piyama bergambar doraemon aku keluar darikamarku. Dapat ku  lihat kini Donghomenekuk lututnya dipojokan ruang tengah sambil sesenggukan. Dengan rasa iba akumenghampirinya. “Sayang. Dimana tamunya? Heummm?”. Aku mengusaplembut surai hitamnya. Dia mendongakkan kepalanya. Masih sesenggukan dan airmatanya sudah membanjiri wajah imutnya. Sesungguhnya aku tak tega melihatnya.

“Noonabilang.. Hikz.. Aku mengelabui noona”. Serunya ditengah-tengah isaknya.Aku tersenyum tipis. Sangat tipis. “Tidak. Noona percaya padamu. Sekarangkatakan pada Noona.. Dimana tamunya? Kau sudah menyuruhnya masuk?”.Tanyaku selembut mungkin. Telunjuk mungilnya menunjuk ruang tamu dan wajahkuberputar mengikuti arah telunjuknya. Aku kembali mengusap kepalanya lembutsebelum beranjak keruang tamu. Saat  sampaidiruang tamu aku menautkan kedua alisku.

“Anneyeonghasseyo”.Sapa salah satunya. Ternyata Dongho tidak berbohong padanya. Benar-benar adayang sedang mencariku. Tapi mereka siapa? Dua orang perempuan yang terlihatlebih tua beberapa tahun dariku. Tapi dia? Salah satu perempuan dari mereka?Bukankah dia perempuan yang kemarin bersama Kevin?. Untuk apa dia mencariku?.”Anneyeong”. Sapa perempuan yang satunya sekali lagi.

“Anneyeong! Maaf kalian sapa?”. Tanyaku sesopan mungkin. Kini aku duduk menghadap merekayang kini berdiri dari duduknya tadi. Sebelumnya aku mempersilahkan merekauntuk kembali duduk. “Maaf jika kedatangan kami mengganggumu. Apa kau yangbernama Shin Ri Mi?”. Lagi-lagi perempuan tadi yang angkat bicara.”Benar. Aku Shin Ri Mi. Memangnya ada apa?”. Tanyaku setenangmungkin. Entah kenapa perempuan yang bertanya tadi tersenyum lembut kearahku.Aku dapat menangkap tatapan sendu dikedua bola matanya. Ini juga yang membuatkusemakin bingung. “Aku Deeana Woo. Kakak perempuan Kevin. Kau masih mengingatKevin kan?”. Ungkapannya membuatku sedikit terkejut. Namun aku berusahauntuk tetap tenang. Untuk apa Noona Kevin datang kemari? Aku masih terdiam.Haruskah aku berkata kalau aku bahkan sangat merindukan adik laki-lakinya yangfaktanya sudah melupakanku?. “Ri Mi-ssi”. Panggilannya memaksakuuntuk mencuat dari lamunanku. “Eoh.. Iya aku mengingatnya. Sangattmengingatnya. Tapi…”.

“Dia tidakmengingatmu”. Suara berbeda kini terdengar memotong kalimatku. Membuatkuyang sedari tadi menunduk akhirnya mendongak dan menatap pemilik suara itudengan tatapan tajam. Itu suara perempuan yang kemarin bersama Kevin. Dia jugamenatapku.

“Dia amnesia”.Imbuh perempuan itu. Dan tentu saja pernyataan itu membuatku tercengang. Akumengangkat sebelah alisku. Mencoba mencari kebenaran dari keduanya.

“Amnesia?”.Tanyaku mempertajam pernyataan tadi.

“DokterDara benar. Dua minggu setelah kami tinggal di California dia mengalamikecelakaan saat pergi ke kampusnya. Dia mengalami benturan hebat dikepalanya.Sampai akhirnya dia mengalami amnesia hingga sekarang”. Kali ini Deeanaeonni yang menjelaskan. Tersirat kesedihan yang mendalam dilekukan wajahcantiknya. Aku terdiam lemas mendengarkan penjelasannya. Aku seperti mendengarsebuah dongeng dan berharap itu memang sebuah fiksi yang tidak pernah terjadidalam kehidupanku. Tapi.. Nyatanya itu benar-benar terjadi. Jadi karena ituKevin tidak mengenaliku? Betapa bodohnya aku yang telah berfikir negatifterhadapnya. Entahlah kenapa lagi-lagi aku tidak bisa menahan air mataku. Akumenangis lagi. “Ri Mi-ssi Gwenchanayo?”. Sapa Deeana eonni yangterlihat khawatir padaku. Cepat-cepat aku mengusap air mataku kasar.”Gwenchana Eonni”. Kilahku berusaha tersenyum.

