~ FF % My Heart % Two Shoot : The Last ~

xXx

Wajah kami begitu dekat, bahkan hidung kami nyaris bersentuhan. aku yakin wajahku sudah sangat tegang sekarang ini. Aku menatapnyakaget tapi dia malah mulai menjauh dan dengan santai memakai stethoscopenya. Dia mulai mengarahkanstethoscopenya ke dada sebelah kiriku. Tiba-tiba dia tersenyum membuatku heran.

“Wae oppa?”

“Baru begitusaja jantungmu sudah berdetak cepat sekali. Sudah kuduga kau juga menyukaiku”.Dia berkata sambil tersenyum-senyum tidak jelas. Huft! Dia memang menyebalkan!Dan yang lebih menyebalkan, kata-katanya tadi 501 % benar!

“Kau belum sarapankan?” Dia berkata sambil menatap makananku. Aku hanya cemberut tak menjawab.Hatiku masih kesal karena ulahnya tadi.

“Dokter Heo, diatak mau makan. Sesuappun belum ada yang masuk mulutnya. Tolong bujuk dia ataupaksa saja sekalian”. Appa yang baru muncul dari kamar mandi berkata dengansemangat sekali. Sepertinya dia bersekongkol dengan Saengie oppa.

“Serahkan sajapada saya pak Song”. Saengie oppa berkata sambil tersenyum evil. Appa yangmendengar itu langsung meninggalkan kami berdua dengan wajah lega. Huft!Firasatku tidak enak!

“Uhm. HyoKyung,kau harus makan”. Dia berkata sambil memegang makananku.

“Tapi oppa…”.Aku merengek manja padanya bermaksud menolak.

“Tidak ada katatapi! Nah, sekarang kau mau pakai cara halus atau cara kasar?”

“Maksud oppa?”

“Kalau carahalus ya aku menyuapimu dan kau makan tanpa perlawanan”.

“Kalau cara kasar?”

“Cara kasar?Uhm. Kalau cara kasar ya dengan paksaan. Kau lihat kan kita hanya berdua diruangan ini. Ditambah lagi kejadian kemarin, sepertinya membuat tingkatkewarasanku turun 501%. Jadi jangan salahkan aku kalau aku lepas kendali”. Diaberkata sambil tersenyum mesum menatapku. Glek! Mati aku!

“Cara palinghalus saja”. Aku berkata sambil merebut makananku dari tangan Saengie oppa. Akupun mulai makan sedangkan dia tersenyum bahagia penuh kemenangan. Namja memangselalu bertindak sesuka hatinya saja! Huft!

Aku makan sambil cemberut karenatidak berselera. Mataku menatap ke segala arah berharap ada hal menarik yangtertangkap penglihatanku. Ketika mataku tertuju pada pintu, kulihat Junnie oppamengintip dari kaca kecil di pintu. Sepertinya dia akan beranjak pergi.

“Junnie oppa?”Aku memanggilnya dari ranjangku. Dia yang mendengar panggilanku kembali melihatdari kaca kecil itu. Aku pun melambaikan-lambaikan tanganku padanya.

Ckleek

Dia masuk dengan ragu-ragu. Pastikarena ada Saengie oppa dia jadi begitu. Atau mungkin karena kejadian kemarin membuatnyamerasa tidak enak padaku.

“Hei?” Diaberkata sambil tersenyum serba salah.

“Oppa, kemanasaja? Kenapa baru muncul?” Aku berkata dengan nada manja padanya untukmembuatnya kembali merasa nyaman. Tapi dia tidak menjawab, hanya melirik kearah Saengie oppa.

“Aku maumemeriksa pasien lain. Habiskan makanmu ya”. Saengie oppa beranjak dari tempatduduknya dan keluar. Tapi ekspresinya? Jelas saja dia terlihat kesal.

“HyoKyung,bagaimana keadaanmu? Masih sakit?”

“Aku sudah tidakapa-apa kok oppa”.

“Uhm. Besok kitake atap ya. Kan kau baru sekali kesana”.

“Mau oppa. Diatap enak, banyak angin”. Aku tersenyum manja padanya membuatnya mengusap-usaprambutku dengan gemas.

“Kenapamakananmu dari tadi tidak habis-habis?” Dia melihat makananku lalu menatapkuheran.

“Tidak seleraoppa”.

“Aku suapin ya”.

“Ne oppa”. Akulangsung menyerahkan makananku padanya dan dia mulai menyuapiku.

xXx

Aku berdiri menyandar pada pembatasatap gedung sambil menatap lurus ke depan. Sudah 15 menit aku menunggu Junnieoppa disini tapi dia tak kunjung datang. Tapi aku yakin dia pasti datang.Selama 2 minggu aku mengenalnya, dia tidak pernah berbohong dan mengecewakanku.

“Kau HyoKyungya?” Suara seorang namja membuatku tersentak dan dengan reflex aku langsungberbalik menatapnya. Aku melihatnya dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas.Namja tampan yang mirip sekali dengan Junnie oppa.

“Ne, akuHyoKyung. Oppa siapa?”

“Ough. Jadi kauyeoja yang dicintai hyungku. Menarik juga”. Dia berkata sambil berjalanmendekatiku. Dia mengulurkan tangan kanannya dan aku menyambutnya denganragu-ragu.

“Kim KiBum. Akunamdongsaeng HyungJun hyung”. Dia tersenyum ramah padaku. Pantas saja merekasangat mirip. Ternyata mereka kakak adik, jadi saudara kembar pun begitupantas. Aku hanya tersenyum tipis tidak berkata apa-apa.

“Kembalilah. Diatidak akan menemuimu disini”.

“Maksud oppa?”Aku menatapnya kaget.

“Dia tidak bisa menemuimudisini. Jangan tunggu dia lagi”.

