FF//Lonely! Apakah arti kata ‘ Teman & Sahabat’//

Lonely!

Apakah arti kata ‘ Teman & Sahabat’

 

FF Ini aku tulis bukan karena aku berlebihan tapi karena aku hanya ingin diperlakukan bukan seperti sampah atau hewan.

Aku tidak menerima bashing dalam bentuk apapun.

 

 

 

Story 1.

-cho shinkyu pov-

Aku adalah seorang yeoja kesepian dan selalu seorang diri di kucilkan oleh lingkup pertemananku, aku bernama cho shinkyu siswa di Namwon high school tingkat 3. Aku selalu dijadikan bahan tertawaan oleh teman-temanku bahkan nyaris dikucilkan oleh mereka, seperti tidak ada tempat buatku.

Huah! Aku capek hidup seperti ini terus. Aku ingin hidupku yang dulu yang ceria dan periang hanya dengan appa sudah cukup karena Cuma dia sepertinya yang mau menerima keberadaanku di dunia ini.

Dan sekarang hanya dunia maya yang setiap hari menjadi hiburanku walau kadang mereka masih ada yang tidak mau berteman, tapi ada beberapa orang yang mau menemaniku berbagi cerita.

(Hey! Lagi ngapain? Lagi bete nih. Apa nggak ada yang menarik?) pesan dari salah seorang temanku.

(Nggak ada tuh. Mana sebentar lagi ujian. Payah banget) balasku.

“Shinkyu.. cepat mandi dan makan, kerjaanmu 24 jam Cuma smsan saja kan bisa mengobrol disekolah” teriak kana selaku bibi yang mengasuhku bersama alm papa.

“Tapi adjuma, kalau tidak ku balas…” Ucapku sambil berjalan kearah meja makan.

“Pokoknya tidak boleh smsan kalau sedang makan”

Karena bibiku marah dengan agak kesal kutaruh hp ku di meja makan, tak lama kemudian terdengar bunyi ada sms masuk. Begitu aku mau mengambilnya bibi menatapku tajam sehingga aku tidak jadi mengambil hp ku.  Hp adalah jalinan penting yang menghubungkan aku dengan teman-temanku.

(kok balasnya lama sih? Ada apa) temanku mengirimiku pesan ketika aku masuk kamar.

(mianhe. Tadi aku sedang makan dan nggak bisa membalas smsmu karena diomeli bibiku) balasku.

(Aku paham, bibimu pasti nggak mau tau. Besok mau shopping?) balasnya.

Syukurlah dia tidak marah padaku. Aku terus-terusan membalas smsnya sambil tiduran. Inilah saat yang paling terbaik dan membahagiakan dalam sehari.

—-

 

Ku masukkan buku catatan dan buku ku yang berserakan gara-gara aku ketiduran dimeja. Jam hp ku menunjukan pukul 6.30 pagi, lampu tanda sms masuk mulai redup. Begitu ku periksa ada 5 sms dari Saera dan 6 sms dari chin mi temanku. Aku baru sadar! Gawat…

Saat berfikir akan membalasnya adjumaku berkata dari luar kamar “Shinkyu mau tidur sampai kapan, mulai hari ini kau ada pelajaran tambahan dan tes reguler.. apalagi tes bahasa inggrismu yang paling jelek”

Aku buru-buru memasukkan hp ku kedalam saku seragamku dan segera bergegas keluar kamar, Saera dan chin mi kompak pernah berkata ’kalau baru belajar sekarang sih, sekali nggak bisa tetap nggak bisa’ sambil mereka menertawakan aku. Karena memang aku benar-benar tidak bisa namun aku harus tetap belajar. Namuan semua percuma karena aku kadang suka ketiduran saat setengah jalan belajar. Aku turun kelantai satu dengan perasaan siap-siap menangis. Aku mencari saera dan chin mi dikelas 3-2.

“Saera! chin mi!”

