Love of a friendAutor : Shina Cast :  

Love of a friend

Autor : Shina

 

Image

Cast :   Lee kiseop(tapi wajahnya pinjam himchan)

    Kim Jin ae/ Lee Jin ae

Ao*lambai-lambai gaya teletubies. Hehehehe^*^

Ini ff banyak percakapannya mungkin membosankan, karena shina lagi malas cari kata-kata karena sibuk banget dengan materi kuliah yang rumit. Makasih yang udah mau baca.

Selamat membaca!

Backsone : love of a friends

Jin ae bosan mendengar ocehan ibunya yang selalu saja membicarakan tentang teman anaknya yang sudah menikah dan hidup layak.

“Jin ae mau sampai kapan kau ini hidup sendirian, dan menghabiskan waktumu dikamar” omel ibu Jin ae yang melihat putrinya membaca komik dikamar.

“Aku ini tidak punya pacar umma dan aku ini baru 21 tahun” elak Jin ae.

“Kalau kau tidak mencarinya bagaimana kau dapat menikah”

“Kalau tidak ada yang cocok mana mungkin aku pacaran dan menikah juga bukan hal yang mudah. Aku juga butuh cinta”

“Cinta itu bisa datang belakangan. Kalau kau tidak segera mengenalkan pacarmu maka umma akan menikahkanmu dengan pilihan umma”

“Umma..”

“Umma akan mengenalkan anak teman umma.”

“Umma itu selalu saja mendengarkan ocehan teman umma itu”

“Umma mu ini sudah tua. Sebelum umma pergi umma ingin kau menikah dan memberikan umma cucu”

“Ne ne aku akan mencari pacar untuk menjadi menantu umma. Puas!”

***

Suasana kelas kedokteran begitu hening saat mahasiswanya sedang mendengarka ceramah dari sang dosen yang sedang memberi penjelasan didepan. Jin ae asyik bergelut dengan mimpinya disamping Kiseop yang sedang serius mendengarkan dosen.

Satu jam berlalu dan kelas selesai maka Kiseop membangunkan Jin ae.

“Jin ae ireona pelajaran sudah habis. Kau mau ku tinggal sendirian dikelas” ucap Kiseop menggoyang pundak sahabatnya.

“Ne. aku bangun” ucap Jin ae mengucek matanya.

“Kau begadang lagi tadi malam”

“Ani. Aku tadi malam tidak bisa tidur karena ibuku sedang mengundang teman-teman bisnisnya makan dan mengobrol sampai malam”

“Ayo kita ke kantin. Aku lapar sudah seminggu aku tidak makan dengan teratur” ucap Kiseop sambil mengelus perutnya yang lapar.

“Kau ini walau penyanyi setidaknya makanlah dengan baik” ucap Jin ae membenarkan rambutnya.

“Ne, kau ini bawel sekali” ucap Kiseop mencubit hidung Jin ae sambil tersenyum.

“Appoo….”

-Kantin-

Jin ae dan Kiseop makan sushi sambil berbincang dan melihat teman yang lain berlalu lalang keluar masuk kantin.

“2 semester lagi kita lulus tapi aku bosan appaku memaksaku mengelola hotelnya padahal aku ini seorang penyanyi dan calon dokter lagipula anaknya juga tidak Cuma aku saja begitu pula istrinya juga bukan Cuma ibuku” ucap Kiseop sambil memakan sushinya.

“Kau enak Kiseop itu bukan hal yang susah, kau bisa mengelola hotel dan kerja jadi dokter” ucap Jin ae putus asa meletakan kepalanya dimeja.

“Itu sulit untukku.  Aku ingin menikmati satu profesi saja! Aku ini bukan maruk dengan kekayaan tapi aku ingin hidup dengan kemampuanku sendiri. Aku kuliah dan beli apartement juga dari hasil menyanyi karena tidak mau merepotkan ibuku. Dia sudah susah sejak bercerai dengan ayahku”

“Lebih sulit hidupku karena ibuku selalu memaksaku menikah dan memberikannya cucu. Kau tau sendirikan aku ini tidak pernah pacaran bagaimana mau menikah? Lagipula aku masih 21 tahun ingin menikmati masa muda” ucap Jin ae tambah frustasi.

