ff Will You Marry Me?

Title : Will You Marry Me?

Author : Yunita Suwitnyo

 

 

 

Xing Ai merapikan berkas-berkas yang baru saja ia kerjakan lalu elirik jam yang tergantung di dinding, jarum jam berada di angka dua dan enam. “Sudah jam enam ternyata,” ucap Xing Ai yang lantas mengecek ponselnya.

 

 

 

From : A 哥

Hari ini kau tidak datang.😦

 

 

Xing Ai memejamkan matanya sejenak, “Bahkan hari sabtu pun masih harus bekerja hingga malam begini.” Memang, sejak kira-kira dua bulan yang lalu Xing Ai bekerja di Kaohsiung. Ia meninggalkan pekerjaan lamanya di Taipei dan memilih untuk mengambil pekerjaan di Kaohsiung. Ada banyak pertimbangan hingga akhirnya dia memutuskan untuk mengambil tawaran pekerjaan tersebut.

 

 

 

To : A 哥

Sorry…😦

Aku masih harus bekerja hari ini. Jangan marah ya? Smileee A 哥 tersayang… ^^

 

 

 

From : A 哥

Justru dirimu yang jangan marah. Sepertinya aku harus bersiap-siap mulai dari sekarang. Hahaha.😀

 

 

“Mencurigakan. Sudahlah, sekarang aku harus bergegas.”

 

Xing Ai meraih tas-nya lalu berjalan cepat keluar dari kantornya, memberhentikan taksi pertama yang melintas. “Stasiun Zuoying.”

 

Beberapa menit kemudian Xing Ai sudah duduk manis di kursi High Speed Rail yang akan membawanya ke Taipei. Dia mengeluarkan ponselnya dan memutuskan untuk browsing mengenai kekasihnya itu. Dia langsung membuka salah satu blog yang selalu memuat kegiatan kekasihnya tersebut.

 

Artikel pertama yang menyambutnya berjudul Aaron Yan in Kaohsiung and Tai Chong for pre-ordering fans meeting. Ia membacanya sekilas sebelum akhirnya kembali melihat artikel-artikel lainnya. Matanya sempat memicing saat membaca sebuah artikel yang berjudul Aaron plans to get married at 45!

 

“Dia benar-benar berencana menikah di usia itu?”

 

Xing Ai membuka artikel itu dan membacanya dengan seksama.

 

 

 

The youngest member of Fahrenheit has finally disclosed he doesn’t want to settle down till 45 years…a big gap from other members who all said 35 years old. When asked about his wedding plans he replied “I’d like to parachute…yea because I think that my phobia of heights has to be settled by this time…the day I get married no more fears to worry about!”

 

Reporters later teased him,” but at 45 can you still have kids?”

Aaron awkwardly replied “I should be able too, as long as the other person is young.” (LOL)

Reporters: Then what age would you set it at?

Aaron: If I’m 45 then she would be about …28!

That’s 17 years!!! Well there you go Aaron Lovers…you all have a chance at it! Just match all his requirements with yourself now!

Aaron also explained on about how currently he is not putting his relationships in the first spot because he is too busy and also he doesn’t want to have the other half feeling neglected by him because he is not able to accompany her! Reporters asked about if he was really hiding from his feelings? Aaron responded very truthfully: Yes, especially right now.

For the three years he has been single and not dealing with relationships; also planning to not settle down till he is 45…means currently the most important thing is his album right now! 

Cr : http://only4frh.blogspot.com/

 

 

“Bagus sekali. Artikel ini benar-benar bagus. Tujuh belas tahun ya? Kalau begitu mulai sekarang kau harus mencari anak SD. Awas ya kalau nanti berhadapan denganku kau, A Ge.”

 

Sekitar satu setengah jam kemudian Xing Ai menjejakkan kakinya di kota Taipei. Ia bergegas menuju tempat yang memang menjadi tempat tujuannya.

 

Dia mengetuk pintu rumah tersebut pelan. Tak lama pintu dibuka dan langsung terdengar pekikan bahagia, “Xing Ai!”

 

Xing Ai tersenyum bahagia melihat seseorang yang berdiri di hadapannya. “Ma…”

 

Seseorang yang dipanggil ma oleh Xing Ai tersebut langsung memeluk Xing Ai dengan erat. “Kenapa baru datang sekarang? Mama sangat merindukanmu. Ayo masuk, kau sudah makan?”

 

Xing Ai menggeleng, “Aku langsung kesini dari kantor.”

 

“Biar mama siapkan sesuatu untuk kau makan. Kau mandi dulu saja. Bajumu masih ada di lemari Ming Pei. Kau langsung ke kamarnya saja, dia pasti senang melihatmu.”

 

Tak lama pintu di ujung rumah tersebut terbuka, “Siapa yang datang, ma?”