Aku melihat mereka  sedang duduk dan mengobrol didekat jendela dan melambaikan tanganku, Tapi mereka hanya melirikku dan memalingkan pandangan mereka.

“Eh?”

Saat aku berfikir kenapa dengan mereka tapi bel berbunyi. Semua siswa duduk dibangku masing-masing begitupun denganku.

Perlahan aku mulai merasa diabaikan oleh Saera dan chin mi? Tapi mustahil. Pasti terlihat begitu karena bel berbunyi dan mereka kembali ke bangku masing-masing. Tenang! Merekakan sahabatku.

Setelah tes matematika di pelajaran pertama, tes bahasa inggris di jam kedua dan tes sejarah di pelajaran ketiga usai, usailah tes hari pertama ini. Aku memang paling lemah dengan yang berurusan bahasa inggris, saat hasil tes dibagikan nanti pasti aku orang pertama yang akan dimarahi songsaenim dengan tatapan dingin. Arrgghh… pikiranku berat.

Aku berkeliling kelas mencari kedua sahabatku tapi aku tidak menemukan mereka. Begitu pula sewaktu di koridor.

“Hey! Lihat saera dan chin mi nggak” tanyaku pada teman sekelasku yang sedang mengobrol di koridor. Tahu-tahu mereka pergi tanpa menjawabku. Apa mereka tidak melihatku.

Buru-buru aku mengambil tasku ke kelas, aku mendengar suara sms dari hp ku, apa mungkin chin mi dan saera?! Aku bergegas mengambil hp ku dari tasku. Ku buka sms pertama dari beberapa sms yang masuk ke hpku.

(Cho shinkyu dari kelas 3-2 menyukai kyuhyun songsaenim si guru bahasa inggris. Untuk menarik perhatiannya dia tidak mau belajar bahasa inggris bahkan menyontek saat tes. Dasar licik!!  Dia bakteri dikelas kita kalau bicara dengannya nanti bakterinya menular. Yang ingin tertular bakterinya silahkan berteman dengannya! Dan kalian tidak akan bisa kembali ke dunia bersih)

Itulah sms yang menjelekkan diriku dan dikirim keseluruh teman sekelasku. “Apa ini?”

Jantungku berdegup kencang sampai aku merasa sakit dan tubuhku bergetar. Aku bahkan tidak menyukai kyuhyun songsaenim, menyontekpun tidak pernah siapa.. siapa yang mengarang kebohongan ini?! Ku coba untuk membuka sms selanjutnya.

(Menyebalkan… menyebalkan… menyebalkan… menyebalkan…)

Aku langsung membanting hp ku reflek tanpa berfikir terlebih dahulu. Walaupun hp ku sudah terjatuh ke lantai kelas, kedengkian dan kebencian gelap meluap keluar dari layar putih dan bercahaya sehingga aku merasa ketakutan. Kenapa? Mengapa?

“Hey kamu sudah membaca smsnya?” bisik siswi diluar.

“Wajahnya tampak tenang-tenang saja”

Begitu aku menoleh kearah suara bisik-bisik itu, dua siswi  sekelasku yang ada dibelakang langsung bersembunyi sebelum aku sempat berkata ‘kalian salah’. Saat itulah aku teringat apakah chin mi dan saera membenciku karena juga mendapatkan sms ini. Itu mustahil karena mereka sahabatku, mereka pasti tau kalau sms itu bohong! Tapi…

Ku ambil hp ku dan berlari, aku harus segera menemukan kedua sahabatku dan berbicara dengan mereka. Aku segera menuruni tangga, dari koridor aku melihat chin mi dan saera berada dihalaman.

“Saera,,, chin mi,,,”

Keduanya mengangkat wajahnya dan terkejut saat mendengar suaraku memanggilnya. Mereka mengabaikanku yang sedang ingin bicara dengan mereka, saat aku memegang tangan chin mi tanpa berfikir chin mi berkata “Tidak! Amit-amit” sambil melepaskan tanganku dengan sekuat tenaga.

