FF [18th One Shot] – Special Birthday – 紀念日 – Jìniàn rì (Memorial Day)

 

Title : 紀念日 – Jìniàn rì (Memorial Day)

Author : Yunita Suwitnyo

 

 

 

Xing Ai tengah duduk seorang diri di balkon kamarnya sambil sesekali menyesap cokelat hangat buatannya. Cuaca Taiwan yang mulai dingin tidak diindahkannya, dia membiarkan tubuhnya yang hanya terbungkus kaos rumah itu sesekali terkena hembusan angin.

 

Hari ini adalah hari ulang tahun Ya Lun, kekasihnya. Tapi entah mengapa dia justru merasa enggan untuk melakukan apapun. Dia belum mengucapkan selamat, tidak menyiapkan kejutan dan juga tidak berniat untuk merayakan ulang tahun Ya Lun bersama-sama. Dia hanya sedang merasa enggan.

 

Xing Ai tengah melamun tanpa memastikan apa yang sebenarnya ia lamunkan. Lamunan yang terpaksa terhenti oleh dering khusus dari ponselnya, menandakan ada sebuah pesan masuk dari Ya Lun.

 

 

‘Apa kau lupa hari ini tanggal berapa?’

 

 

Xing Ai kembali meletakkan ponselnya usai membaca pesan tersebut. Entah mengapa dia juga enggan membalas pesan tersebut. Bukannya Xing Ai lupa bahwa Ya Lun berulang tahun hari ini, hanya saja seperti yang sudah diungkap, dia tengah enggan untuk melakukan apapun.

Xing Ai mengambil ponselnya lalu memasang earphone di telinganya. Setelah itu memejamkan matanya, menikmati alunan lagu yang baru saja ia pilih, 紀念日 (baca : jìniàn rì). Meresapi beberapa penggalan lirik lagu yang dirasa cocok dengan keadaannya saat ini.

 

 

 

有 多久了 我們沒見面

Yǒu duōjiǔle wǒmen méi jiànmiàn

How long has it been since we last meet

但閉上雙眼 還有錯覺

Dàn bì shàng shuāng yǎn hái yǒu cuòjué

But when I close my eyes, I can still see,

 

你 不見了 但你的背影

Nǐ bùjiànle dàn nǐ de bèiyǐng

You have disappeared, but your silhouette,

像這場風景 裝在眼裡

Xiàng zhè chǎng fēngjǐng zhuāng zài yǎn lǐ

Is like this scenery, filling up my vision

一伸手 差一點 就抱住你

Yī shēnshǒu chà yīdiǎn jiù bào zhù nǐ

I reach out my hand,but I just missed your embrace

 

 

            In every girl’s life, there’s a boy she’ll never ever forget.

 

Tiba-tiba saja ungkapan itu memenuhi benak Xing Ai. Bagaimana bisa dia mengingat pria lain di hari ulang tahun kekasihnya sendiri? Selama ini Xing Ai selalu berkata dan menganggap Ya Lun sebagai cinta pertamanya, padahal kenyataannya adalah pernah ada seorang pria yang lebih dulu mengisi hatinya. Seorang pria yang sanggup membuat Xing Ai tersenyum hanya dengan melihatnya tersenyum. Seorang pria yang sanggup membuat Xing Ai berbahagia hanya dengan menghabiskan sedikit waktu bersama. Seorang pria yang sanggup membuat Xing Ai menunggu selama beberapa hari hanya demi sebuah balasan pesan singkat. Seorang pria yang sanggup membuat Xing Ai menangis saat akhirnya pria itu menjatuhkan pilihannya pada wanita lain. Seorang pria yang bahkan belum sempat dimilikinya, dan seorang pria yang selama itu hanya menganggapnya sebagai adik.

 

“Kenapa dia harus muncul di mimpiku semalam? Aku bahkan rasanya sudah lupa pernah mengenalnya,” ucap Xing Ai lirih.

