~ FF % My Heart % Two Shoot : The First ~

FF: ~ MY HEART {%} Two Shoot : The First {%} By : Uland / Song Hyo Kyung {%} ~

Cast : Song Hyo Kyung,Heo Young Saeng, Kim Hyung Jun, Kim Ki Bum, Other Cast.

Author : Wulan(Song Hyo Kyung)

Genre: Family, Romance, Funny, Sad

xXx

Akumembuka mataku perlahan-lahan. Bau obat-obatan mulai menyeruak di hidungkumembuat kepalaku pusing. Aku melirik ke samping. Ku lihat appa bangkit daritempat duduknya dengan wajah cemas lalu langsung mendekatiku.

“HyoKyung, apa yang kau rasakan? Manayang sakit?”

“Entahlah. Aku seperti mati rasa. Untukapa membawaku ke rumah sakit?! Dan apa yang appa lakukan disini?!”

“Berhentilah bersikap ketus! Kau sedangsakit!”

Sakit?!Apa pedulinya kalau aku sakit?! Biarkan saja aku mati! Setelah aku mati, diahanya perlu mengurusi pemakamanku lalu hidupnya akan tenang dan damai tanpaperlu memikirkanku lagi!

“HyoKyung, bagaimana keadaanmu?”

Akutersadar dari lamunanku saat seorang namja berpakaian putih menghampiriku danmenyapaku dengan suara super duper halus. Pasti dia dokter!

“Mana ku tahu! Anda yang dokter kenapabertanya pada saya?!” Aku tidak peduli kalau terkesan tidak sopan. Hatikubegitu kesal karena terbangun di rumah sakit ditambah lagi tanganku sudahditempeli infuse. Swear! I hate infuse!

“Anak bapak ketus sekali ya. Hehe”. Diatertawa kecil sambil mengusap-usap rambutku membuatku semakin muak. Memangnyaaku anak kucing apa?!

Akumengangkat wajahku berniat memasang tampang jutek padanya. Tapi apa boleh buat,senyum dokter muda itu seperti menghipnotisku. Aku hanya bisa terbengongmemandangnya. Kulihat nama yang tertera di jas putihnya : HEO YOUNG SAENG.

“Kenapa bengong gadis manis?” Diatersenyum lagi. Membuat matanya menghilang. OMG! Jauhkan senyum itu dariku! Akutidak cukup kuat iman melihatnya!

“Aku mau pulang dokter Heo. Aku bencitempat ini”. Jawabku cuek. Tapi reaksinya? Ya ampun, dia senyum lagi. Nihdokter sengaja tebar pesona atau gimana sih?!

xXx

Akudan appa duduk di ruangan dokter Heo. Dokter Heo terlihat cemas menatapku.Jangan-jangan aku menderita sakit parah dan akan segera mati. Nasib-nasib.

“Dokter, bagaimana keadaan putri saya?Kenapa ekspresi dokter begitu?”

Appaterlihat cemas karena dokter Heo begitu mencurigakan. Tapi memang sepertinyaada yang tidak beres denganku. Seingatku kemarin aku pingsan setelah muntahdarah dan terbangun di tempat mengerikan ini.

“Anak bapak mengidap sirosis hati”.Dokter Heo berkata sambil menatapku miris.

“Mwo?” Appa sepertinya sangat shockmendengarnya sementara aku hanya diam dan memperhatikan ruangan itu dengancuek.

“Ada sel kanker yang aktif di organhatinya sehingga menyebabkan sirosis hati”. Dokter Heo menunduk sedih begitujuga appaku. Mereka berdua membuatku bingung.

“Well. Jadi intinya aku akan segeramati. Terimakasih untuk informasinya dokter”. Aku berdiri setelah mengatakanhal itu. Appa dan dokter Heo semakin kaget melihatku.

“HyoKyung, kenapa kau tenang-tenangsaja? Saya tidak bercanda”. Dokter Heo sepertinya melihatku menanggapi semuaini sebagai candaan. Ya ampun.

“Aku tau dokter serius! Jadi aku mestigimana? Masa aku harus ikutan shock lalu bilang WOW! Fantastic Baby?! Sudahlah,semua orang kan akan mati pada akhirnya. Hanya waktu dan caranya saja yang berbeda”. Aku keluar tanpa memperdulikanappa dan dokter Heo yang menatapku seperti melihat hantu. Eh, tunggu dulu! Kokhantu sih?! Kan aku belum mati! Enak saja!

Bruukk

“Aduh”. Aku merintih saat siku tangankuterbentur dinding akibat tabrakan dengan seseorang. Gini nih kalau jalan sambilnyari uang receh, liat ke bawah mulu.

“Kau baik-baik saja?” Dia menghampirikudan memperhatikanku dengan cemas. Mentang-mentang aku pakai pakaian pasien, diasampai segitunya. Padahal dia juga pasien.

