~ FF % Our Memories % One Shoot ~

FF : ~ OUR MEMORIES {%} One Shoot {%} By : Uland / Song Hyo Kyung {%} ~

 

 

Cast : Song Hyo Kyung (Author), Jung Dae Hyun (B.A.P), Jung Il Woo, Other B.A.P member

 

Author : Uland / Song Hyo Kyung

 

Genre : Comedy, Romance, Sad

 

Hai hai

Aku kembali dengan FF ku. Kali ini aku bawa cowok imut yang punya suara oke d BB B.A.P Jung DaeHyun.  Cowok yang menghipnotisku dengan suara cakepnya saat pertama kali mendengar suaranya. Kayaknya aku gaje banget pake acara curhat segala. Lanjut ke FF aja dech.

 

 

xXx

 

1 April 2007

 

            DaeHyun berlari secepat mungkin ke bukit tempat dia biasa bermain dengan  temannya HyoKyung. Sampai disana HyoKyung sudah menunggunya. Di tangannya ada sebuah kotak mungil berwarna hitam dengan ukir-ukiran indah. Remaja berusia 13 tahun itu terlihat kesal menunggu temannya yang berusia setahun lebih tua darinya itu.

 

“Kyungie… Hosh… hosh…”.

“Kau terlambat 10 menit Hyunnie oppa”.

“Mianhae Kyungie, aku tadi mencari cangkul dulu tapi tidak ada”.

“Lalu bagaimana?”

“Aku menemukan linggis. Hehe”.

“Mwo? Linggis? Yang benar saja! Masa menggali dengan linggis! Mau kapan selesainya oppa?!”

“Sudah diamlah! Biar aku yang atasi”.

 

            DaeHyun mulai menggali menggunakan linggis di bawah sebuah pohon cherry yang sedang bermekaran bunganya. Keringatnya mulai menetes satu persatu. HyoKyung menatap DaeHyun yang sedang bekerja keras itu dengan tatapan antara aneh bercampur heran. Dia duduk menyandar di pohon cherry itu membelakangi DaeHyun. Menatap birunya langit hingga terlelap.

 

30 menit kemudian

 

“Kyungie, ireona… Kyungie?” DaeHyun mengelus-elus pipi HyoKyung membangunkannya.

“Agh. Hyunnie oppa? Aku ada dimana?” HyoKyung menatap sekitar dengan aneh.

“Aish. Kau bangun tidur kenapa jadi amnesia? Sini berikan kotaknya! Aku sudah selesai menggali”.

 

            HyoKyung berdiri dan memperhatikan kegiatan DaeHyun sambil mengingat-ingat apa yang terjadi dan kenapa dia ada di tempat itu sampai tertidur. Selesai mengubur kotak DaeHyun mencuci tangannya di sungai kecil di dekat pohon itu lalu kembali menghampiri HyoKyung.

 

“Ini kalung untukmu. Kalung kembar untuk kita yang tidak boleh hilang dan harus selalu dipakai ya.”

“Kenapa kau memberikanku kalung kembar untuk selalu kita pakai?”

“Karena kotak itu berisi semua kenangan kita berdua. Jadi aku membeli kalung kembar ini sebagai satu-satunya kenangan yang tidak dikubur. Yang memiliki hanya kita berdua karena aku khusus menempahnya. Kau harus janji kembali 5 tahun lagi. Kita bertemu di pohon ini. Jangan nakal selama di Seoul dan jangan lupakan kampung halaman mu yang di Busan ini!”

“Iya oppa. Aku akan selalu mengingat pesanmu”.

“Kita berpisah 1 April 2007 dan harus bertemu kembali 1 April 2012 disini. Jangan lupakan itu Kyungie!” DaeHyun mengecup kening HyoKyung dan menghapus air mata HyoKyung lalu menggandeng tangannya dan beranjak pulang.

 

xXx

 

1 April 2012

 

“Kau mau kemana hyung? Kita harus latihan untuk pertunjukkan besok malam”. Zelo menghampiri DaeHyun yang sedang merapikan barangnya.

“Aku ada urusan! YongGuk hyung izinkan aku pergi, jebal”. DaeHyun bergelayutan di tangan YongGuk seperti seorang yeoja.

“Kau mau kemana DaeHyun?” YongGuk yang risih menyingkirkan DaeHyun dari lengannya.

“Urusan yang sangat penting. Mempengaruhi hidupku hyung”.

“Biarkan saja dia pergi. Lagipula DaeHyun kan bisa ikut latihan besok pagi”. HimChan yang baru datang tiba-tiba berkata enteng dan duduk santai di sofa membuat semua menatap bingung ke arahnya.

“Gomawo hyung”. DaeHyun memeluk HimChan dan memberikan ciuman manis di pipinya lalu langsung pergi meninggalkan tempat latihan tanpa memperdulikan lirikan tajam HimChan yang baru saja dia nodai pipinya.

“Kyaaaa…. Hyung curang! Kemarin aku dimarahi waktu mau pergi tapi kenapa DaeHyun hyung boleh?! Apa aku juga harus menciummu?” JongUp yang kesal mendekati HimChan dan mencoba menciumnya. Diikuti YoungJae dan Zelo yang juga kesal padanya.

“Aish! Pergi dariku!” HimChan bersusah payah menjauhkan JongUp, YoungJae, dan Zelo yang ingin berbuat mesum padanya.

 

xXx

 

            HyoKyung berkali-kali melihat arloji bergambar angry bird yang melingkar manis di pergelangan tangan kirinya. Dia gelisah karena kesibukannya dia terlambat datang untuk menemui DaeHyun di pohon “mereka”. Turun dari bis dia langsung menyeberang dengan terburu-buru. Tiba-tiba dari arah tikungan datang sebuah mobil sport Subaru BRZ yang melaju dengan kecepatan tinggi. Pengemudi mobil itu terkejut melihat HyoKyung yang ketakutan dan dengan reflex menginjak rem.