“Chin mi,,,”

“Saera.. aku tertular bakteri~!”

Chin mi mengelap bagian yang ku pegang dengan tissue yang saera dan melemparkannya padaku.

“Cepat pulang” bentak saera.

“Bisa repot kalau disangka aku ini temanmu!” tambah chin mi.

“Tunggu! Kenapa?”

Aku berteriak dibelakang mereka yang menuju pintu keluar.

“Gara-gara sms itu? Sms itu bohong mustahil itu ku lakukan”

“Bukannya kamu justru melakukannya karena itu memang sifatmu” saera mengatakan secara rendah.

“Bukannya kamu itu justru pembohong. Padahal kamu bilang kamu tidak belajar untuk ujian. Kamu belajat semalaman kan? Kamu menipu kami dan mencuri start” tambah chin mi.

“Kami kirimi sms berkali-kali tapi kamu cuek. Ujian itu lebih penting daripada teman ya”

“Mi.. mianhe soal itu! Tapi aku…”

“Dasar culas”

Aku kehilangan kata-kata. Tatapan saera dan chin mi penuh dengan kebencian dan kedengkian.

Sampai dirumah akhirnya aku mematikan hp ku yang ku sembunyikan di bawah ranjang. Walaupun besok ada ujian aku sama sekali tidak bisa belajar sebenarnya ini ulah siapa?

 

Begitu aku masuk kelas, suara riuh rendah disana berhenti, walaupun suasana menjadi tenang, semua menatapku tajam, adapula yang tertawa menyeringai. Tapi semua itu tidak mengandung keramahan seperti biasanya.

Begitu sampai dibangku ku. Mejaku tertutup oleh banyak coretan, aku berusaha menghapusnya namun sama sekali tidak bisa ku hapus karena ditulis dengan pulpen berminyak, semua menertawakan diriku.

“Aaah! Itukan meja sekolah untuk apa kau lakukan itu?”

“Ganti lho!”

Saat aku hendak mengatakan sesuatu, semua pura-pura kabur.

“Wah dia menatap kita”

“Bisa tertular bakterinya nih?”

Seisi kelas mulai menyerangku sebagai sasaran tunggal. Aku bertatapan dengan chin mi dan saera yang tertawa sinis.

“Ih! Menjijikan”

“Aku terus belajar sehingga tidak bisa membalas sms kalian. Mianhe jika kalian marah takkan ku ulangi”

“apa maksudmu?” saera berkata dengan suara rendah.

“Kamu kira kami yang mengirimkan fitnah itu, kamu menuduh kami”

“Jahat! Kami kira kamu sahabat kami”

Chin mi menangis dan saera merangkul bahunya seolah-olah menghiburnya. Atmosfir kelas berubah dingin secara drastis, aku terdiam seperti telah dipukul oleh senjata tajam dan berfikir, semua telah menjadikanku musuh.

Bukankah mereka teman-temanku? Padahal aku juga tidak menuduh chin mi dan saera. Aku hanya ingin mereka memberitahuku jika aku berbuat salah padanya, jika aku membuatnya marah sehingga mereka melakukan ini padaku. Aku takut…! aku takut…!

 

—-

Esoknya  aku tidak masuk sekolah karena tes ku sudah habis dan adjuma mengijinkan aku istirahat dirumah, aku tidak bisa memberitahu adjuma karena pihak sekolah menyuruhku merenung.

Mungkin di dunia ini tidak ada yang mempercayaiku! Semua orang membenci diriku, diriku yang terasing dan kotor.

Saat memikirkan semua ini air mataku mengalir dan tak henti-hentinya menangis. Nafasku sesak! Siapa saja tolong aku! Tapi siapa! Ku tatap bagian atas meja belajarku, disana terdapat fotoku tertawa bersama sahabat-sahabatku. Sekarang mereka membenciku lebih dari siapapun. Aku membuka akun dunia mayaku.

