Teori Intelegensi, Guilford

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Latar belakang setiap manusia hidup di dunia ini tentunya senantiasa berfikir, terkadang yang membedakannya adalah tingkat kecerdasan karena inetegensi itu dibawa dari pertama kali kita lahir, yang dimaksud dengan kecerdasan adalah kesanggupan mental seseorang untuk menerima, memahami, bahkan menginterprestasikan sesuatu secara berlebih. Orang lain bisa mengukur kecerdasan orang orang dengan tes-tes yang dilakukan secara psikolog. Kecerdasan yang dimaksud meliputi kemampuan membaca, menulis, berhitung sebagai jalur sempit ketrampilan dalam berkata dan angka menjadi fokus di pendidikan formal yang mengarah kepada kebenaran secara konfergen.Istilah kecerdasan diturunkan dari kata Intelegensi.

Intelegensi merupakan suatu kata yang memiliki makna sangat abstrak. Secara umum kecerdasan atau Intelegensi dapat didefinisikan sebagai suatu konsep abstrak yang diukur secara tidak langsung oleh para psikolog melalui tes intelegensi untuk mengintimasi proses intelektual. Komponen utama untuk intelegensi adalah kemampuan verbal, ketrampilan memecahkan masalah, kemampuan belajar dan kemampuan beradaptasi dengan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari.

Beberapa ahli mempunyai pandangan yang berbeda mengenai kecerdasan itu sendiri. Salah satunya Dr. J.P Guilford Di University Of Southern California. Guilford menerangkan tentang kecerdasan yang diartikan sebagai kemampuan dalam menjawab melalui situasi sekarang untuk semua peristiwa masa lalu dan mengantisipasi masa yang akan datang. Guilford memandang kecerdasan itu ada struktur yang terlibat dalam proses kecerdasan sehingga menghasilkan produk berupa fikiran kreatif dan divergent.

1.2  Rumusan Masalah

Dengan mengacu pada latar belakang diatas, fokus permasalahan dalam penulisan masalah ini adalah sebagai berikut:

1.2.1        Apakah pengertian Intelegensi secara umum?

1.2.2        Apakah pengertian Intelegensi, Guilford?

1.2.3        Bagaimana kelebihan Intelegensi, Guilford?

1.2.4        Bagaimana kelemahan Intelegensi, Guilford?

1.3  Tujuan

Mengacu pada rumusan masalah diatas, adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:

1.3.1        Menjelaskan pengertian Intelegensi secara umum?

1.3.2        Menjelaskan pengertian Intelegensi, Guilford?

1.3.3        Menjelaskan kelebihan Intelegensi, Guilford?

1.3.4        Menjelaskan kelemahan Intelegensi, Guilford?

1.4  Manfaat

Adapun manfaat dari makalah tentang Teori Intelegensi, Guilford adalah sebagai berikut:

1.4.1        Sebagai pengetahuan tentang Teori Intelegensi, Guilford.

1.4.2        Agar pembaca dapat mengetahui kecerdasan Teori Intelegensi, Guilford.

1.4.3        Untuk melatih diri bila menggunakan Teori Intelegensi, Guilford.

 

 

 

 

BAB II

Teori Intelegensi,Guilford

Sebelum kita membahas tentang Teori Intelegensi, Guilford terlebih dahulu kita lihat tentang pemahaman Teori Intelegensi secara umum sebagai berikut.

2.1  Teori intelegensi secara umum ada 3 (tiga) yaitu :

1.)                Teori “Two Factor”,

Teori ini dikemukakan oleh Charles Spearman (1904). Dia berpendapat bahwa intelegensi itu meliputi kemampuan umum yang diberi kode “g” (general factors), dan kemampuan khusus yang diberi kode “s” (specific factors). Setiap individu memiliki kedua kemampuan ini yang keduanya menentukan penampilan atau perilaku mentalnya.