 

Cckkiiiiittt

Bbrruuuaaaakkkk

 

            Mobil itu menabrak tubuh HyoKyung. HyoKyung terlempar sejauh 5 meter dari tempat dia ditabrak. Dia berusaha bangkit dan berdiri. Dia terkejut saat tak mendapati luka di tubuhnya. Terlebih lagi saat dia ditembus orang yang berlari dan membuat kerumunan di sekitar tempat dia ditabrak barusan. HyoKyung dengan heran ikut bergabung melihat ke dalam kerumunan dan langsung shock melihat tubuhnya sedang terkapar berlumuran darah segar. Dia mundur perlahan-lahan dan tiba-tiba tangannya ditarik seseorang.

 

“Hah? Kau bisa melihatku? Kau bisa menyentuhku? Ternyata aku masih hidup”.

“Hei! Kau sudah mati! Tidak lihat tubuhmu sudah begitu keadaannya?!”

“A…. aku… sudah mati? Tidak mungkin! Kau saja bisa melihat dan berkomunikasi denganku!”

“Jelas saja aku bisa melihatmu! Aku ini Jung Il Woo, si malaikat maut!”

“Malaikat maut? Tidak mungkin! Aku tidak mau mati! Aku tidak boleh mati!”

“Sudahlah jangan banyak bicara dan jangan menunda pekerjaanku!” Malaikat maut itupun menyeret HyoKyung menaiki lift lalu hilang bersama.

 

xXx

 

            DaeHyun tiba di pohon “mereka” menjelang tengah hari. Dia duduk di pinggir sungai kecil di bawah pohon tepat di atas “kenangan mereka” terkubur. Dia duduk sambil menatap air mengalir dan mengenang masa kecilnya bersama gadis kecil sahabatnya.

 

“Kyungie, aku sudah datang kesini. Aku harap kau tak melupakan janjimu 5 tahun yang lalu. Karena aku sudah menantikan saat-saat ini sejak hari kepergianmu”.

 

xXx

 

            Perjalanan di dalam lift membawa mereka ke sebuah taman yang begitu indah dan sejuk karena ditumbuhi rerumputan. Ada air mancur dan beberapa patung putih yang menghiasi taman itu (Taman di 49Days tempat malaikat maut).

 

“Kenapa kita tiba disini?!” Malaikat maut itu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Ada apa? Ini dimana? Apa ini surga?”

“Kau aneh sekali! Kau baru mati, enak saja mau masuk surga!”

“Jadi aku belum di surga? Kalau begitu tolonglah aku Il Woo ahjussi. Aku tidak boleh mati sekarang. Urusanku di dunia belum selesai”.

“Kau itu sudah mati! Bagaimana bisa minta untuk tidak mati sekarang!”

“Hiks. Nappeun neo! Ada hal yang harus ku selesaikan dulu sebelum aku mati. Aku hanya ingin memenuhi janjiku 5 tahun yang lalu dengan seorang namja. Aku ingin mengatakan sesuatu hal yang sudah kupendam dari dulu padanya. Apa kau setega itu padaku? Jebal”.

“Iya iya aku tau hal itu. Karena urusanmu belum selesai juga makanya kita nyasar ke tempat ini”.

“Jinjja? Lalu bolehkah aku bertemu dengannya sebelum aku mati?”

“Kau memang harus bertemu dengannya dulu sebelum kembali ke alammu. Aku memberimu waktu 5 hari untuk mencarinya. Karena aku yakin kau takkan semudah itu bertemu dengannya”.

“Jeongmal gomawoyo. Tapi kau akan membantuku kan? Kenapa kau tidak memberiku ponsel untuk saat-saat darurat?”

“Hei! Kau itu bukan wisatawan 49 hari! Untuk apa aku membantumu dan memberimu ponsel toh kau memang sudah mati! Hanya saja masih terganjal urusan dunia!”

“Huft! Iya iya! Kau bawel sekali! Kata-katamu tak seindah wajahmu Il Woo ahjussi!”

“Ahjussi?! Aku bukan pamanmu!”

“Lalu apa? Tuan malaikat maut atau Il Woo oppa saja biar kelihatan akrab”.

“Jangan sok akrab denganku. Aku tak suka gadis sepertimu! Sudahlah! Ja, ikut denganku!” Malaikat maut itu memegang tangan HyoKyung lalu mereka menghilang dan tiba di lokasi kejadian tabrakan tadi.

 

“Kok sudah sepi? Tubuhku mana?”

“Mereka pasti sudah membawa tubuhmu ke rumah sakit, menghubungi keluargamu, lalu menguburkannya. Babo!”.

“Lalu aku bagaimana? Aku kan tidak terlihat. Bagaimana aku bisa menemukan namja itu?”

“Mudah saja. Hanya namja itu yang bisa melihatmu karena orang lain tidak bisa melihatmu. Kalau begitu selamat berjuang”. Malaikat itu pun menghilang. HyoKyung kembali berlari menuju tempat tujuannya.

 

xXx

 

            DaeHyun terlihat kecewa. Sudah 8 jam dia menunggu tetapi HyoKyung tak kunjung datang. Wajahnya kusam tak memancarkan pesona seorang bintang seperti biasanya. Dia benar-benar kelihatan kecewa dan putus asa.

 

“Mungkin aku terlalu berharap lebih dalam hal ini. Ternyata dia sudah melupakanku dan melupakan janjinya”. DaeHyun pun memutuskan untuk pergi saat matahari sudah terbenam.

 

xXx

 

            HyoKyung tiba di pohon cherry “mereka” saat malam hari. Tapi dia tak menemukan sosok DaeHyun yang begitu dirindukannya. Dia terduduk di bawah pohon cherry itu dengan wajah kecewa.

 

“Aku begitu terlambat. Dia pasti sudah pergi”.

 

            HyoKyung tertunduk sambil melihat air yang mengalir tenang di sungai kecil itu. Pikirannya melayang teringat kejadian 5 tahun yang lalu.

 

Kreeseekkk

Gruusaaakkk

 

            Terdengar suara dari arah semak-semak yang tak begitu jauh dari tempatnya duduk. Diikuti suara langkah sepatu. HyoKyung melihat sekitar tetapi tak menemukan apa-apa. Dia pun berdiri dan langsung memasang langkah seribu sambil terus melihat ke arah belakang seperti dikejar sesuatu.

