MAAF UNTUK MAMA

Maaf untuk mama

 

Autor : Sunshina lavender

 

Cast : Lee sung jae

Kim Lavender/ shina

Kim Nay ra

Kim kyoung min

Genre : romance, family

 

Yang merasa nggak suka mending jangan membaca ya!! Aku bukan pemaksa tapi tolong hargai karya seseorang. Sambil dengerin lagu X-TRAX yang Tears pasti nyambung.

 

 

Aku lebih memilih hidup dalam ketidaktauan…

Karena semua yang ku rasakan membuatku terluka..

Tidak tau adalah hal yang membuat kita baik-baik saja..

Tidak tau akan membuatku tidak akan menangis..

Namun hujanpun ikut menangisi ketidakmampuanku..

 

 

Autor pov

 

Lavender  terbangun dari tidurnya dan menangis memeluk lututnya karena ketakutan dengan mimpi buruk yang baru saja dia alami. Lavender menghapus airmatanya dan melihat hp nya ada pesan dari seorang teman kampus yang memberitaunya tentang jadwal kuliah yang baru.

Dia meminum air putih yang ada di meja sebelah ranjang karena aku sudah kebiasaan membawa air putih dikamar.

“Tenang shina itu hanya mimpi bukan nyata” Lavender mencoba memejamkan mata kembali namun tidak bisa.

 

Pukul 7 pagi rumah terdengar heboh padahal Lavender baru saja tertidur setelah semalam terbangun dan tidak bisa tidur, namun suara gedoran nenek dan kakek didepan pintu membuatnya mau tidak mau terbangun dan membuka pintu.

“Sunshina bangun”

“Ne. waeyo?” tanya Lavender ketika pintunya sudah terbuka.

“Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu” jawab Kakek.

“Aku mandi dulu baru aku menemuinya”

“Oke. Kami tunggu dibawah”

 

10 menit kemudian Lavender keruang tamu melihat siapa yang datang mencarinya. Lavender melihat seorang wanita separuh baya duduk dan menatapnya penuh dengan kesenangan.

“Sunshina duduklah dulu” perintah kakek.

Lavender menurut dan duduk.

“Dia ini ibumu. Dia datang ingin menjemputmu dan mengenalkanmu pada pria yang baik”

“Mwo? Apa kakek bilang dia ingin membawaku pergi. Enak sekali dia setelah membuangku sewaktu bayi dan ayah, membawa kakak. Sekarang seenaknya saja ingin membawaku dan ingin menikahkanku”

“Tenanglah! Kim Lavender umma dulu meninggalkanmu karena umma sedang depresi karena banyak tekanan, serta umma hanya ingin kau mengenalnya kalau kau tidak suka kau tidak akan menikah dengannya” ucap Nay ra mencoba menjelaskan.

 

‘Ayahku adalah seorang laki-laki berdarah prancis yang mmutuskan menikah dengan ibuku yang berdarah korea, namun setelah melahirkan aku ibuku meninggalkanku bersama dengan ayah dan membenciku saat itu juga dengan alasan yang tidak masuk diakal, dia menolak menatapku sejak lahir dan saat itu dia memutuskan kembali ke korea dengan oppaku, meninggalkanku. Lalu kenapa aku bisa bahasa korea? Karena sebelum meninggal ayahku sering mengajarkannya padaku.’

 

“Aku tidak mau ikut denganmu dan satu lagi namaku Sunshina bukan Lavender”

“Tapi nama itu yang dulu dipilih oleh ayahmu”

“What ever, pergi dari sini dan kembalilah kekorea tanpaku. Aku benci padamu seperti kau membenci wajahku dulu” ujar Lavender tajam.

“Lavender-ah..” Nay ra mendekatkan diri dan ingin menyentuh wajah anaknya namun ditepis.

“Jangan sentuh aku”

Kakek dan nenek Lavender langsung memeluk Lavender dengan erat karena emosinya yang mulai memuncak.

“Pulanglah dulu Nay ra, biar kami yang berbicara padanya”

“Baiklah, Tapi aku tidak akan pulang kekorea tanpa putriku”

 

 

Lavender pov

 

 

Dalam diamku menyayangi..

Dalam sepi aku membayangkan..

Suasana mencekam berubah smakin keruh..

Nafas hidupku slalu terabaikan..

Semua berubah menjadi debu..

 

 

Kakiku lemas tidak sanggup menahan tubuhku, setelah wanita itu pergi. Aku kalut dan memejamkan mataku sebentar dalam pelukan kakek dan nenekku. Kenapa dia harus datang lagi? Setelah apa yang dia lakukan padaku, seharusnya dia sadar bahwa dia tidak berhak mencampuri urusan hidupku lagi.

Apa dia tidak tau kalau sewaktu kecil teman-temanku selalu bertanya dimana ibuku. Dan setelah semua itu dia datang dengan seenaknya ingin membawaku pergi.

Kakek dan nenek membawaku kekamar, lalu nenek membawakanku the panas. Aku menyesapnya tanpa meniupnya terlebih dahulu karena aku ingin agar hatiku lega.

“Sunshina…”

“Jangan membujukku kakek, aku tidak mau pergi kemanapun”

“Tapi dia ibumu”

“Ibu. Tapi dia berkata ingin menjodohkanku disana. Apa dia ingin menghancurkan masa depanku”

“Namun dia bilang kau boleh menolak Sunshina” sahut nenek kali ini ikut bicara.

“Jangan bilang kalian setuju aku ikut wanita itu. Tidak… Aku tidak akan mau”

“Tetapi yang nenek lihat dia hanya ingin mengenal anaknya sendiri, sepertinya masalah perjodohan hanya alasan agar dia bisa dekat denganmu”

“Aku tidak ingin mengenalnya”

“Hei! Kau bisa kembali kesini kapanpun kau mau” tutur sang kakek dengan senyum teduhnya.

 

Aku merasa kakek dan nenek ingin sekali aku ikut wanita itu, apa mereka ingin mengusirku. Berpisah dengan mereka dan mengakui ibuku bagaimana mungkin aku bisa melakukannya.