“Tapi kenapa?Apa alasannya?”

“Dia kritissejak 20 menit yang lalu. Sepertinya waktunya akan berakhir”. Dia berkatasambil tertunduk sedih.

“Tidak. Itutidak mungkin! Dia bilang kalau dokter mengatakan dia bisa bertahan selama 2bulan. Yeah! Aku ingat saat dia bilang dokter memvonisnya mampu bertahan selama2 bulan”. Aku berkata dengan ekpresi sangat tidak percaya. Kemarin dia masihbaik-baik saja. Tidak mungkin dia tiba-tiba kritis!

“Tapi doktermemvonisnya 5 bulan yang lalu!” Dia berkata dengan wajah sangat serius.Sementara aku hanya bisa terdiam dengan wajah yang sangat shock.

“Tadi malamkeadaannya sudah mulai turun drastic. Dia berkata padaku kalau keadaannyamemburuk, besok aku disuruh menemuimu untuk menyuruhmu jangan menunggunya lagi.Sepertinya dia sudah merasa kalau semuanya akan segera berakhir. Ough iya, diajuga minta maaf karena kejadian beberapa hari yang lalu. Dia tidak bermaksudmembuatmu kaget karena mengetahui perasaannya. Tapi, dia sangat mencintaimu”.Dia berkata sambil menatapku dalam-dalam.

Aku hanya terdiam begitu terkejutmendengarnya. Agh! Kepalaku terasa sakit, semua terlihat memburam. Sepertinyaaku akan pingsan. Tidak! Tidak boleh! Aku tidak boleh pingsan di saat sepertiini. Dengan sisa tenaga yang kumiliki, aku langsung berlari turun dari atapgedung menuju ruang rawat Junnie oppa. Namja itu ikut berlari bersamaku.

Sampai disana kulihat banyak perawatsedang mondar mandir, sibuk melakukan berbagai hal untuk menyelamatkan Junnieoppa. Aku melihat dari jendela, Junnie oppa sedang dipasangi berbagai alat yangtak kuketahui namanya. Aku berbalik dan melihat Saengie oppa berlari menujukesini dengan wajah panic. Aku memegangi tangannya sebelum dia masuk ke dalam,membuatnya menatap padaku.

“Oppa,selamatkan Junnie oppa. Jebalyo”. Aku menatap Saengie oppa penuh pengharapan.

“Aku akanberusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkannya”. Saengie oppa berkatadengan ekspresi yang sulit kujelaskan. Sorot matanya menunjukkan betapa diasangat kecewa mendengar kata-kataku. Aku memahami perasaannya. Pasti dia merasabingung. Di satu sisi dia tidak suka Junnie oppa karena akan jadi penghalang diantara kami. Tapi di sisi lain dia harus menunjukkan professionalitas kerjanyasebagai dokter yang harus menyelamatkan pasiennya. Tapi aku yakin, Saengie oppaadalah dokter yang sangat professional.

xXx

Aku berdiri menatap keluar jendeladari kamar rawatku. Aku tak berani mengambil resiko menunggu di depan kamarJunnie oppa. Huft. 1 jam berlalu tapi belum juga ada kabar. Ya Tuhan,selamatkan dia. Aku belum sempat bilang kalau aku juga mencintainya.

Ckleek

Aku berbalik saat mendengar adaseseorang yang membuka pintu kamar rawatku. Kulihat Saengie oppa masuk denganwajah lemas. Sepertinya dia begitu lelah. Aku langsung menghampirinya.

“Oppa, bagaimanakeadaan Junnie oppa?” Aku bertanya dengan cemas tapi Saengie oppa tidakmenjawab. Huft! Aku tau! Yeah! Aku sudah tau! Ekspresi Saengie oppa sudahmenjelaskan segalanya. Saengie oppa berjalan mendekatiku dan memeluk tubuhkuerat.

xXx

Aku duduk di bangku taman rumahsakit sendirian. Disini banyak kenanganku bersama Junnie oppa. Tidak terasasudah 2 minggu berlalu sejak kematiannya. Sementara keadaanku semakin melemah.Saengie oppa bilang, aku harus segera mendapatkan donor dan melakukanpencangkokan hati. Tapi siapa yang mau? Mungkin memang takdir akan membawakumenyusul Junnie oppa dalam waktu dekat ini. Yeah! 1 bulan bukan waktu yanglama. Itulah vonis Saengie oppa terhadapku.

“Jangan melamunterus! Sudah 2 minggu berlalu HyoKyung!” Saengie oppa duduk di sebelahku sambilcemberut. Dia merasa cemburu karena kuabaikan.

“Tapi dia masihtetap hidup dalam hati dan pikiranku oppa. Dan akan selalu menemaniku”.

“Tidak bolehHyoKyung!” Dia berkata dengan kesal. Ada apa lagi sih dia?!

“Kenapa sihoppa?”

“Hanya aku yangakan selalu menemanimu sekarang dan selamanya”.

“Oppa kumat!”Aku berkata sekenanya sambil membuang pandanganku darinya dengan malas.

“Aku serius!Menikahlah denganku”. Saengie oppa berkata sambil menunjukkan sebuah cincinmungil yang begitu indah padaku. Aku menatapnya tidak percaya. Tapi, dia memangterlihat tidak main-main dalam hal ini.

“Oppa?” Akuberkata lirih padanya.

“Aku mohonpadamu HyoKyung”. Dia berkata penuh pengharapan padaku.

“Jangan oppa”.Aku menatapnya sedih.

“Wae HyoKyung?”

“Apa yang oppaharapkan dari yeoja yang sudah di ujung kematian sepertiku?”

“Yang akuharapkan bisa menikah denganmu, memiliki anak-anak yang lucu, dan hidup bahagiabersamamu hingga kita tua nanti”.