 

Bruuukkkk

 

“Aduuuhhh….”. HyoKyung menabrak seseorang lalu jatuh terjengkang. Orang yang dia tabrak itu pun ikut jatuh terduduk di tanah.

 

“Kau ini apa-apaan sih?! Lihat ini! Pakaianku jadi kotor karena jatuh kau tabrak tadi!”

“Huft. Itu tadi kau ya Il Woo oppa. Leganya aku tau itu bukan hantu”.

“Hei! Kau itu sudah mati! Kenapa takut sama hantu?! Kau kan juga hantu! Sudah kuduga dari awal kalau kau memang yeoja yang aneh!”

“Enak saja aneh! Aku belum 24 jam menjadi hantu jelas saja aku masih takut! Tapi kenapa kau muncul? Kau mau membantuku ya?”

“Aku tidak ada urusan membantumu! Aku hanya lupa 1 hal. Kalau kau hanya punya waktu 3 hari. Jadi 2 hari lagi di jam yang sama dengan malam ini aku akan menjemputmu untuk menaiki lift”.

“Tapi kau bilang aku punya waktu 5 hari? Kenapa jadi 3 hari?”

“Seniorku yang bilang! Sudahlah jangan banyak protes! Aku pergi dulu”. Malaikat maut itupun kembali menghilang.

“Huft. Waktuku semakin sedikit”.

 

xXx

 

            DaeHyun kembali ke dorm dengan wajah lusuh. Dia terlihat sangat lelah. Dia mengambil minum lalu duduk termenung di meja makan.

 

“Kau darimana hyung? Sampai malam begini baru pulang”. JongUp duduk menemani DaeHyun.

“Aku dari Busan”.

“Busan? Untuk apa kesana? Menemui keluargamu?”

“Mencari masalalu”. DaeHyun beranjak pergi meninggalkan JongUp yang menatapnya dengan bingung.

 

“Dia kenapa?” Zelo menghampiri JongUp sambil makan apel.

“Molla”. JongUp berlalu sambil mengangkat kedua bahu isyarat dia tidak tau.

 

xXx

 

            HyoKyung berjalan perlahan sambil terus melihat ke bawah tak memperhatikan kiri, kanan, depan, juga belakang. Langkahnya terhenti saat kakinya menginjak sebuah kertas. Dia pun melihat ke dinding-dinding pinggir jalan yang tertempeli kertas yang sama dengan yang dia injak. Dia melihat ada foto 6 orang namja yang tergabung dalam Boyband B.A.P. Kertas itu merupakan poster pertunjukkan yang akan diadakan besok malam di sebuah stasiun TV di Seoul. HyoKyung melihat nama mereka dan matanya tertuju pada nama DaeHyun.

 

“DaeHyun? Member B.A.P? Benarkah dia Hyunnie oppa yang itu?” Tanpa pikir panjang HyoKyung pun segera berlari menuju stasiun kereta untuk menuju kota Seoul.

 

xXx

 

            DaeHyun duduk di balkon atas dorm mereka sambil menyanyikan lagu What My Heart Tells Me To Do dengan berlinangan air mata. HimChan memperhatikannya dari kejauhan dan tersentak saat bahunya dipegang Zelo.

 

“Dia kenapa sih hyung? Dari kemarin malam semenjak pulang dia jadi aneh”.

“Mana aku tau. Tumben juga dia sepagi ini sudah bangun”.

“Kalian lihat apa?” YongGuk menghampiri HimChan dan Zelo yang menatap DaeHyun seperti sedang menonton drama.

“DaeHyun hyung jadi aneh hyung”. Zelo menunjuk ke arah DaeHyun.

“Uhm”. YongGuk bergumam sebentar lalu menghampiri DaeHyun.

 

“Kau kenapa? Sedang ada masalah?”

“Gwaenchanha hyung”. DaeHyun bergegas masuk ke dalam melewati HimChan dan Zelo yang menatapnya bingung. YongGuk pun ikut masuk.

“Dia kenapa hyung?” Zelo bertanya dengan wajah penasaran sementara YongGuk hanya mengangkat kedua bahunya.

 

xXx

 

            HyoKyung menatap kebingungan melihat orang-orang yang bergegas menaiki kereta. Dia takut tak bisa ikut naik karena sekarang dirinya hanyalah arwah. Dia hanya berdiri di dekat pintu masuk kereta sambil memperhatikan orang-orang.

 

“Aish. Gimana caranya aku pergi ke Seoul kalau begini keadaannya. Huft”.

 

xXx

 

            Member B.A.P sudah bersiap untuk pergi ke lokasi pertunjukkan. Hanya DaeHyun yang belum ikut berkumpul.

 

“DaeHyun mana sih? Tidak biasanya dia malas-malasan begini”. YongGuk terlihat kesal karena DaeHyun yang berubah menjadi aneh.

“Biar aku yang urus”. HimChan pun bergegas menuju kamar DaeHyun.

 

Tok tok tok

Ckleeekk

 

            HimChan membuka pintu kamar DaeHyun dan melihat DaeHyun sedang duduk termenung dengan wajah sedih. Dia masuk dan duduk di sebelah DaeHyun.

 

“Ada apa? Kau jadi aneh sejak tadi malam”.

“Naneun gwaenchanha hyung. Sudah waktunya ya? Ja, kita pergi”. DaeHyun pun beranjak dari tempat duduknya dan keluar ruangan.

 

            HimChan mengikuti DaeHyun tapi langkahnya terhenti saat melihat kalung yang selalu dipakai DaeHyun tergeletak di meja kecil sebelah ranjang. Dia mengambilnya dan mengamatinya.

 

“Kalungnya lucu juga. Aku pinjam agh”. HimChan pun memakainya lalu ikut keluar dan pergi bersama member yang lain.

 

xXx

 

            Malaikat maut memperhatikan HyoKyung yang dari tadi pagi hanya berdiri di dekat pintu masuk kereta dengan wajah kebingungan.

 

“Dia itu benar-benar aneh! Kalau dibiarkan bisa sampai besok dia jadi patung selamat datang yang tak terlihat disana”. Malaikat maut yang sedang duduk di atas gerbong kereta itu pun menghilang dan muncul di samping HyoKyung.