 

Dalam mimpi itu, Xing Ai bertemu lagi dengan pria itu. Tapi pria itu tak berucap sepatahpun untuk Xing Ai. Dia ada di sana, di tempat yang sama tapi memilih tidak berbicara pada Xing Ai bahkan menatap wajah Xing Ai saja enggan. Mimpi itulah yang akhirnya membuat Xing Ai berspekulasi saat ia terbangun.

 

“Dia pasti sudah melupakanku. Bahkan di mimpi pun tak mau berbicara padaku.”

 

Pria itu tiba-tiba saja menghilang, berhenti menghubungi Xing Ai sejak beberapa tahun silam. Entah apa alasan pria itu. Alasan yang selalu Xing Ai pertanyakan dan karena alasan yang tak pernah terungkap itulah Xing Ai akhirnya memutuskan untuk benar-benar melupakan pria itu. Terlebih saat itu dia telah memiliki Ya Lun di sisinya yang secara perlahan berhasil membuat Xing Ai melupakan pria itu.

 

Tapi kini terjawab sudah bahwa sebenarnya Xing Ai tidak pernah benar-benar melupakan pria itu. Dia hanya berusaha mengubur semua ingatannya mengenai pria itu dalam-dalam. Berusaha tidak lagi mengingat hal-hal yang berhubungan dengan pria itu. Dan di saat ingatan itu hendak menyeruak kembali, ada bagian dari dalam dirinya yang ikut memberontak seraya melontarkan sebuah asumsi, ada yang salah dengan ingatan tersebut.

 

Xing Ai membuka matanya, bertepatan dengan berakhirnya lagu baru kekasihnya tersebut. “Bagaimana kabarnya saat ini ya?”

 

Jemari Xing Ai menari lincah di atas keypad ponselnya, mencari gambar yang entah kapan terakhir kali ia lihat.

 

Fotonya bersama pria itu.

 

Salahkah jika ia masih menyimpan fotonya bersama dengan pria itu? Bahkan Ya Lun pun sering mengangkat cerita mengenai cinta pertama dan juga mantan kekasihnya di hadapan media. Jadi, impas bukan?

 

 

날 모르나요

Nal moreunayo

 

Don’t you know?

내가 여기 있는 이유는 그댄데

Naega yeogi itneun iyuneun geudaende

 

The reason I’m here is because of you

눈이 시려와 말을 할 수 없네요

Nuni siryeowa mareul hal su eobtneyo

 

But my eyes tingle with the cold so I can’t say anything

혼자서 바라만 볼뿐

Honjaseo baraman bolppun

 

I just look toward you by myself

 

 

 

이렇게 가슴 끝이 아파도

Ireoke gaseum kkeuti apado

 

Even if the tip of my heart hurts like this

이렇게 손끝이 떨려도,

Ireoke sonkkeuti tteollyeodo,

 

Even if the tip of my hands tremble like this

그대 생각만 나지요

Geudae saenggakman najiyo

 

I can only think of you

 

 

 

미치게 보고 싶은 사람

Michige bogo sipeun saram

 

The person I miss like crazy

미치게 듣고 싶은 너의 한마디

Michige deudgo sipeun neoui hanmadi

 

The words I want to hear from you like crazy

사랑해 사랑해요 그대는 어딨나요

Saranghae saranghaeyo geudaeneun eoditnayo

 

I love you, I love you – where are you?

가슴 깊이 박힌 그리운 사람

Gaseumgipi baghin geuriun saram

 

The person I long for,

그대 영원히 간직할래요

Geudae yeongwonhi ganjighallaeyo

who is deeply stuck in my heart

 

어떡하나요

Eotteog hanayo

 

I want to cherish you forever

차가웠던 그대가

Chagawotdeon geudaega

 

What do I do? You were so cold to me

그래도 보고싶어요

Geuraedo bogosipeoyo

 

But I still miss you

 

 

 

내게 말 해줘요 날 간직 한다고

Naege mal haejwoyo nal ganjig handago

 

Please tell me that you cherish me

하얗게 지우면 안돼요

Hayahge jiumyeon andwaeyo

 

Please don’t blankly erase me

내 전부이니까

Nae jeonbuinikka

 

Because you’re my everything

 

 

 

