FF//Story of April//Oneshot

FF//Story of April//Oneshot
22 Agustus 2013 pukul 17:54

Title : Story Of April

Cast : ¤ Seo Yeorin (OC)

¤ Lee Kiseop (U-KISS)

· Park Haerin (OC)

Genre : Sad, Romance, Hurt

Author : Black’Coffee

Length: Oneshot

Rate: 17+

Disclaimer : This story is mine. And LeeKiseop is Himself.

Warning : Typo bertebaran dimana-mana.Ini hanya Fanfiksi. Cuma buat seneng-senengan. Bagi yang gak suka castnyadiharap gak usah protes langsung out aja. Gue gak mau banyak bacot. #sadis ~kkk

Happyreading

Bismillah

.

. .

. . .

. . . .

. . . . .

. . . . . ~Story Of April~. . . . .

“Yeorin-ahh kalau kita menikahnanti, kau ingin apa dariku?”.

“Aku tidak ingin apa-apa”.

“Kenapa begitu?”.

“Kau tak perlu melakukan apa-apauntukku. Cukup berada disampingku aku sudah sangat bahagia”.

“Begitu ya? Aigoo.. Aku sangat mencintaimuChagiya”.

“Aku juga mencintaimu KiseopOppa”.

. . . . . . . . . .

. . . . .

. . . .

. . .

. .

.

Aku membuka mata cepat-cepat. Dengannafas yang memburu aku menatap kesekeliling ruangan. Ini kamarku bukan? Kenapasetting tempatnya berubah? Tadinya aku sedang berada dipuncak bersamanya.

Aishh.. Yeorin pabo !! Kau bermimpilagi. Dengan perasaan tak rela aku bangun dari tidurku. Sinar hangat sang suryakini terasa menyapa tubuhku. Walau hanya dari pantulan jendela kaca dikamarku.Tapi cukup terasa kehadirannya. Sudah pagi lagi. Beraktivitas lagi.

Mengingat mimpiku yang baru saja lenyap,rasanya aku tak ingin bangun. Aku tidak ingin lebur dari mimpi itu. Aku ingintetap bersamanya seperti itu. Didunia nyata dia bukan lagi milikku. Bukan lagiKiseopku seperti yang biasa aku klaim didepannya. “Kau adalah Kiseopku”. Itulah kalimat yang selalu aku ucapkanpadanya.

Namun saat ini kenyataanlah yangbenar-benar menampar dinding hatiku. Dia bukan lagi kekasihku. Dia telahterampas oleh tangan yang lebih berhak. Tangan yang mungkin tak bersalah namunsangatlah cukup untuk mencabik hatiku. Benar benar sakit.

“Maafkanaku Seo Yeorin. Kita tak bisa bersama lagi”.

Itulah kalimat yang diucapkannya duatahun yang lalu. Kalimat yang usang bukan?

Namun kalimat itu tak mau enyah daripikiranku. Kalimat yang amat sangat menyakitkan namun justru membuatkumempertahankan cintaku padanya.

Memang benar, dua tahun yang lalu diakekasihku. Lee Kiseop adalah kekasihku. Dua tahun yang terasa seperti kemarinlusa. Rasanya baru kemarin lusa aku putus dengannya. Luka yang ia goreskanmasih basah dan aku tak tahu kapan luka ini akan kering. Sekalinya kering pastiluka itu akan tetap membekas. Sampai saat ini aku belum bisa melupakannya. Akumencintainya, masih sangat mencintainya. Dia sangat berharga bagiku. Aku bahkantidak percaya dia sekarang bukanlah milikku. Faktanya saat ini dia hanyalahmasa laluku. Jodoh orang lain yang tak sengaja aku miliki. Terdengar begitunista.

‘Drettdrettt

Aku mendengar ponselku bergetar. Tapidimana aku letakkan ponsel biruku itu?

Aku mengobrak abrik selimutku mencobamencari keberadaan ponselku. Dan tiba-tiba mataku tertuju kearah bawahranjangku. Betapa malangnya ponselku tergeletak tak berdaya dikolong ranjang.

Segera ku sambar ponsel itu. Melihatnama kontak yang tertera dilayar ponsel aku tersenyum.

“Yeobbosseyo”.

“……”.

“Aku juga merindukanmu, Haerin-ahh”.

“…..”.

“Benarkah? Dengan siapa?”.

“…..”.

“Whoaaa Chukkae, lalu kapan kaupulang ke korea?”.

“…..”.

“Baiklah, akan ku tunggu”.

Senyumku merekah sesaat setelahmendapati siapa yang menelfonku. Park Haerin. Sahabat lamaku. Aku mengenalnyapada saat aku masuk Sekolah Menengah Atas. Sayangnya setelah lulus diamelanjutkan studynya di Canada. Mau tak mau kita harus terpisah. Terhitungsudah empat tahun lamanya kami tidak bertemu. Dan sekarang dia bilang dia sudahberada di Seoul dan mengajakku untuk bertemu. Ditempat favorit kami. KonaBeans.

Tak terbayang betapa merekahnya hatikusaat ini. Sejenak aku terlupa dengan masa laluku. Aku bergegas kekamar mandi.Dan sesegera mungkin merapikan penampilanku yang lusuh. Ya aku tidak inginterlihat layu dihadapan sahabatku. Aku harus terlihat ceria seperti dulu.

.

. .

. . .

. . . .

. . . . . ~ Story Of April ~. . . . .

Suasana Kona Beans tidak terlalu ramaiseperti biasanya. Mungkin karena aku datang di jam kerja. Yaaa bisa dibilangmasih terlalu pagi.

“Yeorin-ahh!!!”.