“Maafkanatas sikap Kevin kemarin”. Sahut perempuan yang bisa aku tebak kalau diaadalah dokter Dara seperti yang dikatakan Deeana Eonni. “Gwenchana. Akumengerti sekarang”. Jawabku cepat.

“Ohya RiMi-ssi perkenalkan, dia Sandara Park. Dokter yang menangani Kevin selamaini”. Sahut Deeana eonni menunjuk perempuan disampingnya. Benar dugaankukalau dia adalah seorang dokter tapi dugaanku yang mengira dia adalah kekasihKevin ternyata salah besar. “Aku pikir dia kekasih baru Kev”. Ucapku pelan. Aku tertunduk malu. Namun dengancepat aku mendongak kembali saat mendengar keduanya tertawa. “Apa yangkalian tertawakan?”. Aku merengut menatap keduanya. “Kau lucu sekaliRi Mi-ssi. Bagaimana bisa kau mengira aku kekasih Kevin.  Aku bahkan sudah menganggapnya sebagai adikkusendiri”. Aku benar-benar malu dengan ungkapan Dokter Dara. “Sejauhini Kevin belum pernah dekat dengan perempuan manapun”. Deeana eonnimenambahkan. “Jadi selama ini…”.

“Dia bahkanmenghabiskan hari-harinya dirumah sakit”. Deeana eonni kembali melirih.Aku shock untuk yang kesekian kalinya. “Dia tidak seperti yang dulu lagi.Sejak kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya. Dia hidup bergantung dariobat-obatan”.

“Separahitu kah?”. Tanyaku masih tak ingin percaya. “Ada pembekuan darah diotaknya. Dia membutuhkan tiga kali operasi. Dan tinggal satu kali operasilagi”. Dokter Dara ikut menjelaskan. Dan lagi…. Aku shock dibuatnya.Jadi selama ini Kevin menderita. Berjuang melawan rasa sakit yang menyerangnyatanpa aku disampingnya. Aku mencoba mengumpulkan sisa tenaga yang aku punya.”Kenapa tidak secepatnya di operasi?”. Tanyaku lagi. Dokter Daramenggeleng. “Operasi akan dilakukan kalau ingatannya sudah pulih. Namunsampai sekarang ingatannya belum pulih juga”. Terang Dokter Dara. Akumemejamkan kedua mataku sejenak. “Lalu? Darimana kalian tahu tentang aku?”.Tak puas. Aku masih mengajukan pertanyaan.

“Sebelumkecelakaan, Kevin sering menceritakanmu padaku”. Sahut Deeana Eonni. “Maka dariitu aku membawanya kembali ke Seoul dengan harapan dia akan mengingat semuamasa lalunya. Kurasa  ada banyak kenanganindah saat bersamamu dulu”. Imbuhnya.

“Aku mengertiEonni. Aku akan berusaha agar dia bisa kembali seperti dulu”. Terlihat DeeanaEonni bernafas lega. Sudah seharusnya aku melakukan itu. Tanpa mereka mintapunaku akan berusaha untuk membuatnya pulih kembali karena aku mencintainya. Tidak! Tapi aku sangat mencintainya. Aku tidak ingin kehilangan dia untuk yang keduakalinya. Apapun akan aku lakukan untuknya. Demi Kev-ku cintaku.

 

 

 

Pagi-pagi sekaliaku berangkat ke tempat kerjaku. Aku kembali bekerja seperti biasanya. Bersikapbiasa seakan tak terjadi apa-apa. Mulai hari ini aku akan mencoba membantuKevin untuk mengingat masa lalunya. Berawal dari rumah makan milik PamanJungsoo yang merupakan tempat penuh kenangan aku dan Kevin.