 

“Seseorang yang pasti akan membuatmu terkejut, sayang,” ucapnya sambil tersenyum.

 

“Oh ya? Siapa? Dia ingin menemuiku?”

 

“Dia tidak bilang begitu tapi mungkin nanti juga dia akan bertemu denganmu.”

 

“Jawabanmu membingungkan, ma. Lalu, dimana dia sekarang?”

 

“Dia ada di kamar adikmu, baru saja selesai mandi.”

 

“Di kamar Ming Pei?”

 

Hening sejenak sebelum terdengar suara yang cukup keras, “Jangan bilang bahwa yang datang adalah Xing Ai?”

 

“Lebih baik lihat saja sendiri nanti. Sudah, kau tunggu di meja makan. Nanti kau temani dia makan malam.”

 

♥ ♥ ♥

 

Xing Ai berjalan perlahan menuju meja makan, sadar bahwa ada seseorang yang duduk di sana. Seseorang yang ingin dia temui sejak beberapa bulan yang lalu.

 

“Hai, lama tak berjumpa.”

 

Ucapan itu mengagetkan seseorang yang sudah terlebih dulu duduk di sana dan malah menghabiskan waktu menunggunya dengan melamun. Seseorang yang bernama Ya Lun.

 

“Xing Ai!” ucapnya lalu langsung memeluk Xing Ai yang berdiri di hadapannya.

 

“Hey! Hey! Hey!” terdengar suara seseorang yang dipanggil mama oleh mereka berdua yang langsung membuat pelukan tersebut terlepas dengan sendirinya.

 

“Setidaknya biarkan Xing Ai makan dulu. Dia belum makan malam, sayang,” ucapnya pada anaknya tersebut.

 

“Kau belum makan?” tanyanya memastikan.

 

Xing Ai mengangguk, “Kalau aku makan dulu nanti bisa semakin malam sampai di sini.”

 

“Nanti kalau sakit bagaimana? Jangan sering-sering terlambat makan begitu.”

 

“Mama senang melihat kekasihmu ini mengkhawatirkanmu. Dia terlihat lebih manusiawi, Ai.”

 

Xing Ai tertawa mendengar penuturan Mama dari kekasihnya tersebut, “Memang selama ini A Ge tidak terlihat manusiawi, Ma?”

 

“Dia hanya terlihat manusiawi saat bersamamu.”

 

“Ma!” rengek Ya Lun pada mamanya.

 

“Baiklah, mama tinggal kalian dulu. Kau jangan macam-macam pada Xing Ai. Kalian jangan tidur malam-malam.”

 

Xing Ai dan Ya Lun mengangguk bersamaan. “Kalian kompak sekali, cepatlah menikah,” ucapnya sambil tertawa geli.

 

“Dia belum mau menikah, Ma.”

 

“Oh ya? Siapa yang bilang?”

 

“Dia sendiri. Coba mama tanya langsung padanya.”

 

“Benar, sayang? Katanya kau ingin cepat-cepat menikah dengan Xing Ai?”

 

Ucapan mama Ya Lun tersebut mengagetkan Xing Ai sehingga membuatnya tersedak. Reflex, Ya Lun segera menyodorkan segelas air putih pada kekasihnya tersebut.

 

“Sudahlah, Ma. Mama masuk duluan saja ke kamar. Akan kujelaskan nanti.”

 

“Baiklah. Anak muda memang membingungkan,” ucapnya sambil berjalan menuju kamarnya.

 

Ya Lun menoleh menatap Xing Ai, memastikan bahwa Xing Ai baik-baik saja. “Kalau makan hati-hati dong makanya.”

 

“Aku kan kaget.”

 

“Sudah makan dulu. Nanti baru kita bahas.”

 

♥ ♥ ♥

 

“Kau tidak bilang akan kesini.”

 

“Kalau aku bilang itu namanya bukan kejutan.”

 

“Kau akan menginap di sini kan?”

 

“Tergantung.”

 

Ya Lun mengerutkan dahinya tanda tidak mengerti dengan kata-kata Xing Ai.

 

“Tergantung jawabanmu nanti.”

 

Seolah mendapat pencerahan, raut muka Ya Lun langsung berubah. “Kalau ini soal wawancara itu…”

 

“Ya? Ada apa dengan wawancara?”

 

“Aku tidak benar-benar ingin menikah di usia empat puluh lima tahun kok.”

 

“Empat puluh lima tahun juga tidak masalah. Apa kau sudah mengatur jadwal kunjungan ke sekolah-sekolah dasar?”

 

“Sekolah dasar? Untuk apa?”

 

“Tentu saja mencari calon istri untukmu. Kau kan ingin calon istri yang berusia dua puluh delapan tahun saat usiamu sudah empat puluh lima tahun. Itu artinya gadis itu seharusnya masih duduk di bangku sekolah dasar, A Ge-ku tersayang.”