Aku mencari sumber suara yang sepertinyameneriakkan namaku. Aku tersenyum saat pandanganku tertuju kearah kasir.Ternyata Sungjin Oppa yang memanggilku. Putra kedua dari pemilik Kona Beans.Karena terlalu sering kemari meski tanpa Haerin, jadi tidak heran jika akuakrab dengannya.

Aku berjalan menghampiri yang masihtersenyum sambil melambai tangan kearahku.

“Wahh.. Kenapa pagi-pagi sekali kaudatang Yeorin-ahh?”.

“Aku sengaja datang pagi-pagikarena ingin bertemu dengan Haerin”.

“Haerin? Park Haerin?”.

“Benar. Kau ingat kan Oppa?”.

“Tentu saja aku ingat. Ingatsekali. Waah lama sekali aku tidak bertemu dengannya”.

“Aku Juga”.

“Yeorin-Ahh !!!”. Aku langsungmenoleh saat namaku lagi-lagi diteriakkan.

Kali ini suara cempreng sahabatku yangkurindukan terdengar. Aku tersenyum kearahnya yang kini berlari penuh antusiaske arahku.

‘GREBBBB

“Yeorin-Ahh aku merindukanmu”.Dia memelukku erat. Hampir tak bisa bernafas karenanya.

“Nado Haerin-Ahh”. Jawabkuseraya membalas pelukannya.

“Sungjin Oppa apa kabar?”.Kini dia beralih kearah Sungjin yang tengah menyaksikan acara temu kangenkudengan Haerin.

“Aku? Ehmm.. Aku baik. Haerin-Ahhkau semakin cantik”. Sungjin Oppa menggombal sambil tersenyum usil.

“Gomawo Oppa. Kau juga semakintampan dan terlihat lebih dewasa”. Haerin balik memuji Sungjin Oppa.Sungjin Oppa tampak tersipu malu. Semburat merah cherry terpancar diwajahmanisnya. Ya Sungjin Oppa memang tampan dan err.. Haerin pernah menyukainyadulu. Sekarang? Entahlah.

“Ehmm.. Kau mau pesan apa? Aku yangtraktir”. Tawarku pada Haerin yang terdiam sejenak.

“Benarkah? Memangnya kau punyauang?”. Aigoooo!! ternyata Haerin masih saja menyandang gelar itu. Silidah tajam. Tapi aku sudah terbiasa dengan hal itu. Mungkin bagi orang yangmendengarnya,mereka akan mengira Haerin adalah orang yang tidak punya sopan danseenak jidatnya kalau bicara. Tapi bagiku itu biasa saja. Menurutku itu adalahlelucon yang biasa kami ucapkan satu sama lain untuk saling menjatuhkan.Hahahaha dua sahabat yang aneh bukan?.

“Sudahlah, kali ini aku beri kaliangratis”. Sungjin Oppa menyambung.

“Benarkah????”. Dua suaramelontar pertanyaan yang sama. Aku dan Haerin berteriak bersamaan dengan matamembulat. Terkesan berlebihan memang. Tapi inilah faktanya.

“Ck. Kalian berdua! Tidak dulu.Tidak sekarang. Tetap saja perhitungan. Cepat duduklah ! aku akan menyiapkanmakanan untuk kalian”. Sungjin mendecak sesaat sebelum berceloteh. Aku danHaerin hanya cekikikan menanggapinya.

Aku dan Haerin memilih meja yangterletak dipojok kiri kafe itu. Tempat favoritku dengan Haerin. Aku juga seringmengajak Kiseop ketempat ini duduk dikursi ini. Tiba-tiba aku terdiam.Ingatanku kembali berputar kemasa lalu. Saat aku masih bersamanya. Sungguh akumenginginkan masa itu terulang kembali. Menikmati senyumnya. Merasakan dekapanhangatnya. Mendengar suara barithonnya. Sungguh aku sangat merindukan masa-masaitu. Terlalu sesak rasanya menahan rindu yang semakin menumpuk dalam diriku.

“Yeorin-Ahh!!”.

Suara Haerin mengejutkanku. Aku harusterbangun dari lamunanku.

“Ne”.

“Kau melamun?”.

“Ani. Aku hanya mengingat masa-masakita sekolah dulu. Kau tampak berubah Haerin-ahh”. Aku berkelit.

“Kau juga berubah Yeorin”.

“Benarkah?”.

“Kau jauh lebih kurus.Memangnya apa yang telah menggerogotitubuhmu gendutmu?”. Pertanyaan asal merangkap blak-blakan terlontar daribibir mungil Haerin.

Aku tersenyum.

“Apa kau masih memikirkanRillakumamu itu?”.

Deggg

Aku tersentak mendengar pertanyaanHaerin. Aku tersenyum kecut. Ya Haerin pasti tahu maksud dari senyumku yangtidak enak dilihat ini.

“Sudahlah Yeorin-Ahh. Namja sepertiitu tidak pantas untukmu. Dia Namja yang tidak punya perasaan”. Haerinmeluap-luap.

Memang selama empat tahun kami tidakpernah bertemu. Tapi kita tidak kehilangan kontak. Kami saling berceritatentang kehidupan kami. Termasuk kehidupan kami asmara kami. Maka dari ituHaerin tahu segala hal tentang Rillakuma walau aku tak pernah menyebut namayang sesungguhnya.

“Sudahlah Haerin-Ahh. Aku tidakapa-apa”.

“Tapi…”.

“Oh ya, katanya kau akan menikah?Kapan?”. Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Tanggal 24 April. Masih ada waktutiga minggu untuk mempersiapkannya Yeorin-ahh”. Jelasnya.

“Wahh pasti meriah. Dengan siapakau menikah?”.

“Masih dengan Namja itu. Putra dariteman Appaku”.

“Kau dijodohkan?”.

“Ne”.

“Kau mencintainya?”.

“Tentu saja. Bagaimana aku tidakmencintainya, dia Namja yang baik”.