2). Teori “Primary Mental Abilities”,

Teori ini dikemukakan oleh Thurstone (1938). Dia berpendapat bahwa intelegensi merupakan penjelmaan dari kemampuan primer, yaitu :

 

INTELIGENSI KEMAMPUAN INTI
1. Logical – Mathematical Kepekaan dan kemampuan untuk mengamati pola-pola logis dan bilangan serta kemampuan untuk berfikir rasional.
2. Linguistic Kepekaan terhadap suara, ritme, makna kata-kata, dan keragaman fungsi-fungsi bahasa.
3. Musical Kemampuan untuk menghasilkan dan mengapresiasikan ritme. Nada dan bentuk-bentuk ekspresi musik.
4. Spatial Kemampuan mempersepsi dunia ruang-visual secara akurat dan melakukan tranformasi persepsi tersebut.
5.Bodily Kinesthetic Kemampuan untuk mengontrol gerakan tubuh dan mengenai objek-objek  secara terampil.
6. Interpersonal Kemampuan untuk mengamati dan merespons suasana hati, temperamen, dan motivasi orang lain.
7. Intrapersonal Kemampuan untuk memahami perasaan, kekuatan dan kelemahan serta inteligensi sendiri.

 

 

3). Teori “Multiple Intelegensi”

Teori ini dikemukakan oleh J.P.Guilford dan Howard Gardner, Guilford berpendapat bahwa intelegensi itu dapat dilihat dari 3 (tiga) katagori dasar atau “Faces of intellect”, yaitu sebagai berikut :
A). Operasi mental (proses berpikir), meliputi :

  1. Kognisi (menyimpan informasi yang lama dan menemukan informasi yang baru).
  2.   Memory retention (ingatan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari).
  3.  Divergent production (berpikir melebar=banyak kemungkinan jawaban).
  4.  Convergent production (berpikir memusat=hanya satu jawaban/alternatif).
  5.  Evaluasi (mengambil keputusan tentang apakah sesuatu itu baik, akurat atau memadai).

 

 

B). Content (isi yang dipikirkan), meliputi :

  1. Visual (bentuk kongkret atau gambaran);
  2. Symbolic (informasi dalam bentuk lambang, kata-kata, angka, dan not musik);
  3. Behavioral (interaksi non verbal yang diperoleh melalui penginderaan, ekspresi muka atau suara),.
  4. Auditory (Informasi dirasakan melalui pendengaran.)
  5. Word Meaning / semantic (Informasi yang harus diproses berupa input yang disajikan secara lisan.)
  6. Symbolic (informasi dalam bentuk lambang, kata-kata atau angka dan notasi musik).
  7. Behavioral (interaksi non verbal yang diperoleh melalui penginderaan, ekspresi muka atau suara)

C). Product (hasil berpikir), meliputi :

  1. Unit (item tunggal informasi);
  2. Kelas (kelompok item yang memiliki sifat-sifat yang sama);
  3. Relasi (keterkaitan antar informasi);
  4. Sistem (kompleksitas bagian yang saling berhubungan);
  5. Transformasi (perubahan, modifikasi, atau redefinisi informasi),
  6. Implikasi (informasi yang merupakan saran dari informasi item lain

 

 

2.2 . Teori Intelegensi,Guilford

Teori Guilford banyak membicarakan struktur intelegensi seseorang yang banyak mengarah pada kreativitas. Guilford melakukan penelitian tentang kecerdasan ini dengan meneliti orang-orang genius pada tahun 1869. Teori Guilford menerangkan tentang inteligensi yang diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam menjawab melalui situasi sekarang untuk semua peristiwa masa lalu dan mengantisipasi masa yang akan datang. Dalam konteks ini maka belajar adalah termasuk berpikir, atau berupaya berpikir untuk menjawab segala masalah yang dihadapi. Konsepnya memang kompleks, karena setiap masalah akan berbeda cara penanganannya bagi setiap orang. Untuk itu diperlukan perilaku cerdas/inteligen, yang tentu sangat berbeda dengan perilaku noncerdas/inteligen. Yang pertama (perilaku cerdas/inteligen) ditandai dengan adanya sikap dan perubahan kreatif, kritis, dinamis, dan memiliki motivasi, sedangkan yang kedua keadaannya sebaliknya.