“Ri Mi-yakenapa kau masuk hari ini?”. Tanya paman Jungsoo.

“Aku tidakmau terlalu lama mengambil cuti paman. Aku takut paman memotong gajiku terlalubanyak”. Godaku padanya. Dia merubah wajahnya menjadi murung. Aku hanyaterkekeh menanggapinya. Hahaha aku sedikit iri pada Chanyeol karena dia memilikiAppa seperti Paman Jungsoo.

“Ri Mi-yaada yang mencarimu?”. Teriak teman seprofesiku dari luar.

“Siapa?”.Tanyaku sambil berjalan kearah.

“Laki-lakiyang kemarin. Tapi kali ini dia bersama perempuan yang berbeda. Bukan perempuankemarin”. Bisik temanku. Aku sudah bisa ditebak kalau orang yang dimaksudadalah Kevin dan Deeana Eonni tentunya. Dengan senyum terkembang dibibirku akuberjalan kearah Kevin dan Deeana Eonni.

“AnneyeongKev, Eonni”. Aku membungkukkan badanku dengan sopan. “Ck.. Gadis inilagi? Noona kenapa mengajakku kesini? Noona tahu tidak? Kemarin dia membuatkumalu”. Kevin bersungut-sungut. Deaana eonni tersenyum menyentuh pangkalkepala Kevin dengan lembut. “Kau tidak ingat siapa dia?”. Tanyanyapada Kevin. Kevin menggeleng polos. “Dia Shin Ri Mi, Kekasihmu”.Terang Eonni lagi.

“Kekasihku?”.Dia mengerutkan kedua alis tebalnya. Deeana eonni mengangguk. Dan kini Kevinmemandang kearahku. Aku tersenyum. “Aku Shin Ri Mi. Kau benar tidak ingatKev?”. Tanyaku. Dia kembali menggeleng polos seperti anak kecil.”Dulu, kau memanggilku Mimi. Dan kau ingat? Tempat ini adalah tempatfavourit kita. Tempat pertama kali kita bertemu dulu”. Jelasku panjanglebar berharap dia mengingatnya walau hanya sedikit. Dia memejamkan keduamatanya. Dia terlihat sedang mengingat-ingat sesuatu. “Saat aku datang kemari, aku memang merasatempat ini tidak asing. Tapi aku lupa!. Dan dia…Argghh…!!!”. Belumsempat melanjutkan kalimatnya, Dia meremas rambutnya seraya meringis kesakitan.”Kau kenapa Kev?”. Tanyaku panik. “Gwenchanayo?”. Deeanaeonni tak kalah paniknya denganku. Namun Kevin tak segera menjawabnya membuatkusemakin panik. Apa yang terjadi dengan Kev-ku?. “Entahlah ! Kepalaku sakitsetiap mencoba mengingat masa laluku”. Sahutnya pelan masih memijitpelipisnya. Aku terdiam. Dia belum bisa mengingat semuanya. “Terlalubanyak bayangan yang muncul dan itu membuatku sulit untuk mengingatnya satupersatu. Mianhae Ri Mi-ssi aku tidak mengingatmu”. Terangnya masihmeringis kesakitan. Aku tersenyum tipis. “Tak apa!. Kau hanya butuh waktuuntuk mengingatnya Kev”. Sahutku berusaha setenang mungkin. “Tapi..Kau mirip sekali dengan perempuan yang selalu muncul dalam mimpiku”.Imbuhnya membuatku terkejut. Apa? Dia memimpikanku?.

“B..Benarkah?”.Tanyaku sedikit kaku. Dia kembali mengangguk. Deeana Eonni juga terlihat kagetdengan ungkapan Kevin. “Hampir setiap hari aku memimpikan perempuan itu.Setting tempatnya tidak jelas tapi perempuan itu sangat jelas. Dia memilikirambut panjang dan eyes smile yang mirip sekali denganmu”. Aku membukamulutku lebar-lebar saat mendengar cerita Kevin. Tuhan apakah ini adalahjalannya? Kevin tidak mengingatku tapi dia masih sering memimpikanku?. Tanpaterasa air mataku jatuh kembali. Kali ini air mata haru yang tercipta. Akumenatap Deeana eonni dengan penuh bahagia. Dia tersenyum kearahku sambilmengangguk. “Eumhh.. Ri Mi-ssi kau mau membantuku mengembalikan semuaingatanku kan?”. Kevin bersuara lagi. Aku mengangguk mantap. Tanpa adakeraguan sedikitpun. Aku melihat dia tersenyum manis padaku. Senyum yang selamaini aku rindukan. “Gomawo.. Dan.. Maafkan aku atas kejadian beberapa waktulalu”.