 

Aku ingin akrab dengan temanku secara normal. Disekolahku aku dikatakan licik dan bakteri. Makanya aku ingin akrab dengan mereka tapi sebenarnya aku tak mau dikatakan begitu. Aku harus bagaimana?

-Jin ae-

 

Terus terang saja itu penindasan. Mereka bukan temanmu.

-Ah young-

 

Jantungku berdebar-debar membaca postingan kedua temanku didunia maya.

 

Itu tidak benar. Mereka semua akrab. Aku memakai baju yang kusut setiap hari sehingga kotor dan bau..

-Jin ae-

 

Walaupun begitu, jika kamu berada di posisi mereka apa kamu akan mengatai teman yang kamu sayang dengan sebutan kotor atau bakteri? Kamu pasti takkan bisa mengatakannya. Yang berkata begitu berarti menindasmu.

-Ah young-

 

Aku merasa hatiku bergetar kedalam satu demi satu kalimat itu. Dan akupun bergabung dengan percakapan mereka.

 

Akupun dikatai kotor dan ditindas.

-Shinkyu-

 

Tapi kamu sama sekali tidak kotor bukan!

-Jin ae dan Ah young membalas dengan tulisan yang sama-

 

 

Sekarang aku tidak mau pergi kesekolah karena ditindas, setelah mengumpulkan keberanianku akhirnya aku bercerita pada adjumaku. Adjumaku awalnya kaget namun kemudian mengerti dan akan mencarikan aku sekolah yang baru atau home schooling saja.

Sambil menunggu adjuma ku mencarikan guru privat aku diam dirumah hanya ditemani  sahabatku di dunia maya.

 

“Shinkyu” adjuma memanggilku dan mengetuk pintu kamarku.

Aku membukakan pintu dan membiarkan adjumaku masuk kedalam kamarku.

“Kau bermain internet lagi” tanya adjuma yang sudah duduk diranjangku.

“Ne” jawabku singkat.

“Jangan bermain internet terus. Belajarlah walau belum mendapatkan tempat baru. Tidak sekolah dan tidak belajar itu berbeda kau tidak mau orangtuamu kecewakan”

“Ne adjuma”

“Kita panggil guru privat saja ya. Walaupun tidak kesekolah tapi kau bisa belajar”

“Ne”

Aku membaca sms dari Jin ae dan Ah young yang memberiku kekuatan sehingga aku mampu menceritakan semua penindasan itu pada adjuma. Adjuma marah dan memprotes pihak sekolah, pihak sekolahpun memperlakukan semua temanku layaknya monster sehingga kondisi terburukpun terjadi.

“Kamu tidak perlu kesekolah lagi” tutur kepala sekolah sewaktu adjumaku protes.

“Anak-anak zaman sekarang seram. Jangan mempercayai teman-temanmu lagi” tambah kyuhyun songsaenim.

 

Saat ini hanya adjuma dan kedua teman di dunia maya yang memihakku, aku sedikit senang saat berfikir begitu…

 

Aku membuka akunku lagi dan terkejut namun bersyukur ketika melihat postingan Ah young.

 

Hari ini terjadi luar biasa. Akhirnya teman dekat pemimpin penindasan berkata “kita sudahi saja ini”. Saat si ketua membuat siswi yang ditindas memakai penghapus untuk contekan ujian. Si ketua melihat kepadaku dan hendak berkata namun sebelumnya teman dekatnya berkata “ini sudah tidak lucu lagi. kita sudahi saja hal ini”. Itu juga menggembirakan namun yang paling menggembirakan adalah gadis sasaran itu tersenyum padaku, walau hanya sebentar tapi aku sudah gembira! Butuh waktu 2 bulan sejak berfikir aku ingin berubah entah apa yang akan terjadi setelah ini tapi aku ingin berubah menjadi lebih baik.

-Ah young-

 

Ah young berhasil ya! Menurutku si sasaran itu pasti gembira sehingga benar-benar ingin memelukmu. Karena kalau dia terus bersedih dia takkan bisa tersenyum. Akupun gembira ah young kamu benar teman yang luar biasa.