“Waahh. Bagus kalau begitu. Akusenang mendengarnya”.

Aku tersenyum sesaat. Aku memang senangmendengarnya. Tak menyangka sahabatku ini akan mendahuluiku.

“Makanan sudah siap”.

Suara Sungjin Oppa menjedah percakapankami.

“Whoaa gomawo Oppa”. SahutHaerin sedikit heboh saat melihat beberapa menu makanan yang disajikan SungjinOppa.

Sungjin Oppa hanya tersenyum manissambil menggeleng merespon Haerin.

Sejenak kami menghentikan aksi ngobrolkami. Kami segera menyantap hidangan yang diberi gratis oleh Sungjin Oppa.

“Oh ya Yeorin-ahh. Aku boleh mintabantuanmu tidak?”. Haerin kembali mengoceh disela-sela makannya.

“Apa?”. Tanyaku sambilmengunyah makanan.

“Kau mau tidak merancangkan gaunpengantin untukku? Kau kan desaigner handal disini”.

“Tentu saja, nanti akan ku buatkanspecial untukmu dan juga calon suamimu”. Jawabku senang hati.

Aku adalah seorang desaigner muda yangbaru dikenal satu tahun yang lalu. Ketika aku mengikuti pameran busana. Akumerancang sebuah gaun pengantin wanita dan juga Tuxedo untuk pengantin pria.

Entahlah saat itu aku sangat terobsesidengan pernikahan. Saat aku merancang gaun itu aku membayangkan kalau aku bisamengenakan gaun itu saat pernikahanku bersama Kiseop. Khayalan yang memalukanmemang. Menghayal sesuatu yang bukan haknya lagi. Tak disangka rancanganku itubanyak mendapat pujian saat gaun dan tuxedo itu dipamerkan. Aku berterimakasihkepada Jaeseop dan juga Seongbin yang telah bersedia menjadi model catwalk.

“Butuh berapa lama kaumerancangnya?”. Haerin bersuara lagi.

“Tunggulah seminggu lagi”.Jawabku pasti.

“Sesingkat itu?”.

Aku mengangguk sebagai jawaban daripertanyaan Haerin.

“Datanglah ke boutique ku saat itu.Aku sudah memberi alamat boutique ku kan?”.

“Ne,Baiklah aku akan kesana bersamacalon suamiku. Sekalian aku ingin memperkenalkannya kepadamu”.

“Baiklah. Aku tunggu! Awas kalaukau tak datang”. Ancamku dengan wajah sangar yang ku buat-buat.

Haerin terkekeh melihat tingkahku.

.

. .

. . .

. . . .

. . . . . ~Story Of April ~. . . . .

Tak disangka aku bisa menyelesaikanrancanganku lebih cepat dari waktu yang aku janjikan pada Haerin. Akumemandangi gaun pengantin dan Tuxedo yang baru saja aku kenakan ditubuh takbernyawa menikan yang ada di boutique ku. Aku memandanginya secara bergantian.

“Haerin pasti terlihat cantik saatmengenakan gaun ini. Semoga saja dia suka”. Pikirku masih menatap gaunpengantin putih tanpa tali yang melilit dipundak. Sesekali aku membenarkanposisi gaun itu agar terlihat pas ditubuh menikan itu. Kemudian mataku beralihke Tuxedo yang terpajang disamping gaun tadi. Aku tidak tahu ukuran tubuh calonsuami Haerin. Terpaksa aku menyamakan ukuran Tuxedo yang dulu juga pernah kubuat. Seandainya saja Kiseop masih bersamaku. Aish..!! Aku terbayang dia lagi.

“Yeorin-Ahh”. Aku melihatHaerin dari jendela kaca. Dia melambaikan tangan dengan semangat sambilberjalan kearah boutique ini.

“Hahahaha akhirnya kau datang juga”.Aku tertawa renyah sesaat.

“Iya. Aku takut padaancamanmu”. Sahutnya sambil memanyunkan bibirnya lucu. Aku hanya terkekeh.

“Oh ya. Mana calon suamimu?”.Aku celingak celinguk mencari laki-laki yang akan menjadi pendamping hidupsahabatku.

“Dia masih memarkir mobil. Sebentarlagi juga datang”.

Jawab Haerin.

“Nah itu dia. Oppa kemarilah”. Haeri melambaikan tangan pada seseorang yang sepertinya adalah calonsuaminya. Tapi….

DEGGG

Benarkah?

Aku mengucek kedua mata dengan punggungtanganku.

Aku tak percaya.

Cepat-cepat aku menunduk. Tubuhkubergetar hebat. Jantungku seakan berhenti berdetak.

“Yeorin-Ahh perkenalkan ini calonsuamiku. Lee Kiseop!”.

Dengan terpaksa aku mengangkat wajahkumencoba memandang laki-laki yang ada dihadapanku.

Aku dapat melihat reaksinya yang takkalah terkejutnya denganku tadi. Mata indahnya membulat sempurna ketikamendapati kalau wanita yang ada dihadapannya saat ini adalah wanita yang pernahdia kenal. Namun dia segera menutupi keterkejutannya dari Haerin.

“Oppa. Dia Park Yeorin sahabatterbaikku yang sering aku ceritakan padamu”. Haerin memperkenalkan diriku.Dengan sekuat tenaga,semampuku aku mengukir senyum mencoba bersikap biasa ajameski tak bisa dipungkiri kalau saat ini,detik ini hatiku bergejolak. Sepertiterhantam ribuan benda keras. Jantungku berdegup sangat kencang.

“Anneyeong, Kiseop Imnida”.Dia mengulurkan tangannya. Aku tak segera menjamah tangan itu. Aku masihmenatap tangan itu lekat. Tangan yang sempat aku miliki.

“Yeorin-ahh”. Sapaan Haerinmembuyarkan lamunanku.