“Jelaskan pada ibumu kalau kau tidak ingin menikah dulu. Mudahkan?” celetuk Kiseop tanpa pikir panjang.

“Umma akan menikahkan aku dengan pilihannya jika aku tidak segera mendapat pacar”

“Mau aku bantu? Sepertinya kau membutuhkan bantuan”

“Maksudmu?” tanya Jin ae langsung memandang Kiseop tak mengerti.

“kita menikah bodoh. Dengan begitu umma mu tidak mendesakmu lagi sedangkan aku bisa makan dengan benar jika kita menikah. Kau jadi juru masak sebagai imbalannya. Bagaimana?” jawab Kiseop santai.

“Kurasa usulmu tidak merugikan ku?”

“Kau tak perlu takut aku takkan menyentuhmu, aku ini sahabat yang baikkan. Heheheh^*^ kapan kau akan memperkenalkan aku pada ibumu”

“Memang kau tidak sibuk? Dan apa management mu mengizinkan mu menikah”

“Tenang saja. Kalau aku dipecat aku masih bisa bekerja sebagai dokter sesuai dengan jurusanku. Otakku juga jenius selama ini. Hehehe^*^” ucap Kiseop berbangga diri.

“Ne. baiklah! Kita temui ibuku secepatnya dan bawa orangtuamu menemuinya” ucap Jin ae pasrah.

“Ne. Nanti aku akan menghubungi ibuku dan ayahku”

-Kiseop apartement’s-

Seorang wanita separuh baya bersama pria separuh baya datang dan menggedor pintu apartement putranya. Kiseop dengan tampang bangun tidur membukakan pintunya dan mempersilahkan kedua orangtuanya masuk dengan wajah tergesa-gesa.

“Pagi-pagi kenapa appa dan umma bisa datang kesini secara bersamaan tanpa bilang dulu padaku” tanya Kiseop santai membawakan dua buah cangkir berisi teh hangat.

“Anak kurang ajar. Apa maksudmu tiba-tiba bilang kau mau menikah? Kau ini masih mudah, masih 22 tahun dan belum lulus kuliah” celetuk sang ibu marah-marah pada putranya.

“2 Semester lagi aku lulus jadi jangan khawatir Umma. Aku juga punya uang hasil menyanyi untuk menghidupinya”

“Kau ini setau appa tidak punya pacar karena sibuk menyayi, kenapa tiba-tiba ingin menikah. Apa wanita itu hamil” celetuk Ayah Kiseop ikut bicara.

“Appa fikir aku namja bejat. Lagipula wanita yang akan ku nikahi juga bukan wanita murahan seperti yang kalian fikirkan?! Aku menikahinya karena aku tertarik padanya sejak pertama kami masuk mahasiswa kedokteran namun baru akhir-akhir ini kami dekat. Aku jamin kalian akan menyukainya”

“Huft.. Umma menyerah terserah kau saja”

“Baiklah! Aku akan mempertemukan appa dan umma dengan keluarganya secepatnya agar aku segera bisa menikahinya”

Kedua orangtua Kiseop hanya geleng-geleng tidak percaya mendengar keputusan putranya.

***

Jin ae guling-guling diatas tempat tidurnya karena resah kalau Kiseop tidak berhasil membujuk orangtuanya. Tidak mungkin juga orangtua Kiseop akan langsung menyetujui pernikahan anaknya apalagi mengetahui anaknya selama ini tidak pernah punya pacar. Sudah 4 hari sejak percakapannya dikantin Jin ae tidak bertemu dengan Kiseop dikampus.

Tok.. Tok…

“Jin ae ayo makan malam” teriak Umma dari luar kamar.

“Ne. Jin ae akan segera turun” ucap Jin ae beranjak dari tidurnya.

Jin ae duduk di meja makan sementara ibunya meletakkan menu makan malamnya. Jin ae menatap makan malam dengan tidak selera karena ibunya mulai mengoceh masalah pernikahan.

“Jin ae minggu besok temani umma menghadiri pernikahan anak teman umma. Siapa tau nanti kau bisa bertemu namja yang mau denganmu?” ucap Umma Jin ae mulai berhayal.