Guilford mengeluarkan satu model untuk menjelaskan kreativitas manusia yang disebutnya sebagai Model Struktur Intelek (Structure of Intellect). Dalam model  ini, Guilford menjelaskan bahwa kreativitas manusia pada dasarnya berkaitan dengan proses berpikir konvergen dan divergen. Konvergen adalah cara berfikir untuk memberikan satu-satunya jawaban yang benar. Sedangkan berpikir divergen adalah proses berfikir yang memberikan serangkaian alternatif jawaban yang beraneka ragam.

Kemampuan berfikir divergen dikaitkan dengan kreativitas ditunjukkan oleh beberapa karakteristik berikut:

1.      Kelancaran, yaitu kemampuan untuk menghasilkan sejumlah besar ide-ide atau solusi masalah dalam waktu singkat.

2.      Fleksibilitas, yaitu kemampuan untuk secara bersamaan mengusulkan berbagai pendekatan untuk masalah tertentu.

3.      Orisinalitas, yaitu kemampuan untuk memproduksi hal baru, ide-ide asli.

4.      Elaborasi, yaitu kemampuan untuk melakukan sistematisasi dan mengatur rincian ide di kepala dan membawanya keluar.

Guilford menjelaskan bahwa kreativitas adalah suatu proses berpikir yang bersifat divergen, yaitu kemampuan untuk memberikan berbagai alternatif jawaban berdasarkan informasi yang diberikan. Guilford meyakini bahwa standar tes inteligensi yang ada pada saat itu tidak mendukung proses berpikir divergen. Tes inteligensi tidak dirancang untuk mengukur hal ini, tetapi tes inteligensi hanya dirancang untuk mengukur proses berpikir yang bersifat konvergen, yaitu kemampuan untuk memberikan satu jawaban atau kesimpulan yang logis berdasarkan informasi yang diberikan. Ini merupakan akibat dari pola pendidikan tradisional yang memang kurang memperhatikan pengembangan proses berpikir divergen walau kemampuan ini terbukti sangat berperan dalam berbagai kemajuan yang dicapai oleh ilmu pengetahuan.

 

Kelebihan dan Kelemahan Teori Inteligensi Guilford

Guilford memberikan distribusi yang signifikan dalam ikut mengembangkan teori kemampuan mental, terutama yang berkaitan dengan teori inteligensi. Dalam model struktur yang disebutnya sebagai Structure of Intellect (SOI) ini. Berikut ini akan diungkapkan beberapa kelebihan dan kelemahan dari teori inteligensi Guilford.

 

2.3 Kelebihan-kelebihan Teori Inteligensi, Guilford:

1.      Teori ini memberikan implikasi yang penting bagi teori psikologi umumnya, terutama apabila dapat meletakkannya sebagai suatu kerangka pemikiran guna memperoleh pandangan baru terhadap konsep-konsep psikologi, seperti proses belajar, pemecahan masalah dan kreativitas.

2.      Dalam pembelajaran, teori ini memberikan implikasi positif berupa pembelajaran yang kreatif.

3.      Model Guilford ini memberikan suatu jalan untuk mengorganisasikan kemampuan-kemampuan dalam kurikulum, terutama pada penentuan kemampuan-kemampuan mana yang perlu mendapat perhatian.

4.      Teori ini merupakan mata rantai studi inteligensi dengan menggunakan pengetahuan tentang belajar, psikolinguistik, pikiran dan sebagainya sebagai pembagian tugas intelektual.

5.      Teori ini meliputi bidang-bidang fungsi intelektual yang terlokalisasi dengan sedikit sekali terwakili oleh tes-tes inteligensi standar. Sebagai contoh, banyak tes-tes inteligensi yang hanya mengukur pemikiran konvergen yang hanya memiliki jawaban yang benar.

6.      Teori ini mendapatkan penerimaan luas dari para pendidik dan beberapa pihak yang memiliki pandangan kurang menyenangkan terhadap faktor ‘g’ Spearman.

 

2.4 Kelemahan-kelemahan Teori Inteligensi, Guilford:

1.      Teori ini dianggap terlalu berlebihan/kompleks dan melanggar aturan parsimony.

2.      Kemampuan-kemampuan inteligensi dalam teori ini belum seluruhnya dapat dibuktikan secara empiris.

3.      Guilford menggunakan metode rotasi ortogonal, meskipun data dan penelitian sebelumnya jelas menuntut rotasi miring (oblique)

4.      Beberapa ahli tidak dapat mereplikasi hasil Guilford pada analisis ulang, mendorong
mereka mempertanyakan reliabilitas instrumen itu. Meskipun pada tahun 1985 Guilford merevisi model SOI untuk mengatasi kekurangan ini.