“Oh.. Ne, Naneun Yeorin Imnida.Bangaseumnida Ki..seop-ssi”. Aku sedikit gagu. Tanganku bergetar saatmenjabat tangannya. Sungguh aku tak sanggup menatap wajahnya. Aku kembalimenunduk.

“Nado Yeorin-ssi”. Suarabarithonnya terdengar menggema. Menggetarkan hatiku. Tuhan kejutan apa lagiyang akan kau berikan padaku?. Terjawab sudah. Seseorang yang akan menjadipendamping hidup Haerin adalah Kiseop. Lee Kiseop. Orang yang pernah mengisihari-hariku. Yang menjadi inspirasi dalam hidupku. Orang yang selama inimembuatku bertahan. Siapa menyangka dia akan menjadi milik wanita yang tidaklain adalah sahabatku sendiri. Benar-benar sebuah kejutan. Aku tersenyum miris.Bersamaan dengan itu mataku mulai memanas. Ku mohon jangan jatuh sekarang. Akuharus kuat. Aku tidak boleh menangis sekarang. Aku tidak ingin Haerinmengetahui kalau Kiseop adalah orang yang selama ini aku cintai. Dia akanmerasa sedih jika dia tahu.

“Mana Gaun yang aku minta Yeorin-ahh”.Haerin mencairkan suasana.

“Oh iya, aku hampir lupa.Ini”. Aku menunjuk dua menikan yang tadi telah ku balut dengan gaun dantuxedo pengantin.

“Whoaaa cantik sekali..!!”.Haerin terkagum-kagum saat melihat gaun putih itu.

“Tentu saja. Itu aku buat specialuntukmu Haerin-ahh”. Jawabku bangga.

“Gomawo Yeorin-ahh jeongmal gomawo.Kau memang sahabat terbaikku”. Haerin memelukku saking girangnya.

Aku hampir terjengkang saat Haerinmemelukku. Aku tersenyum tipis. Mana mungkin aku tega merusak kebahagiaannya?.Kiseop terdiam kaku melihat kedekatan kami berdua. Selang beberap menit Haerinmelepas pelukannya sambil tersenyum kearahku. Aku membalas senyumnya. Kini diaberalih kearah Kiseop yang masih berdiri terpaku ditempat semula.

“Oppa.. Coba kau lihat ! Gaunciptaan Yeorin cantik kan? Dia memang hebat”. Haerin berceloteh sambilmelingkarkan tangannya dilengan Kiseop. Mereka berdua memunggungiku. Akumenatap punggung keduanya miris. Sakit. Benar-benar sakit rasanya. Kenapa harusHaerin? Apa dunia ini terlalu sempit?.

Sebentar lagi Kiseop akan resmi menjadisuami Haerin. Seseorang yang akan mendampingi hidupnya nanti. Dan aku? Aku akanmenjadi penonton. Lebih tepatnya menjadi seorang badut bodoh yang membiarkansemua ini terjadi. Menyaksikan sesuatu yang menyakitkan. Karena ini kah Kiseopmeninggalkanku?.

“Kau harus mencobanyaHaerin-ahh”. Aku membuka suara. Aku muak dengan suasana seperti ini.

“Baiklah, aku akan mencobanya”.Haerin berbalik badan menghadapku. Sedangkan Kiseop? Masih membelakangiku.

“Oppa, kau tunggu disini ya? Nantikau juga harus mencoba tuxedomu ~chu…”. Astaga !! Aku membuang membukarefleks saat Haerin tiba-tiba mengecup pipi Kiseop. Aku harus menyaksikanadegan yang tak ku ingin kan.

Kemudian Haerin berlalu keruang ganti diboutique kecilku ini. Hanya tinggal aku dan Kiseop yang berdiam diri sekarang.Suasana tiba-tiba hening. Tak ada yang berani membuka suara diantara kami. Akumengepal jemariku. Rahangku tiba-tiba mengeras. Aku menahan emosi.

“Maaf”. Tiba-tiba Kiseopbersuara tanpa menatapku.

“Untuk apa? Kita kan baru kenalKiseop-ssi?”. Aku menyela. Aku berusaha tersenyum kearah Kiseop. Meskinyatanya air mataku sudah jatuh. Aku tersenyum dalam tangis. Aku masihmenatapnya dan kini dia juga menatapku. Sampai akhirnya tatapan kami berduabertemu. Sungguh aku sangat merindukannya. Tatapan matanya yang teduhbenar-benar mendamaikan hatiku. Ingin rasanya aku memeluknya erat dan berkatakalau aku sangat mencintainya. Aigoo!! Dia bukan milikmu lagi Yeorin. Dia orangasing bagimu. Dia milik Haerin Yeorin-ahh pabo. Aku dapat melihat mata Kiseopjuga mulai berkaca-kaca. Apa dia menyesal? Apa dia juga merasakan hal yangsama? Aishh.. Kurasa itu tidak mungkin. Dia pasti bahagia bersama Haerin yanglebih segalanya daripada aku.

“Yeorin-ahh.. Aku….”.

“Kiseop Oppa, Yeorin-ahh lihat aku!”. Aku tersentak saat Haerin tiba-tiba muncul dengan balutan gaunditubuhnya. Aku cepat-cepat mengusap jejak air mataku. Kiseop punmenggantungkan kalimatnya.

“Cantik. Cantik sekaliHaerin-ahh”. Aku mengacungkan dua jempolku kearahnya sambil tersenyum.

“Benarkah? Menurutmu bagaimana Oppa?”.Kini Haerin bertanya pada Kiseop yang berdiri disampingku.

Aku menatap Kiseop sekilas. Lagi-lagitatapan kami bertemu. Cepat-cepat aku mengalihkan pandanganku.

“Ne. Kau cantik Cha..chagiya”.Kiseop menyahut.