 

“Babo!”

“Eh? Il Woo oppa? Kenapa baru muncul? Aku sudah 6 jam berdiri disini seperti orang bodoh”.

“Kau memang bodoh! Kenapa tidak naik kereta dari tadi?!”

“Aku kan sekarang arwah. Aku tembus pandang, tidak bisa memegang benda. Bagaimana caranya aku naik? Pasti keretanya juga tertembus olehku”. HyoKyung berkata lugu membuat malaikat maut itu menepuk keningnya.

“Sini biar aku jelaskan babo yeoja! Waktumu dikurangi 2 hari agar kau bisa menyentuh benda dan suaramu bisa didengar. Tapi yang bisa mendengar suaramu juga cuma namja itu”.

“Jadi aku bisa menyentuh benda? Kenapa tidak bilang dari tadi malam?” HyoKyung bersungut-sungut dan berjalan meninggalkan malaikat maut itu.

“Heh! Kau mau kemana?”

“Menaiki kereta menuju Seoul lagh!”

“Keretanya kan baru saja berangkat. Sudah sini biar aku saja yang antar. Aku juga sudah tidak ada tugas menjemput orang”.

“Tidak mau! Aku tidak mau naik lift! Aku harus menemui DaeHyun oppa dulu!”

“Yang mau naik lift itu siapa?! Sudah ikut saja!”

 

            Malaikat maut itu menarik tangan HyoKyung dan menyeretnya keluar stasiun kereta. Mereka berhenti di tempat yang tak begitu jauh dari luar stasiun.

 

“Kita naik apa?”

“Naik mobilku! Itu yang disana”. HyoKyung melihat ke arah yang ditunjukkan malaikat maut itu.

“Eh? Itu? Ferrari F12 Bernelitta?” HyoKyung menatap malaikat maut itu seolah tak percaya.

“Iya, yang itu. Wae?”

“Kau sungguh seorang malaikat maut?”

“Ya iyalah! Memangnya seorang malaikat maut tidak boleh punya mobil mewah? Aku juga butuh kendaraan untuk melakukan pekerjaanku!”

“Kau lebih cocok jadi seorang pembalap jalanan daripada jadi malaikat maut”.

“Aku tidak butuh komentarmu! Sudahlah ikut saja!” Mereka pun menuju Seoul dengan mobil si malaikat maut.

 

xXx

 

            Pintu masuk tempat diadakannya pertunjukkan telah dibuka dan fans mulai berbondong-bondong memasukinya. Setengah jam lagi acara akan dimulai. Semua artis termasuk member B.A.P juga sudah selesai dirias.

 

            HyoKyung dan si malaikat maut tiba disana. Mereka saling tatap kebingungan melihat kerumunan fans yang seperti semut sedang mengerumuni gula. Setelah berfikir beberapa saat, malaikat maut itu pun mengajak HyoKyung turun dan menyeretnya menuju pintu belakang.

 

“Il Woo oppa kita mau kemana?”

“Kita lewat belakang. Sudah ikut saja!”

“Memangnya kau tau jalan lewat dari belakang?”

“Kalau aku tidak tau, aku tidak akan menyeretmu begini! Kau ini bisa tidak sih tidak usah banyak bertanya?!”

 

            HyoKyung memanyunkan bibirnya dan membiarkan malaikat maut itu terus menyeretnya. Mereka akhirnya menemukan pintu masuk dari belakang dan berhasil masuk ke dalam. Di perempatan arah mereka terdiam dengan wajah bingung.

 

“Lalu bagaimana? Kita ke arah mana?”

“Kau tunggu disini dulu. Aku mau lihat daftar ruangannya. Biasanya ada di sekitar sini”.

“Uhm. Iya, Il Woo oppa”.

 

            Malaikat maut itu berjalan lurus ke depan sementara HyoKyung menunggu disana sambil bersandar di dinding melihat artis-artis yang berjalan kesana kemari. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada seorang namja tampan yang memakai kalung yang kembar dengan miliknya.

 

“Hyunnie oppa?”

 

            HyoKyung menggumam dan langsung berlari mengikuti namja itu. Langkah HyoKyung terhenti di depan pintu ruangan yang dimasuki namja itu. Pipinya memerah dan dia mundur perlahan-lahan. Ternyata itu toilet pria.

 

            HyoKyung menunggu diluar sambil bermain dengan tanaman hias yang ditanam di dalam pot yang terletak di sudut koridor. Dia tak percaya kalau dirinya benar-benar bisa menyentuh benda. Dia berbalik dan melihat namja yang diyakininya sebagai DaeHyun itu sudah jauh meninggalkan toilet. Hyokyung pun panic dan bergegas mengejarnya.

 

“Hyunnie oppa? Tunggu! Hyunnie oppa?”

 

            HyoKyung terus berlari hingga berhasil mengejar namja itu dan meraih tangan kanannya. Namja itu berbalik saat merasakan tangannya dipegang seseorang tapi dia langsung kaget karena tak melihat siapapun. Namja itu terus berusaha melepaskan tangannya dari sesuatu yang sedang memegangi tangannya. Melihat namja itu ketakutan, HyoKyung pun melepas cengkeramannya. Sementara namja itu terlihat bingung sambil terus memperhatikan tangan kanannya.

 

“HimChan hyung? Ada apa? Tanganmu sakit?”

“Zelo, ada yang aneh. Tanganku seperti dipegang seseorang tapi tidak ada siapa-siapa disini”.

“Haha. Kau lucu sekali hyung”.

“Lucu apanya?! Aku serius!”

“Hyung sepertinya kau begitu mendalami peran di MV Stop It sampai terbawa di kehidupan nyata begini. Hyung sangat lucu”. Zelo berlalu meninggalkan HimChan sambil menyanyikan lagu Stop It.

“Hei! Tunggu aku!”

 

            HyoKyung berdiri mematung melihat dan mendengar percakapan dua orang namja tadi. Dia benar-benar bingung karena namja itu tak bisa melihat dan mendengar suaranya.

 

“Disini kau rupanya! Aku berkeliling mencarimu!”

“Il Woo oppa, namja tadi tidak bisa melihatku”.