 

“Calon istriku adalah gadis yang duduk di hadapanku saat ini,” ucap Ya Lun dengan nada serius yang langsung membuyarkan konsentrasi Xing Ai. Sebenarnya Xing Ai tidak benar-benar marah pada Ya Lun, semua Ya Lun lakukan hanya demi tuntutan saja. Juga agar hubungan mereka tidak terbongkar.

 

“Ah, baiklah. Main denganmu tidak seru.”

 

“Tapi aku tidak main-main, Ai.”

 

Xing Ai memutar arah duduknya, menghindari tatapan Ya Lun yang rasanya membakar tubuhnya. Xing Ai merasa panas mendadak. Tatapan Ya Lun yang sangat dalam dan serius itu membuatnya meleleh.

 

Xing Ai mengangguk setelah berhasil mengatur detak jantungnya yang mendadak menjadi lebih cepat. “Iya, aku mengerti.”

 

“Kau salah tingkah,” ucap Ya Lun sambil tersenyum menggoda.

 

Xing Ai menoleh cepat pada Ya Lun dan menatapnya tajam, “Sialan! Kau menggodaku ya?”

 

Ya Lun menangkup wajah Xing Ai dengan tangannya lalu menempelkan dahinya ke dahi Xing Ai, “Aku tidak menggodamu. Coba rasakan, apa pikiranku sudah masuk ke dalam pikiranmu sekarang?”

 

Perilaku Ya Lun yang serba tiba-tiba itu membuat Xing Ai kembali salah tingkah. Beberapa bulan tidak berjumpa dan sekarang berada dalam jarak sedekat itu dengan kekasihnya membuatnya tidak tahu harus berbuat apa, terlebih Ya Lun melakukan skinship padanya.

 

“Kau memikirkan apa memang?”

 

“Tentu saja memikirkanmu. Apa kau tahu, kau adalah gadis pertama yang diminta oleh mamaku untuk memanggilnya mama. Itu artinya dia ingin kaulah yang menjadi menantunya.”

 

“Apa kau tahu, aku sangat bahagia saat itu. Mengetahui bahwa mama menerimamu bahkan sangat menyukaimu membuatku sangat lega. Itu artinya aku sudah mendapat ijin dari orang tuaku untuk melamarmu kapan saja.”

 

“Aku mungkin tidak bisa menjanjikan apa-apa padamu. Aku tidak bisa berjanji kapan aku akan menemui orang tuamu untuk memintamu menjadi istriku. Tapi setidaknya keinginan itu sudah ada di hatiku.”

“Kau adalah wanita pertama yang ingin kujadikan pendamping hidupku. Menjadi yang terakhir kulihat saat aku akan terlelap di malam hari dan menjadi yang pertama saat aku membuka mata di pagi hari.”

 

“Ti…tidakkah kau merasa kata-katamu barusan terlalu romantis, ge? Aku susah bernafas.”

 

Aaron tergelak, masih dalam posisi yang tadi. “Mau kuberi nafas buatan?”

 

Xing Ai langsung melepaskan diri lalu memukul dada Ya Lun pelan, “Dasar gila!”

 

Ya Lun masih tertawa, melihat kekasihnya salah tingkah seperti itu ternyata rasanya sangat menyenangkan. Saat-saat bersama kekasihnya yang sangat jarang bisa ia dapatkan terlebih sejak Xing Ai memutuskan untuk pindah ke Kaohsiung.

 

“Ternyata memang hanya saat bersamamu aku bisa merasa sebahagia ini. Pindahlah kembali ke Taipei lalu menikah denganku.”

 

“Menikahnya kapan-kapan saja. Aku masih punya banyak keinginan.”

 

“Aish! Terserah kau saja. Coba, kau sendiri yang tidak ingin cepat-cepat menikah denganku padahal aku sudah memintamu.”

 

“Lamaranmu tidak romantis.”

 

“Hao. Kau mau yang romantis? Kalau aku sudah melamarmu dengan cara yang romantis, kau harus mau menikah denganku ya?”

 

Xing Ai tertawa mendengar kata-kata Ya Lun. “Kau lupa kau sudah pernah melamarku sebelum ini?”

 

“Kau benar! Bukankah itu sudah sangat romantis? Melamarmu di gereja. Aku rasa tidak ada yang lebih romantis daripada itu.”

 

“Kalau begitu kau harus melamarku dengan cara yang lebih romantis daripada itu, baru aku akan menerima lamaranmu.”

 

“Ya! Kau sengaja ya?” ucap Ya Lun lalu cemberut.

 

“Jangan cemberut begitu. Kau semakin terlihat seperti anak kecil,” ucap Xing Ai sambil menepuk pipi Ya Lun pelan.