“Tidak apa-apa kok. Terimakasih sudahmenabrakku!” Aku berlalu setelah berkata ketus padanya. Dia menatapkuterbengong tapi tidak mengurangi ketampanan pada wajahnya.

xXx

Akududuk di taman rumah sakit dengan perasaan campur aduk. Baru 3 hari dirawattapi rasanya seperti 3 tahun. Satu hal yang membuatku tenang, aku tak perlumelihat appa pada siang hari karena dia tetap sibuk bekerja.

“Hei. Boleh aku duduk disini?” Aku melihatsekilas ke arah namja yang menyapaku. Dia manusia bulldozer yang kemarin. Akubilang bulldozer bukan karena postur tubuhnya tapi karena dia berjalan tanpamemperhatikan hal di depannya, asal tabrak saja seperti bulldozer.

“Uhm”. Aku hanya menggumam, malasmenanggapinya.

“Masih ingat padaku? Kemarin kitatabrakan loh”. Aku langsung menatapnya tak percaya. Tabrakan kok bangga?Memangnya dia itu sebangsa semut yang kalau bertemu wajib tabrakan?! Dasaraneh!

“Ne”.

“Terus, kau baik-baik saja kan? Tidak terlukakan karena tabrakan kemarin?” Namja itu melihatku dengan seksama. Kumatovernya.

“Setidaknya aku masih hidup sampaisekarang”.

“Syukurlah kalau kau baik-baik saja.Ough iya, boleh tau namamu?”

“HyoKyung. Song HyoKyung”.

“HyoKyung? Kalau aku Kim HyungJun”.

“Uhm”. Aku hanya menanggapinya dengancuek berharap namja itu tidak membuka bibir sexynya itu lagi.

“Kau pasien baru ya disini? Aku barumelihatmu kemarin”. Kan dia berkicau lagi! Ihs!

“Ne. Terus kenapa? Apa disini adatradisi kalau pasien baru harus dibully?”

“Hehe. Bukan begitu. Ini kan bukansekolah. Aku hanya ingin memastikan saja kalau kau benar pasien baru”. Diaberkata ramah padaku tapi aku malas menanggapinya.

Akuhanya melihat ke depan memperhatikan dedaunan yang terbias sinar mentari.Perlahan aku mulai masuk dalam lamunanku. Namja itu sepertinya tau diri. Diamengunci mulutnya dan duduk diam di sampingku.

xXx

Ckleek

Akumasuk ke ruanganku. Dokter Heo yang sedang melihat keluar jendela langsungberbalik menghampiriku.

“Kau darimana saja? Aku sudah menunggumudari tadi”.

“Ada apa?”

“Kau harus banyak istirahat”.

Huft.Aku membuang nafasku dengan lemas. Masa aku harus istirahat terus sih?Lama-lama aku bisa jadi Sleeping Beauty.

Akududuk di samping jendela sambil melihat keluar. Dokter Heo yang tadi masihberada di depan pintu sekarang ikut duduk di sampingku. Dia menempeli telingakiriku dengan sebuah earphone, yang sebelah lagi masih tetap menempel ditelinganya. Aku menatapnya bingung tapi lagi-lagi dia tersenyum. Habislah aku!

DokterHeo memejamkan matanya dan menyunggingkan senyuman sambil larut dalam symphonylagu. Lagunya begitu indah. Tunggu dulu, aku kenal lagu ini. Ini lagu Wings OfThe World milik SS501. Aku memperhatikan dokter Heo dari samping. Dia manissekali, begitu tampan dan yeah! Aku tidak tau kata apa yang cocok untukmendeskripsikan keindahan paras dokter muda ini. Saat aku sedang sibukmenikmati wajahnya, tiba-tiba dokter Heo membuka bibir mungilnya dan mulaibernyanyi.

“Himi deulmyeon swieoyo jichin nalgae jamshijeobeodugo

geudae useobwayo boinayo jjalbeunchotppulgateun geu sesang

Gieokhaeyo urin haneureul naljyo

jayuroun sesanggwa geu kkumeul wihae

hal su itjjyo neul kkum kkweo watdeonhaengbokhan useum gadeukhan got

mandeul su itjjyo”

Akumelongo menatapnya. Benarkah itu suara dokter Heo? Itu suara terindah yangpernah ku dengar. Suara yang begitu manyentuh hati. Oh My! Dokter Heo begitusempurna. Aku bisa jatuh cinta padanya jika dia begini terus.

“Wae HyoKyung-ah?”

“A… ania”. Aku membuang pandanganku daridokter Heo. Entah sejak kapan dia sudah menatapku. Yang jelas aku tidak sadar,seperti baru terkena hipnotis.

“Lagunya bagus sekali ya. Aku seringtiba-tiba menangis saat mendengarnya”.