“Umma jangan mulai lagi” bentak Jin ae.

“Habis kau tidak mau segera menikah. Umma ini sudah tua dan tidak mungkin terus menjagamu. Kalau kau menikah ada suamimu yang bisa umma percaya”

“Umma kenapa kau berkata seperti mau meninggalkan aku” ucap Jin ae sedih.

“Bukan begitu tapi..”

Belum selesai mengucapkan kalimatnya bel berbunyi yang membuat Jin ae dan ibunya berhenti dari makannya.

“Kau lanjutkan saja makannya biar umma yang buka pintunya” ucap Umma Jin ae beranjak dari duduknya menuju depan.

Jin ae menyendok nasi dan hampir tersedak ketika Ummanya berteriak memanggil namanya. “Jin ae cepat kesini”

“Ne”

Jin ae meminum air putih dan kemudian berlari kedepan. Jin ae melihat ada namja berambut coklat didepan rumahnya namun tak asing untuknya.

“Kiseop…”

“Anyong..”

“Kau tak pernah bilang punya namjachingu setampan dia, ayo ajak masuk” ucap Umma mendahului Jin ae masuk kerumah.

“Ayo masuk Seop-ah umma bisa mengomel membiarkanmu diluar” ajak Jin ae.

“Ne.” Kiseop mengikuti langkah Jin ae masuk kedalam rumah.

“Kau kemana saja Seop-ah 4 hari tidak muncul dikampus”

“Aku sedang mempersiapkan sesuatu, hehehe^*^”

Umma Jin ae datang membawa nampan berisi kopi dan makanan ringan.

“Silahkan dinikmati” ucap Umma Jin ae.

“Adjuma ada yang ingin aku sampaikan padamu mengenai hubunganku dengan Jin ae”

Umma menyerngitkan dahinya tanda tak mengerti dan kemudian memandang putrinya yang menunjukkan kegugupan sebelum akhirnya kembali memandang Kiseop.

“Ne, apa yang ingin kau sampaikan”

“Begini adjuma saya bermaksud ingin meminta izin kepada anda untuk memberikan putri anda pada saya. Aniya maksud saya izinkan saya menikahi putri anda karena saya yakin mampu menghidupinya”

“Apa kau bercanda Seop-ah!” ucap Jin ae langsung saja dengan wajah kaget.

“Apa wajahku menunjukkan aku sedang bercanda” ucap Kiseop tegas tanpa ragu membuat Jin ae terbelalak.

“Kalian ini sudah dewasa tapi seperti anak kecil. Kiseop-ssi kau yakin ingin menikah dengan putriku karena putriku selalu menghindari pertanyaan tentang pacar dan menikah”

“Putri anda ini sangat pemalu makanya saya langsung meminta izin pada anda”

“Kapan kau akan membawa orangtuamu untuk membicarakan tanggal pernikahannya”

“Secepatnya adjuma”

“Baiklah!”

-Taman kota-

Jin ae dan Kiseop tengah duduk sambil menikmati pemandangan langit sore yang sedikit gelap akibat mendung yang menggumpal dilangit.

“Kiseop kau yakin mau menikah denganku” tanya Jin ae menerawang jauh keawan.

“Wae? Kau ragu padaku” Kiseop berbalik tanya.

“Bukan begitu. Ini konyol menurutku. Bagaimana mungkin kita menikah padahal kita ini bukan sepasang kekasih. Kita menikah hanya karena ingin saling menolong sebagai sahabat”

“Sudahlah! Jangan difikirkan siapa tau saja kelak kita bisa saling mencintai satu sama lain”

“Tapi kau ini artis Lee kiseop, bagaimana jika fens mu tidak terima kau menikah bisa-bisa aku yang diteror”

“Jangan kau fikirkan! Aku akan melindungimu”

-Next month-

Jin ae gugup ketika berjalan kearah Kiseop yang sedang berdiri didepan altar menunggu kedatangannya. Kiseop dari kejauhan hanya memberikan senyuman manisnya supaya Jin ae tidak terlalu tegang.

Prosesi pernikahan dibuat sederhana karena Kiseop tidak mau ada begitu banyak orang yang menghadiri pernikahannya yang hanya karena persahabatan abadi.