“Jelas saja tidak bisa, bukan dia orangnya!”

“Tapi kalung itu”.

“Sudahlah. Ja, ikuti mereka. Mereka juga member B.A.P”.

 

            Tanpa banyak bicara HyoKyung dan malaikat maut itupun berlari mengikuti mereka dan ikut masuk ke sebuah ruangan yang berisi beberapa orang. HyoKyung berdiri di ambang pintu yang tidak ditutup sementara malaikat maut itu berada di belakangnya.

 

“Kau kenapa? Datang-datang menyanyikan lagu Stop It begitu?”

“YongGuk hyung, tadi ada kejadian lucu loh. Seperti di MV kita”.

“Aish. Itu tidak lucu Zelo!”

 

            HimChan duduk di kursi rias sambil membenahi tatanan rambutnya. DaeHyun melirik sekilas ke arah HimChan dan melihat ada sesuatu yang aneh pada HimChan. DaeHyun pun menghampirinya.

 

“Kembalikan kalungku!”

 

            Tanpa babibu DaeHyun langsung menarik kalung besi putih itu seperti seorang rampok. Diapun menuju keluar tanpa memperdulikan tatapan bingung HimChan. Di depan pintu DaeHyun sempat bersitatap dengan HyoKyung dan memberikan senyuman tipis padanya lalu keluar. HyoKyung yang kaget menatap malaikat maut itu dengan ekspresi bingung.

 

“Kau kenapa lagi?”

“Kau tidak lihat oppa? Dia tadi melihatku dan tersenyum padaku”.

“Jinjja?”

“Iya oppa. Aku yakin sekali”.

“Kalau begitu cepat ikuti dia”.

 

            HyoKyung dan malaikat maut itu berlari mengikuti DaeHyun yang berjalan menuju bagian atas gedung. Sesampai disana HyoKyung melihat DaeHyun sedang berdiri di pinggir gedung dan menopang dagu pada tangan kanannya di pembatas pinggiran gedung itu sambil menatap lurus ke depan.

 

“DaeHyun oppa?” HyoKyung berkata dengan ragu tapi dia langsung terkejut saat DaeHyun berbalik.

“Iya. Kau baby ya? Nanti saja ya kalau mau minta tanda tangan dan foto bersama. Saat ini aku masih tidak bersemangat”. DaeHyun berkata sambil tersenyum tipis.

“Ini aku oppa, Kyungie. Aku HyoKyung teman masa kecilmu”.

“Kyungie?”

“Iya oppa. Ini aku Kyungie”.

“Ani. Kau bukan Kyungie! Jangan berbohong padaku!” DaeHyun berkata sambil memperhatikan leher HyoKyung.

 

            HyoKyung pun tersadar saat melihat DaeHyun memperhatikan lehernya. Dia meraba lehernya dan tak mendapati kalungnya.

 

“Aish. Aku bodoh sekali. Kalungku pasti hilang di jalan. Tapi aku bisa buktikan pada oppa kalau aku Kyungie”.

“Agh, sudahlah”.

“Ini sungguh aku Hyunnie oppa. 1 April 2007 kita mengubur kenangan kita di dalam kotak cantik yang kita beli dengan uang tabungan kita. Kita berjanji bertemu kembali 5 tahun kemudian. Kau juga menyuruhku untuk tidak melupakan kata-katamu juga kampung halaman kita di Busan. Apa kau masih ragu padaku?”

“Kau? Kau Kyungie?” DaeHyun mendekati HyoKyung dan memeluk tubuhnya erat.

“Iya oppa. Ini aku”.

“Kenapa kemarin kau tidak datang? Aku pikir kau sudah melupakanku dan melupakan janji kita”.

“Mianhae oppa. Aku begitu terlambat. Saat aku tiba disana kau sudah pergi”.

 

            JongUp terpaku di depan pintu saat melihat DaeHyun berbicara sendiri sambil tersenyum-senyum. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menatap aneh pada DaeHyun.

 

“Hyung, kau lama sekali disuruh memanggil DaeHyun hyung! Menyebalkan!” Zelo bersungut-sungut menghampiri JongUp tapi JongUp hanya menatap Zelo seperti orang bodoh membuat Zelo makin geram.

“DaeHyun hyung! Cepatlah turun! Sudah waktunya kita tampil!” Zelo berteriak pada DaeHyun.

“Sebentar ya”. DaeHyun melihat sekilas ke arah Zelo dan kembali menatap HyoKyung.

“Pergilah oppa. Sudah waktunya kau tampil”.

“Iya HyoKyung. Nanti setelah tampil aku akan menemuimu lagi. Kau mau bertemu dimana?”

“Uhm. Bagaimana kalau kita bertemu besok saja di pohon kita oppa sambil mengenang masa lalu”.

“Baiklah kalau begitu. Besok pagi aku akan langsung kesana. Kau harus datang tidak boleh tidak”.

“Iya oppa. Tampil yang bagus ya. Sudah sana, kau sudah ditunggu”.

“Iya, Kyungie”. DaeHyun mengusap-usap kepala HyoKyung sambil tersenyum dan berlalu menuju pintu keluar.

 

            Zelo dan JongUp saling berpandangan sambil melongo melihat kejadian tadi. Mereka tak percaya kalau DaeHyun sudah gila.

 

“Ja, kita ke panggung. Kalian jangan seperti orang bodoh begitu”. DaeHyun berjalan melewati mereka sambil terus tersenyum.

“Hyung, tunggu”. Zelo dan JongUp berkata serentak dan mengejar DaeHyun.

“Kalian kenapa sih?”

“Kau tadi bicara dengan siapa di atas?”

“Dengan seorang yeoja yang sangat ku rindukan”.

 

            DaeHyun berkata sambil tersenyum dan kembali berjalan menuju panggung. Zelo dan JongUp menghentikan langkah mereka lalu saling bertatapan dengan wajah kaget dan pucat.

 

“Zelo, tadi HimChan hyung bilang kalau dia seperti ditarik sesuatu kan? Lalu DaeHyun hyung seperti orang gila yang berbicara dan senyum-senyum sendiri. Jangan-jangan….” JongUp menggantung kalimatnya dan ekspresinya berubah ketakutan.