“Ne, dokter Heo. Sangat menyentuh”.

“Hei. Jangan panggil aku dokter Heo.Terlalu formal HyoKyung. Panggil saja aku oppa”.

“Oppa? Tapi kan…”

“Mwo? Kau mau bilang aku sudah tua? Kitahanya berbeda 8 tahun. Pokoknya panggil aku oppa”.

“Uhm. Ne Saengie oppa”. Aku tersenyumpadanya.

“Wow! Amazing”. Dia tersenyum lagi padaku.Senyum yang semakin dilihat akan semakin indah. Aku bingung padanya. Sebenarnyaapa yang kulakukan sampai dia tersenyum begitu manis padaku?

“Wae oppa?”

“Ania. Hanya saja baru kali ini akumelihatmu tersenyum. Kau sangat manis saat tersenyum”.

Diatersenyum lebar menampakkan deretan gigi putihnya yang rapi. Aku baru sadarkalau tadi aku tersenyum. Aku merasa konyol. Aku pun kembali tersenyummelihatnya.

xXx

Akududuk melamun di ranjang. Tiba-tiba pandanganku tertuju ke arah pintu. Kulihatsi manusia bulldozer mengintip dari kaca yang terpasang di pintu. Aku beranjakdan menghampirinya.

“Ada apa lagi?”

“Aku ingin mengajakmu ke atap rumahsakit. Mau ya”.

“Tapi ini sudah sore”.

“Justru sore itu moment yang tepat”.

Akumenatapnya dengan malas. Entah apa maksud dari namja tampan yang usianyasepertinya tidak jauh beda dengan Saengie oppa itu. Aku baru akan membukamulutku untuk bilang tidak, tapi belum sempat berkata apa-apa dia sudahmenyeretku menuju atap. Aku malas mengikutinya tapi aku juga malas berontakkarena sepertinya tubuhku makin melemah. Aku hanya membiarkan tubuhku di seretolehnya hingga ke atap.

Sampaidi atap, dia tersenyum sambil memejamkan matanya merasakan semilir angin yangmenerpanya. Sedangkan aku hanya berdiri bersandar pada pembatas pinggiran atapsambil melihat pemandangan.

“HyoKyung, tau film super romantic tapiberakhir tragis berjudul TITANIC?”

Titanic?Untuk apa dia menanyakan hal tidak penting begitu?! film yang banyak adeganpornonya, membuatku jijik. Aku hanya melirik ke arahnya sekilas lalu kembalimelihat ke depan.

“Tidak tau? Jack dan Rose?” Diasepertinya penggemar berat film itu. Melihatku tidak merespon, ekspresinyaseperti tidak terima.

“Tau sih. Tapi ada beberapa adegan yangtidak kusuka di film itu”. Jawabku cuek masih menatap ke depan.

“Adegan yang mana?”

“Aku tidak suka adegan yang berbauvulgar. Selebihnya aku suka”.

“Ough begitu. Kau mau coba salah satuadegan di film itu?”

Akumelihat ke arahnya dan menatapnya curiga. Salah satu adegan? Yang mana? Adegantenggelam? Airnya saja tidak ada! Atau jangan-jangan…

“Eh, bukan adegan vulgar kok”. Diasepertinya tau isi pikiranku dan langsung menepis kecurigaanku padanya.

“Lalu adegan yang mana? Jangan aneh-anehdech!”

“Adegan yang di anjungan kapal”.

Anjungan kapal? Lebih ngawur lagituh! Ini kan atap gedung bukan di kapalpesiar super mewah. Jangankan kapal pesiar, kapal-kapalan kertas pun tak ada.

“Ikut denganku”.Dia menarik tanganku sambil tersenyum. Aku hanya bisa pasrah mengikutinya.Kalau aku punya tenaga, pasti dia sudah ku bogem.

“Ini tempatnya”.Dia berhenti di ujung kanan atap rumah sakit. Aku melihat sudut tempat itudengan seksama. Memang mirip anjungan kapal Titanic sih. Aku melihat padanyadan dia tersenyum.

“Naiklah. Kauakan merasakan menjadi Rose”.

“Naik?! Tidakagh! Aku phobia ketinggian!”

“Jangan takut!Aku akan memegangmu. Tutup saja matamu sambil naik dan dengarkan kata-kataku”.Dia selalu memberikan senyum itu padaku. Tapi entah kenapa senyumnya membuatkumerasa nyaman. Akhirnya aku menuruti kata-katanya dan menutup mataku.

“Pelan-pelan ya.Ikuti instruksiku”. Aku hanya mengangguk dan mengikuti kata-katanya. Diamerentangkan tanganku perlahan dan memegang pinggangku.