“Begini saja kakek punya usul, kau ikut dengannya dan berusaha mengenalnya lebih jauh, jika suatu hari nanti kau ingin kembali kau bisa menelpon kami”

“Tapi…”

“Kami ingin kau mengenal ibumu sayang, ayahmu juga pasti merestuimu apalagi kau juga akan bertemu kakakmu”

Aku memijit kepalaku yang terasa nyeri, aku benci korea dan yang berhubungan dengan negara itu. Dan sekarang aku harus siap-siap untuk tinggal disana bahkan akan menikah dengan pria disana.

Bahkan belum pernah terlintas diotakku untuk menikah diusiaku yang sekarang ini.

 

***

 

Autor pov

Lavender memakai kacamata hitamnya sembari menunggu ibunya mengurus keperluan imigrasinya, dengan kacamata itu dia  bisa memandang wajah ibunya tanpa harus takut ketahuan.

Lavender duduk melihat susana diluar jendela pesawat melihat kabut putih yang mengepul diudara. Nay ra menyodorkan sepotong roti dan sekotak susu untuk Lavender.

“Aku dengar dari kau tidak suka dengan kopi, persis seperti ayahmu”

“Aku tidak ingin mendengar apapun nyonya Nay ra”

Lavender melengos, namun Nay ra hanya tersenyum seolah tidak terganggu dangan sikap putrinya.

“Kau tidak perlu formal memanggilku Umma, mom atau yang lain. Terserah padamu mau memanggil apa”

“Setelah membuangku apa menurutmu kau pantas dipanggil ibu”

“Aku tau sifatku buruk sekali, dan aku sungguh-sungguh minta maaf Lavender-ah”

“Namaku Sunshina bukan Lavender” ucap Lavender penuh dengan penekanan.

“Itu namamu. Dan aku akan terus memanggilmu begitu dan ini Makanlah! Tadi kakekmu bilang kau belum makan dari pagi” ucap Nay ra mencoba perhatian memberikan sekotak susu coklat dan roti..

“Aku tidak lapar” ketus Lavender.

“Apa aku perlu memaksamu menelan roti ini agar kau mau mengisi perutmu, kau harus sarapan” ucap Nay ra meletakkan semua itu didepan putrinya.

“Kau fikir kau berhak atas hidupku”

“Tidak, tapi aku tidak bisa membiarkanmu kelaparan hanya karena gengsimu”

“Berhenti bertingkah seolah kau peduli padaku”

Nay ra terdiam dan menatap Lavender dengan lekat, matanya menyiratkan bahwa dia juga lelah dan menyesal dengan semua tindakannya.

“Boleh aku tanya kapan kau akan memaafkan aku”

 

Mendengar itu dengan Lavender kesal dan malas menatap ibunya lama. Lavender takut pertahanannya akan goyah, takut jika tidak mampu menahan keinginan hatinya untuk memeluk ibunya.

“Kurasa tidak dalam waktu dekat”

“Makanlah sekarang Lavender”

 

Lavender menuruti mau Nay ra, dia mengambil roti itu dan memakannya, namun ketika mengunyahnya dia terdiam sebentar karena menikmati roti madu kesukaannya.

“Kau suka bukan dengan roti madu, bahkan makanan kesukaanmu dan appamu sama, sifat keras kepalamu, gengsi juga egomu sama”

Lavender diam tak menanggapi.

“Kebiasaanmu dan hal yang tidak kau suka pun sama, bahkan kesukaan kalian sama”

“Bukankah itu yang membuatmu tidak suka pada kami”

“Kau tau aku sebenarnya tidak bermaksud meninggalkanmu dengan appamu dengan laki-laki lain bersama oppa mu, namun halmoni mu memaksa umma agar meninggalkan appamu namun ketika umma ingin membawamu appamu melarangnya dan menyembunyikanmu. Lewat kakekmu umma bisa tau segala perkembangan yang kau lalui. Waktu kau lahir itu adalah hal yang paling membahagiakan karena setiap ibu akan merasa begitu”

“Aku tidak mau dengar apa-apa karena kau membuatku terkucilkan karena aku tidak pernah tau siapa ibuku sampai aku kuliah”

“Mianhe sayang. Umma benar-benar waktu itu tidak mampu berbuat apa-apa untukmu”

Lavender memalingkan mukanya kearah jendela.

 

Lavender pov

 

Aku memakai kacamata hitamku untuk menutupi mataku yang bengkak akibat menangis semalaman karena tidak ingin pergi, dan merapatkan jaketku sembari menunggu wanita itu mengurus keperluan imigrasiku, dengan kacamata itu aku bisa memandang wajahnya tanpa harus takut ketahuan olehnya.

Aku duduk melihat susana diluar jendela pesawat melihat kabut putih yang mengepul diudara. Wanita itu menyodorkan sepotong roti dan sekotak susu untukku namun aku gengsi.

“Aku dengar dari kau tidak suka dengan kopi, persis seperti ayahmu”

“Aku tidak ingin mendengar apapun nyonya Nay ra” ketusku namun dia hanya tersenyum seolah tidak terganggu dangan sikap ketusku.

“Kau tidak perlu formal memanggilku Umma, mom atau yang lain. Terserah padamu mau memanggilku apa”

“Setelah membuangku apa menurutmu kau pantas dipanggil ibu”

“Aku tau sifatku buruk sekali, dan aku sungguh-sungguh minta maaf Lavender-ah”

“Namaku Sunshina bukan Lavender” ucapku kasar penuh dengan penekanan.

“Itu namamu. Dan aku akan terus memanggilmu begitu dan ini Makanlah! Tadi kakekmu bilang kau belum makan dari pagi” ucapnya mencoba perhatian dan memberikan sekotak susu coklat dan roti itu namun aku diam.

“Aku tidak lapar” ketusku padahal aku memang lapar sejak tadi pagi aku belum makan.

“Apa aku perlu memaksamu menelan roti ini agar kau mau mengisi perutmu, kau harus sarapan” ucapnya lagi sambil meletakkan semua itu didepanku.