“Padahal Cuma pernikahan sederhana tapi tetap saja melelahkan, apa artis-artis yang berpesta megah itu tidak capek” keluh Jin ae merebahkan tubuhnya disofa apartement Kiseop.

“Sama saja capeknya. Kau mandilah duluan! Aku mau pesan makanan kau pasti lapar juga dari siang belum makan” ucap Kiseop yang duduk disamping Jin ae.

“Hem”

Jin ae masuk kedalam kamar mandi sementara Kiseop memesan makan malam.

****

Pernikahan Jin ae dan Kiseop dilalui dengan menyenangkan karena memang mereka berdua akrab sebagai teman, namun kedua orangtua mereka kadang suka membahas masalah cucu yang membuat keduanya mati kutu.

Kini Kiseop masih menjalani dunia menyanyinya walau sudah menyelesaikan kuliahnya sebagai dokter sedangkan Jin ae sudah bekerja disalah satu rumah sakit sebagai dokter yang diam-diam disukai oleh teman kerjanya yang bernama Kyoungjae.

Jin ae menyusuri lorong rumah sakit setelah mendapat laporan tentang pasiennya, dengan setengah berlari Jin ae memasuki ruangan pasien yang sedang membutuhkan pertolongannya yang ternyata sudah ditangani teman kerjanya.

“Dokter Kim bagaimana keadaan pasien ini?” tanya Jin ae yang baru memasuki ruangan.

“Jantungnya melemah karena keteledoran suster yang membiarkannya memegang benda tajam sehingga membuatnya kehilangan darah” jawab Eli yang memasangkan infus berisi darah ditangan kanan pasien.

“Syukurlah anda datang lebih cepat untuk menanganinya, kalau tidak bagaimana nasib anak ini.” Dengus Jin ae lega.

“Jangan khawatirkan Kim chul ah dokter Lee karena dia gadis kecil yang kuat”

“Ne dokter Kim, lalu suster yang menanganinya bagaimana?”

“Dia terus saja minta maaf karena tadi tidak sengaja meninggalkannya sendirian ketika dipanggil dokter Jang”

“Lain kali jangan biarkan ini terulang lagi, karena bisa saja jantunganya berhenti karena kehabisan darah” ujar Jin ae lagi kemudian keluar ruangan bersama Eli.

***

-Dikantin rumah sakit-

Jin ae makan siang sambil bersms’n ria dengan Kiseop yang juga sedang makan siang bersama dengan teman-temannya dimanagement. Jin ae mendongakan kepalanya ketika merasa ada seseorang yang duduk didepannya.

“Boleh aku duduk disini? Daripada kau makan sendirian” tanya Eli meletakan makanan yang dibawanya.

“Tentu dokter kim.” Jawab Jin ae sambil tersenyum memamerkan gigi gingsulnya.

“Inikan diluar kenapa memanggilku dokter kim”

“Hehe^*^ aku lupa kyoung jae oppa.”

“Kau ini. Aku ingin sekali melihat suamimu secara langsung selama ini aku Cuma melihatnya ditelevisi. Aku ingin tau sehebat apa dia bisa membuatmu mencintainya”

“Dia biasa saja. Kami hanya teman kuliah, bisa akrab saja dulu karena kami sering menjadi satu kelompok membuat makalah dan laporan penelitian”

“Cinta itu memang aneh bukan Jin ae. Simple namun menghanyutkan tak memiliki alasan kenapa kita bisa jatuh cinta. Aku saja dulu kalau tidak melihat dia menjemputmu aku tidak akan percaya kau itu istri Lee kiseop”

“Kau benar Oppa. Jika ada alasan mencintai bukankah sangat aneh, cintsa itu tak memiliki alasan karena jika ditanya kenapa kau mencintai seseorang maka kau akan bingung mencari jawabannya. Aku juga heran kenapa aku dulu mengiyakan dia ketika dia mengajakku menikah setahun lalu”

“Hahahahah. Deskripsimu tentang cinta lucu sekali”

“Apanya yang lucu, huft” ucap Jin ae mengerucutkan bibirnya pura-pura marah.