“Hingga tua? 1bulan waktu yang singkat untukku oppa! Aku akan segera mati!”

“Kau pasti bisabertahan. Jika ada yang mendonor untukmu, apa kau mau menikah denganku?”Saengie oppa menatapku dalam-dalam. Aku berdiri dari tempatku duduk. Tak tahanberadu pandang dengannya begini.

“Agh! Seandainyaada keajaiban, aku pasti mau oppa. Aku tidak akan menolakmu seperti ini. Tapibukalah matamu oppa! Aku sakit! Aku bahkan tidak yakin bisa bertahan dalamwaktu sebulan ini. Jika oppa ingin memiliki pasangan hidup yang bisa bersamaoppa hingga tua nanti, bukan aku orangnya! Jangan terlalu berharap padaku oppa!Karena aku hanya akan membuatmu kecewa!” Aku berlari meninggalkan Saengie oppayang tertunduk sedih di bangku taman. Mianhae oppa. Aku tidak bermaksudmenyakitimu. Tapi aku tidak berdaya. Untuk berkhayal memiliki usia lebih lamapun aku tak berani.

xXx

Aku terbagun di tengah malam (lagi).Entah kenapa selama 3 minggu ini aku jadi gelisah dan susah tidur. Mungkinkarena waktuku juga tinggal seminggu lagi makanya aku jadi was-was. Ingin cepatbangun berharap bisa melihat mentari secepatnya. Konyol ya aku? Dulu sangattidak peduli dengan sakitku tapi sekarang…

Aku melihat appa yang sedangtertidur di sofa. Dia selalu setia menemaniku disini saat malam hari dan harilibur. Pasti dia begitu lelah karena dari pagi harus bekerja dan malam hariharus merasakan tidur yang sangat tidak nyaman disini. Aku benci padanya tapiaku tidak bisa memungkiri kalau aku juga menyayanginya.

Dan juga Saengie oppa. Dia salahsatu yang membuatku berharap bisa bertahan lebih lama. Sejak kejadian 3 minggulalu saat dia melamarku, aku selalu berusaha menjauhinya dan cuek padanya. Tapilihatlah! Tiap malam dia juga selalu menemaniku. Dia tidur di kursi dengankepala berada di ranjangku. Sehingga dia akan cepat tersadar saat akuterbangun. Tapi tidur dengan posisi seperti itu pasti sangat menyakitkan. Akutidak ingin terlihat jahat padanya tapi aku juga tidak ingin memberinya harapankosong. Aku tidak mau dia merasa begitu sakit saat aku harus pergi untukselamanya. Bukankah semakin kita menyayangi seseorang semakin kita akantersiksa saat dia pergi? Huft!

Aku mencoba duduk di ranjang dengansangat hati-hati takut membuat Saengie oppa terbangun. Aku mengambil ponselkudan mulai membuka folder photo. Aku melihat photo-photo kenanganku bersamaJunnie oppa.

Tes

Sebuah beningan jatuh dari sudutmataku. Aku merindukan Junnie oppa, sangat merindukannya. Sejak kematiannya, rasanya hampir tiap malam aku menangis dalam kesunyianseperti ini. Mungkin ini juga yang membuat kondisiku kian melemah. BahkanSaengie oppa sendiri tidak menyangka akan memvonis aku hanya bisa bertahanselama 1 bulan. Dan sekarang, tinggal seminggu lagi sebelum waktu yangditentukan. Huft.

xXx

Aku duduk di pinggir jendela sambilmelihat pemandangan dan menikmati hangatnya matahari pagi. Pandanganku tertujupada sepasang suami istri yang sedang bercengkerama dengan putri mereka ditaman rumah sakit. Huft! Aku iri melihatnya! Aku merindukan saat-saat sepertiitu!

“Apa yang kaulihat HyoKyung?” Appa menghampiriku dan ikut duduk bersamaku.

“Mereka”.Jawabku dingin tanpa menatapnya.

“Mereka keluargayang sangat bahagia ya. Huft. Appa minta maaf padamu HyoKyung”.

“Kenapa mintamaaf?” Tanyaku cuek.

“Kau begitudingin pada appa. Kau pasti sangat marah kan? Maafkan appa”.

“Aku rindueomma”.

“Appa tau kaumerindukannya. Sudah 2 tahun kau tidak pernah bertemu dengannya lagi. Maafkarena appa selalu melarangmu bertemu dengannya. Tapi maukah kau memaafkan appajika appa mempertemukanmu dengannya?”

Aku langsung menatap appaku setelahdia berkata begitu. Apa aku tidak salah dengar? Appa yang biasanya membentakkudan marah-marah jika aku membicarakan tentang eomma, sekarang malah menawarkanhal ini padaku.

“Appabersungguh-sungguh?”

“Asal kaubahagia, appa akan melakukannya dengan senang hati”. Appa berkata sambiltersenyum padaku. Aku pun ikut tersenyum penuh haru mendengar kata-katanyabarusan.

Ckleek

Aku dan appa langsung mengalihkanpandangan kami ke arah pintu. Saengie oppa masuk sambil mengatur nafasnya.Sepertinya dia berlari menuju kamarku. Ada apa ya? Jangan-jangan keadaankusemakin parah. Aku dan appa bergegas mendekatinya.

“Dokter Heo, adaapa?”

“Aku punya kabarbaik. HyoKyung mendapatkan donor”. Saengie oppa berkata dengan wajah yangberseri-seri. Sepertinya dia serius. Tapi aku hanya bisa terdiam, masih belummempercayai semua ini. Bahkan aku hanya mematung saat Saengie oppa memelukkuhingga dia melepaskan pelukannya lagi.