“HUWAAAAA…….”. Mereka berkata serentak lalu berlari menuju panggung.

 

xXx

 

            Pagi ini DaeHyun sudah berpakaian rapi dan akan bergegas pergi ke Busan untuk menemui HyoKyung. Setelah merasa semua sudah lengkap dia pun keluar dari kamarnya.

 

“DaeHyun, kau mau kemana?”

“Aku mau ke Busan YongGuk hyung. Aku pergi dulu ya”.

“Kemarilah sebentar. Ada yang ingin ku bicarakan denganmu”.

“Bicara denganku? Ada apa?” DaeHyun pun ikut bergabung dengan member B.A.P lainnya yang sedang duduk di ruang makan dengan wajah serius.

“Begini DaeHyun, apa kau merasa baik-baik saja?”

“Apa maksud hyung? Jelas aku baik-baik saja. Aku sangat baik malahan”.

“Tadi malam kau berbicara dengan siapa di atap gedung?”

“Aku berbicara dengan seorang yeoja yang sangat ku rindukan. Zelo dan JongUp kan ada disana, mereka pasti melihat gadis itu”.

“Kau yakin berbicara dengan seorang gadis?”

“Tentu saja. Tanya saja Zelo dan JongUp kalau tidak percaya”. DaeHyun melihat ke arah Zelo dan JongUp tapi mereka malah saling pandang lalu menundukkan kepala.

“Uhm. Begini DaeHyun. Tadi malam Zelo dan JongUp bilang kalau kau seperti orang gila yang berbicara dan senyum-senyum sendiri padahal sebelumnya kau begitu murung. Kau yakin kau baik-baik saja. Karena…”.

“Oh, jadi hyung bilang aku sudah tidak waras?! Aku kemarin memang murung karena aku tak berhasil bertemu dengan yeoja yang begitu ku rindukan tapi tadi malam dia datang dan menemuiku di atap gedung! Aku begitu senang karena kehadirannya! Zelo dan JongUp ada disana tidak mungkin mereka tidak melihatnya hyung!”

“Justru karena mereka tak melihat siapapun makanya kami prihatin padamu! Sadarlah DaeHyun! Jangan seperti orang gila hanya karena ditinggalkan seorang yeoja!” HimChan ambil suara karena tersulut emosi.

“Maksud hyung apa?! Aku tidak gila! Aku tidak mengada-ada! Yeoja itu memang datang! Terserah kalian mau bilang apa! Aku tidak mau dengar lagi!” DaeHyun berdiri dan beranjak keluar.

 

Brrraaaakkkk

 

            HimChan menggebrak meja makan, berdiri dan hendak mengejar DaeHyun tapi Zelo dan YoungJae memeganginya.

 

“Sabar hyung”.

“Lepaskan!” HimChan menepis tangan Zelo dan YoungJae yang memeganginya lalu menuju kamar. Sementara member yang lain hanya bisa duduk dengan perasaan serba salah.

 

xXx

 

            HyoKyung duduk di bawah pohon cherry mereka sambil melemparkan kerikil-kerikil kecil ke dalam sungai. Pikirannya melayang mengingat DaeHyun dan kenangan masa kecilnya.

 

“Sudah lama ya menungguku?”

“Seperti 5 tahun yang lalu oppa. Kau terlambat 10 menit”.

“Hehe. Kau benar-benar Kyungieku. Kau bahkan ingat hal itu”. DaeHyun pun duduk di samping HyoKyung sambil terus tersenyum.

“Wae Hyunnie oppa? Kenapa tersenyum terus?”

“Agh. Aku sangat merindukanmu Kyungie. Gadis kecilku yang sangat menggemaskan sekarang sudah remaja. Hehe”. DaeHyun mengelus-elus rambut HyoKyung dan menyandarkan yeoja itu di dadanya.

“Aku juga sangat merindukanmu Hyunnie oppa. Kau di Seoul kenapa tidak mencariku?”

“Aku sudah berusaha mencarimu tapi aku kan tidak tau alamatmu Kyungie. Lagipula jadwalku begitu padat jadi sulit untukku mencarimu”.

“Uhm. Iya ya. Aku tau Hyunnie oppa. Hyunnie oppa, aku ingin jalan-jalan bersamamu. Ja, kita menghabiskan hari ini dengan bersenang-senang”.

“Kau ingin berjalan-jalan? Ja, kita pergi ke taman”.

 

            DaeHyun dan HyoKyung beranjak dari tempat mereka duduk dan pergi menuju taman. Sepanjang perjalanan mereka saling bercerita dan bercanda tawa membuat semua orang menoleh dengan heran. Sesampainya di taman, mereka duduk di sebuah bangku yang menghadap pada danau yang begitu asri dan tenang.

 

“Kyungie, mau ice cream?”

“Ice cream? Mau oppa. Yang rasa ayam ya”.

“Rasa ayam? Memangnya ada ice cream rasa ayam?” DaeHyun menatap Kyungie dengan bingung.

“Hehe. Kau lucu sekali oppa. Aku kan hanya bercanda”.

“Aish. Dasar kau”.

 

            DaeHyun pun berjalan mendekati tukang ice cream yang sedang membuat pesanan beberapa orang yang berkerumun di sekelilingnya.

 

“Ice cream rasa coklatnya 2 ya”.

“Dua? Untuk siapa?”

“Ya untukku dan yeoja yang sedang duduk disana”. Tukang ice cream dan beberapa orang yang berkerumun disana melihat bangku yang ditunjuk DaeHyun dengan heran.

“Mian. Apa punyaku sudah selesai?”

“Ough. Iya iya. Ini ice creamnya”. DaeHyun kembali dengan dua ice cream di tangannya.

 

“Ini Kyungie”.

“Uhm. Rasa coklat?”

“Iya. Aku itu masih ingat kesukaanmu Kyungie”.

“Hehe. Gomawo oppa”.

 

            Setelah menghabiskan ice cream dan puas menikmati pemandangan disana DaeHyun kembali mengajak HyoKyung berjalan-jalan. Mereka berhenti di tempat yang ditumbuhi pepohonan rindang juga rumput yang rapi. HyoKyung dan DaeHyun merebahkan tubuh mereka di atas rumput. Menikmati birunya langit sambil mendengarkan lagu melalui earphone yang dipasang pada ponsel DaeHyun.