Sedikit terbata saat menyebut kata-Chagiya-.

Dengan wajah yang berbinar Haerinmendekat kearahku dan juga Kiseop. Dia berjalan sangat pelan seraya mengangkatsedikit bagian bawah gaun itu.

“Sekarang giliran kau Oppa. Kauharus mencoba Tuxedonya”. Perintah Haerin pada Kiseop yang masih terpakumelihatnya.

“Baiklah”. Kiseop melepastuxedo di menikan itu kemudian masuk kedalam ruang ganti. Tak butuh waktu lamaKiseop akhirnya keluar dengan Tuxedo hitam rancanganku. Tak disangka Tuxedo itutampak pas ditubuh Kiseop. Ini menakjubkan. Benar-benar diluar dugaan. Diatersenyum kearahku dan Haerin. Aku tidak bisa berbohong kalau aku benar-benarterpesona dengannya. Dia tetap seperti yang dulu. Berkharisma dan mempesona.

“Whoaaa.. Calon suamiku tampansekali”. Pekik Haerin yang juga enggan mengedipkan matanya memandangKiseop yang tengah berjalan kearah kami. Aku dan Haerin. Pekikan Haerin seakanmembangunkanku dari bayang-bayang masa laluku. Saat dimana Kiseop masihmilikku. Dan ucapan Haerin juga menyadarkanku bahwa saat ini Kiseop bukanlahmilikku lagi.

“Aku benar-benar beruntung memilikicalon suami sepertimu. Saranghae Oppa”. Haerin lagi-lagi bergelayut manjadilengan Kiseop. Kiseop justru melihat kearahku dengan ekspresi wajah taknyaman. Aku memalingkan wajahku kearah lain. Aku benar-benar tidak sanggupmelihatnya. Tuhan kenapa sesakit ini.

Aku ingin berteriak. Namun apa yang akuteriak kan? Adakah orang yang peduli dengan teriakanku? Mungkin yang adahanyalah tawa hina atau senyum kasihan yang akan aku terima. Kau benar-benarmenyedihkan Soo Yeorin.

“Yeorin-ahh, boleh kah akumemintamu untuk mengambil foto kami berdua?”. Haerin menyodorkan kameradigital padaku.

“Tentu saja. Dengan senang hatiHaerin-ahh”. Aku mengambil kamera itu darinya. Haerin dan Kiseop mulaiberpose. Mulai dari pose berpelukan, V sign, Love sign, dan terakhir errr….. bibirkeduanya bersentuhan. Pose yang menghentikan detak jantungku. Menampar dindinghatiku dengan kasar. Tapi apa yang bisa ku lakukan? Aku harus tetap mengukirsenyum palsu didepan keduanya. Bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa.Benar-benar menyedihkan.

****

****

*****

“Baiklah. Kalau begitu aku pergidulu Yeorin-ahh. Jeongmal gomawo atas semuanya”. Haerin berpamitan serayamencium kedua pipiku secara bergantian setelah selesai mengganti pakaiannya.

“Ne,Cheonmaneyo”. Jawabkuseadanya. Tanpa merubah sikap ramahku padanya.

“Oh iya. Aku hampir lupa. Janganlupa! Kau harus datang di acara pernikahanku. Ingat ya! Tanggal 24 April!”. Haerin memperingatkanku seraya menunjuk kearahku dengan sebuah kertasundangan ditangannya yang kemudian diberikan padaku. Sebuah desain undanganyang cantik. Paduan warna biru dan putih. Aku tersenyum lagi menatap undanganitu. Tersenyum miris.

“Aku pasti datang!!!”. Sahutkutiba-tiba. Kalimat yang begitu dalam aku ucapkan. Aku mengucapnya sambilmenatap Kiseop tajam. Dia bahkan mengalih dari tatapan tajamku.

“Arrasseo. Sampai jumpadipernikahanku Yeorin-ahh”. Haerin melambaikan tangannya padaku sesaatsebelum berlalu dari boutique. Aku juga melambaikan tanganku. Semakin jauh kutatap punggung mereka. Dan akhirnya merekapun menghilang. Bersamaan dengan itutubuhku merosot sampai aku dapat merasakan dinginnya lantai marmer ini. Sesuatuyang sedari tadi aku tahan akhirnya tumpah tanpa aku minta. Aku menangis. Akubenar-benar menangis sekarang. Aku tak berdaya. Aku tak bisa melakukan apa-apauntuk ini. Bagaimana mungkin kalau Haerin mencintai orang yang sama denganku.Memiliki seseorang yang dulu adalah milikku. Kenapa Haerin lebih beruntung?Memiliki seseorang yang selama ini menjadi inspirasi dalam hidupku. Apakah iniadil bagiku?. Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku. Aku menangis sepuasku.Menangis dalam sepi tanpa ada orang yang mengetahui betapa rapuhnya aku. Betapaaku sangat membutuhkan dia. Dia yang telah menjadi milik orang lain.

.

. .

. . .

. . . .

. . . . . ~Story Of April ~. . . . .

Aku berdiri didepan cermin besardikamarku. Menatap lekat bayangan diriku yang terpantul jelas disana. Akumerapikan gaun yang ku kenakan. Gaun berwarna pearl blue selutut dengan hiasanpita berwarna putih yang melingkar dipinggang kecilku.

Aku juga merapikan rambutku yangtergerai dibahuku. Dan tak lupa aku juga membenahi make up ku. Hari ini akuakan pergi ke pesta pernikahan Haerin. Aku sudah mengumpulkan semua mentaluntuk menghadapi hari ini. Aku sudah siap untuk hal terburuk yang akan akuhadapi saat ini. Akankah aku rela melepasnya untuk sahabatku? Untuk kebahagiaanmereka berdua.

.

.

.

.