“Hei?HyoKyung-ah? Kenapa kau diam saja? Seperti patung hidup begitu”. Saengie oppamenatapku kebingungan.

“Oppa serius?Aku tidak sedang bermimpi kan?” Aku menatapnya ragu dan dia langsung memegangkedua pipiku sambil tersenyum.

“Aku serius.Barusan aku dikabari kalau ada orang yang mau mendonorkan organ hatinya kerumah sakit ini. Kau satu-satunya penderita sirosis hati disini. Donor itu akandiberikan untukmu. Ini nyata bukan mimpi”.

“Jadi, aku akanhidup? Appa, aku akan hidup”. Aku menatap appaku yang tersenyum bahagia melihatku,akupun langsung memeluknya. Agh! sudah lebih dari 3 tahun aku tidak pernahmerasakan kehangatan pelukkan appa. Tapi hari ini, aku kembali memeluknyadengan erat.

xXx

Hari ini aku akan dioperasi setelahkemarin Saengie oppa membawa berita baik itu padaku. Entah kenapa hatikurasanya tak karuan. Ada rasa senang dan bahagia tapi ada juga rasa sedih dantakut. Apapun itu alasannya, aku hanya mencoba menutupi kegelisahan hatikudengan senyuman.

Ckleek

“HyoKyung, sudahwaktunya”.

“Appa? Kok appaada disini? Aku pikir appa sudah pergi bekerja”.

“Appa tadi diruangannya dokter Heo. Mana mungkin appa bisa bekerja saat kau mau dioperasibegini”.

“Gomawo appa”.Aku memeluk appaku erat sambil tersenyum. Appa mengusap-usap rambutku danmerangkulku sambil kami berjalan menuju ruang operasi.

xXx

Di depan ruang operasi,kulihat Saengie oppa sudah berdiri disana menungguku. Aku masih tetap menggandeng tangan appa jadi mirip pengantin yang akanmenuju altar saja. Aish! Aku mau dioperasi sempat-sempatnya berpikir tentangpernikahan! Huft! Dag dig dug! Jantungku berdebar-debar semakin kuat. Huwa! Akutakut!

“Appa, akutakut”. Aku memeluk tubuh appa semakin erat.

“Jangan takut.Kau akan sembuh dan akan sehat. Appa percaya dokter Heo akan menyelamatkan mudan menjagamu”. Dia berkata sambil tersenyum. Aku hanya menganggukmendengarnya. Aku pun melepaskan pelukkanku dan berjalan mendekati Saengieoppa.

“Dokter Heo,titip HyoKyung ya”. Appa berkata sambil mengusap-usap rambutku. Saengie oppatersenyum lalu meraih tanganku untuk mengikutinya masuk ke ruang operasi. Saattepat berada di depan pintu ruang operasi, aku menghentikan langkahku.

“Wae HyoKyung?”Saengie oppa menatapku heran.

“Tunggu sebentarya oppa”. Aku melepaskan tangan Saengie oppa dan berbalik. Aku berlari menujuappa dan memeluknya.

“HyoKyung-ah?”

“Aku masih inginmemeluk appa. Maafkan aku ya karena selama ini sudah menjadi anak yang jahatuntuk appa. Aku hanya ingin bilang, walaupun selama ini aku terlihat sepertimembenci appa tapi sesungguhnya aku sangat menyayangi appa”.

“Kau bilangbegini karena appa akan mempertemukanmu dengan eomma kan?”

“Aku kesal padaappa. Aku pikir selama ini appa tidak pernah memikirkan perasaanku. Tapiternyata aku salah”.

“Tidak apa-apa,appa mengerti. Ya sudah, cepat masuklah. Setelah kau sembuh nanti, keinginanmuuntuk bertemu eommamu akan terwujud”. Appa berkata sambil menatapkudalam-dalam. Aku tersenyum bahagia mendengarnya.

“I love youappa”.

“I love youtoo”. Appa mengecup keningku. Setelah itu aku berbalik dan masuk ke ruangoperasi bersama Saengie oppa.

Sampai di ruang operasi, aku menatapperalatan operasi dengan tatapan ngeri. Ya iya lagh! Seumur hidup baru kali iniaku akan dioperasi. Dag dig dug! Huwa! Aku takut!

“Oppa, akutakut”. Aku memeluk punggung tangan Saengie oppa dan membenamkan wajahku padalengannya.

“Jangan takut.Semua akan baik-baik saja”. Saengie oppa tersenyum sambil mengusap-usaprambutku. Yeah! Itu membuatku merasa lebih baik.

Aku berjalan menuju ranjang operasisambil terus menggandeng kuat tangan Saengie oppa. Huft! Ini sangat tidakbiasa! Tapi aku mencoba mengatasi rasa takutku. Banyak hal yang menungguku saataku sembuh nanti. Begitulah caraku menyemangati diri sendiri.

Aku berbaring di ranjang melihatSaengie oppa yang sedang sibuk, begitu juga assistant dokter dan beberapaperawat itu. Saengie oppa mendekatiku dengan membawa sebuah suntikan ditangannya, pasti itu obat bius. Huwa! Aku takut suntik! Aku tak berani melihatsaat dia menyuntikkan obat bius itu ke tanganku. Dan beberapa saat kemudian akumulai kehilangan kesadaran.

xXx

Aku berjalan menuju atap rumahsakit. Sampai di atap, aku menghentikan langkahku karena melihat seorang namjasedang berdiri sambil menikmati pemandangan disana. Dia siapa ya? Aku terus memperhatikannyahingga dia berbalik dan tersenyum padaku.

“Junnie oppa?”Aku berkata dengan ekspresi sangat tidak percaya. Dia sangat tampan, wajahnyabegitu berseri-seri. Kulit putihnya semakin bersinar dengan balutan setelanputih-putih. Dia menghampiriku dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahtampannya.