 

 

 

 2.5 Materi Matematika Yang Dipilih

Aljabar adalah ilmu yang bercabang dari matematika yang mempelajari penyederhanaan dan memecahkan masalah dengan operasi hitung menggunakan bilangan dengan simbol dan huruf untuk pengganti variabel dan konstan.

 

Operasi hitung pada bentuk aljabar

  1. Penjumlahan dan pengurangan bentuk aljabar

 

Contoh :

  1. (2x2-3x+2) + (4x2-5x+1) =
  2. (3a2+5)-(4a2-3a+2) =

Penyelesaian :

  1. (2x2-3x+2) + (4x2-5x+1) = 2x2-3x+2+4x2-5x+1

= 2x2+4x2-3x-5x+2+1

=(2+4)x2+(-3-5)x+(2+1)   (kelompokkan suku-suku sejenis)

= 6x2-8x+3

 

  1. (3a2+5)-(4a2-3a+2) = 3a2+5-4a2+3a-2

=3a2-4a2+3a+5-2

=(3-4)a2+3a+(5-2)

=-a2+3a+3

 

  1. Perkalian

Contoh :

3(x-2)+6(7x+1) = 3x-6+42x+6

= (3+42)x-6+6

=45x

  1. Perpangkatan
    1. -(3x2yz3)3 = -27x6y3z9
    2. (2x-3y)2 = 1(2x)2 + 2(2x) (-3y) + 1 x (-3y)2

= 4x2 – 12xy + 27y3

 

  1. Pembagian

6a3b2 : 3a2b = 6a3b2

                           3a2b

= 3a2b x 2ab

3a2b

= 2ab

 

  1. Subtitusi pada bentuk aljabar
    1. Jika m = 3, tentukan nilai dari 5 – 2m
    2. Jika x = -4, y = 3, tentukan nilai dari 2x2 – xy + 3y2

 

Jawab.

  1. Subtitusi nilai m = 3 pada 5 – 2m, maka diperoleh

5 – 2m = 5 – 2(3)

= 5 – 6 = -1

  1. Subtitusi x = -4 dan y = 3,sehingga diperoleh

2x2 – xy + 3y2 = 2(-4)2 – (-4)(3) + 3(3)2

= 2(16) – (-12) + 3 (9)

= 32 + 12 + 27

= 71

 

  1. Menentukan KPK dan FPB pada bentuk aljabar
    1. 12pq = 22 x 3 x p x q

8pq2 = 23 x p x q2

Kpk = 23 x 3 x p x q2

= 24pq2

Fpb = 22 x p x q

=4pq

 

  1. 45x5y2 = 32 x 5 x x5 x y2

50x4y3 = 2 x 52 x x4 x y3

Kpk = 2 x 32 x 52 x x5 x y3

= 450x5y3

Fpb = 5 x x4 x y2

=5x4y2

  1. Menyederhanakan bentuk pecahan

=

 

2.6 Keterkaitan Antara Materi Dan Teori

Dalam penerapan teori Intelegensi bisa memungkinkan bagi para pendidik untuk menghilangkan satu atau beberapa tahap pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Pada pembahasan makalah ini materi yang dipilih adalah untuk peserta didik SMP/sederajat.

Pada umumnya siswa SMP/sederajat berusia antara 12 – 17 tahun yang pada pembahasan di atas telah dijelaskan bahwa anak berusia lebih dari 12 tahun sudah mencapai perkembangan intetektual tertinggi namun masih perlu digali guna untuk memperluas pengetahuan. Pembahasan makalah ini memilih Aljabar karena dalam Aljabar terdapat materi yang cara penyelesaiannya dapat menggunakan lebih dari satu metode. Tahap-tahap yang diberikan dalam pembelajaran ini adalah Kemampuan berfikir divergen dikaitkan dengan kreativitas ditunjukkan oleh beberapa karakteristik berikut:

1.      Kelancaran, yaitu kemampuan untuk menghasilkan sejumlah besar ide-ide atau solusi masalah dalam waktu singkat yaitu dengan cara memanfaatkan aljabar  untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari seperti menghitung hal-hal yang tidak diketahui, misalnya seperti menghitung banyaknya minyak yang dibutuhkan tiap minggu atau juga menghitung jarak yang dibutuhkan dalam waktu tertentu.

