[FF/FTI] THE COOL VS THE PRETTY

THE COOL VS THE PRETTY

Oneshot

 

.Sesungguhnya saya masih galau hanya Oneshot atau bakal Part #digeplak

.cuma oneshot kok -_-v

 

.SeungJin Vers.[Maafkan saya jika tak setuju sama kapel inih orz #sujudtakut]

.Kemungkinan bakal ada JongKi Vers.nya =_=’ semoga…

 

.Isinya sungguh tak meyakinkan

.Bahkan saya sendiri tak mengerti apa inti epep ini

OTL

 

 

XxxxX

 

 

“Hyung, aku menyukaimu.”

 

“HAH?!”

 

“Jadilah kekasihku!”

 

“HAAAAH??!”

 

“Kuanggap itu jawaban ‘iya’!”

 

“HAAAAAAAHHH?!”

 

 

XxxxX

 

 

Jaejin POV

 

 

Si… Sial! Apa-apaan bocah ini! Bisa-bisanya…!!

 

AARGH!

 

Aku yakin otaknya sudah gila!

Sudah edan!

Sudah tidak waras!

Satu lagi, kerusakan parah! Error!!!

Apaan itu?? Melihatnya saja baru kali ini. Bagaimana bisa dia menyatakan cinta secara tiba-tiba seperti itu?!

Aku sangat yakin…

 

 

Dia GILA!

 

 

XxxxX

 

“Hyung~,”

 

Suara itu…

Aku yakin sekali itu suara milik lelaki bodoh nan gila kemarin. Ugh! Apa dia sungguh cari mati?! Ish!

 

“Kenapa kau kemari? Pergi? Atau mati?” Tanyaku dingin tanpa menoleh kearahnya. Tetap fokus pada buku yang ada di tanganku dan tak mempedulikannya.

 

 

Chu~

 

 

“. . . . .”

 

 

BUAAKKKK!

 

 

“KAU SUNGGUH CARI MATI HAH?!” Ucapku lantang dan menunjuk lelaki gila yang jatuh tersungkur di tanah itu dengan buku tebalku. Kurasa pukulanku cukup keras untuk ukuran lelaki bengal, gila, dan kurang ajar seperti dia! Aku tak peduli dengan tatapan semua yang ada disini! Apa peduli mereka, huh?! Ini taman! Ini tempat umum! Dan aku bebas berteriak!

 

Huh!

 

Tunggu!

 

Pipiku…?

Pipi mulusku yang telah kurawat selama ini…?

Pipiku yang masih perjaka ini…?

Pipiku yang hanya kuberikan pada orang yang aku suka ini…?

Pipiku…

 

 

TELAH TERNODA!!

 

 

Dan itu karena DIA!

Dia yang GILA!!!

 

Ugh!

Sial!

 

“Kau menyakitiku, Hyung. Tidak bisakah kau membalasku dengan bibir mungilmu itu? Meski sakit, aku tak akan mengeluh, janji!” Ucapnya enteng sambil memasang wajah polos tanpa dosanya. 

 

Memuakkan! 

 

Menjijikkan! 

 

Menyebalkan!

 

“JANGAN HARAP!” Jawabku tegas memberikan deathglare padanya yang telah tegap berdiri sambil memegangi pipinya yang mungkin sudah bengkak. Rasakan itu! Berani sekali mengganggu kehidupan indah milik Lee Jaejin! Menodai hari-hari indahnya!

 

Dengan cepat aku menyambar tasku dan segera meninggalkan tempat nista yang ada lelaki gilanya itu!

 

Lalu dia? Memangnya siapa dia? Aku tak peduli dan tak mau peduli dengannya! 

 

Huh!

 

“Hyung, tunggu aku~”

 

“Diam disitu! Jangan ikuti aku!”

 

“Kau kan kekasihku. Jadi aku akan menjagamu.”

 

“Aku bukan kekasihmu!”

 

“Kalau begitu, pacarku!”

 

“Sama saja! BUKAN!”

 

“Pac-“

 

 

BUAAKKK!!

 

 

“Ugh!”

 

“Aku bukan Kekasihmu! Bukan pula pacarmu! Jangan ikuti aku! Aku tak mengenalmu dan tak ingin mengenalmu maupun dikenal olehmu! Jadi jangan temui aku lagi!” Marahku padanya yang masih kesakitan pada bagian perut yang baru saja tercium ganas kepalan tanganku. Memangnya aku peduli? Aku kasihan? Mati saja kelaut sana! Hiu, paus, ikan pari, ubur-ubur dan semacamnya itu sangat cocok jika hidup dengan manusia purba sepertimu!

 

Aku keterlaluan?

Aku tidak peduli?!!

 

Huh!

 

“Ya ampun aku lupa, namaku Seunghyun. Song Seunghyun mahasiswa tingkat satu Fakultas Seni. Senang bertemu, mengenal, dan menjadi kekasihmu, Jaejin hyung.”

 

“SUDAH KUBILANG AKU BUKAN KEKASIHMU! MAU MERASAKAN SEPATUKU TERJEJAL DALAM MULUTMU HAH?!!”