“Sudah. Kau bisamembuka matamu sekarang”. Dia membisik di telingaku dan aku mulai membukamataku perlahan. Keadaannya benar-benar seperti di film Titanic. Semilir anginyang berhembus membuat kami terlihat seperti benar-benar di anjungan kapal.Ditambah latar senja dengan matahari yang mulai kemerahan.

“Bagus sekalioppa. Aku benar-benar seperti Rose”.

“Hebat. Ada 2hal berharga yang aku dapatkan karena melakukan hal ini”.

“Hah? Maksudoppa?” Aku menatapnya bingung.

“Yang pertama,aku mendengarmu memanggilku oppa. Dan yang kedua, aku bisa melihatmutersenyum”. Dia terlihat sangat bahagia entah apa sebabnya. Tapi kata-katanyatadi mampu membuatku kembali tersenyum. Dan hari ini 2 orang sekaligus yangmelihatku tersenyum.

xXx

Aku terbangun saat matahari membiasdi wajahku. Aku melihat jam pada ponselku, sudah jam 8 pagi. Aku duduk danmengucek-ucek mataku. Saat melihat ke jendela, aku sedikit terkejut mendapatiseorang namja berada di kamarku dan sedang menatap keluar jendela. Namja itumemakai kemeja hitam panjang yang digulung hingga siku dan memakai celana jeanspanjang. Tapi dia siapa? Aku terus memperhatikannya hingga dia berbalik danmembuatku semakin terkejut saat melihat wajahnya.

“Kau sudahbangun?” Dia berjalan mendekati ranjangku. Aku hanya terpaku menatapnya. Wow! Saengieoppa keren sekali. Memakai pakaian informal dan dengan wajah cute begitu, pastibanyak orang yang akan mengira dia baru berusia 23 tahun.

“Kenapamenatapku begitu? Aku tampan ya?” Dia berkata sambil memainkan alisnya,membuatnya terlihat lucu.

“Oppa sangat cantik”.Aku berkata dengan wajah setengah mengejek. Dia memanyunkan bibir mungilnyayang sangat menggemaskan itu. Dug! Jantungku bisa copot melihatnya.

“Kau kurang ajarsekali! Huft!” Dia bersungut-sungut sambil terus memainkan bibir mungilnya yangsedang manyun itu. Aish! Aku sudah tidak kuat lagi melihatnya!

“Oppa sih kurangkerjaan. Untuk apa berpakaian seperti itu?”

“Aku sedang offhari ini. Jadi aku mau mengajakmu jalan-jalan. Kau pasti bosan di rumah sakitterus. Cepat ke kamar mandi dan berpakaian yang rapi. 15 menit harus selesai!”Dia keluar ruang rawatku sambil cemberut. Sepertinya dia sedikit marah padaku.Tapi kenapa marah? Aku kan jujur. Suruh siapa dia punya wajah secantik ituuntuk ukuran seorang namja?!

xXx

Aku keluar kamarku dan melihatsekeliling mencari Saengie oppa. Aku melihatnya menunggu di kursi tunggu sambilmenatap ponselnya. Aku pun berjalan menghampirinya.

“Oppa?”

“27 menit 43detik aku menunggumu”. Dia berkata sambil menunjukkan stopwatch di ponselnya.Astaga! Aku pikir dia berkirim pesan atau membuka internet tapi dia malahmenghidupkan stopwatch untuk menghitung lamanya waktu yang dia habiskan untukmenungguku. Dasar dokter yang aneh!

“Stopwatch opparusak tuh”.

“Enak saja kalaubicara! Dasar gadis menyebalkan!” Dia beranjak dari tempatnya duduk danberjalan menuju pintu keluar. Aku hanya melongo melihatnya meninggalkanku.Sampai pada akhirnya dia berbalik dan menghampiriku lagi.

“Bukannya jalanmalah melongo saja seperti orang bodoh!” Dia berkata ketus sambil menariktanganku. Gila! Aku baru tau kalau dia bisa marah. Aku hanya diam mengikutilangkahnya yang menyeretku dan memaksaku melakukan semua perintahnya.

xXx

Selama perjalanan, aku hanya diamsambil sesekali meliriknya menyetir. Wajahnya sangat imut walaupun dia sedangcemberut begitu. Dia membelokkan mobilnya ke tempat parkir sebuah restaurant.Dan lagi-lagi dia main paksa saja. Aku hanya diam saat dia memesan hampir semuamenu di restaurant itu. Gila banget dia!

“Nah, saatnyamakan”. Dia tersenyum lalu mulai menyantap makanannya. Aku melirik lobsterbakar yang menggoda hatiku tapi saat aku mau mengambilnya, tiba-tiba diamemukul tanganku. Aku menatapnya bingung tapi ekspresinya malah seperti soktidak tau apa-apa. Aku kembali melirik ayam bakar dan berbagai makanan tapitetap saja dia memukul tanganku saat aku mau menyentuhnya.