영원히 간직할래요

Yeongwonhi ganjighallaeyo

 

I want to cherish you forever

사랑해 사랑해요

Saranghae saranghaeyo

I love you, I love you

 

 

Lirik lagu yang dinyanyikan oleh Tae Yeon, salah satu personil Girls Generation tersebut seolah diputar ulang dalam pikiran Xing Ai. Entah kenapa justru lagu itu yang terlintas saat dia memikirkan pria itu. Padahal dia hanya sempat berpendapat jika lirik lagunya sangat tragis tanpa memikirkannya lebih jauh saat salah satu temannya merekomendasikan lagu itu, beberapa waktu lalu. Tapi entah kenapa sekarang lirik lagu itu terasa begitu menyayat hati Xing Ai. Perlahan dia mulai menyadari, dia pernah menjadi sosok seperti yang berusaha digambarkan oleh lirik lagu tersebut.

 

Setetes air mata berhasil lolos dari ujung mata Xing Ai. Tangisan pertamanya karena pria itu setelah bertahun-tahun ia tidak lagi melakukannya.

 

“Aku merindukannya. Ya, aku sangat merindukannya.”

 

♥ ♥ ♥

 

“Kenapa dia tidak membalas pesanku ya?”

 

Ya Lun memandang ponselnya gusar. Sudah satu jam berlalu sejak ia mengirimkan pesan pada Xing Ai dan Xing Ai belum juga membalasnya. Tidak biasanya seperti ini karena Ya Lun hafal betul jam-jam sibuk Xing Ai.

 

“Atau kutelepon saja ya? Ah! Jangan-jangan dia sengaja ingin memberiku kejutan? Baiklah kalau begitu, lebih baik aku saja yang membuatnya terkejut.”

 

♥ ♥ ♥

 

Entah berapa lama Xing Ai bertahan dengan posisi tersebut. Hari ini dia sengaja tidak masuk ke kantor karena suasana hatinya benar-benar sedang kacau. Bukannya menghabiskan waktu dengan menemani Ya Lun, tapi dia malah menghabiskan waktunya seorang diri. Tadi pagi seusai mandi ia langsung menyendiri di balkon, kembali masuk sebentar ke dalam di sore hari hanya untuk mandi. Nafsu makannya hilang entah kemana. Dan nyatanya Xing Ai masih betah menghabiskan waktunya di balkon. Selama itu dia hanya mengulang memorinya ke masa lalu. Mengenang semua waktu di mana dirinya masih berada dalam lingkar kehidupan pria itu. Meluapkan semua sakitnya lewat tangisan.

 

Hari telah menjelang malam, kali ini ia tidak lagi duduk di atas kursi sambil menikmati cokelat hangat melainkan duduk di lantai sambil memeluk kedua lututnya. Sesekali menggumam tentang masa lalu. Air matanya pun masih menetes meski tidak sampai sesenggukan.

 

“Haruskah aku menghubunginya? Tapi untuk apa, dia pasti sudah melupakanku.”

 

Jemari Xing Ai mulai menelusuri daftar kontak blackberry messenger-nya, bermaksud untuk mencari teman bicara untuk melupakan keinginan ‘gila’nya tersebut namun jarinya terhenti saat mendapati sebuah nama yang ia kenal sebagai sahabat dari pria masa lalunya tersebut. Bukan namanya yang membuatnya terhenti namun foto yang dipasang sebagai display picture oleh orang tersebut yang membuat Xing Ai sedikit penasaran. Dan benar saja, dia dapat melihat pria itu di antara beberapa orang yang ada dalam foto tersebut. Dia yang tengah tersenyum lebar, bersama dengan wanita pilihannya.

 

Xing Ai meletakkan ponselnya begitu saja di lantai. He must be fine right now, ucap Xing Ai dalam hati.Damn! Kenapa timing-nya pas sekali?

 

“Ai? Apa yang kau lakukan di sana?”

 

Pertanyaan tiba-tiba itu sedikit banyak mengagetkan Xing Ai. Tidak salah, itu suara Ya Lun. Tapi sepertinya rencana Ya Lun tidak berjalan terlalu mulus karena Xing Ai lebih memilih untuk diam, tidak memberikan reaksi apa-apa.