“Kau fikir kau berhak atas hidupku”

“Tidak, tapi aku tidak bisa membiarkanmu kelaparan hanya karena gengsimu”

“Berhenti bertingkah seolah kau peduli padaku”

Dia terdiam dan menatap mataku dengan lekat, matanya menyiratkan bahwa dia juga lelah dan menyesal dengan semua tindakannya.

“Boleh aku tanya kapan kau akan memaafkan aku”

Aku menolehkan wajahku malas menatapnya lama. Aku takut pertahananku akan goyah mendengar semua yang dia katakan, takut jika tidak mampu menahan keinginan hatiku untuk memeluknya.

“Kurasa tidak dalam waktu dekat”

“Makanlah sekarang Lavender”

 

Karena kasihan aku menuruti maunya, mengambil roti itu dan memakannya, namun ketika mengunyahnya aku terdiam sebentar dan tersenyum dalam hati karena ini roti madu kesukaanku selama ini.

“Kau suka bukan dengan roti madu, bahkan makanan kesukaanmu dan appamu sama, sifat keras kepalamu, gengsi juga egomu sama”

Aku tetap saja diam tak menanggapi ucapannya.

“Kebiasaanmu dan hal yang tidak kau suka pun sama, bahkan kesukaan kalian sama”

“Bukankah itu yang membuatmu tidak suka pada kami” akhirnya aku mengeluarkan suara.

“Kau tau aku sebenarnya tidak bermaksud meninggalkanmu dengan appamu dengan laki-laki lain bersama oppa mu, namun halmoni mu memaksa umma agar meninggalkan appamu namun ketika umma ingin membawamu appamu melarangnya dan menyembunyikanmu. Lewat kakekmu umma bisa tau segala perkembangan yang kau lalui. Waktu kau lahir itu adalah hal yang paling membahagiakan karena setiap ibu akan merasa begitu”

“Aku tidak mau dengar apa-apa karena kau membuatku terkucilkan karena aku tidak pernah tau siapa ibuku sampai aku kuliah”

“Mianhe sayang. Umma benar-benar waktu itu tidak mampu berbuat apa-apa untukmu”

Aku memalingkan mukanku lagi kearah jendela. Aku melihat jam tangan yang ada dipergelangan tangan kiriku, perjalanan masih 6 jam lagi sebaiknya aku tidur dan menenangkan otakku lagi.

 

****

 

-Gimpo airport-

 

Aku dan dia diam setelah turun dari pesawat, lagi-lagi dia yang mengambil alih semuanya mulai dari pasport, visa dan lainnya. Jujur aku tidak tahan dengan suasana yang sunyi, tidak sunyi sebenarnya secara teknis karena banyak orang berlalu lalang dibandara ini namun melihat sikap wanita ini yang tiba-tiba dingin aku tidak nyaman.

“Tolong nanti lepas kacamatamu ketika bertemu mereka” ujarnya menunjuk ada 4 orang.

“Hem”

Siapa mereka? Huft! Aku menatap ada ibu, ayah dan 2 anak muda. Jangan-jangan salah satu dari mereka adalah namja yang akan dinikahkan denganku.

Memang tampan seperti malaikat tapi tidak terlihat ada keramahan sama sekali. Dan aku tidak menyukai tatapan namja yang satu itu.

 

 

Sung jae pov

 

Aku menatap gadis yang sedang berjalan kearahku, dari tadi aku bersama orangtuaku dan kakaknya hanya diam menunggu kedatangannya. Dia tidak cantik dan menarik dari mantan-mantanku yang sebelumnya. Kata ayahku dia baru pertama kali kekorea dan haruskah aku menyapanya duluan? Namun aku terpesona dengan matanya ketika dia melepaskan kacamatanya. Matanya tidak sipit seperti orang korea kebanyakan.

“Jadi kau yang bernama Lavender, wah neo yepopo yeodongsaengku”

Dia tersenyum ketika Kyoung min hyung menyapanya.

“Ayo kita pulang” ajak appaku.

“Ne, kkaja” ucap Umma, appa, adjuma yang berjalan mendahuluiku disusul oleh Kyoung min yang kini meninggalkanku berdua dengannya.

“Lee sung jae imnida” ujarku mengulurkan tangan.

“Sunshina” balasnya sedikit malas.

“Sunshina”

“Ne, jangan memanggilku Lavender karena aku tidak suka”

Dia berjalan setelah menyelesaikan, namun aku menahan lengannya.

“Kau belum sadar juga ini dikorea bukan dinegaramu lagi, dan aku akan memanggilmu dengan Lavender karena itu lebih bagus untukmu”

“Aku tidak memaksamu untuk memanggilmu atau menyapaku ?” ujarnya menepis tanganku. Dia berani sekali ketus padaku padahal selama ini tak ada yeoja yang menolakku. “Dan jangan menatapku seperti kau ingin mengambil mataku karena itu mengerikan, walau aku tau mataku ini indah”

“Kau terlalu percaya diri Kim Lavender, apa aku tadi berkata matamu indah yang ada matamu itu mata teraneh yang pernah aku lihat” tandasku sambil berlalu dari hadapannya.

“Aish!!!”

Aku tersenyum, sepertinya ini akan menarik.

 

***

Autor pov

 

Sung jae menjatuhkan diri di sofa sambil memandangi pemandangan dirumah keluarga Lavender. Sung jae teringat ucapan Kyoung min yang mengatakan bahwa adiknya belum bangun padahal hari sudah siang.

“Aish!!” umpat Sung jae mengacak rambutnya.

 

Karena Sung jae bosan menunggu akhirnya dia melangkah menuju kamar Lavender, namun ketika Sung jae sampai dipintu kamar dia mendengar Lavender berbicara dengan orang lain yang difikir Sung jae adalah kekasih Lavender.

karena sudah tidak mendengar pembicaraan lagi, Sung jae masuk kedalam kamar Lavender.

“Yaa!! Kau tidak punya sopan santun tuan Lee Sung jae sshi! Ini kamar wanita bagaimana jika aku sedang ganti baju” teriak Lavender marah.