“Hei?”

“Oppa,bogoshipo”. Aku langsung memeluk tubuhnya.

“Nado HyoKyung”.Dia melepaskan pelukkanku dan menatapku sambil tersenyum.

“Kulihatkeadaanmu sudah lebih baik. Ja, ikut bersamaku berjalan-jalan”. Dia memegangtanganku sementara aku hanya bisa mengangguk-angguk menyetujuinya. Aku tidakpercaya bisa bertemu dengannya lagi.

Junnie oppa menarik tanganku untukmengikutinya. Kami berjalan menuju sebuah pintu yang berdiri di tengah-tengahatap rumah sakit ini. Tapi sejak kapan ada pintu di atap rumah sakit ini? Manatidak ada penyanggahnya. Aku menatap Junnie oppa dengan bingung tapi dia hanyatersenyum dan membuka pintu itu.

Aku tercengang menatap keadaan dibalik pintu itu. Tempatnya begitu indah. Junnie oppa menarik tanganku untukikut melewati pintu itu. Taman hijau yang begitu indah, sangat indah.

“Oppa, tempatnyaindah sekali. Apa ini surga?” Aku berkata takjub sambil menatap Junnie oppa.

“Masih adatempat yang lebih indah lagi”. Dia tersenyum lalu kembali menarik tanganku.

Junnie oppa menggenggam tangankuerat. Selama berjalan dengannya, aku terus saja memperhatikan wajahnya. Senyumindah itu tak pernah sekalipun lepas dari wajahnya yang begitu bersinar. Diaberhenti dan menatapku.

“Lihat itu.Indah kan?” Dia menunjuk ke depan, aku langsung menatap ke arah yang ditunjukolehnya. Wow! Fantastic baby! Sungguh pantai yang sangat indah. Seperti diMaladewa.

“Indah sekalioppa”. Aku berkata sambil tersenyum kagum. Dia langsung menarikku dan berlarimenuju pantai itu. Kami bermain berdua disana, hanya berdua.

xXx

Kami duduk di batang sebuah pohonkelapa yang menjuntai ke arah pantai. Aku menyandarkan tubuh dan kepalaku pada Junnieoppa sementara Junnie oppa mengusap-usap lembut rambutku. Kami berdua sedangmenikmati sunset yang begitu indah di pantai itu. Aku bahkan tak bisaberkata-kata karena begitu kagum.

“Indah sekalioppa”.

“Yeah. Akusangat menyukai sunset di tempat ini karena begitu indah. Saat aku merindukanmudan merindukan semuanya, aku sering kesini. Sinar merah matahari terbenam yangterbias di lautan seolah-olah menggambarkan wajah orang-orang yang kurindukan.Kau HyoKyung. Kau adalah orang yang paling kurindukan”. Dia berkata sambilmenatap sunset di depan kami. Aku melihatnya, matanya berkaca-kaca.

“Oppa, aku inginmenyampaikan hal yang belum sempat kukatakan padamu”. Aku berkata sambilmenatapnya, dia langsung mengalihkan pandangannya ke arah ku.

“Apa ituHyoKyung?”

“Aku inginbilang kalau aku juga mencintai oppa”. Aku menatapnya dalam-dalam sementara diatersenyum padaku, senyum yang tak kumengerti maksudnya. Senyum antara bahagia,sedih, dan juga menyesal. Tapi tak satupun kata keluar dari bibir sexynya.

Warna merah mentari yang membias diwajahnya, semakin membuatnya terlihat sedih walaupun sekarang dia sedangtersenyum. Lama kelamaan, cahaya matahari itu mulai menghilang dan bergantigelapnya malam. Junnie oppa kembali menatap lautan seolah mencari sunset yangbeberapa saat lalu masih kami nikmati.

“Sudahwaktunya”. Junnie oppa berkata sambil menatap lurus ke depan. Tapi kata-katanyamembuatku bingung 501%.

“Waktu apamaksud oppa?”

“Waktu untukkita berpisah. Sudah waktunya kau kembali dan sudah waktunya aku pergi”. Diamelompat turun dari batang pohon kelapa itu dan mengulurkan tangannya padakuuntuk membantuku ikut turun.

“HyoKyung, akusudah tau kok. Aku tau kau juga mencintaiku. aku juga tau kau mencintai dokterHeo. Aku tau banyak hal yang telah terjadi. Dokter Heo akan menjagamu danmemberimu kebahagiaan. Hiduplah berbahagia bersamanya. Sudah waktunya HyoKyung.Kembalilah padanya”. Junnie oppa mundur perlahan-lahan meninggalkanku yangberdiri mematung mendengar kata-katanya tadi. Aku benar-benar tidak mempercayaihal ini. Aku tersadar saat Junnie oppa semakin menjauh.

“Oppa…. Gajima!Jangan tinggalkan aku lagi!” Aku berlari mengejarnya tapi dia tetap berjalanmundur sambil melambaikan tangannya padaku dan tentu saja, senyum itu takpernah lepas dari wajahnya. Aku tak menyerah, aku kerahkan semua tenagaku untukmengejarnya.

Sebuah sinar putih muncul daribelakang Junnie oppa, seperti menariknya masuk ke dalam sinar itu. Sinar kecilitu semakin lama semakin membesar dan membuatku silau. Junnie oppa juga semakinjauh dari pandanganku. Aku menutupi mataku dengan kedua tangan agar cahaya itutak terlalu menyakiti kornea mataku lagi. Saat kurasa cahaya itu sudahmenghilang, aku memberanikan diri membuka mataku lagi.

xXx

Aku membuka mataku perlahan-lahan.Keadaannya sudah berubah. Aku berbaring di ranjang ruang rawatku. Saengie oppayang duduk di kursi dengan gelisah, langsung menghampiriku sambil tersenyumlega.