“Aku lapar oppa!Kenapa aku tidak boleh makan?!”

“Bukan tidakboleh makan! Tapi makanan yang kau sentuh itu semua dibakar! Lihat tuh bekasbakarannya yang berwarna hitam! Itu bersifat karsinogen alias pemicu kanker!Mau kankermu merambat ke organ lain?!” Dia berkata dengan gaya soknya.

“Tapi makananyang oppa pesan semuanya dibakar”. Akumenjawab dengan wajah memelas.

“Ini semuauntukku. Yang ini untukmu”. Dia menyodorkan makananku membuatku melongomenatapnya dan menatap makanan itu secara bergantian. Aku begitu miris melihatmakananku. Ini sih makanan rumah sakit! Untuk apa membawaku ke restaurant kalauyang kumakan tetap makanan rumah sakit juga! Tapi apa boleh buat, aku lapar.Aku mengambil makananku dan mulai makan dengan kesal.

“Harusdihabiskan!” Dia berkata sambil terus menikmati makanannya. Aku meliriknyasekilas, dan aku dapat melihat senyum tipisnya. Sialan! Dia mengerjaiku!

xXx

Aku duduk melamun di bangku taman.Dokter imut tapi menyebalkan itu entah kemana meninggalkanku seenak jidatnyasaja. Menyebalkan ya dia?! Kalau aku tiba-tiba mati disini bagimana?!

“Eh?” Akutersentak saat tiba-tiba sebuah ice cream coklat muncul di depan wajahku. Akumelirik orang yang menyodorkan ice cream itu, ternyata Saengie oppa. Tapi diamalah dengan gaya sok sibuknya menikmati ice cream tanpa melihat ke arah ku.Kalau saja tadi ice creamnya terkena wajahku, dia akan habis kupukuli denganbangku taman ini!

Aku mengambil ice cream itu danmengamatinya dengan teliti. Saengie oppa yang sudah duduk di sampingkumenghentikan kegiatannya sejenak menikmati ice cream dan menatapku denganekspresi aneh.

“Itu tidakberacun!”

“Aku hanya inginmemastikan. Aku tidak mau saja mati lebih cepat. Masih ingin menikmati wajahtampan…”. Aku langsung menghentikan ucapanku yang akan mengatakan masih inginmenikmati wajah tampan oppa. Hampir saja aku keceplosan!

“Wajah tampansiapa?” Dia menatapku curiga.

“”Bukansiapa-siapa kok”. Aku berkata sambil sok sibuk makan ice cream.

“HyungJun yamaksudmu?”

“Oppa kenalJunnie oppa?” Aku langsung menatap Saengie oppa saat dia menyebut namaHyungJun. Tapi kok ekspresi Saengie oppa berubah jadi aneh ya? Seperti tidaksuka begitu dan nada bicara juga sepertinya kesal.

“Aku kan dokter!Jelas saja aku tau!”

“Tapi oppa taudarimana kalau aku mengenalnya?”

“Aku melihatkalian berdua di atap. Huft”. Dia diam dengan wajah kesal dan hanya menatap icecreamnya. Sepertinya dia kehilangan selera. Huft. Aku sedikit bingungmencairkan suasana kaku begini. Tapi aku punya ide.

“Aaaahhh”. Akuberkata sambil merentangkan kedua tanganku seperti orang baru bangun tidur.Tangan kananku menyenggol tangan Saengie oppa dan membuat ice cream yang diapegang menyentuh hidung mancungnya. Bingo! Dia melotot menatapku tapi tetapsaja matanya masih sipit.

“Hidung oppakenapa tuh? Tapi bagus juga”. Aku berkata dengan ekspresi tanpa dosa membuatnyaterlihat semakin geram.

“HYOKYUNG!!!” Diaberteriak kesal ke arah ku. Dengan sigap aku berdiri dan berlari menjauhdarinya. Dia pun mengejarku.

Bruukk

“Aduuuhh”.Saengie oppa merintih kesakitan. Aku berbalik dan melihatnya sudah terduduk dirumput. Aku menghampirinya dan mengamati dirinya yang masih meringis kesakitan.

“Tolongin donk!”Dia berkata dengan wajah kesal. Aku mengulurkan tanganku dan dia meraihnya.Tapi tiba-tiba dia menarik tanganku dengan kuat sehingga membuatku kehilangankeseimbangan.

“Whuuuaaahhh”.Aku berteriak sambil terpejam seiring dengan tubuhku yang limbung. Saat akumembuka mata, aku mendapati tubuhku sudah menindih Saengie oppa. Wajah kamijuga hanya berjarak beberapa centi. Glek! Rasanya aku tidak bisa bernafas.