“Kalau kau sedang ganti baju itu lebih bagus kurasa”

“Apa tidak salah aku dijodohkan dengan pria mesum sepertimu”

“Kau sedang menuji imanku Lavender sshi dengan pakaian mencolokmu itu” Sung jae mendekat pada Lavender.

“Aku tidak percaya kau berani melakukannya padaku karena kau itu pengecut”

Sung jae semakin mendekat, tangannya menarik tangan Lavender dengan erat sedangkan tangan yang lain memegang tengkuk Lavender, menundukkan wajahnya hingga hidung Sung jae menempel pada pipi Lavender.

“Bukankah aku sudah memperingatkan jangan mengujiku”

Lavender tak menanggapi namun malah mendogak seperti menantang. Sung jae merasa jantungnya berdebar karena jarak mereka tinggal 5cm.

“Dan aku juga sudah bilang bukan bahwa kau tidak akan berani, kau pengecut” ucap Lavender penuh penekanan.

Entah setan apa yang merasuki tubuh Sung jae hingga dia menyentuhkan bibirnya Pada bibir Lavender dan melumatnya perlahan. Lavender melepaskannya secar paksa dan menatap tajam. “Kau brengsek” ungkap Lavender dan menendang kaki Sung jae.

“Aouw…” jerit Sung jae kesakitan.

“Sekali lagi kau melakukannya akan ku pastikan kau menyesal”

“Aku tidak bisa menjaminnya, kurasa menciummu bisa ku jadikan hoby baruku. Hahahahaha^^*^”

“Dasar napeun namja. Minggir aku mau keluar untuk sarapan” terjang Lavender yang berjalan menabrak Sung jae hingga Sung jae terjungkal kebelakang.

 

Lavender mengunyah sandwich dan segelas teh melati disampingnya. Sung jae menggeser kursi didepannya untuk duduk.

“Kau tidak punya rumah ya?! Kenapa berkeliaran disini” ketus Lavender risih.

“Aku hanya disuruh menemani calon istriku saja” ungkap Sung jae remeh.

“Cih. Siapa yang sudi menikah dengan napeun namja sepertimu, mencium orang seenaknya”

“Apa kau bilang? Bukankah kau tadi menikmatinya. Kau tau banyak wanita yang menganti untuk menjadi istriku tapi sayang orangtuaku menjodohkan ku dengan gadis liar sepertimu”

“Apa susahnya menolak. Mudah bukan menolak perjodohan yang tidak masuk akal ini”

“Wae? kau takut jika akhirnya kau mencintaiku”

“cinta. Mian aku tidak tertarik mendapatkan cinta dari playboy buaya sepertimu”

“Terserah.”

Hening sejenak.

“Aku mau pulang sebentar, nanti malam aku kesini menemui kakakmu membahas bisnis kami”

“Hem”

Sung jae kemudian meninggalkan Lavender dalam sarapannya.

 

 

-Sore hari-

 

Lavender membolak-balik majalah yang menurutnya tidak ada yang menarik. Dia mendengus kesal karena semala seminggu dikorea namun tidak ada yang mengajaknya jalan-jalan, ummanya bilang sibuk perjalanan bisnis dan oppanya juga sibuk dikantor dari pagi sampai malam. Kini akhirnya Lavender memutuskan untuk keluar rumah.

“Nona muda mau kemana?” tanya seorang penjaga depan.

“Aku ingin jalan-jalan disekitar sini” jawab Lavender.

“Perlu kami antarkan nona”

“Tidak usah. Aku sendiri saja”

 

***

 

Kyoungmin pov

 

Umma sibuk menjalani perawatan dan cuci darah yang tertunda minggu lalu karena ingin menjemput putrinya yaitu adikku Lavender. Adikku adalah gadis manis namun juga dingin, kasar bahkan sadis dalam penuturan. Tadi malam Umma berkata bahwa Lavender mirip bahkan nyaris sama sifatnya dengan appa namun kasar dan keras kepalanya mirip umma.

Umma memintaku untuk merahasiakan penyakit yang dialaminya pada Lavender, umma bilang ini adalah hukum karma karena dulu berdosa pada appa juga pada Lavender yang ditinggalkannya.

Aku lihat Lavender adalah gadis yang memang keras kepala bahkan untuk memaafkan umma sepertinya dia sangat gengsi walau aku bisa merasakan bahwa dalam hati kecilnya dia sangat ingin memeluk umma, inikah ikatan batin antara saudara. Kurasa memang begitu.

Drrrrrrrrttt…

Panggilan masuk dari Sung jae membuyarkan lamunanku.

 

“Yeoboseyo.. Sung jae-ah”

“Ne. Hyung?”

“Wae?”

“Anu.. Lavender hilang hyung”

“Mwo?!!” reflek aku berteriak karena kaget.

“Ne. Lavender pergi, kata penjaga depan tadi dia ingin jalan-jalan tapi sampai sekarang belum kembali.”

“Aish! Bagaimana bisa mereka membiarkan Lavender keluar rumah. Dia itu baru pertama kali kesini jadi bagaimana mungkin dia tau jalan”

“Tadi aku pulang sebentar untuk mengambil sesuatu. Harusnya tadi aku tidak meninggalkannya. Mianhe hyung?!”

“Gwaenchana Sung jae. Kita tunggu saja sampai malam jika dia tidak kembali kita lapor polisi”

“Ne hyung. Aku juga mau mencarinya disekitar sini”

“Ne. Gomawo Sung jae nanti hubungi aku jika sudah ketemu, setelah rapat aku akan langsung mencarinya”

Tut.. tut… tut…

Sambungan telpon terputus. Aku mendesah pelan.

Aku meneruskan pekerjaanku agar cepat selesai dan mencari Lavender.

***

 

Sung jae pov

 

Aku kembali lagi kerumah Lavender setelah mengambil boneka tedy bear yang sengaja ku belikan untuknya kemarin saat pergi melihat festival denagn teman lamaku. Namun ketika aku sampai Lavender menghilang, aku cari dikamarnya, di kolam, ditaman belakang juga tidak ada. Hanya pelayan dirumah yang terus meminta maaf padaku.