“Tidakapa-apa Kev. Itu bukanlah kesalahanmu”. Aku tersenyum lembut padanya.

 

Hari-hariberikutnya. Tidak berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Kevin belum sepenuhnyamengingat masa lalunya. Meski aku sudah mencoba membantunya. Tapi aku takmenyerah begitu saja. Hari ini dia berjanji akan menemuiku ditempat kerja. Yaseperti yang bisa kalian bayangkan Kevin semakin dekat denganku. Mungkinawalnya dia merasa canggung berada didekatku. Tapi sekarang dia sudah taksecanggung sebelum-sebelumnya. Aku sungguh bahagia bisa bersamanya lagi. Meskisuasananya berbeda dengan yang dulu tapi aku yakin suatu saat nanti semuanyaakan kembali seperti yang dulu.

“Ehemmm…”.

Aku menghentikanaktifitasku membersihkan meja ditempat kerjaku. Sudah bisa ku tebak kalau yangmendehem itu adalah Kevin. Aku tersenyum kemudian membalikkan badanku.”Tadaaaa!!”. Dia melambai-lambaikan kedua tangannya tepat didepanwajahku. Persis seperti seseorang yang sedang menghibur seorang balita. Akuhanya terkekeh menanggapi sikap childishnya. Ehmm..setahuku penderita amnesiasikapnya akan mengarah kesikap yang kekanak-kanakan.

“Kausendirian Kev?”. Tanyaku.

Dia menganggukpolos. “Tumben tidak mengajak dokter Dara?”. Tambahku serayamerapikan meja. Iya biasanya Kevin selalu bersama Dokter cantik itu kemanapundia pergi. Sebenarnya aku sedikit cemburu, tapi mau bagaimana lagi? Itu jugademi kebaikan Kevin. “Tidak. Hari ini aku ingin berdua sajadenganmu”. Sahutnya sambil menggeret kursi disampingnya. Kemudian diaduduk manis dikursi itu. Aku mengernyitkan keningku sambil menatapnya.”Kalau kau kenapa-kenapa bagaimana?”. Tanyaku panik. “Tenangsaja. Dia sudah membawakanku ini”. Jawabnya sambil menunjukkan sekotakobat miliknya kepadaku. Aku menghela nafas lega. Betapa mirisnya keadaan Kevinsekarang. Hidupnya bergantung dengan hal-hal seperti itu. Aku menatapnya sendu.Dia pasti sangat tersiksa. Aku ingin dia berbagi rasa sakitnya padaku.Bagaimanapun dia tak pantas menanggungnya sendiri. “CK..Jangan melihatkuseperti itu Ri Mi-ya! Aku tak selemah itu”. Sentaknya sambil memanyunkanbibirnya. Aku hanya bisa tersenyum.

“Baiklah.Aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Kau mau?”. Tawarku.

“Kemana?”.

“Ke tempatfavorit kita berdua”.

“Tempatfavorit?”.

“He’emm..Kau tidak ingat?”. Tanyaku hanya mendapat gelengan dari Kevin. “Akupenasaran”. Imbuhnya.

“Baiklah,tunggu sebentar! Aku ijin dulu pada paman Jungsoo”. Sahutku dan langsungmeninggalkannya.

Tak inginlama-lama aku meninggalkannya. Setelah berganti pakaian dan meminta ijin padapaman Jungsoo aku langsung menyambar tasku dan kembali menghampiri Kevin.

“Ayo kitapergi!”. Ajakku padanya yang asyik dengan ponselnya. Tanpa banyak komentardia menurutiku yang tengah berjalan lebih dulu. “Ri Mi-ya tunggu!”.