“HyoKyung, kausudah sadar?” Saengie oppa menatapku dengan cemas.

“Wae oppa? Oppapanic sekali?”

“Aku sangatmengkhawatirkanmu. Keadaanmu itu sangat lemah. Kau kritis selama 3 hari”.Saengie oppa mengusap-usap rambutku dengan wajah yang masih begitu khawatir.Aku meraih tangannya dan menggenggamnya erat.

“Aku baik-baik saja oppa”. Aku tersenyum padanya dan kulihat rasa cemas yang diarasakan berangsur-angsur menghilang dari wajah cute itu.

Aku melihat ke sekeliling ruangankumencari appa. Tapi yang ada disini hanyalah Saengie oppa. Aku mengambil ponselkudan melihat jam, 10:00 A.M. Pasti appa sedang bekerja sekarang. Aku tak sabarmelihat ekspresinya saat dia tau aku sudah sadar. Dia pasti sangat senang.

xXx

Aku duduk di ranjang sambil bermaindengan MinWoo, salah satu boneka Tazmaniaku. Entah sejak kapan boneka itu adadisini. Tapi yang jelas, boneka itu sudah ada saat aku tersadar dari komakuseminggu yang lalu.

Ckleek

Aku langsung mengarahkan pandangankuke pintu saat ada seseorang yang masuk ke ruang rawatku. Seseorang dengan wajahyang begitu kurindukan berjalan mendekatiku. Lebih dari 2 tahun aku takmelihatnya tapi sekarang dia muncul disini. Aku benar-benar tidak percaya eommadatang.

“HyoKyung,bagaimana keadaanmu?” Eomma berdiri di samping ranjangku.

“Eomma, akusangat merindukan eomma”. Aku memeluknya erat dan dia mengusap-usap rambutku.

“Eomma jugasangat merindukanmu”.

“Bagaimana eommatau aku ada disini?”

“Appa datangmenemui eomma dan meminta eomma kemari untuk bertemu denganmu”.

“Jinjja? Jadiappa benar-benar memenuhi janjinya padaku? Lalu appa dimana? Aku belum bertemudengannya sejak aku sadar karena aku selalu tidur lebih awal dan bangun saatsudah hampir jam 10. Tapi biasanya hari libur seperti ini dia menemanikuseharian disini”.

“HyoKyung, kautidak tau?”

“Tau apa eomma?”

“Appa mu yangmendonor organ hatinya padamu”.

Dug! Jantungku serasa berhenti saatmendengarnya. Bagiku suara lembut eomma terdengar seperti petir yangmenggelegar di pagi yang cerah. Tidak mungkin! Ini semua tidak mungkin terjadi!

Ckleek

“HyoKyung, kaubaik-baik saja? Kenapa kau terlihat begitu shock?” Saengie oppa yang baru masukruang rawatku langsung menghampiriku dengan cemas.

“Oppa, kenapaoppa tidak bilang kalau yang mendonor untukku adalah appa?!” Aku berkata denganemosi setengah membentak pada Saengie oppa. Dia hanya terdiam dengan ekspresikaget. Aku menatap eomma dan Saengie oppa bergantian meminta jawaban ataspertanyaanku. Tapi yang kudapatkan malah ekspresi serba salah bukannyajawabannya dari pertanyaanku.

Ckleek

“Eomma…..”.Seorang gadis kecil yang berumur sekitar 4 tahun memanggil eomma pada eommaku danlangsung berlari memeluknya. Di belakangnya seorang pria yang kuperkirakansedikit lebih muda dari appaku masuk dan menghampiri kami. Diapun tersenyumpadaku yang menatapnya dengan penuh curiga.

“Anda siapa?”Tanyaku padanya. Dia menatap eommaku lalu kembali tersenyum padaku.

“Kau HyoKyungkan? Gadis yang sangat manis. Aku suami eommamu, ayah tirimu. Dan ini adiktirimu, Kim HyoRin”. Dia berkata dengan enteng sambil tersenyum tanpa bebanpadaku. Mwo?! Ayah tiri?! Mereka?! Anak mereka?! Jadi aku…

Aku turun dari ranjang dan langsungberlari menuju atap. Tes. Sebuah beningan mengalir dari mataku dan langsung kuhapussambil terus berlari. Aku tak peduli walaupun aku masih lemah. Aku tak tahanmenerima kenyataan ini.

Aku berhenti berlari saat berada ditengah-tengah atap gedung. Langkahku gontai menuju pinggiran atap. Aku berdirimematung sambil menangis sesenggukkan. Semua ini menyakitkan, sangatmenyakitkan. Ternyata selama ini appa begitu terluka tapi aku malah menaburgaram di atas lukanya. Dan sekarang, dia malah rela mati demi aku! Aku gadisterbodoh di dunia ini! Benar-benar bodoh! Hiks!

“Appa… huhuhu…appa… hiks… appa…”. Aku menangis sambil menjerit pilu memanggil appaku.

“HyoKyung, kaubaik-baik saja?” Saengie oppa menyapaku lembut. Aku bergegas menghapus airmataku.

“Jangan oppa!Jangan kesini! Hiks! Jangan lihat aku! Aku tidak ingin ada yang melihatkusedang menangis dan terlihat menyedihkan seperti ini”.

Aku berkata sambil terus berusahamenghapus air mataku yang tidak mau berhenti mengalir. Beginilah aku saatbenar-benar sedih dan terluka. Agh! Sedetikpun air mata ini menolak untukberhenti. Hatiku sakit! Sangat sakit! Saengie oppa menarik tanganku dengan kuatdan membuatku berbalik dalam satu sentakan. Dia langsung memelukku erat sesaatsetelah aku berbalik.