“Hahahaha. Kau ini sudah menjadi dokter tapi menggemaskan. Kau tau bagiku cinta itu sebuah pengorbanan, melihatnya bahagia dengan cintanya itu sudah cukup membuatku bahagia walau aku tidak bisa memilikinya” ucap Kyoung jae menerang jauh, ekspresinya langsung berubah sendu.

“Kau ini sendu sekali bahasamu. Apa kau baru ditolak oleh seseorang”

“Bukan ditolak sih, tapi aku tak berani mengungkapkan padanya. Dia sudah memiliki seseorang disampingnya, jadi aku tidak mau menjadi orang ketiga walau jujur aku ingin membahagiakan dia”

“Susah juga ya kalau sudah begini. Love is blind benar-bena membuat buta dan mampu mengalahkan segalanya”

“Hehehehe. Sudah lupakan saja, eh bagaimana jika aku menyukaimu saja kan kau pasti kesepian jika ditinggal suami mu tour konser” gurau Kyoung jae.

“Kau gila. Kau mau dikuburnya hidup-hidup olehnya. Hahahahaha…….”

-At Apartement’s  19.30 KST-

Jin ae menutup pintu apartementnya dengan pelan tanpa harus menguncinya lagi karena sudah otomatis pintu akan terkunci sendiri secara langsung.

“Kiseop oppa belum pulang kurasa, ini masih sepi. Huft! Selalu saja begini” dengus Jin ae mendudukan dirinya disofa panjang apartement.

“Kau sudah pulang” tegur seseorang yang keluar dari kamar sambil mengacak rambutnya, terlihat Kiseop bangun tidur dan duduk disofa sebelah Jin ae.

“Kau membuatku kaget saja seop-ah, aku kira kau hantu gentayangan penunggu apartement ini” kesal Jin ae.

“Mana ada setan. Malam sekali kau pulang. Kau tidak berkencan dengan namja lain kan dibelakangku?!”

“Kau fikir aku serendah itu berkencan sementara dirumah aku punya monster yang siap memakanku hidup-hidup” sindir Jin ae semakin kesal.

“Yaaaa, aku ini suami mu”

“Suami jadi-jadian seop-ah, jangan menganggapnya serius, aku tidak mencintaimu dan kaupun sama denganku bukan?”

“Apa salahnya kita mencoba mencintai, toh kita sudah menikah selama setahun lebih. Mau sampai kapan kau menutup hatimu dan tidak mengijinkan ku untuk menyentuh hatimu. Kau tau aku lelah selalu ditanya tentang cucu oleh umma”

“Mengertilah, aku tidak bisa mencintai untuk saat ini”

“Mau sampai kapan kau menutup hatimu, mau sampai dunia kiamat. Aku akan melepaskanmu jika kau sudah menemukan cintamu, aku hanya ingin membantumu karena aku menyayangimu. Belajarlah mencintai sesorang walau itu bukan aku” ucap Kiseop yang berjalan kearah kamarnya.

Tes…

Tetes air mata membasahi wajah Jin ae, kata-kata Kiseop membuatnya menjadi serba salah karena bersikap egois. Sesungguhnya Jin ae juga

 menyayangi Kiseop namun gengsi dan sikap egoisnya mengalahkan segala yang terpendam didalam hati Jin ae. Jin ae menangis dalam diamnya, dengan langkah gontai dia memasuki kamarnya dan menenggelamkan dirinya keranjangnya. Menangis sejadi-jadinya.

Sudah sebulan Jin ae dan Kiseop tidak saling menyapa, Kiseop juga jarang sekali pulang karena sibuk dengan tour lagu-lagunya. Hal ini membuat Jin ae tersiksa karena mulai merasakan dia begitu merindukan sosok Kiseop yang setiap hari ditemuinya dirumah walau Cuma sebentar.

Pagi ini Jin ae menemani pasiennya Kim chul ah duduk ditaman rumah sakit, ini sudah menjadi kebiasaan Jin ae bila tidak ada kerjaan diruangannya dan untuk menghilangkan kejenuhannya yang semakin merindukan wajah suaminya.

“Chul ah kenapa orangtuamu tidak pernah datang, yang dokter lihat sering menjengukmu hanya namja yang tinggi mirip cinderella itu” tanya Jin ae yang duduk dibangku taman sedangkan Chul ah duduk dimursi rodanya.