Aku masih terus menatapnya,begitupun Saengie oppa. Wajahnya seperti keajaiban untukku. Dag dig dug!Jangtungku berdetak sangat cepat. Sedetik kemudian aku tersadar dan langsungmenjauh dari tubuh Saengie oppa. Aku duduk di rumput dengan perasaan canggungtak berani menatapnya, begitu juga Saengie oppa.

xXx

Aku menatap gemerlap kota Seoul padamalam hari dari Namsan Seoul Tower. Melamun. Yeah! Tentu saja aku sambilmelamun. Itulah kegiatan rutinku.

“Nih. Hangatkantubuhmu dengan ini”. Saengie oppa memberikan kopi panas padaku. Akumengambilnya dan menengguknya tapi tetap saja tidak mengurangi dingin yangmenusuk hingga tulangku.

Aku hanya mengenakan kaos hitamdengan cardigan hitam dan celana jeans panjang. Sedangkan Saengie oppa sudahmemakai syal dan jas hangat sepanjang lutut yang dia simpan di mobilnya. Akubergidik kedinginan dan memegangi cup kopi dengan kedua tanganku erat berharapbisa mengurangi rasa dingin. Tiba-tiba Saengie oppa memelukku dari belakang danikut menutupi tubuhku dengan jasnya itu.

“Oppa?” Akumencoba meliriknya.

“Biar hangat.Kau pasti sangat kedinginan”. Dia tersenyum lagi. Oppa, taukah dirimu kalausenyummu itu bisa membuatku terbunuh?!

Kami berdua hanya diam sambilmenatap gemerlap kota Seoul. Aku begitu menikmati kehangatan pelukan Saengieoppa. sedangkan Saengie oppa? Entahlah. Aku kan tidak bisa membaca pikiranorang.

“Sudah malam.Appamu nanti cemas. Kita kembali ke rumah sakit saja ya”. Dia berkata membisikdi telingaku. Huft. Padahal aku masih ingin dipeluk olehnya.

“Biarkan saja!Dia tidak peduli padaku!”

“Wae?”

“Apanya yangkenapa?”

“Kenapa kaubegitu membenci appamu?”

“Dia jahat”.

“Jahatbagaimana? Kulihat dia sangat menyayangimu”.

“Huft! Eommapergi karena appa!” Aku berkata ketus. Aku benci membicarakan hal ini.

“Apamasalahnya?”

“Appaberselingkuh”.

“Kau taudarimana?”

“Uhm. Setahunsebelum eomma pergi, mereka tidak pernah lagi akur. Akhirnya 2 tahun yang lalueomma pergi setelah mereka bertengkar hebat. Aku mendengar kata perselingkuhankeluar dari mulut mereka. Selama ini appa selalu sibuk bekerja dan jarangpulang ke rumah. Bukan hal mustahil kalau dia selingkuh”.

“Apa kau pernahmenanyakan kejadian yang sebenarnya pada appa atau eommamu?”

“Ani. Tapi halyang kulihat dan kudengar sudah cukup untuk menjelaskan semuanya”. Aku berkatasambil menatap lurus ke depan.

Saengie oppa melepaskan pelukannyadan berdiri di hadapanku. Dia memegang kedua pipiku dan tersenyum. Huwa! Lebihbaik aku disuruh melompat dari Namsan Seoul Tower ini daripada harus dihadapkanpada situasi seperti ini! Sumpah! Aku benar-benar tidak kuat lagi melihatsenyuman mautnya!

“Terkadang apayang kita lihat dan kita dengar itu belum tentu benar. Tanyakan kejelasannyaagar tidak terjadi kesalahpahaman”. Saengie oppa berkata sambil tersenyum lalumengacak-acak rambutku. Aku hanya bisa menatapnya dan berusaha mencernakata-katanya.

xXx

Aku duduk di bangku taman rumahsakit sambil menikmati matahari pagi yang hangat. Karena kemarin akuberjalan-jalan seharian dengan Saengie oppa, sekarang kepalaku jadi pusing lagimencium bau obat-obatan. Padahal beberapa hari yang lalu aku sudah mulaiterbiasa dengan bau-bauan di rumah sakit ini.

“Kenapasendirian? Boleh kutemani?” Seorang namja yang suaranya kukenali sebagai Junnieoppa menyapaku. Aku melihat ke arahnya dan benar saja dugaanku.

“Duduk saja”.Aku menjawab cuek.

“Semalam kaukemana? Seharian tidak kelihatan”.

“Aku pergidengan Saengie oppa”.

“Dokter Heo?”Dia bertanya dengan ekspresi kaget. Jiah, biasa saja donk.

“Ne. Wae?”

“Ah… ania”. Diadiam dan aku pun ikut diam kembali menikmati hangatnya mentari.

“HyoKyung, kausakit apa? Kenapa ruanganmu di deretan penyakit kanker?”

“Aku? Akumenderita sirosis hati”.