“Oppa…”. Akuberkata lirih.

“Tenang saja.Aku tidak melihatmu. Menangislah di dadaku. Menangis dalam pelukkanku.Menangislah hingga kau merasa lega”. Saengie oppa berkata sambil mengusap-usaprambutku.

Hiks. Seperti ribuan pisau yangmengiris-iris hatiku. Rasanya seperti dicabik-cabik. Hatiku sangat sakitmenerima kenyataan pahit ini. Kemeja biru muda yang dikenakan Saengie oppa dibalik jas putihnya sudah basah oleh air mataku. Tapi air mataku malah semakinderas. Agh. Aku terus membenamkan wajahku pada dada Saengie oppa. Aku tidakingin seorangpun melihatku sedang menangis, bahkan Saengie oppa sekalipun.

xXx

Aku dan Saengie oppa duduk dipinggiran atap gedung sambil menatap lurus ke depan. Air mataku baru bisaberhenti setelah aku puas menangis hingga 1 jam lebih dan membuat kemejaSaengie oppa basah kuyup.

“Kenapa oppatidak memberitahukan padaku? Kenapa oppa biarkan aku seperti orang bodoh yangtidak tau apa-apa?” Aku berkata sambil menatap kosong ke depan.

“Aku sendiri begituterkejut mengetahuinya dan dia memintaku untuk tidak memberitahukannya padamu”.Dia berkata sambil menunduk. Aku menatapnya, menunggunya melanjutkan cerita.

Heo YoungSaeng POV

Aku mengetahui itu semua di hari kauoperasi. Pagi itu aku memeriksa data orang yang mendonor padamu. Aku begituterkejut dan shock saat kulihat nama appamu tertera disana.

Ckleek

Aku berbalik saat ada seseorang yangmasuk ruanganku. Kulihat appamu muncul di balik pintu. Dia masuk denganragu-ragu dan aku memberinya isyarat untuk duduk. Aku pun duduk di hadapannyasambil menatapnya.

“Apa sayamengganggu waktu anda dokter Heo?”

“Ani. Sebenarnyasaya juga ingin menanyakan beberapa hal pada pak Song”.

“Tentangpendonoran itu ya?”

“Ne. Apa alasanpak Song melakukan ini?”

“Alasanku karenaHyoKyung”. Appamu berkata sambil tersenyum, membuatku mengernyitkan keningkarena bingung menangkap maksudnya.

“HyoKyung adalahhidup saya dokter. Hanya dia satu-satunya yang saya miliki. Saya tidak bisahidup tanpa dia. Melihatnya putus asa saat anda melamarnya, hati saya begitusakit. Saya merasa gagal menjadi appanya saat melihatnya seperti itu. Hal yangpaling ingin saya lihat di dunia ini adalah melihatnya bisa tersenyum bahagia”.Appamu berkata sambil menunduk. Aku hanya diam menunggunya melanjutkan cerita.

“Sudah lebih 2tahun belakangan ini dia kehilangan kebahagiaannya karena ulah kami sebagaiorangtuanya. Tapi sejak kenal dengan dokter dan HyungJun, saya melihatkeceriaannya kembali. Walaupun dia sempat sedih saat HyungJun meninggal, tapidokter mampu melukiskan senyuman di wajahnya. Saya bisa melihat dia mencintaidokter tapi dia tak berani menunjukkan perasaannya karena dia takut membuatdokter kecewa. Saya sangat sedih melihatnya. Dia begitu berharga bagi saya. Dansaya akan melakukan apapun demi kebahagiaannya”.

“Apa pak Songtau kebahagiaannya?”

“Dia bahagiabersama anda dokter. Saya bisa melihat dari sorot matanya. Saya juga yakindokter bisa membahagiakannya. Saya merasa yakin harus melakukan ini jika ada dokteryang akan menjaganya”.

“Tapi pak Songadalah appanya”.

“Hanya ini yangbisa saya lakukan dokter. Selama ini saya sudah membuatnya sedih. Saya inginmenebus kesalahan saya padanya dengan memberikan kebahagiaan padanya. Sayatidak menyesal harus pergi jika bisa melihatnya bahagia dari atas sana”.

“Pak Songmenyesal karena telah berselingkuh dan membuat eomma HyoKyung pergi?”

“Hah? Sayaberselingkuh? Bukan saya yang berselingkuh dokter tapi eommanya lagh yang telahmengkhianati saya. Selama ini saya memang membiarkan HyoKyung salah pahamkarena dia begitu menyayangi eommanya. Saya tidak ingin dia kecewa karenamengetahui ulah eommanya. Saya sengaja menjauhkan mereka agar HyoKyung tidaktau yang sebenarnya walaupun akhirnya HyoKyung jadi membenci saya”. Appamuberkata dengan tatapan yang begitu sedih. Aku hanya terdiam dan merasa bingung.Lalu appamu bangkit dan tersenyum. Aku pun ikut berdiri.

“Saya maukembali ke ruang rawat HyoKyung dulu. Dia pasti begitu gugup akan dioperasi.Terima kasih sudah meluangkan waktu anda untuk mendengarkan cerita saya dokter.Ough iya, jangan beritahu HyoKyung tentang semua ini ya. Saya tidak ingin diabersedih”.

“Tapi pakSong…”.

“Jaga HyoKyungya dokter. Saya mewakili HyoKyung menerima lamaran dokter. Saya yakin saatsembuh nanti dia pasti ingin menikah dengan dokter. Saya juga begitu bahagiabisa memiliki menantu seperti dokter Heo”. Appamu menepuk bahuku lalumeninggalkan ruanganku.