“Dia itu orang yang menjagaku setelah orangtuaku meninggal akibat depresi perusahaannya bangkrut, dia melindungiku seperti oppa pada saengnya namun diam-diam aku menyukainya sebagai seorang namja namun umur kami juga berbeda jauh. Aku berusia 16 tahun sedangkan dia 30 tahun”

“Cinta itu tidak memandang perbedaan usia. Cinta itu yang penting tulus dan memiliki hal yang kita tidak tau kenapa kita mencintainya”

“Tapi dia punya masa lalu yang buruk dengan mantan tunangannya, dia pernah ditinggalkan mantannya pergi dengan namja lain”

“Heeeeemmm…. Sepertinya rumit ya, bagaimana kalau dokter yang mengatakan padanya jika kau malu mengungkapkannya”

“Jangan. Aku malu dokter” ucap Chul ah menutup mukanya yang bersemu merah.

“Tenanglah. Dokter akan mengatasinya nanti” ucap Jin ae sebelum menengadahkan wajahnya kearah awan.

-Diruang kerja-

Kyoung jae memeperhatikan Jin ae yang tengah menyelesaikan laporan-laporannya. Setelah berantem dengan suaminya alias Kiseop, Jin ae memutuskan untuk menyibukan dirinya walau tidak bisa dipungkiri bahwa Jin ae merindukan suaminya itu.

“Kau sudah mempersiapkan segalanya untuk tugas didesa terpencil itu, di daerah busan” tanya Kyoung jae yang masih berdiri didekat jendela.

“Ne, masih lusa bukan berangkatnya” jawab Jin ae lesu.

“Kau sudah memberitau suamimu.”

Jin ae hanya menggelengkan kepalanya.

“Wae? kalian berantem. Hal itu sudah biasa bukan kenapa masih saling gengsi”

“Dia itu pendiam tapi kalau sedang marah dia mendiamkanku, bahkan sudah sebulan dia jarang sekali pulang”

“Dia mungkin sibuk, itu juga untukmu. Memang ada masalah apa kalian berantem”

“Biasalah, masalah orangtua kami ingin cucu sedangkan aku belum siap untuk memenuhinya sehingga kami berantem. Ini sungguh menyiksa sekali” dengus Jin ae.

“Kau sudah dewasa dan memutuskan untuk menikah harusnya kau sudah mempertimbangkan hal ini bukan. Bagi pernikahan cinta dan buah hati merekalah yang penting karena itu adalah bukti cinta. Kenapa kau ragu jika kau punya suami yang mau memahamimu, aku memang belum menikah makanya aku tidak bisa memberimu nasehat yang lebih bijak”

“Hem, kalau sempat sebelum berangkat aku akan mengiriminya pesan”

**********

Jin ae melihat namja yang sering datang menjenguk Chul ah pasiennya sedang meminum kopi dikantin sambil menerawang jauh kedepan.

“Boleh aku duduk disini tuan kim” tanya Jin ae yang berdiri di samping meja Heechul.

“Tentu dokter Lee, silahkan duduk” jawab Heechul mempersilahkan.

“Kamsahamnida. Kenapa tidak menemui Chul ah malah kesini, mian aku tidak bermaksud ikut campur”

“Gwaenchanta dokter Lee, aku hanya ingin bersantai dulu sebelum menemaninya”

“Boleh aku bertanya sesuatu?!”

“Tentu.”

“Apa hubungan anda dengan Chul ah. Chul ah bercerita bahwa keluarganya meninggal dalam kecelakaan lalu andalah yang menolongnya, kurasa anda memiliki perasaan padanya karena dia menyukai anda karena anda penolongnya”

“Hubungan apa maksud anda? Aku bukanlah adjushi genit yang memacari gadis dibawah umur dokter. Aku menyayangi Chul ah karena aku juga kehilangan orangtuaku dalam kecelakaan maka itu aku ingin melindungiku. Jika dia menyukaiku mungkin itu sebatas kagum bukan cinta karena seusia dia adalah masa-masa cinta monyet”

“Mungkin bagi anda begitu tuan tapi mata teduh dan polosnya menyiratkan dia mencintaimu. Aku tau kau punya luka yang membuatmu menjadi menutup hati tapi tidak selamanya anda akan seperti ini, anda butuh cinta baru untuk menyembuhkannya. Selamat malam tuan aku harus beres-beres laporanku dulu”

Jin ae meninggalkan Heechul yang terdiam lalu kemudian juuga pergi dari kantin rumah sakit.