“Iya?”.Aku menghentikan langkahku dan menoleh kearahnya.

“Begini!!”. Aku sedikit terkejut saat jemarinya menaut jemariku. Dia menggenggamtanganku.

“Bukankahkita sepasang kekasih? Ayo kita pergi”. Ajaknya langsung menarik tanganku.Diam tersenyum. Itu yang bisa aku lakukan. Genggaman tangan hangatnya seakanmenyalurkan kehangatan yang menyeruak keseluruh tubuhku. Nyaman sekali. Takterkira betapa bahagianya diriku saat ini.

 

Tak butuh lamaaku dan Kevin sampai ditempat itu. Disebuah danau dipinggiran kota seoul. Ituadalah tempat favouritku dan Kevin dulu. Aku harap dengan mengajaknya kemariingatannya akan kembali. Meski tidak semuanya.

Aku terusberjalan menuju sebuah kursi panjang dibawah pohon cemara tepat ditepi danau.Namun aku menghentikan langkahku ketika tiba-tiba Kevin melepas paksa genggamantanganku dengan ekspresi yang sulit untuk ku terjemahkan.

“Ada apaKev?”. Tanyaku bingung.

“Apa akupernah ke tempat ini sebelumnya?”. Tanyanya bingung. Aku tersenyum. Apakahdia mengingat sesuatu? Semoga. “Tentu saja. Ini adalah tempat favouritkita. Kau tidak ingat?”. Aku balik bertanya. Dia menggeleng. Dia terlihatbingung. “Ayo ikut aku ! Kita duduk disana. Aku ingin menunjukkan sesuatupadamu?”. Aku menarik lembut tangannya. Tanpa protes diapun menurutiku.

“Kau inginmenunjukkan apa?”. Dia bertanya lagi setelah sampai ditempat yang akumaksud. “Duduklah dulu. Kau pasti lelah kan !”. Dia menatapkubingung. “Tunggu sebentar!”. Tanganku masih sibuk menjelajah didalamtasku. Sampai aku menemukan kertas putih. “Ini dia”. Sahutku sembaribernafas lega. “Kertas? Untuk apa?”. Lagi-lagi dia bertanya. Dengansabar aku menjawab “Perahu Kertas”. Jawaban yang singkat. Tapimengandung banyak makna dibalik jawaban itu. Harapan terbesarku agar ingatannyakembali. “Perahu kertas?”. Dia bergumam namun masih terdengar olehindera pendengaranku. Aku meliriknya sekilas. Nampak dia seperti sedangmengingat sesuatu. Ayolah Kev ! Kau harus mengingatnya. Aku mohon.”Sepertinya aku pernah mendengar!”. Sahutnya. Tentu saja ituterdengar begitu melegakan. Mataku sedikit berbinar. Apa Kevin mulaimengingatnya. Aku menatap lekat wajahnya yang juga kini menatapku. “Apakau mengingat sesuatu Kev?”. Tanyaku penuh harap. Lagi-lagi hanya gelenganyang aku dapat. Aku mendesah malas. Rasa putus asa kini mulai memerangi diriku.Menghantam semangatku yang baru saja berapi-api. “Apa itu juga berhubungandengan masa laluku?”. Dia bertanya lagi. Dengan polosnya dia menanyakanhal itu padaku. Bahkan sesuatu hal yang sekecil inipun tak terlintasdipikirannya. Aku menghela nafas berat. Mencoba menetralkan pernafasanku yangmulai sesak. Entah apa yang menghimpit jantungku hingga sesesak ini. “Ituadalah salah satu keahlianmu. Membuat perahu kertas…”. Aku  diam sejenak. Mengumpulkan segala kesabaranyang aku punya sebelum melanjutkan kalimatku. “Dulu sebelum kau pergi. Kaubilang sekembalinya dirimu. Aku harus sudah bisa membuatnya sendiri. Dansekarang aku sudah bisa melakukannya”. Aku mulai melipat-lipat kertas yangsempat aku pegang tadi. Kevin masih menatapku bingung. “Kau liat kan? Akubisa melakukannya dengan baik Kev”. Aku menunjukkan perahu kertas yangbaru saja aku ciptakan. Dia menatap lekat perahu kertas yang ada ditanganku.Kemudian dia mengambilnya dari tanganku. “Benarkah aku berkata sepertiitu?”. Tanyanya. Aku mengangguk malas. Tanpa mengatakan sepatah katapunpadaku dia beranjak dari kursinya. Kemudian dia mendekati danau dan dudukdiatas rerumputan. Surai pirangnya bergerak-gerak diterpa angin yang ku rasakanbegitu sejuk. Entah kenapa tingkahnya terkesan menyebalkan. Dengan sedikitkesal aku menyusulnya. Duduk disampingnya. Dia menatapku lagi. “Apakahdulu aku sangat mencintaimu ?”. Dia bertanya lagi. Aku mengangkat keduabahuku dengan malas.  “Yang aku tahuaku dan Kev-ku saling mencintai, saling menjaga satu sama lain”. Balaskusembari menerawang jauh ke ujung danau didepanku. “Aku bisa merasakanitu  Ri Mi-ya”. Seketika akumenolehkan kepalaku kearahnya yang kini menidurkan dirinya direrumputan itu.Aku menatap wajahnya dengan seksama. Sampai ku dapati setiap lekukan wajahnyasampai urat-urat merahnya yang seakan menggoresi wajah mulusnya terlihat.Betapa indahnya pemandangan yang aku lihat saat ini. Matanya,hidungnya sertabibirnya begitu terlihat manis. Bagaimana bisa dia memiliki wajah lebih cantikdibanding aku yang seorang perempuan tulen. Dia tersenyum sambil memejamkankedua mata sipitnya sambil meletakkan kedua lengannya dibawah kepalanya sebagaibantal. “Apa kau mengingat sesuatu Kev?”. Pertanyaan yang samalagi-lagi aku tanyakan padanya, Setelah puas menatapi wajah manisnya.”Tidak! Hanya saja aku seperti pernah merasakan hal yang berbeda setiapmelihatmu Ri Mi-ya”.