 

Ya Lun berjalan cepat ke tempat di mana Xing Ai masih meringkuk. Sebelum sampai di sana, Ya Lun menyempatkan diri mengambil selimut di tempat tidur Xing Ai. Ya Lun berjongkok di hadapan Xing Ai lalu menyampirkan selimut itu di pundak Xing Ai. Ya Lun bisa melihat bahwa Xing Ai baru saja menangis atau mungkin masih menangis. Ia dapat melihat dengan jelas air mata di bawah mata Xing Ai.

 

“Ada apa, Ai?”

 

Lagi-lagi Xing Ai tidak menjawab, ia malah menelungkupkan kepalanya di atas lututnya. Ia bingung harus menjawab apa, hatinya sedang tidak siap untuk bertemu dengan Ya Lun. Kondisinya yang seperti ini juga tidak seharusnya diperlihatkan pada Ya Lun.

 

“Ai… Kau baik-baik saja kan?”

 

Xing Ai mengangguk sekilas sebelum berbicara dengan volume yang cukup pelan dan diucapkan dengan lemah, “Aku minta maaf, tapi bisakah kau pulang?”

 

“Pulang? Kenapa aku harus pulang?”

 

“Kumohon, Ge. Pulanglah…”

 

“Setidaknya beri aku satu alasan. Kau sedang dalam keadaan seperti ini dan sekarang kau memintaku pulang tanpa sedikitpun penjelasan, mana mungkin aku bisa pulang dengan tenang?”

 

Xing Ai mengangkat kepalanya lalu menatap Ya Lun sendu, “Tidak bisakah kau mengikuti perkataanku tanpa bertanya?”

 

Ya Lun menggeleng yakin lalu berkata, “Aku tidak akan pulang sebelum aku ingin pulang.”

 

“Aku sedang tidak ingin bertemu denganmu. Aku sedang ingin sendiri,” ucap Xing Ai sebelum akhirnya kembali membenamkan kepalanya.

 

Ya Lun memicingkan matanya sebentar lalu memilih untuk mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Dia mengambil ponsel Xing Ai yang tergeletak di sebelahnya. Ia melihat foto yang sama dengan yang Xing Ai lihat tadi. Ia mengeluarkan menu layanan blackberry messenger lalu beralih pada menu-menu lain di ponsel Xing Ai.

 

Ya Lun memilih untuk duduk di sebelah Xing Ai sambil memainkan ponsel Xing Ai. “Wah lagumu banyak sekali, Ai. Syukurlah kau menyimpan semua laguku disini.”

 

“Eh?” Ya Lun terhenyak saat melihat foto Xing Ai bersama dengan seorang pria saat ia hendak melihat-lihat gambar yang ada dalam ponsel Xing Ai. Rupanya Xing Ai langsung menekan tombol merah di ponselnya tadi, jadi saat Ya Lun membuka folder gambar otomatis foto itulah yang akan nampak di layar.

 

“Foto inikah yang membuatmu seperti ini, Ai? Siapa dia?”

 

“Bukan siapa-siapa.”

 

“Berhentilah menutupi kenyataan dariku, Ai. Untuk apa kau melihat foto kalian jika dia memang bukan siapa-siapa? Aku juga melihat fotonya di blackberry messenger-mu tadi. Siapa dia sebenarnya?”

 

Xing Ai kembali mengangkat kepalanya, “Aku sudah bilang dia bukan siapa-siapa. Kau tidak percaya padaku hah?”

 

“Bagaimana aku bisa percaya jika aku melihat keadaanmu yang seperti ini, Ai?”

 

“Kau cukup percaya pada kata-kataku.”

 

Ya Lun mendengus, “Apa yang sedang ingin kau tutupi dariku?”

 

Xing Ai mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan Ya Lun barusan. Ada nada curiga yang sangat kentara dalam pertanyaan tersebut. “Kau mencurigaiku?”

 

“Aku tidak mencurigaimu.”