-At Apartements-

Jin ae memasukan kombinasi paswod diapartementnya, setelah terbuka dan masuk kedalam Jin ae berjalan kearah kamarnya. Jin ae menemukan Kiseop tengah menyesap kopi sambil menatap keluar jendela yang sedang diguyur hujan salju.

“Kau sudah pulang” ucap Kiseop yang tetap menatap jendela.

“Ne, tadi banyak kerjaan. Kau sudah makan malam? Mau kubuatkan makanan”

“Tidak usah aku belum lapar. Mandilah! Kau pasti kedinginan tadi diluar sedang ada salju, biar aku yang membuatkanmu makan malam”

“Ne, gomawo”

“Tak masalah”

Pada saat makan malam.

Jin ae ingin memulai pembicaraan namun canggung apalagi ini untuk pertama kalinya mereka makan bersama setelah beberapa waktu mereka tidak bertegur sapa.

“Seop-ah aku lusa ditugaskan didesa terpencil daerah busan” ucap Jin ae.

“Ne, aku usahakan untuk mengantarkanmu kesana.”

“Eh, Gomawo”

“Cheon, jangan sungkan aku kan suamimu”

-Dikota Busan-

Jin ae dan Kiseop memasuki tempat tinggal Jin ae yang ada dibusan, Kiseop ingin mengungkapkan bahwa dia sangat mencintai Jin ae bukan hanya sekedar mereka yang bersahabat sejak kuliah.

“Kau yakin tidak apa-apa sendirian, aku tidak bisa menemanimu karena ada show di jepang selama beberapa hari”

“Aku bisa menjaga diriku sendiri. Tenang saja! Nanti diklinik juga aku punya teman”

“Ya sudah. Aku akan datang kesini setelah aku kembali dari jepang”

“Tidak usah, kau istirahat saja dirumah kau pasti capek”

“Hem, aku pulang ke seoul nanti hubungi aku kalau ada apa-apa”

******************************************************

 

Malam terasa indah, sejak ku mengenalmu..

Pagi ku semakin cerah, bila ku mengingatmu..

Apakah yang kurasa benar jatuh cinta…

Mungkinkah aku jatuh cinta padanya..

Mungkinkah aku jatuh hati padanya..

Hatiku terasa smakin rindu..

Rindu ini hanya untuk dirinya..

Sayang ini hanya untuk dirinya..

O tuhan aku jatuh cinta…

Mungkin hangat cintamu, meluluhkan hatiku..

Apakah yang kurasa benar jatuh cinta…

Jin ae merindukan Kiseop merindukan sosok sahabatnya sewaktu kuliah itu, Jin ae mulai menyadari betapa dia mencintai sahabat kuliahnya itu.

“Huft, sepertinya Kiseop terlalu memenuhi otakku. Sampai sesak begini karena merindukannya” ucap Jin ae yang berjalan ditengah malam dengan hawa dingin yang sedang menyerang. “Aku harus sampai rumah kalau tidak aku bisa kena flu”

Jin ae mempercepat langkahnya menuju  tempat yang ditinggalinya sekarang. Jin ae masuk kedalam kamarnya dan mendapati sosok suaminya tidur tengkurap ditempatnya tidur.

“Omo.. Kau seperti hantu saja” teriak Jin ae keras reflek dari setengah terkejutnya.

“Kau berisik sekali, aku baru 5 menit yang lalu tidur” protes Kiseop mengerjapkan matanya memandang langit-langit kamar.

“Kau baru pulang kenapa langsung kesini bukannya istirahat dirumah dulu, ckckckckck…” ucap Jin ae mendekati ranjang tempat tidurnya, lalu duduk dipinggiran ranjang didekat Kiseop tidur.