-Jin ae-

 

Selamat ya! semoga dengan ini mereka mengakhirinya tapi belum tau juga. Tapi yang pasti sekarang akan baik-baik saja. Hwaiting! Lalu jin ae sendiri bagaimana?

-Shinkyu-

 

Aku tidak masuk sekolah untuk sementara atas saran dari guru bimbingan konseling, dan saat mulai ke sekolah lagi aku belajar di ruang UKS selama beberapa hari. Saat itu para gadis yang tak terlibat penindasan itu muncul dan mengajariku pelajaran sekolah. Sebenarnya aku sangat takut bertemu dengan teman-temanku.. tapi aku bisa merasakan aku akan baik-baik saja. Ada gadis yang meminta maaf padaku karena tidak bisa menolongku saat aku ditindas. Aku merasa lega saat berfikir begitu. Hari ini aku pergi ke kelas dan mejakupun bersih seolah tak terjadi apa-apa.

-Jin ae-

 

Kami bertiga mengenal lewat internet dalam sebuah akun, kami tidak pernah bertemu sebelumnya tapi hatiku dan mereka terjalin. Kami bertiga mengutarakan penderitaan masing-masing dan kesedihan hati kami disini. Mereka berdua menyemangatiku dan memarhiku, kami saling berbahagia. Mereka memang teman-teman yang dapat ku percaya, tempatku bergantung yang begitu kusukai dan dekat denganku.

Aku memejamkan mata dan menghela nafas kuat-kuat, Jin ae dan Ah young sudah melangkah kedepan sekarang giliranku untuk maju kedepan.

Aku bangun dari dudukku dan menemui adjumaku yang sedang duduk di ruang tengah.

“Ada apa Shinkyu”

“Free school itu berarti.. aku akan kembali kesekolah”

“Tidak. Bagaimana jika kau ditindas lagi, di hianati dan di fitnah lagi..”

Aku tersenyum dan berkata pada adjumaku “Aku ingin punya teman. Aku takkan menyerah akan ku tempuh jalan didepanku”

 

 

Story 2,.

 

Ini aku tambahi dengan kisah penindasan jin ae.

 

-kim jin ae pov-

Pagi-pagi aku sudah didorong dan terjatuh kelantai toilet.

“Wah dasar kotor.” Suara semua teman wanitaku ditoilet.

“Malah toiletnya yang kotor karena disentuh oleh Jin ae” tutur chin mi dengan sadis.

“Toiletnya kotor karena bakteri Jin ae. Gimana nih” seru Rae yoon.

Kepalaku sakit karena dijatuhkan oleh teman-temanku sekuat tenaga, tapi aku tetap mencoba untuk tersenyum dan berkata.

“Nanti aku akan membersihkannya”

Semua gadis teman sekelasku keluar sambil tertawa, dari sekelas akulah yang selalu dijadikan bahan tertawaan oleh mereka. Aku merasakan air mataku mengalir aku ingin tau lebih banyak cara akrab dengan teman-temanku.  Namun semua teman ku dari sekolah lain bilang bahwa ini adalah penindasan.

Begitu aku keluar dari toilet aku sudah dipanggil oleh Yoon hye songsaenim dari bimbingan konseling sekolah yang menghampiriku sambil tersenyum didepan koridor.

Yoon hye songsaenim membelalakan matanya dibalik kacamatanya dan mengerutkan alisnya.

“Ada apa! kenapa rok mu basah”

“Tidak ada apa-apa songsaenim”

“Mana mungkin begitu, ada apa?”

Aku terdiam tanpa mampu menjawab pertanyaannya, tapi tiba-tiba beliau menghampiriku dan berkata “Telah terjadi sesuatu antara kamu dan temanmu bukan?”

“Eh?”

“Kamu pasti diapa-apakan oleh temanmu?”