“Maaf tuan tadi nona bilang ingin jalan-jalan disekitar sini” ucap pelayan itu tertunduk.

“Dan kalian membiarkannya?”

“Tadi kami bermaksud menemaninya, tapi dia menolaknya tuan”

“Kalian tau nona muda baru pertama kali datang ke korea. Jika terjadi sesuatu apa kalian mau tanggung jawab”

“Maaf tuan”

“Ya sudah. Lanjutkan kerja kalian”

 

Aku segera mengeluarkan hp ku dari saku untuk menghubungi Kyoungmin.

“Yeoboseyo.. Sung jae-ah” suara Kyoungmin dari seberang.

“Ne. Hyung?” aku bingung mau berkata apa.

“Wae?” tanyanya.

“Anu.. Lavender hilang hyung”

“Mwo?!!” dia berteriak karena kaget dengan penuturanku.

“Ne. Lavender pergi, kata penjaga depan tadi dia ingin jalan-jalan tapi sampai sekarang belum kembali.”

“Aish! Bagaimana bisa mereka membiarkan Lavender keluar rumah. Dia itu baru pertama kali kesini jadi bagaimana mungkin dia tau jalan”

“Tadi aku pulang sebentar untuk mengambil sesuatu. Harusnya tadi aku tidak meninggalkannya. Mianhe hyung?!”

“Gwaenchana Sung jae. Kita tunggu saja sampai malam jika dia tidak kembali kita lapor polisi”

“Ne hyung. Aku juga mau mencarinya disekitar sini”

“Ne. Gomawo Sung jae nanti hubungi aku jika sudah ketemu, setelah rapat aku akan langsung mencarinya”

 

Setelah sambungan terputus aku segera memacu mobilku keliling jalan untuk mencarinya, hingga menjelang malam namun belu ku temukan sosoknya. Gadis itu sungguh membuatku geram, kenapa aku repot sekali kali ini dengan calon tunangan ceroboh seperti dia. Belum ada wanita yang membuatku uring-uringan begini seperti dia, dulu selalu aku yang menjdi wanita uring-uringan.

Mungkinkah kali ini aku benar-benar jatuh cinta pada wanita. God! Aku benarbenar gila kali ini gara-gara dirimu nona kim.

 

 

Lavender pov

 

Hari sudah gelap. Ini Sudah malam dan aku tidak mau ini dimana. Suasana dingin semakin menusuk kedalam tulangku yang sebentar lagi akan membeku seperti es, apalagi aku hanya memakai kaos dan celana selutut tanpa jaket pula. Aku meruntuk dalam hati membayangkan hal buruk apa yang akan terjadi padaku, aku bergidik ngeri.

Aku gengsi untuk menelpon pria kurang ajar itu, tapi jika seperti ini aku bisa mati beku.

Akhirnya aku mengeluarkan hp dari saku celanaku dan menghubungi numbernya yang sudah ada dikontak hp ku sejak beberapa hari yang lalu.

“Yeobose.. sung jae ah tolong aku”

“Kau ada dimana?”

“Aku tidak tau”

“ Aish! Ciri-ciri tempatmu berada seperti apa”

“Taman. Café dan sungai pokok ramai orang”

“Chamkan! Aku tau kau dimana. Kau diam disitu jangan kemana-mana”

“Ne. cepat aku sudah mau mati beku disini”

“Salah sendiri kabur”

Karena kesal aku memutuskan sambungan telpon, dan menunggunya sembari duduk menghadap kearah sungai yang ada didepanku. Suara air mengalir yang tenang dan menghanyutkan hatiku hingga terlarut.

Kepalaku pusing dan tubuhku mengigil disini. Aku menggosok-gosok kedua tanganku berharap bisa merasakan sedikit hangat. Aku memejamkan mataku sesaat merasakan kepalaku yang nyut-nyutan, namun tanganku sepertinya sudah mati rasa karena cuaca yang sangat dingin sekali.

Tak lama kemudian aku merasakan seseorang menyampirkan jaket ketubuhku. Sung jae datang dan memapahku masuk ke dalam mobil ferarinya, dan dia masuk duduk dikemudi.

“Mulai sekarang kau tidak akan pergi kemana-mana tanpa aku” ucapnya.

“Aku bukan tahanan mu jadi jangan seenaknya saja”

“Memang tadi tidak, tapi mulai sekarang iya. Dan ku pastikan kau akan jadi tahananku seumur hidup”

Astaga apa yang dia katakan barusan. Menjadikanku tahanannya seumur hidup. Aku malas menanggapinya karena udara dingin membuat tubuhku serasa beku, aku lelah dan juga lemas.

20 menit kemudian mobil Sung jae berhenti disebuah bangunan yang tinggi menjulang. Aku merasa ini bukan rumahku atau apa pengelihatanku yang eror.

“Ini bukan rumah..”

“Ini rumah sakit” potongnya, sepertinya dia tau apa yang aku fikirkan.

Dia keluar kemudian membuka pintu mobil disampingku. “Ayo”

Dia membantuku keluar dan memegangiku seolah aku bisa jatuh jika tidak dipegang.

“Aku tidak butuh dokter, yang aku butuhkan hanya istirahat”

Dia tak menjawab dan membawaku kesalah satu ruangan dokter, aku tidak bisa mendengarkan dengan baik karena fisikku yang lemas dan mengigil.

Dokter itu tiba-tiba saja meletakan punggung tangannya dikeningku dan berkata “Dia harus dirawat disini”

 

-Diruang rawat-

“Puas kau sekarang” ketusku saat sudah terbaring di salah satu kamar VIP.

“Belum. Sekali lagi kau pergi seperti tadi tanpa bilang padaku, aku akan membunuhmu”

“Aku itu bukan anak kecil Sung jae ah, jadi untuk apa memberitau mu”

“Aku ini calon suami mu nona Lavender, apa kau lupa?”

Aku diam malas menjawab ungkapan bodohnya itu.

“Apa kau tidak terima?”

“Tidak, kenapa kau semangat sekali dengan perjodohan gila ini, Apa kau menyukaiku?”