*.*

Suasana ditempat ini sangat meriah.Gedung mewah dengan desain interior yang didominasi dengan warna putih. Warnafavourit Haerin. Membuat ruangan luas ini terlihat bersih dan rapi. Matakumenjelajah ke segala arah. Mengamati riuhnya para tamu, suasananya sangatramai. Tidak jarang teman-teman semasa SMA yang juga datang ke acara inimenghampiriku. Sekedar bertegur sapa. Menanyakan kabar. Ya berbasa basi lebihtepatnya.

Hampir semua teman-temanku membawapasangannya. Sedangkan aku?

Haaahhh.. Aku masih sendiri. Sungguhmemalukan.

Tiba-tiba saja mataku teralih kearahlain diujung red carpet yang tergelarpanjang menuju altar. Aku dapat melihat Haerin dan Ehmm… Kiseop tengahberdiri sejajar. Tangan kiri Haerin melingkar dilengan Kiseop dan yang kanannyalagi melambai kearahku. Dia terlihat sangat bahagia hari ini. Terlihat jelasdari gambaran wajahnya yang begitu cerah. Senyumnya terus saja menghiasi wajahmoleknya. Aku senang melihatnya tersenyum. Aku ingin dia terus seperti itu. Akutidak ingin merusak kebahagiaannya. Walau pada kenyataannya hatiku begitu sakitmelihat keduanya. Bagaimana mungkin Kiseop tega melakukan semua ini padaku.Tapi semuanya telah terjadi. Tidak mungkin menyalahkan takdir. Takdir yangmembawa Kiseop kedalam pelukan Haerin.

Munafik ! Itulah kata yang paling tepatuntuk menggambarkan diriku. Seorang Soo Yeorin. Yang selalu menampakkan senyumpalsu dihadapan semua orang. Yang selalu bersikap biasa aja seakan tak pernahterjadi apa-apa. Tak ingin mengecewakan sahabatnya hanya karena masa lalunya.

Aku menghampiri Haerin dan Kiseop. Akumenyunggingkan senyum kepada keduanya.

“Yeorin-ahh. Terimakasih banyakkarena kau sudah datang ke pesta pernikahanku”. Sahut Haerin menariklenganku bermaksud menggandeng tanganku.

“Tentu saja aku datang Haerin. Manamungkin aku melewatkan moment bahagia sahabatku sendiri”. Jawabku sambilmenatap dingin kearah Kiseop. Kiseop cepat-cepat menundukkan kepalanya dan takberani menatapku balik. Pengecut !

“OMO !! Bagaimana mungkin aku bisa memiliki sahabat sebaikdirimu Yeorin-ahh. Cepatlah kau menyusul kami ! Kau harus melupakan rillakumamuitu. Dia sudah jahat padamu. Dia tidak pantas mendapatkan cinta yang tulusdarimu”.

GLEK’

Aku menelan kasar salivaku. Matakumembulat sempurna. Kiseop yang tadinya hanya menunduk seketika mendongakkankepalanya lalu menatap Haerin tak percaya. Aku benar-benar tidak percaya Haerinakan berkata seperti. Apa jadinya kalau dia tahu bahwa Rillakumaku itu adalahKiseop. Laki-laki yang beberapa menit lagi akan menjadi suaminya. Apakah diaakan tetap mencintai Kiseop.

“Ahh.. Haerin-ahh bukankah sebentarlagi acaramu akan dimulai? Ayo kau harus bersiap-siap. Kau harus terlihatcantik”. Aku mengalihkan topik sambil merapikan gaun milik Haerin danmengambilkan sebuket bunga yang tadi ia letakkan dimeja dekat dia berdirisekarang.

“Terimakasih Yeorin”. Tanpacuriga Haerin mengikuti topik baru yang aku mulai. Aku menghela nafas lega. Akumenatap Kiseop sekilas sebelum dia dan Haerin berjalan menuju Altar.

Sakit.

Marah.

Kecewa.

Itu yang aku rasakan setiap akumenatapnya.

Tapi kenapa hatiku masih saja berpihakpadanya. Dia yang telah menyakitiku, meninggalkanku demi wanita lain. Tapikenapa aku tidak bisa membencinya? Kenapa aku tidak bisa marah padanya? Cintakuyang teramat besar padanya mampu melemahkan diriku, mengalahkan segalanya. Akuhampir tak bisa melihat laki-laki lain selain dia. Mataku sudah buta. Matakusudah tertutup oleh segala sesuatu tentangnya. Dia terlalu istimewa bagiku.Sebentar lagi aku akan mendengar mereka mengucap janji suci. Aku akan menjadisaksi ikatan suci mereka. Aku tersenyum kecut saat mendengar suara BarithonKiseop mulai mengucap ikrarnya.

“Saya bersedia menjadi Suamiseorang Park Haerin. Menjaganya baik suka maupun duka”.

Aku menatap nanar punggung keduanya yangkini menghadap kepada seorang pastur disebuah altar.

Hatiku benar-benar tercengkeram olehsuasana ini. Harus berapa kali ku utarakan perihnya rasa ini. Aku hampir takbisa bernafas karena dadaku yang terlalu sesak menahan sakit yang terusmenjamahi diriku.

Terdengar riuh para tamu yang bertepuktangan menyambut pasangan baru. Haerin dan Kiseop resmi menjadi pasangan suamiistri sekarang. Keduanya tersenyum kearah tamu-tamu yang bersorak bahagia.

Dan err.. Lagi-lagi mereka berciuman.Hey Kiseop tidak sadarkah kau, aku masih disini? Menyaksikanmu bercumbu.Tidakah kau memikirkan perasaanku?