 

“Ini lagu siapa oppa?”

“Ini lagu kami, B.A.P”.

“Ough. Judulnya?”

“Judulnya what my heart tells me to do”.

“Uhm”. HyoKyung menggumam dan memejamkan matanya.

“Ough iya, aku ingin membawamu bertemu dengan teman-temanku di B.A.P. Kau mau kan?”

“Untuk apa bertemu dengan mereka?”

“Aku kesal dengan mereka. Mereka bilang aku seperti orang gila yang berbicara dan senyum-senyum sendiri. Mereka bilang tidak melihatmu. Huh! Aku kesal setengah mati mendengar ucapan mereka yang bilang aku berhalusinasi tentangmu”.

“Mereka memang tidak bisa melihatku oppa”. HyoKyung duduk dan tertunduk.

“Maksudmu apa?” DaeHyun yang terkejut ikut duduk dari tempatnya berbaring.

“Mereka tidak bisa melihatku karena sebenarnya…”

“Sebenarnya apa Kyungie? Kenapa mereka tidak bisa melihatmu?”

“Aku… aku sudah mati oppa”.

“Hah? Haha. Lelucon apa lagi ini Kyungie? Kau sudah mati? Aku saja bisa menyentuhmu, melihatmu, berbicara denganmu. Mana ada orang mati yang bisa melakukan hal seperti yang kau lakukan ini”. DaeHyun tersenyum sambil mengelus-elus rambut HyoKyung.

“Tapi aku memang sudah mati oppa. Memang cuma kau yang bisa melihatku dan berkomunikasi denganku karena urusanku denganmu belum selesai. Aku tidak bisa pergi dengan tenang kalau belum menyelesaikan urusan kita”.

“Haha. Sudahlah Kyungie. Jangan membuatku tertawa terus”.

“Aku serius Hyunnie oppa. Coba lihat wajahku dan tatap mataku. Apa aku terlihat seperti orang yang sedang bercanda?” HyoKyung menyentuh pipi DaeHyun membuat mereka saling berpandangan.

“Aku tidak percaya”. DaeHyun mengalihkan pandangannya dari wajah HyoKyung.

“Aku bisa membuktikannya. Ja, ikut aku oppa”.

 

            HyoKyung beranjak dari tempatnya duduk diikuti oleh DaeHyun. HyoKyung menarik tangan DaeHyun menuju tempatnya kecelakaan beberapa hari yang lalu.

 

“Kita mau kemana Kyungie?”

“Disana tempatnya oppa”. HyoKyung menunjuk tempat kecelakaannya dan kembali menyeret DaeHyun untuk terus mengikutinya. Orang-orang yang lewat begitu heran melihatnya.

 

“Mau apa kita di pinggir jalan begini?”

“Disitu tempatku tertabrak mobil”. HyoKyung menunjuk jalan yang ada bekas noda darah mengering yang berjarak sekitar 2 meter dari tempat mereka berdiri.

“Disitu?” DaeHyun mengernyitkan keningnya.

“Sebentar. Aku minta bantuan dulu padanya.”

 

            HyoKyung berjalan mendekati malaikat maut yang sedang bersandar di pohon sambil memperhatikan HyoKyung dan DaeHyun. Sementara DaeHyun yang tidak bisa melihat malaikat maut hanya bengong memandangi HyoKyung dari kejauhan.

 

“Tunjukkan padanya kejadian tempo hari Il Woo oppa, jebal”.

“Aish. Kau ini taunya menyusahkanku saja! Mentang-mentang tadi malam aku baik padamu, kau jadi terus merengek padaku”. Malaikat maut itu berjalan bersama HyoKyung menuju tempat DaeHyun berdiri.

 

“Kau berbicara dengan siapa Kyungie?”

“Dengan oppaku”. HyoKyung tersenyum manis sementara malaikat itu menatapnya dengan tatapan sinis bercampur heran.

“Oppamu? Mana?” DaeHyun melihat sekitar tapi tidak ada siapa-siapa.

“Kau tidak bisa melihatnya. Kalau kau sudah mati, kau baru bisa bertemu dengannya. Dia yang akan memperlihatkan padamu kejadian kecelakaanku”.

 

            HyoKyung menatap malaikat maut itu sekilas sambil menganggukkan kepalanya lalu memejamkan matanya bersama dengan DaeHyun. Malaikat maut itu mengangkat tangan kanannya dan membiaskan telapak tangannya sambil memutar tubuhnya pelan-pelan *semoga bisa dibayangin ya*. HyoKyung dan DaeHyun membuka mata perlahan-lahan dan mereka berada di hari kecelakaan HyoKyung.

 

            DaeHyun melihat HyoKyung yang menyeberang jalan begitu terburu-buru hingga tertabrak mobil dan langsung jatuh terkapar dengan berlumuran darah segar. Sementara HyoKyung mengalihkan pandangannya tak berani melihat kejadian tragis yang telah merenggut nyawanya itu. DaeHyun menatap HyoKyung dengan miris.

 

“Jadi benar kau sudah mati?”

“Iya oppa. Mianhae aku sudah membuatmu terlihat seperti orang gila”. HyoKyung berjalan dan memungut kalungnya yang terhempas saat dia tertabrak mobil.

“Ini kalungku oppa”. HyoKyung tersenyum namun DaeHyun terlihat begitu sedih. Dia pun memeluk tubuh HyoKyung erat-erat.

“Hyunnie oppa, gwaenchanha. Semuanya baik-baik saja oppa. Ja, kita kembali ke pohon kita”.

 

            Mereka berjalan bersama menuju pohon mereka. DaeHyun terus-terusan menggandeng tangan HyoKyung seolah-olah dia tak menginginkan yeoja itu jauh dari sisinya. Menjelang senja mereka tiba disana.

 

“Oppa, kotaknya kita gali ya”.

“Untuk apa digali Kyungie?”

“Ya untuk melihat apakah isinya masih bagus”.