“Ne, aku menyukai mu Kim Lavender” ucapnya dengan enteng.

Aku melihatnya dengan tatapan tidak percaya. Dia pastimsudah gila karena mencintaiku yang baru dikenalnya seminggu yang lalu. Aish! Jantungku kenapa malah berdetak begini.

***

 

Sung jae pov

 

Aku memandanginya yang tertidur dengan dengkuran nafas yang teratur naik turun. Aku menggenggam tangannya sambil tersenyum mengingat ucapanku padanya beberapa waktu yang lalu. Aku menyukainya? Kata yang meluncir begitu saja dari mulut seorang palayboy sepertiku. Astaga! Sepertinya aku memang sudah gila.

Aku sedikit tersentak kaget saat merasakan tangan Lavender bergerak mencengkram kuat ketika petir berbunyi. Aku mendapati nafasnya sangat memburu dan ada bulir-bulir keringat yang muncul dikeningnya.

“Andwae.. Neo andwae!!!!!!” teriaknya.

“Lavender ireona…” ucapku yang berpindah tempat duduk disampingnya.

Aku bergerak ingin memanggil dokter dan Kyoungmin yang  sedang membeli makanan, namun matanya terbuka dengan nafas yang masih memburu dan gemetaran.

“Kau tidak apa-apa”

Dia hanya diam namun mencoba bangun dan melihat sekitarnya. Dengan satu gerakan cepat aku segera memeluknya, membenamkan wajahnya didadaku sambil mengelus punggungnya. Aku bisa merasakan kedua tangannya melingkari pinggangku.

Kemejaku basah? Dia menangis? Aku mengeratkan pelukanku tanpa mengucapkan apa-apa.

Mungkin terdengar egois tapi aku ingin Lavender hanya bersandar padaku,  hanya akan mencariku saat mimpi buruk, menangis didepanku saat dia terluka, bukan didepan namja lain.

“A… aku takut. Perasaanku tidak enak” ucapnya terbata-bata.

“Itu hanya mimpi, kau sedang sakit jadi wajar jika bermimpi buruk”

Dia menggeleng “Aniya. Ini pertama kalinya dia muncul dalam mimpiku.. Dan aku melihat ada makamnya. Itu sangat mengerikan”

“Makam? Makan siapa Lavender?”

“Umma…”

Aku menghembuskan nafasku berat, aku tau bagaimana kehilangan. Aku melepaskan pelukanku dan menghapus air mata yang mengalir di pipinya. “Uljima itu hanya mimpi”

Dia tidak menjawabnya dan hanya memandangku saja. Aku membantunya berbaring dan menaikan selimutnya. “Tidurlah, kau butuh istirahat”

 

Lavender pov

Aku duduk di kursi sambil menunggu Sung jae menyelesaikan administrasi yang ditugaskan oppaku karena dia sibuk dengan kantornya yang sudah menjadi pacar setianya.

Dan entah kenapa perasaanku tidak dengan dengan Nayra-ssi. Apa terjadi sesuatu padanya? Aku menggelengkan kepalaku berusaha tidak peduli. Dia saja tidak pernah ada ketika aku sakit. Lantas kenapa aku harus mati-matian menghawatirkannya.

“Kau yakin sudah sembuh?” tanya Sung jae yang sudah selesai dengan administrasinya.

Aku menoleh dan mengiyakannya.

“Apa kau sekampungan itu! Tidak pernah sakit demam. Sudah ku bilang baik-baik saja kenapa kau terus bertanya”

“Mwo! Bukankah kau menawarkan perdamaian semalam padaku, kenapa sekarang kau mengajakku berantem lagi”

“Tidak jadi. Setelah ku fikir-fikir kau menyebalkan. Sangat menyebalkan” ujarku ketus.

Aku berkata lalu berjalan mendahuluinya. Dasar menyebalkan! Apa pria ini beneran jadi suamiku. Jangan harap aku mau menerima perjodohan aneh ini.

Langkahku terhenti  saat tanpa sengaja melewati ruang ICU transparan yang membuatku jelas bisa melihat orang yang ada didalamnya. Tiba-tiba aku merasa jantungku berhenti seperti tidak ada oksigen yang mengisinya. Wanita itu? Kenapa dia bisa ada disini? Bukankah oppa bilang dia sedang dalam perjalanan bisnis keluar daerah.

Tubuhnya tergoleh lemah tak berdaya diatas ranjang dengan beberapa selang yang menempel pada tubuhnya.

“Kenapa berhenti” tanya Sung jae berbicara didekatku.

Aku menunjuk tanganku kearah ruang ICU.

“Itu. Kenapa dia bisa berada didalam sana?”

Sung jae mengikuti arah gerakan tanganku dan membelalakn matanya.

“Nay ra adjuma!!”

“Kau ikut membohongiku, kau dan oppa bilang dia sedang perjalanan bisnis. Lalu kenapa dia bisa ada disini”

“Aku tidak tau”

“BOHONG”

“Dia tidak bohong Lavender-ah” ucap seseorang yang tak lain adalah Kyoungmin oppa.

Aku mengigit bibirku menahan air mataku yang akan keluar. Tidak mungkin mimpiku itu adalah ini. Makam Nay ra umma.. Andwae… kau datang dikehidupanku hanya untuk berpamitan padaku.

Kemudian seorang suster dengan pakaian warna biru datang menghampiri. “Tolong jangan bertengkar disini”

“Ne”

Suster itu pergi. Hening sejenak sebelum akhirnya oppa berkata.

“Umma sudah menjadi pasien disini sejak setahun yang lalu. Dia sakit gagal ginjal dan selalu rutin mencuci darahnya. Bulan ini seharusnya dia cuci darah seminggu yang lalu, namun dia mengundurnya karena ingin ke prancis untuk menjemputmu. Hal ini sebenarnya fatal apalagi keterlambatan mencuci darah akan berpengaruh pada umurnya” jelas Kyoungmin oppa.

“Umur?”

“Ne saeng. Proses cuci darah itu akan membantu kerja ginjalnya yang sudah rusak. Jadi bisa dibayangkan jika umma terlambat mencuci darahnya.”