Yoon hye songsaenim menatapku. Tapi aku menghindarinya dan berlari meninggalkannya. Songsaenim sepertinya tau kalau aku ditindas oleh temanku. Aku pulang dan langsung membuka akun ku dan melihat postingan dari Ah young dan Shinkyu.

 

Akupun merasakan apa yang dialami oleh Jin ae adalah penindasan, aku saja ditindas sampai tidak bisa masuk kesekolah.

-Shinkyu-

 

Aku tau. Aku dulu juga ditindas. Tapi penindasan itu berakhir karena ada siswa pindahan yang menjadi sasaran penggantiku, tapi aku tidak bisa meninggalakan grupku dan sekarang aku jadi penindas.

-Ah young-

 

Kenapa kamu menindas? Bukankah kamu tau rasanya ditindas itu menyakitkan dan menyengsarakan.

-Shinkyu-

 

Karena aku takut dijadikan sasaran lagi karena tidak bisa menindas. Aku ini culas ya. Aku ini sangat licik dan kotor. Manusia kotor itu ya seperti diriku jin ae dan shinkyu itu tidak kotor.

-Ah young-

 

Jin ae sama sekali tidak menulis apa-apa padahal dia membaca tulisan kita. Kamu nggak apa-apa? kenapa tidak membalas pesanku. kamu sama sekali tidak kotor jin ae.

-Shinkyu-

 

Kamu nggak apa-apa. kami mencemaskanmu jin ae. Kau tidak membalas sms yang kami kirimkan.

-Ah young-

 

Aku menutup akun ku tanpa membalas tulisan mereka ataupun membalas semua pesan yang mereka kirimkan padaku tadi.

“Kenapa aku dilahirkan, harusnya aku tidak usah dilahirkan?”

Hidupku dan keberadaanku tidak diharapkan. Aku selalu merasa kesepian dan sedih, teman yang mau menerima ku yang seperti ini adalah dunia maya ku.

 

Didalam bus piknik kali ini, kami akan naik gunung dan memasak di udara terbuka ditepi sungai, songsaenim meminta semua siswa untuk duduk bersama grup dengan semau merekla.

“Kya… aku nggak mau mati karena duduk disamping jin ae. Aku bisa tertular bakteri” teriak Sang hyun.

Para siswa dan siswi yang segrup denganku heboh secara berlebihan.

“Kenapa? Apa jin ae memakai baju bau lagi” tanya Sungmin songsaenim dengan nada mengejek.

“Bukan bau tapi kotor” teriak semua siswa.

“Itu sama saja”

Aku berlari dan berdiri ditepi sungai saat aku mendengar bunyi sms masuk. Aku merogoh saku rok ku untuk melihat sms dari temanku di dunia maya.

Ku lihat ada beberapa sms dari Ah young dan Shinkyu. Aku membukanya satu persatu dari pesan mereka.

 

Mian aku melukaimu

Apa diakun aku tidak berperasaan. Ayo kita fikirkan pelan-pelan. Aku mendukungmu.

-Ah young-

 

Aku akan mendukung keputusanmu jin ae.

-Shinkyu-

 

Hatiku merasa hangat melihat sms mereka yang mendukungku, aku melanjutkan membaca sms kedua teman didunia mayaku yang senasib denganku.

 

Kau pasti sedih. Mungkin kamu belum ingin mendengar kata penindasan tapi aku membaca tulisanmu diakun dan air mataku terus mengalir tanpa henti.

-Ah young-

 

Dulu aku tak mau sekolah karena tak mau ditindas. Kenapa jin ae mau kesekolah? Di dunia ini tak ada orang yang berhak dilukai. Itu menyedihkan, jika kita bisa bertemu saat ini aku ingin memelukmu dan menangis bersamamu.

-Shinkyu-

 

Tenagaku rasanya lenyap. Teman-temanku selalu tertawa saat melihatku bersedih dan sengsara. Tapi mereka mau menangis dan memelukku untuk kesedihan dan kesengsaraanku, mereka mendukungku.