DEGGG

Kevin masih merasakannya? Bagaimana mungkinKevin tidak mengingat semuanya tapi dia merasakan sesuatu yang pernah diarasakan? Benar-benar luar biasa. Lagi-lagi aku tersenyum. Namun mataku terasapanas. Aku menangis?. “Ri Mi-ya…”. Cepat-cepat aku menolehkearahnya yang kini kembali duduk.

“Saranghae”.Satu kata lagi yang membuatku harus membuka mataku lebar-lebar. Aku sedikittidak percaya dengan apa yang kudengar.

“Kev…”.

“Maafkanaku! Aku memang belum mengingat semuanya. Tapi entah kenapa saat aku melihatmuaku merasakan perasaan yang berbeda”. Aku terdiam hening mencerna ucapanKevin. Tiba-tiba Kevin memutar badannya menghadap kearahku sambil menangkupkankedua tangannya diwajahku. Aku tertegun saat tatapan kami berdua bertemu.Wajahnya saat ini tepat berada didepan wajahku. Hanya berjarak beberapa centi.Bahkan hembusan nafas lembutnya terasa segar menyapu wajahku.  Jantungku berdetak tak beraturan. “Shin RiMi dengarkan aku. Aku mencintaimu. Aku tidak ingat seberapa besar cintaku padamudulu. Tapi saat ini aku merasakan itu. Kalaupun nanti aku tidak bisa sembuhdari amnesia yang menyiksaku ini. Aku tetap akan mencintaimu. Dan mungkincintaku akan lebih besar dari cinta Kev-mu yang dulu”. Aku nyaris takbernafas mendengar penuturan Kevin yang terdengar begitu serius. Bagaimana bisaKevinku yang kekanakan bisa menjelma menjadi seorang Kevin yang romantis dandewasa. Terulum senyum dari bibirku. Bersamaan dengan itu air mataku luruhkembali.

“Kev..”.

“Percayalahpadaku”. Dia mengusap lembut air mataku sambil tersenyum menampakkan matasipitnya yang tinggal segaris.

“Sudah..Jangan menangis !”. Sahutnya lagi. Aku mengangguk.