 

Ya Lun menangkap tangan Xing Ai lalu menggenggamnya. “Bagaimana pekerjaanmu yang baru?”

 

“Kenapa mengubah topik pembicaraan?”

 

“Aku ingin tahu bagaimana keadaamu, Ai.”

 

“Pekerjaanku sejauh ini baik-baik saja. Tapi aku minta maaf, aku tadi memang tidak sempat pergi ke acaramu meskipun kita sama-sama berada di Kaohsiung.”

 

“Tidak apa-apa. Aku juga tidak sempat mengunjungimu tadi. Tidak menemukan alasan yang tepat untuk kabur.”

 

“Tidak masalah. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Justru aku yang mengkhawatirkanmu. Kau sedang sangat sibuk mempromosikan album barumu. Kau harus makan teratur, jangan terlalu lelah. Aku tidak mau kau sakit.”

 

“Kalau begitu kau harus sering-sering mengingatkanku.”

 

“Pasti.”

 

“Oh ya, ngomong-ngomong aku suka dengan rambutmu yang sekarang. Kau seolah berevolusi ke jaman baru debut dulu. Sangat manis dan tampak muda,” ucap Xing Ai sambil memegang rambut Ya Lun dengan sebelah tangannya yang masih bebas.

 

“Ah~~~ so cute…” ucap Xing Ai lalu mengecup pipi Ya Lun yang membuat Ya Lun sedikit kaget. “Aku benar-benar gemas padamu, Ge. Jangan tersenyum terlalu banyak pada orang lain. Aku tidak rela.”

 

Ya Lun tersenyum mendengarnya, “Baiklah, aku akan menuruti kata-kata dari Ai-ku tersayang.”

 

“Pintar,” ucap Xing Ai sambil tersenyum puas.

 

“Ai…”

 

“Hm?”

 

Ya Lun kembali menangkup lembut wajah Xing Ai dengan kedua tangannya. “I won’t promise to love you as long as you live, but I promise… I will love you as long as I live.

 

Xing Ai tersenyum, “So do I.”

 

Ya Lun mendekatkan wajahnya ke wajah Xing Ai. Semakin lama semakin dekat.

 

“Ya… Ya! Apa yang… Apa yang mau kau lakukan, ge?” ucap Xing Ai terbata-bata.

 

Ya Lun menempelkan bibirnya di bibir Xing Ai. Cukup lama. Xing Ai benar-benar tidak tahu harus berbuat apa, dia benar-benar salah tingkah jadi di saat Ya Lun sudah memejamkan matanya entah sejak kapan, Xing Ai malah menatap wajah Ya Lun yang masih bisa dia lihat dalam jarak pandang yang sangat dekat itu.

 

Ya Lun melepaskan ciumannya lalu tersenyum separuh, “Menciummu. Memangnya apa lagi?”

 

Xing Ai tercekat. Wajahnya sudah pasti merah padam dan ya… akhirnya dia hanya bisa memekik, “YA!” sementara Ya Lun masih dengan senyumnya yang membuat Xing Ai salah tingkah.

 

“Sepertinya kita perlu banyak-banyak latihan agar kau tidak salah tingkah begitu.”

 

Xing Ai menatap Ya Lun, berusaha menatap Ya Lun dengan tatapan tajam tapi percuma saja karena Xing Ai masih salah tingkah.

 

“KAU MAU MATI HAH?”

 

Ya Lun tertawa terbahak-bahak melihat tingkah kekasihnya itu. Xing Ai bangkit dari sofa lalu berjalan menuju kamar Ming Pei. “Sudahlah lebih baik aku tidur. Lama-lama denganmu aku bisa gila.”

 

Ya Lun membuka suara, masih sambil berusaha menghentikan tawanya, “Selamat malam, sayang.”

 

 

 

.end.

 

 

 

Halooo!!! Lagi-lagi aku kembali dengan FF abal-abal yang entah mau dibawa kemana ini alur ceritanya. Sebenernya ini sih iseng aja bikinnya. Lagi kangen bikin FF, kangen Ya Lun-nya juga. Dan berhubung dia lagi mau rilis album baru dan kapan hari baca artikel itu yang bikin aku kudu nangis jadinya bikin ini deh. Oke kok malah curhat. Hehehe.

 

Ga sabar mau dengerin lagu barunya Ya Lun yang lain! Suaranya itu looo bikin melting. Senyum-senyum sendiri ga jelas. Memang bahaya kok kalo udah berurusan sama satu orang itu. Albumnya masih sepuluh hari lagi resmi rilis. Yeay! Siapa yang udah PO hayo??? ^^

 

Buat readers sekalian, maafkan saya ya karena dating-dateng eh malah bawa FF ga jelas gini. Segala kritik saya terima dengan lapang. Dan barangkali masih ada yang mau muji FF ini, puji Tuhan banget! ^^

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s