 

—-

Esoknya aku berjalan sampai kedepan sekolahku dan kakiku tak dapat bergerak karena kram. Aku takut… sangat takut masuk sekolah.

“Kim jin ae…”

Seorang wanita melambaikan tangannya padaku, ternyata yoon hye songsaenim guru bimbingan konseling yang memanggilku. Belum sempat aku menyapa yoon hye songsaenim teman sekelasku sudah menyeretku kegedung sekolah dan mendorongku hingga berdarah serta mengomeliku dengan caci makian.

Saat bel berbunyi mereka berhenti menghujaniku dengan makian, suara tawa mereka memenuhi gedung seolah-olah hendak melumatku hidup-hidup.

 

Aku langsung menyeret tubuhku pulang dan masuk kamarku. Tubuhku sakit tapi hatiku jauh lebih sakit. Hatiku mendapat banyak luka  seolah darahku mengalir dengan deras. Aku mengeluarkan tempat pensilku dan mengambil pisau cutter, apa setelah mati aku bisa ke surga dan bebas dari neraka ini atau diriku yang seperti ini akan tetap masuk neraka setelah mati? Neraka saat masih hidup dan neraka setelah aku mati.

Aku mengirimkan pesan kepada Ah young dan Shinkyu untuk memberitauku, tapi sudah 20 menit tapi belum ada balasannya. Aku tersenyum tanpa berfikir betapa bodohnya aku mengharap mereka padahal aku ini manusia tak berharga dan bodoh. Aku mengambil pisau cutterku kembali. Aku tak tau mana yang lebih ringan neraka saat masih hidup atau neraka setelah aku mati. Aku mengeluarkan ujung pisau dan hendak mengiris pergelangan tangan kiriku saat bunyi sms masuk, aku membukanya.

 

Mian jin ae. Tadi aku masih disekolah tapi aku kepikiran denganmu. Aku nggak mau berfikir kalau jin ae bakal mati. Neraka saat masih hidup atau neraka setelah mati.. kamu salah. Kamu takkan pergi ke neraka bahkan kamu bisa keluar dari neraka yang sekarang

-Ah young-

“Eh?”

Kemudian ada sms masuk lagi, aku langsung membukanya tanpa membalas pesan Ah young.

 

Aku membaca smsmu dan terus berfikir. Tak mudah untuk menjawabnya. Tapi seperti yang telah ku katakan berulang kali aku tidak datang kesekolah. Aku kabur karena ditindas makanya sekarang aku hidup seperti ini. Jangan mau ditakhlukkan oleh penindasan.

-Shinkyu-

 

Ada sms masuk lagi dari ah young yang berkata.

 

Mungkin duniamu sekarang hanyalah kelasmu sedangkan aku dan Shinkyu ada diluar dunia itu. Dari sini kami mendukungmu kita bisa bertemu karena internet dan juga hp ini, namun pasti ada tempat yang akan mengeluarkanmu dari dunia penindasanmu. Jangan menyerah! Ayo kita berjuang bersama-sama

-Ah young-

 

Aku menaruh cutterku dimeja dan mengetik pesan gomawo untuk kedua sahabat didunia mayaku ini.

 

Esoknya begitu aku sampai disekolah para teman sekelasku sudah menunggu digerbang sekolah. Mereka mengepungku dan menyeretku dan membawaku ke halaman belakang. Sekujur tubuhku dipukuli sampai merah dan membengkak, mereka mencaci makiku dan mendorongku lalu pergi meninggalkanku.

Aku berdiri perlahan, tubuhku penuh memar, kakiku terasa sakit tiap kali aku melangkahkan kakiku. Aku ingin berubah dan pergi kedunia lain. Aku masuk kedalam sekolah dan berjalan ke koridor. Aku mengetuk pintu ruang bimbingan konseling.

Yoon hye songsaenim membukakan pintu dan menahan nafasnya saat melihatku. Lalu beliau menyentuh pipiku.