“Iya iya. aku ambil alat untuk menggalinya ya”. DaeHyun berjalan menuju mobilnya dan kembali dengan sebuah linggis.

“Linggis lagi?”

“Hehe. Kan biar seperti 5 tahun yang lalu”. DaeHyun pun mulai menggali sementara HyoKyung hanya berdiri mematung memperhatikannya.

 

20 menit kemudian

 

“Ini dia Kyungie”.

 

DaeHyun mengambil kotak itu dan duduk di bawah pohon. HyoKyung pun ikut duduk sambil menunggu DaeHyun membuka kotak itu. Mereka mulai mengambil satu persatu kenangan mereka. Ada mahkota pasangan, surat-surat kecil tulisan HyoKyung dan DaeHyun, pensil kembar, foto-foto lucu, gelang pasangan, dan barang-barang lucu lainnya. Mereka mencoba barang-barang itu satu persatu sambil mengenang masa lalu. Tiba-tiba HyoKyung kembali memasukkan barang-barangnya.

 

“Wae Kyungie?”

“Sudah malam oppa, waktuku sudah hampir habis”. HyoKyung beranjak dari tempatnya duduk.

“Maksudmu apa?” DaeHyun ikut berdiri dengan wajah cemas.

“Aku harus pergi karena aku sudah mati. Alasan kenapa kau masih bisa melihat, menyentuh dan berbicara denganku karena ada hal yang belum sempat kukatakan padamu”.

“Apa itu Kyungie?”

“A… aku suka padamu Hyunnie oppa, aku mencintaimu”. HyoKyung berkata sambil tertunduk tak berani menatap DaeHyun.

“Kyungie? Agh. Aku juga Kyungie. Aku juga mencintaimu, sangat mencintaimu”.

 

            DaeHyun memeluk tubuh HyoKyung. Di belakang DaeHyun, HyoKyung melihat malaikat maut sedang menunggunya. Dia pun melepaskan pelukan DaeHyun.

 

“Hyunnie oppa, kotak ini kau saja yang simpan. Jangan dikubur lagi. Nanti kalau kau merindukanku, kau buka saja kotak ini sambil mengingatku dan mengingat kenangan kita”.

“Kyungie, gajima”. DaeHyun memegangi tangan HyoKyung.

“Waktuku sudah habis oppa. Aku harus pergi. Jaga dirimu ya. Tidak boleh sedih dan jangan sampai sakit. Selamat tinggal Hyunnie oppa”. HyoKyung tersenyum lalu mundur perlahan-lahan. Genggaman tangan mereka pun terlepas.

 

“Il Woo oppa, aku sudah bisa pergi sekarang”.

“Ja, kita pergi”.

 

            HyoKyung dan malaikat maut itu menaiki lift lalu menghilang bersama sementara DaeHyun mematung memandangi kepergian HyoKyung.

 

xXx

 

            HimChan berjalan mondar mandir dengan wajah cemas di hadapan member B.A.P yang sedang duduk di sofa dengan wajah kebingungan.

 

“Hyung, apa kau tidak bisa duduk? Tidak capek daritadi mondar mandir terus seperti setrika?”

“Aku cemas pada DaeHyun Zelo! Sudah lewat tengah malam tapi dia belum juga pulang!”

“Kita semua juga cemas tapi kau membuat kami pusing karena melihatmu daritadi tidak bisa diam!”

 

Ckllleeeekkk

DaeHyun masuk dengan membawa sebuah kotak di tangannya.

 

“DaeHyun kau darimana saja?! Lewat tengah malam baru pulang”.

“Tenanglah HimChan hyung. Kau panic sekali. Aku kan bukan seorang yeoja”.

“Tapi kau membuat kami khawatir! Itu apa lagi yang kau bawa?”

“Ough, ini kotak kenanganku bersama yeoja itu hyung”.

“DaeHyun, yeoja itu tidak ada! Berhentilah berhayal tentangnya!”

“Iya iya aku tau. Yeoja itu sebenarnya ada tapi kalian memang tidak bisa melihatnya”.

“Hah? Maksud hyung apa?”

“Cuma aku yang bisa melihatnya Zelo! Dia sudah mati tapi tidak bisa pergi dengan tenang sebelum bertemu denganku”.

“Maksudmu dia arwah?”

“Iya, itu benar”. DaeHyun berlalu menuju kamarnya meninggalkan member lain yang masih shock mendengar penjelasannya.

 

“Berarti yang kemarin malam memegangi tangan HimChan hyung adalah arwah gadis itu”.

“Iya iya Zelo. aku baru ingat kalau aku memakai kalung DaeHyun, pasti gadis itu mengira aku DaeHyun”. HimChan terduduk dengan wajah shock.

 

xXx

 

            DaeHyun masuk ke kamar sambil mengusap-usapkan handuk ke rambutnya yang masih basah. Dia kembali mengambil kotaknya dan duduk di tempat tidur. Dia membuka kotak itu dan memasukkan kalung kembar miliknya dan milik HyoKyung ke dalam kotak.

 

“Kyungie, selamanya kau akan tetap hidup di hati dan pikiranku menjadi kenangan yang tak terlupakan”. DaeHyun merebahkan tubuhnya dan tidur dengan memeluk kotak itu.

 

xXx

 

DaeHyun’s Dream

 

            DaeHyun berlari secepat mungkin ke bukit tempat dia biasa bermain dengan  temannya HyoKyung. Sampai disana HyoKyung sudah menunggunya.

 

“Kyungie… Hosh… hosh…”.

“Kau terlambat 10 menit Hyunnie oppa”.

“Hehe. Ini kalung untukmu. Kalung kembar untuk kita yang tidak boleh hilang dan harus selalu dipakai ya”. Ucap DaeHyun sambil tersenyum.

 

xXx

 

            HimChan masuk ke kamar DaeHyun dan melihatnya sedang tertidur dengan senyuman sambil memegangi kotaknya. Dia mendekatinya dan menyelimutinya.

 

“Good night DaeHyun”. HimChan mematikan lampu dan keluar dari kamarnya.

 

xXx

 

Tamat

 

xXx

 

gimana guys?

2 thoughts on “~ FF % Our Memories % One Shoot ~

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s