“Hahhh…aku lelah, boleh aku tidurdisitu?”. Sahutnya lagi sambil menunjuk pahaku yang tertutup celana jeansberwarna biru. Aku mengangguk.

“Istirahatlahdisini Kev”. Aku menepuk-nepuk pahaku menyuruhnya meletakkan kepalanyadipahaku.  Tanpa banyak bicara. Diamembaringkan tubuhnya diatas rerumputan sedangkan kepalanya bertengger diataspahaku. Aku memandangnya sambil mengusap surai kuningnya lembut. Lagi-lagi diamenghentikan aktifitas tanganku. Dia menggenggam tanganku dan meletakkannyadidadanya. Aku merasa Kevku sudah kembali. Sikapnya masih sama dengan yangdulu.

“RiMi-ya”.

“Ne”.

“Neomuyeppeo!”.

“Kau banyakbicara! Cepatlah tidur!”. Aku mendelik kearahnya. Sambil tersenyum diamemejamkan mata imutnya. Sedangkan aku sibuk menatap wajah tampannya.

 

******************************Perahu Kertas ********************************

 

Tak terasalangit kini berubah menjadi jingga. Itu berarti senja hari telah tiba. Akukembali menatap wajah laki-laki yang masih terlelap dipangkuanku. Takbosan-bosannya aku menatap wajahnya. Tidurnya nyenyak sekali. Aku bahkan tidaktega membangunkannya. Tapi bagaimana lagi? Hari sudah sore. Aku tidak ingin diaterlalu lelah karena menghabiskan waktu seharian ini bersamaku. “Kev.. Ayobangun! Sudah sore”. Aku menepuk pipinya lembut. “Eungh…”. Diamenggeliat sedikit. Mengerjap-erjapkan matanya dengan imut. Gemas sekali akumelihat tingkahnya. Sela beberapa menit terdengar dengkuran halus darimulutnya. Aku memutar bola mataku sambil menatapnya gemas. Dia tertidur lagi.Bagaimana bisa dia tidur senyenyak itu di tempat seperti ini. “Yaaa!!Kevin Woo kenapa kau tidur lagi? Ayo cepat bangun!”. Aku mengguncang pelantubuh kurusnya itu. Dia membuka kedua matanya sambil berkedip-kedip lucu.Tingkahnya membuatku ingin tertawa. “Sudah sore!”. Sahutnya masihberbaring sambil menguap. Aku mengangguk. Dia bangun dari baringnya yangmembuat pahaku mati rasa. Dia duduk termenung memandangi sekitarnya denganlinglung. Sesekali dia menggaruk-garuk kepalanya sambil menyipitkan keduamatanya yang memang sudah sipit. Kurasa sukmanya belum genap terkumpul.Rambutnya tampak acak-acakan dan basah karena keringat yang merembes dariubun-ubunnya. Aku tertawa geli melihatnya. “Apa yang kautertawakan?”. Tanyanya sambil memajukan bibirnya kesal. Hahaha dia sangatsensitif. “Tidak apa-apa. Kau lucu ketika bangun tidur”. Sahutkusambil meraih pipinya serta mencubitnya. “YAAAA!! Appo !!”. Diamengusap-usap kasar pipinya yang mulai memerah akibat ku cubit tadi. Tawakusemakin meledak kala itu. Setelah itu aku beranjak dari dudukku. Kasihan sekalirumput yang kududuki. Mereka pasti kepanasan dan merasa tertindih karenaku.”Kau mau kemana?”. Teriaknya yang masih malas untuk berdiri.”Pulang. Memangnya kau tidak ingin pulang?”. Tanyaku sambilmelenggang. “Tentu saja ingin. Tapi kau tak mau menungguku”. Sahutnyasambil mengejarku. Aku tersenyum saat dia sudah berada disampingku mensejajarilangkahku. “Apa kau mau ikut denganku?”. Tanyaku. “Kemana?”.Dia balik bertanya setelah berhasil meraih tanganku untuk digenggamnya.”Kerumahku. Dongho pasti akan senang jika bertemu denganmu”.

“Dongho?”.