 

“Apa? Jelas-jelas kau itu sedang mencurigaiku. Aku bahkan tidak pernah mencurigaimu, Ge. Kau tebar pesona di luaran sana pun aku tidak pernah marah padamu. Aku selalu berusaha mengerti dirimu. Tapi sekarang apa, kau bahkan mencurigaiku.”

 

“Ai, aku tidak mengatakan apa-apa. Atau memang kau tengah menyembunyikan sesuatu dariku? Sesuatu yang jelas ada kaitannya dengan pria itu. Iya, kan?” ucap Ya Lun dengan penuh penekanan.

 

“Terserah kau saja. Aku sedang malas berdebat. Pulanglah, aku lelah.”

 

“Aku tidak akan pulang sebelum semuanya jelas.”

 

“Penjelasan apa lagi yang ingin kau dengar dariku? Apa?”

 

“Siapa pria itu?”

 

“Memang kenapa sih dengan pria itu? Aku tidak menangis karenanya. Dia tidak melakukan apa-apa padaku. Akunya saja yang sedang ingin menangis. Berhentilah mencurigaiku dan pria itu. Kami tidak memiliki hubungan apa-apa.”

 

“Aku tidak bilang kalian memiliki hubungan.”

 

“LALU APA?” teriak Xing Ai. Dia tidak bisa lagi menahan emosinya. Ini yang dia takutkan, mereka akan terlibat pertengkaran. Inilah alasan mengapa Xing Ai menyuruh Ya Lun untuk pulang.

 

“Kenapa kau berteriak padaku?” tanya Ya Lun sambil bangkit berdiri.

 

“ITU KARENA KAU TIDAK MENGERTI JUGA. AKU MENANGIS BUKAN KARENA PRIA ITU. JADI BERHENTI MENCURIGAI KAMI BERDUA.”

 

“Ai, aku tidak mengerti. Aku tidak mengatakan hal-hal demikian padamu tapi kau selalu mengatakan agar aku tidak mencurigai kalian. Kenapa kau nampak sangat ingin melindungi pria itu, hah? Kenapa? Apa memang karena pria itu sangat penting bagimu jadi kau tidak ingin aku menyalahkannya?” Ya Lun berkata dengan perlahan tapi sangat nampak bahwa dia sedang menahan emosinya.

 

“Kalau iya memang kenapa? Kalau aku ingin melindunginya memang kenapa? Kau keberatan?”

 

“Tentu saja aku keberatan. Demi Tuhan, Ai. Hari ini ulang tahunku tapi kau bahkan tidak mengucapkan selamat padaku. Ah, sebenarnya ucapan selamat bukanlah point utamanya tapi pantaskah seorang gadis menangisi pria lain sementara dirinya telah memiliki kekasih. Dan parahnya lagi gadis itu tidak berniat memberi penjelasan apa-apa dan malah membela pria lain di hadapan kekasihnya. Hati pria mana yang tidak tersakiti?”

 

Xing Ai kembali menangis, kali ini bahkan tersedu. “Lalu bagaimana denganku, ge? Bagaimana denganku? Kau pikir aku tidak pernah tersakiti? Kau pikir aku tidak sakit saat kau menceritakan tentang cinta pertamamu? Kau pikir aku tidak sakit saat kau menceritakan tentang mantan-mantan kekasihmu? Kau pikir aku tidak sakit saat kau seolah mendedikasikan album barumu itu untuk kekasihmu yang telah meninggal itu? Kau pikir aku tidak sakit saat kau menerima tawaran film dengan begitu banyak adegan mesra di dalamnya begitu saja? KAU PIKIR AKU TIDAK SAKIT, HAH?”