“Sirosis hati?”Dia menatapku kaget.

“Ne. Ough iya,kemarin lusa oppa datang ke ruanganku kan? Tau darimana ruanganku?”

“Tentu saja tau.Ruanganmu tepat berada di samping kanan ruanganku”. Dia berkata sambiltersenyum. Aku hanya mengangguk-angguk kecil menanggapi kata-katanya. Eh,tunggu dulu. Tepat di samping kanan ruanganku? Berarti dia…? Aku langsungmenatapnya kaget.

“Wae HyoKyung-ah?”

“Kalau ruanganoppa di samping kanan ruanganku, berarti oppa juga penderita kanker”. Jawabkumengambil kesimpulan. Dia tersenyum menatapku.

“Ne. Akumengidap kanker pancreas”. Dia masih terus tersenyum tapi kali ini senyumnyaterlihat muram. Aku semakin kaget menatapnya. Sepertinya dia heran melihatekspresiku.

“Kankerpancreas? Berarti keadaan oppa sudah terlampau parah”.

“Kau taudarimana?”

“Dari artikelyang pernah kubaca. Disitu disebutkan kalau kanker pancreas sangat sulitterdeteksi dan akan terdeteksi jika sudah benar-benar parah”. Aku menatapnyamiris tapi dia malah tersenyum padaku.

“Yeah. Itu benarHyoKyung. Aku sudah stadium lanjut. Dokter memvonis aku hanya bisa bertahan 2bulan”. Dia berkata masih tetap sambil tersenyum. Sumpah! Aku benar-benar kagetmendengarnya. Walaupun aku juga parah tapi aku tidak tega jika mendengar orang lainsudah mendekati maut.

“Kenapa oppaselalu tersenyum begitu? Tidak merasa takut atau sedih?”

“Lalu aku harusbagaimana? Aku hanya bisa tersenyum. Menangis atau murung hanya akan semakinmemperburuk keadaanku. Kalau memang usiaku harus berakhir dalam waktu singkat,aku ingin menghabiskan waktu singkatku dengan senyuman setiap hari dan membuatorang lain ikut tersenyum”. Dia kembali menunjukkan senyuman manis itu padaku.

Yeah! Dia memang benar. Kudengarkekuatan semangat bisa mengalahkan apapun. Jadi itu sebabnya dia hobitersenyum? Dia hebat, aku begitu kagum padanya. Aku pun ikut tersenyumbersamanya.

xXx

Sejak hari itu aku jadi semakindekat dan semakin mengenal Junnie oppa. Yeah! Kuakui kalau dia namja yangbegitu menyenangkan. Bukan hanya tersenyum, tapi dia juga sering membuatkutertawa. Terkadang kami bermain gila-gilaan seakan tak menyadari betapaparahnya penyakit kami. Tapi semua itu membuatku senang. Beginilah aku jikasudah dekat dengan orang. Sifat cuek dan ketusku seolah tak pernah ada.

Aku memang sulit akrab dengan oranglain. Trauma yang kualami membuatku berubah menjadi yeoja yang cuek, tidakpeduli sekitar, dan begitu tetutup. Tapi jika sudah akrab denganku, ya ampun!Pasti orang tidak menyangka sifat asliku. Dan di rumah sakit ini aku juga hanyaakrab dengan Junnie oppa dan Saengie oppa. Yeah! Hanya mereka berdua yang bisaakrab denganku.

“Hei! Lepaskanaku!” Aku meronta dan berusaha melepaskan tangan seseorang yang tiba-tibamenutupi mataku saat aku sedang melamun.

“Coba tebak akusiapa?” Dia berkata dengan mengubah suaranya menjadi seperti chipmunk. Siapasih orang iseng ini?! Huft!

“Michin saram!”Aku berkata ketus dan membuatnya melepaskan tangannya dari kedua mataku. Diapunbergegas duduk di sampingku.

“Tega sekali”.Junnie oppa menundukkan wajahnya dan ekspresinya terlihat sedih. Huft! Salahsendiri, kenapa iseng padaku.

Tapi memang ada yang berbeda denganJunnie oppa. Biasanya dia akan kembali tersenyum beberapa saat setelah akuberkata ketus padanya. Tapi hari ini dia kenapa ya? Dia hanya diam dan menatapmerpati-merpati lucu yang ada di taman rumah sakit ini. Huft!

“Oppa, marah ya?Mianhae”. Aku berkata sambil tersenyum manja padanya tapi dia tetap takbergeming.

“Oppa? Kenapasih? Jangan marah donk”. Aku kembali mencoba membujuknya dengan senyum danbicara manja. Aku juga menusuk-nusuk pinggangnya berharap dia akan tertawakarena geli.

“Hei! Sudah,hentikan!” Dia berkata sambil tersenyum dan tertawa kecil menahan geli. Tapiaku tetap saja menggelitikinya.