“Diaadikku. Dulu kau sangat akrab dengannya. Hmmm…”. Aku terdiam. Entahkenapa aku tak bisa melanjutkan kalimatku.

“Benarkah?Kalau begitu ayo !! kita harus segera pulang. Dia pasti bocah yang lucu”.Sahutnya dengan semangat. Aku hanya mengangguk mengiyakan.  Karena rumahku tidak jauh dari lokasi danauini. Aku dan Kevin sampai dirumah sederhanaku dengan cepat. Dan dapat kulihatdari pagar rumahku Dongho sedang bermain kejar-kejaran dengan Bbobbonya. Yabegitulah kegiatan adik kecilku setiap hari. Aku mengajak Kevin berjalanmendekati Dongho yang masih asyik dengan dunianya sendiri.

“Noonapulang !!”. Teriakku setelah sampai dihadapannya. Seketika diamenghentikan aktifitasnya. Dia tak memandangku. Namun dia terkejut saat melihatsiapa yang ada dibelakangku. “Itu…”. Dia menunjuk Kevin takpercaya.

“Iya..Noona bersama Kevin Hyung. Bukankah kau merindukannya?”. Tanyaku saat diamasih terpaku ditempatnya. Kevin juga tampak bingung saat melihat Dongho.”Yaaaaa.. Kevin Hyung aku merindukanmu”. Dengan cepat Dongho berlarikearah Kevin dan memeluknya erat. Namun Kevin tak bereaksi. Masih denganketerkejutannya. “Hyung kemana saja? Kau tahu tidak? Aku sangatmerindukanmu! Terlebih noona. Noona sangat merindukanmu”. Ucap Donghopanjang lebar. Namun Kevin masih kebingungan. Kevin menatapku penuh tandatanya. Aku hanya meresponnya dengan senyum. “Dongho-ya Lepaskan dulupelukanmu. Kevin Hyung tak bisa bernafas”. Pintaku pada Dongho yang masihmendekap erat tubuh Kevin. “Tidak mau. Nanti Kevin Hyung pergi lagi”.Tolaknya begitu tegas. “Hyung kenapa kau diam saja? Apa kau takmerindukanku?”. Dongho mendongak menatap Kevin yang tentunya jauh lebihtinggi darinya. Aku menghela nafas pelan. “Dongho-ya.. Kevin Hyungmenderita amnesia”. Ucapku. “Amnesia? Apa itu? Apakahberbahaya?”. Dengan wajah polosnya dia bertanya. Aku menekuk lututkumensejajarkan dengan tubuh kecilnya. “Tidak. Hanya saja Kevin Hyungmengalami hilang ingatan. Jadi dia tidak ingat dengan kejadian-kejadian dimasalalunya”. Terangku. Semoga  saja diabisa mengerti. Dia terdiam sejenak. Terlihat dia tampak sedang berfikir.”Pantas saja dia terlihat bingung”. Ucapnya sambil melepaspelukannya. Kevin tersenyum kearah Dongho dan ikut menekuk lututnya didepanDongho. “Kau mau bermain dengan Hyung?”. Tawar Kevin. Sepertinya diaberusaha mengakrabkan dirinya dengan Dongho. Ya walaupun sebenarnya merekasudah akrab sebelumnya.  Dongho terlihatmengangguk mengiyakan tawaran Kevin. “Ri Mi-ahh aku akan bermain bersamaDongho. Kau bisa membuatkanku coklat panas kan?”.  Sahut Kevin padaku. Tentu saja dengan  aegyo andalannya. Kalau sudah begitu manabisa aku menolak. Dasar modus !!.

“Noona! Akujuga mau bola cokelat buatan noona”. Satu lagi rengekan Dongho terdengar.

Tanpa pikirpanjang aku langsung menuju dapur kecilku. Membuat makanan dan minuman untukKevin dan Dongho. Semoga saja dengan bersama Dongho, ingatan Kevin akankembali. Semoga saja. Tak butuh waktu lama makanan dan minuman yang aku buatsudah jadi. Aku membawa nampan yang berisi tiga gelas cokelat panas dansepiring bola cokelat ke halaman depan.

 

BRAKKKK!!!

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s