 

“Lima tahun aku berada di sisimu, menahan semua egoku sendiri untuk bisa seperti kekasih lain pada umumnya. Lima tahun aku menahan diriku untuk memendam semuanya sendiri karena tidak ingin kau terbebani. Tidak jarang aku menangis saat melihatmu dicela oleh media, oleh issue-issue yang mengatakan bahwa kau gay. Demi Tuhan, mereka hanya tidak tahu bahwa kau sudah memiliki seorang kekasih. Aku juga seringkali merasa tidak berguna saat kau sakit. Aku merasa tidak bisa menjadi kekasih yang baik bagimu. Aku selalu mengkhawatirkan kondisi tubuhmu. Bisa kau bayangkan bagaimana perasaanku saat aku mengetahui dirimu sakit melalui media bukannya darimu langsung? Kau sakit, tapi aku tidak bisa selalu di sampingmu. Aku menyuruhmu beristirahat tapi kau tidak mau menurut. Kapan kau akan berhenti membuatku khawatir?”

 

“Tidak jarang pula aku menangis saat melihatmu terlalu dekat dengan lawan mainmu. Mereka bahkan bisa bermesraan denganmu di depan umum, sementara aku? Untuk jalan-jalan saja rasanya sangat jarang. Aku selalu berusaha bersabar di saat semua pasangan menghabiskan waktu bersama di akhir pekan, kita malah melakukannya di hari lain. Aku selalu berusaha mengerti. Semuanya aku tahan hanya demi hubungan kita berdua.”

 

“Aku… Aku… Entah bagaimana harus mengatakannya. Aku sedang ingin sendiri. Kumohon, percayalah padaku. Aku baik-baik saja. Aku juga tidak sedang menutupi apapun darimu. Kumohon, kali ini saja mengertilah.”

 

Ya Lun menatap Xing Ai sendu, setetes air matanya turun begitu saja. Ia tidak tega melihat kekasihnya menangis seperti ini. Mendengar kata-kata Xing Ai mau tidak mau menumbuhkan rasa bersalah. Ia tahu Xing Ai pasti merasakan tekanan tertentu dengan menjadi kekasihnya, hanya saja ia tidak pernah tahu bahwa ada begitu banyak hal yang dipendamnya seorang diri.

 

“Pulanglah, Ge. Kumohon… Kau butuh istirahat, aku tidak ingin kau sakit. Aku tahu selesai acara perayaan ulang tahunmu bersama fans kau langsung kemari. Aku minta maaf sebelumnya karena aku tidak hadir.”

 

Ya Lun membungkuk lalu membelai rambut Xing Ai perlahan, “Baiklah, aku akan memberimu waktu untuk sendiri dulu. Tapi berjanjilah padaku, jangan menangis terus. Ayo masuk, udara semakin dingin. Aku tidak ingin kau sakit.”

 

Xing Ai mengangguk pelan sambil tersenyum, “Aku mengerti.”

 

“Aku akan pergi, tapi aku akan kembali lagi nanti. Hubungi aku kalau kau sudah rindu padaku.”

 

Mendengar ucapan Ya Lun tersebut mau tidak mau membuat Xing Ai tertawa. “Sudah, pulang sana! Ini sudah malam. Aku mau tidur sebentar. Bertemunya kan bisa besok.”

 

“Setelah aku menyelesaikan jadwalku di HIT FM aku akan langsung kemari.”

 

Xing Ai menggeleng yakin. “Kau pasti lelah, Ge.”

 

“Melihatmu merupakan vitamin tersendiri bagiku, Ai.”

 

♥ ♥ ♥

 

Xing Ai memejamkan matanya di atas tempat tidur. Tubuhnya benar-benar lelah, terlebih lagi hatinya. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Pertengkarannya dengan Ya Lun tadi harus ia akui sangat menyakitkan, ia jarang sekali bertengkar dengan Ya Lun tapi tadi ia bertengkar dan mengungkapkan semua keluhannya.

 

“Ah! Bodoh sekali, bagaimana kalau ucapanku tadi membebaninya?”

 

Voila! Hanya dengan begitu saja, semua perhatian Xing Ai telah teralihkan. Meskipun harus diwarnai dengan pertengkaran, nyatanya Ya Lun berhasil mengambil kembali perhatian Xing Ai.

 

“Bagaimanapun juga aku harus menjelakan tentangnya pada A Ge nanti. Ah! Lelah sekali, aku butuh tidur sebentar.”