“Aku ingin mendonorkan ginjalku”

“Mwo?! Umma akan menolaknya, dia juga menolak ginjalku”

“Jebal”

 

 

 

 

Autor pov

 

Lavender tidak berkata apa-apa. Dia me jalani semua proses pendonoran itu dalam diamnya. Dia sendiri njuga sulit memahami kenapa dia mau melakukan hal ini. Mendonorkan ginjal pada wanita yang masih asing baginya.

Sung jae sangat penasaran. Ia ingin mengetahui hal yang ada pada diri Lavender karena dia akan menjadi suaminya. Tadinya Sung jae ingin melarang Lavender untuk mendonorkan ginjalnya seperti Kyoungmin yang juga melarangnya, tapi mengingat bagaimana keras kepalanya gadis itu akhirnya dia mengurungkan niatnya.

 

 

2 hari kemudian.

 

Sung jae memperhatikan sepasang suami istri yang sedang berbicara pada Lavender. Lavender memasuki ruang operasi dan Sung jae melihat seorang kakek mengelus rambutnya sekilas dan membisikan sesuatu, mungkin semacam ucapan yang membuat Lavender tenang.

“So, u must be Sung jae” sapa nenek Lavender mendekat kearah Sung jae.

“Yes, im Lee sung jae” ucap sung jae sambil menunjukan senyum manisnya.

“kami ingin bicara?”

Sung jae hanya menganggukan kepalanya. Kemudian mereka bertiga memutuskan untuk duduk dibangku depan ruang operasi dengan posisi Sung jae ditengah.

“Jadi kau pria yang akan dijodohkan dengannya?” tanya Kakek Lavender dengan bahasa korea.

“Ne” jawab Sung jae sedikit gugup.

“Mungkin terdengar aneh apa yang ingin aku tanyakan tapi, apakah kamu mencintainya?” kali ini giliran Nenenk Lavender yang bertanya.

“Eh?”

“Jawab saja”

“Ne”

“Kami tau terlihat dari matamu bahwa kau menyukai Sunshina kami”  tutur kakek Lavender sambil tersenyum.

“Jinjja? Apa benar-benar kelihatan tapi kenapa dia tidak mau mempercayaiku” Sung jae membelalakan matanya.

“Jadi, kau menerima perjodohan ini”

“Tentu saja”

“Aku yakin waktu seminggu cukup untukmu mengenal sedikit sifatnya mengingat dia tidak suka berpura-pura. Aku hanya ingin mengingatkanmu dia itu berbeda. Dia itu gadis yang suka seenaknya sendiri. Dia hanya akan menjalani sesuatu apa yang dianggapnya benar menurut logikanya, dia suka berteriak dan kekanak-kanakan juga takut dengan petir” tutur Neneknya lagi.

Aku terkekeh sebentar. “Karena itulah aku mencintainya. Dia berbeda dengan gadis yang ku kenal sebelumnya. Dia bersinar diwaktunya sendiri”

“Arasho”

 

 

Lavender pov

 

Aku mengerjapkan mataku untuk beradaptasi dengan pemandangan disekitarku. Aku melihat sekelilingku, aku mendapati kakek dan nenekku tertidur disofa. Omo! Mereka menjagaku semalaman disini. Dan Sung jae! Dia tertidur dengan menggenggam tanganku dengan erat. Apa badannya tidak sakit tidur dengan posisi aneh seperti ini.

Aku merasa nyeri dibagian perutku sepertinya akibat operasi kemarin.

“Kau sudah bangun” tanya Sung jae mendongakan kepalanya padaku.

“Ne..” aku meringis karena perutku benar-benar sakit.

“Kau diam saja dan jangan bicara apa-apa dulu. Bernafaspun sakit kan perutmu? Kata dokter kau tidak boleh menggunakan otot perutmu.”

“Ne… bagaimana dengan…”

Kata-kataku terhenti karena Sung jae langsung membekap mulutku agar tidak bicara.

“Sudah ku bilang jangan bicara dulu”

Aish! Namja itu menyebalkan sekali. Aku kan hanya penasaran dengan wanita itu.

“Ibumu baik-baik saja. Dan sekali lagi kau bicara aku akan memplester mulutmu”

Aku menoleh dan mendapati kakek dan nenekku tertawa cekikikan disofa, apa ini lucu! Jangan-jangan namja ini sudah mempengaruhi mereka berdua.

“Kami pulang dulu untuk mandi. Tidak apa-apakan kalian ku tinggal berdua” ucap nenek. Ketika aku akan menjwab namja ini mendahuluiku.

“Ani. Gwaencha”

 

 

Autor pov

 

Lavender jalan-jalan setelah memohon pada dokter dengan alasan baik-baik saja. Dia sudah hampir mati kebosanan dengan bau rumah sakit.

Lavender baru saja ingin menelpon kakeknya untuk memesankan tiket kembali ke perancis kaetik Sung ja e datang  membawa bungkusan makanan untuknya.

“Kimbab lagi, aku bosan?! Aku mau pasta”

“Nanti. Setelah kau keluar dari sini”

“Besok aku pulang” ketus Lavender sambil memakan kimbabnya.

Sung jae memperhatikan gadis yang ada didepannya ini dengan wajah kagum. Dia menginginkan gadis ini.

“Aku mencintaimu Kim Lavender”

“Jangan. Kau..” Lavender menghembuskan nafasnya pelan lalu berkata “Kau tidak boleh mencintaiku”

“Wae?” tanya Sung jae.

“Aku akan segera kembali ke perancis. Mungkin setelah aku keluar dari sini” ujar Lavender namun terdengar ragu-ragu.

“Kau bercanda”

“Tidak. Aku memang belum bilang tapi..”

“Cukup. Kita bicara nanti dan aku harap kau tidak serius” ucap Sung jae dengan nada memelas dan kemudian pergi meninggalkan Lavender sendirian.

Lavender hanya diam dan menatap kepargian Sung jae yang menjauh. Hatinya sakit dan nafasnya terasa sesak. Matanya memanas tak lama kemudian air mata jatuh membasahi pipinya. Dia berusaha mengendalikan dirinya yang terguncang akibat air matanya yang terus saja mengalir.