“Kau fikir aku bisa tenang meninggalkan istriku disini sendirian” Kiseop bangun dan memeluk Jin ae dengan hangat. “Aku merindukanmu Jin ae”

“Eoh! Aku juga merindukanmu Seop-ah, tapi bisa kau lepas pelukanmu. Aku merasa sesak”

Dengan cepat Kiseop melepaskan pelukannya itu. “Mian Jin ae, aku tidak bermaksud membuatmu sesak”

“Ne, gwaencha.. Aku mau mandi dulu, kau tidur saja lagi”

Terlihat wajahku dimatamu yang mendambakan kasih sayang

Pertanda benih cinta mulai tumbuh

Kau jauh disana dan bersama rinduku

Hanyalah daun berdesisi sayup

Kuingin dengar ketulusan hati membuka pintu hatimu

Sambil berbisik aku sayang padamu..

Mulai kini kuserahkan cintaku

Sejak hari ini hatiku bersamamu slamanya

Dan pasti kuberikan cintaku

Mulai saat ini diriku milikmu selamanya

Jin ae selesai mandi dan Kiseop masih terbaring dan memandang langit-langit kamar istrinya.

“Kenapa tidak tidur lagi?” tanya Jin ae yang duduk dipinggir ranjang sebelah suaminya.

“Aku tidak mengantuk lagi” jawab Kiseop singkat.

“Kau tidak capek langsung kemari setelah tour. Kau harusnya kasihan pada tubuhmu”

“Aku hanya tidak mau sendirian diapartement”

“Kau ini kekanakan sekali, kau ini bukan anak kecil”

“Biarlah. Kapan kau bisa cuti? Aku ingin mengajakmu liburan ya anggap saja sedang honeymoon”

“Bulan depan kurasa karena bulan depan aku kembali bertugas di Seoul”

“Ne, ayo kita tidur ini sudah larut”

“Ne, jalja”

**********************************************************

Honeymoon in Italy.

Kiseop dan Jin ae menikmati makan malamnya direstorant dekat hotel tempat mereka menginap, keduanya kompak ingin makan malam dengan pasta dan makroni.

“Kau suka tempat ini” tanya Kiseop sambil menikmati pastanya.

“Lumayan” jawab Jin ae singkat.

“Mau jalan-jalan setelah ini”

Jin ae mengangguk karena mulutnya sedang mengunyah makanannya.

Malam semakin larut dan dinginnya udara semakin menusuk tulang rusuk mereka berdua yang sedang jalan kaki menikmati indahnya pemandangan kota Roma.

“Jin ae ada yang ingin ku sampaikan” ucap Kiseop tiba-tiba hingga membuat Jin ae menoleh padanya.

“Ne, katakan saja”

“Would you my wife Jin ae?”

“Kitakan sudah menikah? Kenapa kau  melamarku lagi?” tanya Jin ae dengan wajah tak bersalah.

“Kau merusak suasana saja Lee Jin ae.”

“Ya maaf, habis kenapa kau berbuat aneh begitu membuatku bingung”

“Aku ini ingin melamarmu secara resmi, dulu itukan kita menikah tanpa cinta. Babo Jin ae”

“Maaf” ucap Jin ae merasa bersalah.

“Kali ini aku nggak akan mengulanginya lagi, paham. Lee Jin ae maukah kau menikah denganku secara nyata dan melewati semua suka duka bersama”

“Iya, aku mau”

Kiseop langsung membawa Jin ae kedalam pelukannya dan memeluknya dengan erat sembari memebrikan kecupan ringan pada dahi Jin ae yang tertutup poninya.

Aku manusia yang lemah..

 Maafkanlah bila ku tak bisa..

Menjaga semua yang telah kita bina bersama..

Aku juga manusia biasa yang tak luput dengan kekurangan..

Tapi ku tak ingin diduakan apalagi dilupakan..

Tapi apalah dayaku semua telah terjadi..

Namun ku ingin kau tau? Aku masih cinta..

Dan bila kau memang cinta padaku..

 Janganlah kau pergi dari hidupku..

Bila kita memang saling mencinta..

 Mengapa kita harus berpisah..

Bila cinta ada cinta dihati kita..

 Percayalah kita kan bersama..

——-END———–

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s