 

♥ ♥ ♥

 

Ya Lun menatap bintang-bintang sambil menggumamkan lirik lagu Ti Amo, lagu kesukaan Xing Ai. Tanpa mengindahkan lelah yang menggelayut di tubuhnya, ia masih menunggu kabar dari kekasihnya meski hari telah larut malam. Ia tidak bisa tenang melihat kondisi Xing Ai yang seperti tadi. Pikirannya tiba-tiba melayang ke masa-masa awal kebersamaan mereka.

 

“Kenapa kau suka sekali dengan bintang sih, Ai? Bahkan namamu pun artinya bintang. Jangan-jangan kau lebih menyukai bintang dibandingkan diriku.”

 

Xing Ai tertawa mendengar ucapan Ya Lun lalu berkata, “Kekanakan sekali sih. Ngomong-ngomong soal bintang, bintang itu kan memancarkan cahaya jadi bisa dibilang sebagai pembawa terang. Sama seperti arti dari nama baratmu, Aaron. Aaron artinya pembawa terang. Aku tidak menyangka ada sebuah kebetulan seperti ini.”

 

Ya Lun tersenyum lantas menarik Xing Ai ke dalam pelukannya. “Itu bukan kebetulan. Itulah yang dinamakan takdir.”

 

Cukup lama Ya Lun tenggelam dalam pikirannya sendiri. Menghabiskan penantiannya dengan mengenang masa lalunya. Ya Lun tersadar dari lamunannya saat ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Xing Ai. “Akhirnya dia bangun juga.”

 

‘Dui bu qi, Ge. Pria tadi adalah pria yang pernah hidup di masa laluku. Tapi kini aku yakin aku hanya membutuhkan dirimu untuk senantiasa ada di masa kini dan masa depanku. Wo ai ni, Ge.

Masih ingin bertemu denganku kan? Tapi ini sudah malam sekali, lebih baik besok saja ya bertemunya? Peace! ^_^v’

 

 Ya Lun tersenyum membaca pesan tersebut. “Sudah saatnya aku kembali masuk ke dalam.”

 

♥ ♥ ♥

 

Xing Ai membulatkan matanya saat melihat Ya Lun masuk ke dalam kamarnya. Baru semenit yang lalu ia mengirimkan pesan dan saat ini Ya Lun sudah ada di hadapannya.

 

“Kau bersembunyi di mana?”

 

“Aku? Aku tidak bersembunyi. Aku duduk di teras rumahmu dari tadi setelah pulang dari studio HIT FM.”

 

“APA? Kau duduk di teras depan? Kau gila ya? Ini jam berapa? Udara sedang begini dingin kau malah menunggu di luar tanpa menggunakan jaket? Kau ingin membuatku khawatir lagi ya? Ah! Kau juga pasti mengendarai THSR kan kemari supaya cepat sampai? Bagaimana kalau ketahuan para pudding? Kau benar- benar membuatku gila,” ucap Xing Ai cepat, nyaris tanpa jeda yang mau tak mau membuat Ya Lun tergelak.

 

Ya Lun mengacak rambut Xing Ai lalu mengecup pipi Xing Ai. “Akhirnya Ai-ku kembali.”

 

“Memang aku darimana?” ucap Xing Ai lalu mengerucutkan bibirnya.

 

“Entahlah dia pergi kemana tadi, yang jelas aku sudah merindukan Xing Ai-ku yang satu ini,” ucap Ya Lun sambil memeluk Xing Ai erat-erat.

 

Xing Ai menepuk-nepuk tangan Ya Lun, minta dilepaskan. “Ya! Ya! Lepaskan, kau memelukku terlalu erat.”

 

“Tidak mau. Ada yang lupa kau bilang padaku.”

 

Xing Ai tertawa. “Ya ampun kekanakan sekali. Iya, iya. Selamat ulang tahun ya, A Ge-ku tersayang.”

 

“Bukan itu, bodoh! Lagipula ulang tahunku sudah lewat,” ucap Ya Lun bersamaan dengan lepasnya pelukan di tubuh Xing Ai.

 

“Lalu apa?”

 

“Tidak tahu. Pikirkan sendiri.”