Dan lagi, mataku kembali memanas dansekarang pandangan mulai buram. Ada cairan bening dipelupuk mataku. Aku berlarimeninggalkan tempat itu. Aku tak tahu kemana arahku berlari. Hingga sampaisaatnya langkahku terhenti disebuah koridor yang aku tidak tahu. Sepertinya iniadalah lorong menuju toilet. Arghh.. Aku tidak peduli itu. Yang selama ini kutahan kuat-kuat akhirnya membuncah. Dadaku terasa begitu sesak. Butiran beningyang sempat tersangkut dipelupuk mataku akhirnya meluncur sempurna. Akumenangis untuk kesekian kalinya. Masih menangisi orang yang sama. Tubuhku yangtiba-tiba lemas akhirnya terjatuh kelantai hingga aku merasakan dinginnyalantai ini. Seperti yang sebelum-sebelumnya aku lakukan. Aku menekuk kedualututku. Menangis disela-selanya. Aku sudah tidak peduli dengan keadaan. Akusudah tidak mempedulikan komentar dari orang-orang yang mungkin melihatkuseperti orang gila duduk menekuk lutut ditempat agak gelap ini. Aku bahkan takpeduli lagi jika ada orang yang menatapku penuh rasa iba. Aku telah dibutakanoleh cinta. Dia benar-benar telah menutup hatiku. Mengunci hatiku dan membawapergi kuncinya.

Aku masih menangis sesenggukan dansemakin lama isakku semakin terdengar.

“Ulljima!”.

Aku mendongakkan kepalaku seketika saataku mendengar sebuah suara. Tangisku terhenti seketika saat mendapati dia yangkini berdiri tepat dihadapanku dengan ekspresi yang sulit aku terjemahkan. Akumenatapnya dalam. Masih terdengar sisa-sisa senggukanku yang mirip dengan orangyang sedang cekukan. Ini benar-benar memalukan. Aku sudah tak bisa lagiberpura-pura ceria didepannya. Tak bisa lagi memakai topeng.

“Ku mohon berhentilahmenangis!”.

Sosok indah itu menekuk kedua lututnyadan bersimpuh dihadapanku. Aliran darahku mendesir. Detak jantung berdetaklebih cepat dari frekuensi normal. Tubuhku serasa kaku dan wajahku memanasketika wajahnya tepat berada didepan wajahku. Sampai aku bisa merasakanhembusan nafasnya yang hangat menyapu wajahku yang masih basah. Tangannyasedikit bergetar saat mendarat lembut diwajahku. Dia mengusap lembutjejak-jejak air mataku. Kini dia menatap mataku dalam. Dan tatapan kamiakhirnya bertemu lagi. Entah kenapa butiran kristal yang tak tahu diri inikembali memenuhi kedua manikku.

“Lee Kiseop !”. Aku bergumam.Dan kurasa dia mendengar gumamanku.

“Maafkan aku telah membuatmuseperti ini Seo Yeorin”. Dia tertunduk lesu. Sepertinya dia menyimpan rasabersalah yang mendalam.

“Ini bukan salahmu. Ini adalahkebodohanku. Bodoh ! Karena aku terlalu mencintaimu Lee Kiseop !”.Tiba-tiba Kiseop mendongakkan kepalanya. Aku masih menatapnya sendu. Matakubenar-benar penuh dengan air mata. Aku seakan tak malu lagi mengungkapkan semuaisi hatiku yang masih saja sama dengan yang dulu. Arghh.. aku benar-benar sudahtak punya harga diri. Persetan dengan malu.

Dia tersenyum kearahku sambilmengatupkan kedua telapak tangannya dipipiku.

“Dengarkan aku Yeorin-ahh…”.Dia memejamkan kedua matanya sebelum melanjutkan kalimatnya. Bahkan aku nyaristak bernafas menunggu apa yang akan dia ucapkan.

Pelahan dia membuka matanya kembalisembari menghela nafasnya yang terdengar begitu berat.

“Berjanjilah padaku Yeorin-ahh,berjanjilah kalau kau akan bahagia. Aku mohon ! Jangan menangisiku lagi. Akutidak ingin menjadi bagian dari air matamu. Aku hanya ingin kau bahagia dengancaramu sendiri…. Ingat ! Kau harus bahagia ! Awas kalau tidak!”.

Aku terdiam kaku mendengar kalimatpanjang yang diucapkannya. Seketika bahuku merosot lemah. Bahkan aku baru sadarkalau tangan lembut Kiseop telah enyah dari wajahku. Aku tak percaya dia akanmengucapkan kalimat itu padaku. Rasa sesak kembali menyelubungi dadaku. Diabangkit dari duduknya dan beranjak dari hadapanku. Aku masih terdiam dantatapanku kosong. Dia mulai berjalan meninggalkanku.

“Bagaimana kalau bahagiaku ituadalah KAU !!!!”. Aku berteriak cepat dan sukses membuat langkahnyaterhenti seketika. Aku mengucapkannya penuh dengan penekanan. Dia masih berdiriditempatnya tanpa membalikkan badannya. Aku menatap punggungnya nanar. Akuberanjak dari dudukku berniat mendekatinya.

“Kau bilang kau hanya ingin akubahagia dengan caraku sendiri kan?”. Aku menjeda sejenak ocehan takpentingku ini. Aku menghela nafas sekedar mencari ketenangan sejenak.

“Aku bahagia karena akumencintaimu. Dan inilah caraku. Bagiku tidak ada yang lebih membahagiakanselain mencintaimu”.

Dia membalikkan tubuhnya dan kini diaberhadapan denganku. Dia menatapku tak percaya.

“Seo Yeorin…”.

“Kau boleh membenciku, kau bolehmencintai orang lain, dan kau boleh melupakanku. Tapi satu hal yang aku pinta.Tolong ! Jangan paksa aku untuk melupakanmu apalagi untuk berhenti mencintaimu.Aku tidak bisa dan tidak akan pernah melakukan itu”. Merasa ada sesuatuyang ingin jatuh. Aku cepat-cepat membuang wajahku dari tatapannya yang sedaritadi tak mau lepas dari pandanganku. Kali ini Aku tidak mau menangis lagi.