2.      Fleksibilitas, yaitu kemampuan untuk secara bersamaan mengusulkan berbagai pendekatan untuk masalah tertentu yaitu dengan cara mengelompokan bilangan sejenis dan yang tidak sejenis.

  1. Orisinalitas, yaitu kemampuan untuk memproduksi hal baru, Pada tahap ini peserta didik akn mencari solusi dari soal dan apakah hasil dari masalah yang sama tersebut penggunaan metode yang berbeda akan menemukan solusi yang sama.

4.      Elaborasi, yaitu kemampuan untuk melakukan sistematisasi dan mengatur rincian ide di kepala dan membawanya keluar seperti mengungkapkan angan-angan atau gambaran ketika menganalisis sebuah soal, Pada tahap ini jika siswa sudah menguasai tahap-tahap sebelumnya maka siswa dilatih untuk berfikir aktif dan kreatif untuk menemukan ide baru dalam menyelesaikan masalah yang ada..

Intelegensi yang bersifat divergen, yaitu kemampuan untuk memberikan berbagai alternatif jawaban berdasarkan informasi yang diberikan. Guilford meyakini bahwa standar tes inteligensi yang ada pada saat itu tidak mendukung proses berpikir divergen. Tes inteligensi tidak dirancang untuk mengukur hal ini, tetapi tes inteligensi hanya dirancang untuk mengukur proses berpikir yang bersifat konvergen, yaitu kemampuan untuk memberikan satu jawaban atau kesimpulan yang logis berdasarkan informasi yang diberikan.

 

 

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan.

  1.  Guilford dapat dinilai dari ciri-ciri aptitude seperti kelancaran, fleksibilitas dan orisinalitas, maupun ciri-ciri non-aptitude, antara lain temperamen, motivasi, serta komitmen menyelesaikan tugas.
    1. Guilford mengemukakan bahwa inteligensi dapat dilihat dari tiga kategori dasar atau “faces of intellect”, yaitu : Operasi Mental (Proses Befikir), Content (Isi yang Dipikirkan), Visual (bentuk konkret atau gambaran), Auditory(Informasi dirasakan melalui pendengaran.), Word Meaning / semantic(Informasi yang harus diproses berupa input yang disajikan secara lisan.), Symbolic (informasi dalam bentuk lambang, kata-kata atau angka dan notasi musik). Behavioral (interaksi non verbal yang diperoleh melalui penginderaan, ekspresi muka atau suara) dan Product (Hasil  Berfikir).

Saran

Teori Guilgord banyak membahas mengenai struktur intelektual siswa, bagaimana kreativitas siswa, dan banyak membahas mengenai psikologi kepribadian. Kepada rekan-rekan mahasiswa khususnya yang akan menyelesaikan tugas akhirnya yang membahas mengenai intelegensi dan kreativitas siswa sebaiknya lebih mengembangkan  teori ini. Dan penulisan makalah ini tidak luput dari kesalahan dan kekeliruan, oleh karena itu kritik dan saran yang sifatnya membangun demi memnyempurnakan makalah ini sangat diharapkan.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. DePorter, Bobbi & Mike Hemacki.2002. Quantujm lerning. Bandung: Kifah
  2. Irwanto, dkk. 1989. Psikologi umum: buku panduan mahasiswa. Jakarta, Gramedia.
  3. Soenarto, hardi.dkk. 2007. Memahami Psikotes. Bandung: CV. Pustaka Grafika.
  4. Azwar, saifuddin MA. 2004. Pengantar psikologi Intelegensi. Yogjakarta. Pustaka Belajar.
  5. Santrock, John W.2010. Psikologi Pendidikan, Edisi Kedua. Kencana. Jakarta.
  6. Nurhaini, dewi & Tri wahyuni. 2008. Matematika Konsep dan aplikasinya : untuk SMP/MTS kelas VII. Semarang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s