“Love u him” Lavender mendongak dan mendapati kakeknya berjalan menghampirinya serta memeluknya dengan sayang.

“Aku tidak bisa membiarkan diriku terikat dengan negara ini. Aku ingin kembali menjadi Sunshina bukan Lavender”

“Tapi kau menyiksa dirimu sayang juga dengan manja itu. Mungkin kau belum sadar sekarang namun perlahan kau akan terbiasa disini. Mulai dari makanan, waktu, bahasa, ibumu, kakak mu, pria itu juga kehidupanmu”

“Aku belum memaafkan wanita itu”

“Kau tidak akan memberikan ginjalmu jika belum memaafkannya”

“Aku…”

Aku yakin kau sudah tau kalau ibumu menyayangimu. Dia mungkin memang membuat kesalahan dimasa lalu tapi dia tetap ibumu. Dia selalu memantaumu dan ikut cemas saat kau terpuruk, kau harus menghilangkan egomu untuk mengakuinya”

Lavender bingung mau berkata apa setelah mendengar ucapan kakeknya.

“Dan pria itu dia baik dan juga mencintaimu dengan kelebihan juga kekurangan yang kau miliki sayang. Kau tapi menyakitinya padahal kau sendiri menyukainya bukan?”

“Kakek”

“Fikirkan baik-baik sayang”

 

Malamnya Lavender tidak bisa tidur dan gelisah tak menentu. Sekarang dia harus memilih, dia melihat Sung jae tertidur disofa. Sung jae mendiaminya sejak pertengkaran pagi tadi, rasanya dia ingin meneriaki Sung jae tapi egonya terlalu besar.

Lavender bangun dan berjalan keluar kamar, dia membuka pintu kamar disebelahnya berharap pasien tersebut tidur namun nyatanya ibunya masih bangun bahkan terduduk bersama Kyoungmin dan menangkap basah dirinya.

“kau boleh masuk Lavender-ah” ucap Nay ra yang melihat putrinya dipintu.

“Aku hanya ingin melihat keadaanmu” ungkap Lavender yang masih berdiri dipintu. Sifat gengsi dan canggung antara ibu dan anak membuat Nay ra miris.

Kyoungjae memberikan privasi untuk ibu dan adiknya jadi dia keluar ruangan.

“Aku dengar kau akan kembali ke perancis”

“Ne”

Nay ra menarik tangan putrinya agar duduk mendekat padanya. “Aku akan berikan apapun asal kau tetap disini”

Lavender menatap ibunya yang sedih dan penuh penyesalan.

“Aku akan memanggilmu Sunshina kalau kau memang tidak suka dengan nama Lavender, aku akan meluangkan waktu hanya untuk bersamamu setiap hari, aku akan membatalkan perjodohan itu kalau kau memang tidak mau, aku akan melakukannya..” Nay ra menarik nafasnya pelan “Apapun akan ku lakukan asal kau tetap disini dan menjadi anakku. Aku mohon Lavender.. Mianhe aku meninggalkanmu, mianhe untuk setiap pertanyaan tentang orantuamu, mianhe untuk setiap mimpi buruk yang kau lewati, mianhe untuk segalanya”

Lavender masih menatap ibunya, perlahan tapi pasti Lavender melingkarkan tangannya dipinggang ibunya dan menyandakan kepalanya. Terasa nyaman batin Lavender.

“Aku sudah memaafkanmu umma. Aku akan tinggal disini bersamamu dan memanggilmu umma, Ku fikir-fikir nama Lavender tidak buruk karena sama dengan nama bunga yang kusuka”

Nay ra mengelus rambut putrinya. “Gomawo sayang sudah memaafkan umma”

“Aku akan menjadi gadis yang bodoh jika tidak melakukan ini”

Nay ra tersenyumm mendengar penuturan putrinya.

“Dan masalah perjodohan itu umma bisa membatalkannya”

“Tidak usah umma. Aku dengan bodohnya sudah jath cinta padanya”

Sung jae dan Kyoungmin hanya tersenyum medengar dari depan pintu yang sedikit terbuka, dan dengan jelas mendengarnya.

 

Keesokan harinya.

Lavender tersenyum seperti anak kecil karena hatinya lega bisa memaafkan ibunya dan semalam menghabiskan waktu bersama ibunya. Kini dia bingung mencari cara agar Sung jae mau bicara lagi dengannya, ditambah namja itu menghilang sejak pagi sampai siang menjelang.

Lavender duduk ditaman dan melamun ketika ada seseorang yang duduk disebelahnya, dan menyampirkan jaketnya.

“Kau tidak masuk disini dingin dan kau tidak memakai jaket”

“Eh? Kau sudah tidak marah lagi padaku” tanya Lavender yang menoleh pada Sung jae.

“Marah. Aniya. Aku tidak marah” jawab Sung jae tersenyum.

“Jinjja? Anak TK pun bisa menilai kalau kau kemarin itu marah” ujar Lavender dengan nada sedikit mengejek.

“Hahahahaha^#^ kau merindukan ku ya”

“Aniya, hanya tidak enak saja kalau kau marah”

“Makanlah. Ini aku bawakan makan siang untukmu”

 

Lavender senang sekali melihat Sung jae yang tidak marah lagi, bahkan keduanya sudah bisa bercanda dan saling ejek-ejekan lagi. Lavender juga menghabiskan makan siangnya dengan di suapi Sung jae.

“Sung jae jet’s aime*bener gini gak ya tulisannya” jail Lavender yang kemudian beranjak dari bangku taman.

“Katakan dalam bahasa korea” ucap Sung jae mengekor dibelakang Lavender.

Lavender menoleh kearah Sung jae dan mengangkat alisnya ”Aish! Lee sung jae sarangheyo^*^”

“Hehe^*^ nado saranghe Kim Lavender”

Sung jae merengkuh tubuh Lavender dan berjalan beriringan.

 

End.

Gaje banget ini ff, udah gitu panjang banget lagi. Semoga yang baca nggak pada bosen^*^

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s