 

Xing Ai tersenyum lalu mengecup pipi Ya Lun sekilas sebelum memeluknya erat. “Iya, iya. Aku mencintaimu, Ge. Aku sangat mencintaimu.”

 

Ya Lun menepuk punggung Xing Ai pelan. “Itu baru benar. Aku juga sangat mencintaimu, Ai.”

 

“Benarkah? Sekalipun aku menyimpan foto pria lain?” tanya Xing Ai, masih dengan memeluk Ya Lun.

 

“Jangan coba-coba, Ai.”

 

Tawa Xing Ai meledak mendengar jawaban Ya Lun. “Itu baru benar.”

 

Seperti halnya bintang yang tidak selalu nampak tapi selalu ada, begitu pula dengan cinta mereka berdua. Cinta mereka tidak selalu muncul di setiap kata yang terlontar tapi nyatanya, cinta itu selalu ada dalam hati mereka.

 

 

Stop thinking of people in your past. Believe there’s a reason why they can’t be in your future.

 

 

 

.fin.

 

 

 

Ni hao!!! Ini FF kayaknya gagal!!! *mewek di pelukan A Ge* Niatnya sih bikin ada konfliknya, tapi kok hm… tapi kok jadinya gini ya? Ah, maafkan saya~~

Bermellow-mellow ria di awal, sedikit tarik urat di pertengahan eh geje di belakang. Woah! No comment deh, biar yang baca yang comment.

Bikin FF ini juga sempat beberapa kali diedit gara-gara schedule dia yang ternyata cukup padat di hari ulang tahunnya. Hmph… Entah kalau ternyata schedule dia berubah lagi hari ini, itu diluar kuasa saya. Mohon dimaklumi. Anggap aja schedule-nya dia kayak di FF ini ya? Jam 3 sore ada celebration sama fans trus jam 9 sampe jam 11 ada schedule di HIT FM.

Dan demi apapun juga, tadi pagi pas bangun saya shock tapi bahagia. Saya mimpiin Ya Lun! Saya mimpi ketemu dia kayak di sebuah fanmeet gitu, dikasih hadiah trus bisa pegang tangan dia. Dan kayak kurang lengkap aja pas acaranya udah kelar, saya ketemu dia lagi di luar gedungnya trus sama manajernya malah disuruh ngejagain dia bentar. Eh kita malah ngobrol soal weibo. Terakhir, pas udah pulang rumah, tante aku pulang-pulang bawa Ya Lun! Ya ampun! Udah cengar cengir sendiri kayak orang gila tadi pagi. Kena tulah FF sendiri nih kayaknya, malah mimpiin Ya Lun-nya. Tapi saya emang mimpiin seseorang sih, tapi bukan tadi malem. Tepatnya beberapa hari yang lalu. Ya sudahlah, nasi sudah menjadi bubur, FF juga udah jadi. Ya Lun ga bilang-bilang sih mau dateng ke mimpi aku. *malah nyalahin Ya Lun*

Oh ya, aku ga perlu jelasin lagi kan ya kenapa oneshot series ini aku kasih judul ‘Starlight Stories’? Kalo kurang jelas baca lagi yang bagian Ya Lun liat bintang. ^^

Oh ya, hari ini juga aku mau launching cover FF khusus series ini. Thank you so much for my bestfriend, Unhye. Thanks udah mau bikinin request-an aku dengan sederet permintaan yang berhubungan dengan cover FF ini. Salut juga udah berhasil bikinin cover sebagus itu dengan aplikasi yang sangat terbatas. Jasamu akan selalu kuingat, Hye. Trus, kalo ntar ketemu sama A Ge bakal aku critain juga ke dia. Hahaha. *Hug Unhye*

Oh ya, kalo ada yang mau nanya apa cewek yang di cover itu saya? Yep! Itu emang saya. Gapapa kan ya pake foto sendiri? Hihihi.

Oke deh, cukup sekian sebelum ceritaku ini jadi lebih panjang dari FF-nya sendiri. Tapi, sebelum pamit undur diri mau ngucapin selamat ulang tahun dulu sama A Ge. “祝你生日快樂 炎亞綸 哥哥!”

 

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s