“HyoKyung, hentikan!”Dengan sigap dia meraih kedua tanganku dan mencekalnya erat. Dia menatapkubegitu lekat, sangat lekat. Dag dig dug! Jangtungku berdetak begitu cepatseperti habis marathon. Aku berusaha mengalihkan pandanganku darinya sambilmenarik kedua tanganku dari tangannya, tapi dia menggenggam tanganku semakinerat. Aish! Dia kenapa sih?!

“Oppa?”

“Naeyeojachinguga dwaeyo jullae?” Dia menatapku dalam-dalam. Agh! Hal gila apaini?! Apa dia mau membuatku terkena serangan jantung?! Huwa!

“Andwae!”Saengie oppa datang dengan wajah kesal menghampiri kami. Dia langsungmelepaskan pegangan tanganku dan Junnie oppa.

“Oppa, ada apa?Kenapa oppa marah-marah?” Aku menatapnya bingung.

“Aku tidak sukakau dekat dengannya apalagi sampai pacaran dengannya!”

“Memangnya kenapa?”

“Neolsaranghanikka!”

“Eh?” Hanya itukata yang mampu keluar dari mulutku. Mereka sepertinya berencana membunuhku!Ambil pisau saja sekalian!

“Dokter Heoegois!” Junnie oppa menatap Saengie oppa penuh emosi.

“Aku tidakpeduli! Aku akan melakukan apapun untuk bisa bersamanya!” Saengie oppa jugatidak kalah emosi. Kalau kubiarkan bisa-bisa terjadi perang dunia ketigadisini.

“STOP! Berhentibertingkah kekanakan! Tidak ada satupun dari kalian yang akan menjadi pacarku!Adil kan?!” Aku berlalu setelah mengatakan hal itu, meninggalkan mereka yangmenatapku bingung.

Tapi baru beberapa langkah, akumerasakan sakit yang teramat sangat pada ulu hatiku. Sakit, sakit sekali. akuterus memegangi bagian ulu hatiku yang terasa begitu sakit. Saengie oppa danJunnie oppa menghampiriku dengan wajah cemas. Sesaat kemudian semua menghitam.Akupun tidak ingat apa-apa lagi setelah kejadian itu.

xXx

Aku mulai membuka mataku. Suasananyabegitu hening. Kulihat appa masih tidur di sofa. Aku mau mengambil ponsel untukmelihat jam, tapi tanganku menyenggol sesuatu. Ternyata itu Saengie oppa. Akutak melihatnya tidur di kursi dengan kepala berada di ranjangku. Dia punlangsung terbangun.

“HyoKyung, kausudah sadar?” Dia langsung menatapku cemas. Lucu sekali wajahnya saat barubangun tidur. Matanya hanya segaris.

“Ponselku oppa”.

“Untuk apa?”

“Melihat jam”.Aku menunjuk ponselku dan dia mengambilnya lalu melihatnya. Kulihat ekspresiSaengie oppa begitu kaget. Tapi kenapa?”

“Oppa?”

“Masih pukul03:30. Tidurlah lagi”. Dia mengusap-usap rambutku dan menaikkan selimutkuhingga ke leher. Setelah itu dia keluar dari kamar rawatku dengan wajah yangterlihat lemas.

Aku mengambil ponselku untuk melihatapa yang membuat Saengie oppa begitu terkejut. Astaga! Aku lupa kalau wallpaperponselku fotoku bersama Junnie oppa. Dia pasti berpikir yang tidak-tidak.

xXx

Aku duduk sambil cemberut diranjangku. Appa juga begitu kesal menatapku yang tidak mau membuka mulutsedikitpun untuk menerima makanan yang dia suapkan.

“Buka mulutmu HyoKyung!Jangan seperti anak-anak begini!”

“Aku tidak maumakan! Lagipula kenapa appa masih disini sih?! Pergi kerja sana!”

“Kerja apanya?!Hari ini libur!” Appa berkata dengan kesal dan langsung beranjak menuju kamarmandi.

Aku terdiam mendengar kata-kataappaku barusan. Ough iya, hari ini kan libur. Babo HyoKyung! Marah-marah tapikok salah!

Ckleek

Aku melihat ke arah pintu. Saengieoppa masuk ke ruang rawatku. Dia menghampiriku dengan ekspresi datar.Jangan-jangan masih marah.

“Berbaring!”Saengie oppa berkata dingin padaku tapi aku hanya diam dan menatapnya denganwajah bingung.

“Ihs! Berbaring!” Diamencengkeram kedua bahuku dan mendorongku ke ranjang membuatku terbaring secarapaksa. Dia menatapku dalam-dalam. Glek! Apa-apaan sih dia?!

xXx

To be continued…
wait the last part guys…

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s