“Sakit ya…”

Saat mendengar perkataan yoon hye songsaenim entah kenapa air mataku mengalir dengan derasnya.

“Songsaenim tolong saya. Tolonglah saya…” pintaku.

Belum selesai berkata yoon hye songsaenim memeluk tubuhku dengan erat.

“Akhirnya kamu datang juga. Kamu pasti menderita kan? Tenanglah! Kamu akan baik-baik saja”

Suara manusia selembut ini..

Dada manusia yang sehangat ini…

Aku bisa datang ke dunia lain…

Aku menangis dan menempel pada songsaenim dengan terus menangis sekeras mungkin untuk membuat hatiku lega.

 

Pulang sekolah aku mengirimkan pesan kepada Ah young dan shinkyu.

 

Hari ini aku sudah berbicara pada guru bimbingan dan konseling, wali kelasku dan juga kepala sekolahku. Wali kelasku tak mampu berkata apa-apa sedangkan kepala sekolah menangis dan meminta maaf atas kelakuan teman-temanku. Sepertinya aku mampu kedunia lain berkat Ah young dan Shinkyu juga.

 

Airmataku mengalir dan bersyukur. Aku meluapkan kegembiraanku dengan air mataku. Tak lama kudengar bunyi sms masuk dari temanku.

 

Syukurlah! Selamat.

-Ah young-

 

Aku mengucapkan terima kasih banyak dan kemudian dia membalasnya dan mencurahkan semua isi hatinya.

 

Akhirnya! Saat ini aku seperti kelelawar. Walaupun dulu aku ditindas kini aku menindas karena tidak mau kehilangan teman-teman yang kini ku dapatkan. Aku ini kelelawar yang culas dan pengecut.

-Ah young-

 

Aku kemudian membalasnya.

Aku paham perasaan ah young.

 

Aku ingin kabur dari penindasan dan akhirnya aku tak perlu ditindas lagi.

 

Malam harinya setelah makan aku membuka akun internet tempatku berkumpul dengan ah young dan shinkyu. Ku lihat ah young memposting sesuatu yang membuatku tercengang.

 

Hari ini pun aku menindas lagi. aku memotong rok gadis itu, aku bahkan melukainya. Aku tak mau melakukannya namun aku tak bisa berhenti. Aku tak bisa berhenti menindasnya karena aku takut kehilangan teman. Aku lebih jahat daripada orang yang ditindas, kalian tidak perlu mencemaskan orang sepertiku. Kalian tak perlu menghubungiku lagi.

-Ah young-

 

Kenapa kamu bilang begitu?! Kita ini senasib. Aku bisa tertolong juga oleh kata-katamu itu. Kamu jangan bersedih sendirian.

-Jin ae-

 

Ah young kenapa? Aku saja tidak mau sekolah dan terus memikirkan soal arti teman. Sebenarnya teman itu apa ya? Orang yang selalu bersama kita? Orang yang membuat kita memaksakan dan membelokkan diri agar selalu bersama kita? Dan jika kita tidak bisa begitu mereka akan meninggalkan dan menindas kita. Apa mereka bisa disebut dengan teman.

Teman itu orang yang mau menderita dan menangis bersama kita. Orang yang sama-sama gembira saat kita senang dan saling berbagi. Bukankah begitu?

-Shinkyu-

 

Aku pun pernah berfikir begitu. Setelah aku bercerita pada guru bimbingan konseling, aku pun merasa bersalah. Bukan karena ditindas aku takut semua berubah. Tapi semua takkan selesai jika kita tidak berubah.

-Jin ae-

 

Benar. Aku harus berubah agar aku tidak jadi pengecut dan menindas lagi aku ingin menolongnya walau nanti aku akan ikut ditindas.

-Ah young-

 

Saat ini aku sudah tenang dan istirahat dirumah untuk sementara sebelum aku memulai sekolahku lebih tenang karena yoon hye songsaenim akan membantuku.

 

-fin-

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s