Kami berdua akhirnya terdiam. Dia bahkantak membuka mulutnya.

“Oppa !!! Kau disini rupanya. Akumencarimu kemana-mana”. Haerin tiba-tiba muncul dari belakang Kiseop.Mengejutkan aku dan Kiseop tentunya . Cepat-cepat aku menghapus air mataku.

“Yeorin-ahh Kau disini juga ternyata”.Tanya Haerin heran.

“Ahh.. Aku tadi ke toilet. Dantidak sengaja aku berpapasan dengannya. Benar kan Kiseop-ssi?”. Kilahku.Aku mengerling kearah Kiseop yang tampak gugup. Aku juga tidak bisa berbohongkalau sebenarnya aku gugup dan shock melihat Haerin yang tiba-tiba datangkemari. Aku benar-benar tidak ingin dia mengetahui apa yang telah terjadiantara aku dan Kiseop.

“Ehmm.. Benar”. Jawaban yangsingkat namun cukup melegakan kami berdua. Ya aku dan Kiseop.

“Oh jadi begitu. Kebetulan sekaliaku juga sedang mencarimu Yeorin-ahh. Ayo kalian ikut aku. Aku ingin fotobersama”. Haerin menarik tanganku dan juga tangan Kiseop. Dia menggandengtangan kami berdua disisi-sisinya dengan raut yang sangat ceria. Melihatnyaseperti itu akupun ikut tersenyum.

.

.

.

.

Saat kami sampai didalam gedung itu,Haerin memanggil seorang photografer yang mungkin sudah dipersiapkan olehnyauntuk mengabadikan moment-moment bahagianya hari ini. Dia berjalan menuju altarbersama Kiseop dan bersiap untuk berfoto. Aku hanya memperhatikan keduanya daribawah sambil tersenyum. Aku melupakan kesedihanku sejenak. Benar aku harusbahagia melihat mereka berdua bahagia.

“YAAAAKK Yeorin-ahh kenapa kauberdiri disitu? Kemarilah!”. Haerin meneriakiku dari altar.

“Untuk apa?”. Tanyaku sedikitberteriak.

“Kita foto bersama pabo !!”.

Aku cekikikan melihat tingkahnya yangsama sekali tidak berubah dari dulu. Sama sekali tak mau menjaga imagenya. Takpeduli dengan wajah cantik serta tubuh elegannya. Dia berbicara asal ceplos.

Tak mau mengecewakannya akhirnya akumenghampirinya dan kami bertiga akhirnya berfoto bersama dengan formasi Haerinberada ditengah-tengah aku dan Kiseop.

“Oppa, rambutmu berantakansekali”. Cletuk Haerin sambil merapikan tatanan rambut Kiseop. Aku dapatmelihat betapa sayangnya Haerin terhadap Kiseop. Dia bahkan memperhatikanhal-hal kecil seperti itu. Bukannya merespon Haerin. Kiseop justru menatapkearahku. Tatapannya sendu. Aku tak tahu tatapan apa itu. Aku cepat-cepatmengalihkan pandanganku kearah lain.

“Selesai, ayo kita mulai”.Suara Haerin mengaba-aba. Haerin melingkarkan tangan kanannya dipinggangkusedangkan tangan kirinya melingkar dilengan Kiseop.

Dan Pemotretan selesai dengan cepat.Haerin melepas tangannya yang tadi melingkar dipinggangku. Dia tersenyumpadaku. Entah untuk yang keberapa kalinya.

“Gomawo Yeorin-ahh. Kau sangatberperan banyak dalam acara pernikahanku”. Sahutnya pelan.

Aku tersenyum simpul.

“Ini sudah seharusnya aku lakukan.Kau kan sahabatku”. Jawabku.

Kemudian dia beralih kearah Kiseop yangberdiri disampingnya.

“Oppa jeongmal gomawo kau sudahmenjadi bagian dari hidupku. Kau mencintaiku kan?”.

Aku dapat menangkap keterkejutan dariwajah Kiseop. Matanya sedikit membulat. Dia tak segera menjawab pertanyaanHaerin. Justru dia menatapku dengan wajah penuh tanda tanya.

Aku mengangguk kearahnya memberiisyarat.

Dia menghela nafas.

“Ne Chagi. A..aaaku mencintaimu.Saranghae”. Kiseop akhirnya mengucapkan kalimat itu.

“Nado Yeobbo”. Haerin tampakkegirangan mendengarnya. Aku tersenyum lagi. Meski hatiku kini bertolakbelakang dengan senyumku saat ini. Aku sadar, aku tidak boleh egois. Aku tidakboleh memikirkan perasaanku sendiri dengan menghancurkan kebahagiaan sahabatku.Tak apa berkorban demi orang lain. Meski akhirnya Kiseop tak termiliki olehkutapi disini, dihatiku dia akan tetap tumbuh menjadi cinta abadiku. Aku tahudidunia ini tak ada yang abadi tapi aku akan berusaha sebisaku mengabadikancintaku ini sampai aku tutup usia sekalipun. Aku mencintaimu Lee Kiseop. MyRillakuma.

.

.

.

.

.

.

Meskicinta tak harus memiliki

JanganTakut !

Jangantakut untuk kehilangannya

Karenadia akan selalu ada dalam hati kita

Jangantakut untuk tidak akan melihatnya

Karenadia selalu ada dalam pikiran kita

Dan..

Jangantakut untuk tak bisa mendengarnya

Karena..

Karenadia selalu ada dalam detak jantung kita.

CINTA

Bukanlahsaat kita menyentuhnya atau memegangnya

Tapisaat dimana kita merasakannya.

THEEND –

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s