Heo YoungSaeng POV End

“Aku hanya bisaberdiri mematung mendengar kata-katanya. Aku begitu bingung harus memberitahumuatau tidak”. Saengie oppa menatapku tapi aku membuang tatapanku darinya karenaaku sudah tak mampu membendung air mataku lagi.

“SudahlahHyoKyung. Aku tidak akan melihatmu saat sedang menangis. Menangislah di dalam pelukkanku”.Saengie oppa merangkulku dan menyandarkan kepalaku pada dadanya sambilmengusap-usap rambutku dengan lembut.

Ternyata kata-kata Saengie oppa saatkami berada di Namsan Seoul Tower tempo hari benar. Harusnya aku menanyakankejadian yang sebenarnya. Begitu bodoh saat tidak tau apa-apa tapi malah asalmengambil kesimpulan hingga itu menjadi suatu kesalahpahaman. Dan saatkesalahpahaman itu sudah berubah menjadi penyesalan besar, maka air mata puntak akan ada artinya lagi.

xXx

Aku berada di makam appa sendirian.Air mataku mengalir satu-persatu membasahi pipi chubby ku. Sakit, begitu sakitmelihat gundukan tanah bertuliskan nama appa. Sakit, karena aku tau pastipenyebabnya harus pergi adalah untuk menyelamatkanku.

“HyoKyung-ah?”

“Ada apa menemuikueomma?” Aku menjawab tanpa melihat ke arahnya.

“Eomma inginmengajakmu ikut tinggal bersama kami di DaeJeon”.

Daejeon? Aku ke Daejeon? Mau jadiapa aku disana? Dari kecil tinggal di Seoul, besar kok mau pindah ke Daejeon.Huft. Aku berbalik menatap eommaku.

“Eomma,ahjusshi, dan HyoRin, aku sangat berterima kasih atas kebaikan hati kalian.Tapi aku memilih untuk tinggal disini saja. Aku akan terus berada di Seoul”.

“Wae eonni-ah?Eonni tidak suka pada HyoRin ya?” Gadis kecil itu memelukku tapi aku hanya diamtak membalas pelukkannya.

“Ania. Tapieonni tidak ingin pindah karena eonni tumbuh di Seoul”. Aku berkata pelan dangadis itu melepaskan pelukkannya lalu menatapku.

“Eonni sungguhtidak membenci HyoRin?”

“Ne, aku tidakmembencimu”. Aku tersenyum menatapnya. Yeah! Yang salah orangtua mereka, takadil jika aku harus membencinya hanya karena kesalahan yang tak dia lakukan.

“Tapi kautinggal bersama siapa HyoKyung? Kau sendirian di Seoul”.

“Sebentar lagiaku tidak akan sendirian lagi eomma. Eomma dan ahjusshi tidak perlu khawatir”.

“Maksudmu?”Eomma mengernyitkan keningnya hingga alisnya nyaris bertaut.

Aku mengangkat tangan kiriku danmenunjukkan sebuah cincin mungil yang melingkar indah di jari manisku. Eommadan Kim ahjusshi saling berpandangan lalu kembali menatapku. Aku hanyatersenyum tipis melihat ekspresi mereka.

“HyoKyung,kau…”.

“Ne eomma. Akusudah menerima lamaran seseorang yang ditunjuk appa untuk mendampingiku.Seseorang yang akan terus menemaniku hingga kami tua nanti”.

“Siapa diaHyoKyung?” Eomma dan Kim ahjusshi menatapku penasaran.

“Dia”. Akuberkata sambil menunjuk Saengie oppa yang baru datang dan sedang berjalan kearah kami. Eomma dan Kim ahjusshi langsung berbalik melihat arah yang kutunjuk.

“Dokter Heo?”Eomma dan Kim ahjusshi berkata berbarengan, saling tatap tak percaya lalumenatapku dan menatap Saengie oppa secara bergantian.

“Ne eomma. Diaorangnya. Dia calon suamiku dan calon menantu kalian”. Aku berkata sambilmenggandeng tangan Saengie oppa.

“Eomma mertua danappa mertua salam kenal dari menantu kalian. Dan kau juga adik ipar”. Saengieoppa tersenyum lalu membungkuk memberi salam.

“Ternyataorangnya dokter Heo. Kalau begitu kami tidak akan khawatir lagi”.

“Terima kasihsudah percaya pada saya. Saya akan menjaga HyoKyung seumur hidup saya. Sayaberjanji”. Saengie oppa berkata dengan gaya soknya lagi membuatku mendaratkansebuah cubitan gemas di lengannya. Sementara eomma dan Kim ahjusshi tersenyummelihat kami.

“Eomma dan appamertua, saya datang kesini untuk menjemput HyoKyung. Saya mau mengajaknyamencari berbagai keperluan untuk pernikahan kami nanti. Tolong berikan sayaizin”. Saengie oppa berkata seperti seorang actor dalam drama dan berhasilmembuatku menggeleng-gelengkan kepalaku melihat tingkahnya.

“Ne dokter Heo.Jaga HyoKyung baik-baik ya. Kami titip HyoKyung”.

“Itu pasti. Itutugas saya untuk menjaganya. Kalau begitu kami permisi dulu”.

Saengie oppa menggenggam tangankudan mengajakku meninggalkan tempat itu. Setelah berjalan beberapa langkah, akumelepaskan pegangan tanganku lalu menggandeng tangannya dan bergelayutan di lengannya.

Sudah sebulan berlalu sejak kematianappa untuk menyelamatkanku. Yang appa mau hanyalah melihatku tersenyum bahagia.Aku tidak ingin membuatnya merasa sia-sia telah berkorban untukku. Jadi mulaisekarang aku akan tersenyum bahagia agar dia juga merasa bahagia melihatku dariatas sana. Neomuna hago shipeun mal, yeongwonhi saranghamnida nae appa.

xXx

Tamat

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s