 

Kesal. Aku sungguh kesal! Sangat-sangat kesal!

 

Aaaaaargh! 

 

Dia sungguh membuat darahku mendidih. Membuatku terpaksa memproduksi kepulan asap kemarahan yang membuat image baik seorang Lee Jaejin yang manis telah ternoda secara telak!Dia…Membuatku ingin melemparinya beribu-ribu batu besar dan kemudian menguburnya hidup-hidup dibawah bongkahan es kutub selatan!

 

GRRAAAAAA!

 

“. . . . . .”

 

 

XxxxX

 

 

Normal POV

 

 

Hening. Meski ruang ini begitu ramai pengunjung, namun hampir tak terdengar suara yang keluar dari bibir milik para empunya. Dan disinilah ia berada. Perpustakaan.

 

Seorang lelaki berwajah manis serta cantik dalam satu paras itu sedang mengacak frustasi helai-helai rambut kecokelatannya. Matanya tak bisa fokus pada buku yang sedang ia buka dan ia baca. Pikirannya telah melayang-layang entah ke negeri fantasi mana ia terbawa saat ini.

 

Hyung, aku menyukaimu.

 

‘Sial! Kenapa sejak tadi aku terus-terusan kepikiran anak gila itu?! Argh!’ Batin Jaejin -lelaki itu. Mencoba kembali untuk fokus pada bacaannya. Tapi tetap tak bisa. Semakin frustasi, itulah yang kuyakini.

 

“Hyung~, ternyata kau disini. Aku mencarimu kemana-mana, kau tahu?! Aku khawatir. Tapi aku senang sekarang setelah melihatmu tetap sehat seperti ini. Aku mencintaimu~” sudah bisa ditebak ini siapa, ya, Song Seunghyun kembali pada sang hyung tercintanya. Kembali dengan tingkah gilanya mengganggu sang hyung yang tengah frustasi akibat dirinya yang datang dalam kehidupan indahnya. Ya, kehidupan indah si cantik telah telak ternoda karenanya.

 

“Dan aku jadi merasa tidak sehat setelah kedatanganmu! Tidak sehat karena mendengar suara burukkmu!” Dingin. Tetap saja ucapan dingin yang keluar dari bibir mungilnya yang menggoda -keyakinan Seunghyun. Tak menoleh. Jaejin tak ingin melihat wajah memuakkan yang ia yakini hanya milik si gila, Song Seunghyun!

 

“Ah begitukah? Jadi kau sedang tidak sehat? Kalau begitu ayo ke ruang kesehatan sekarang!” 

 

 

WHUAAA

 

 

“Apa yang kau lakukan! Cepat turunkan aku, GILA! BODOH! PURBA! Aaaaargh!”

 

“Diamlah hyung sayang~”

 

Apa yang ada dalam pikiran kalian saat ini? Ah tentu sudah terpikir, bukan?

 

Anak bengal itu sedang memanggul dengan paksa tubuh mungil milik sang hyung tercinta. Sungguh tak dipedulikannya lagi tiap tatapan pemburu kelaparan yang ingin menghabisi mereka saat itu juga. Bahkan teriakan kesal tepat didepan telinganya itu pun tak menghentikan langkahnya maupun menurunkan beban panggulannya itu.

 

“Kau bisa jatuh, hyung. Tenanglah sedikit. Habis ini kau bisa istirahat,”

 

“MANUSIA GILA! Turunkan aku! Aaaaargh! Sungguh akan kubunuh kau habis ini!”

 

TAP

 

“Sudah sampai. Cepat berbaringlah, hyung sayang~” 

 

“Hen-“

 

 

WUAAAA!!

 

 

Dengan sepasang tangan kekarnya, Seunghyun langsung mendorong Jaejin untuk berbaring. Oh sungguh, Jaejin ingin sekali menghabisi anak ini! Ugh!

 

“Grrrr! Aku mau pergi! Jangan halangi aku!” Jaejin berdiri dan hendak meninggalkan ruangan itu. Dan Seunghyun dengan sigap menarik lengan Jaejin. Membuat si cantik itu oleng dan tepat terjatuh di pangkuan Seunghyun.

 

“Jangan pergi, hyung. Kau sedang tidak sehat, bukan? Disinilah tempat dimana kau harus istirahat sebenarnya. Jangan memaksakan diri.” Ucap Seunghyun dengan evil smile khas miliknya. Membuat Jaejin ingin muntah saat itu juga, pasti!

 

“Jangan tersenyum seperti itu didepanku. Karena itu sungguh memuakkan!” Ketus Jaejin. Memberikan tatapan tajam setajam golok pencacah daging di pasar tradisional.

 

Tak bergeming.

 

“Hyung~, apa kau tahu jika bibirmu itu sungguh kelihatan begitu err~”

 

 

PLAK!

 

 

“Berhenti mengoceh dengan kalimat menjijikkanmu! Dan lepaskan aku jika kau tak mau mati berdiri saat ini juga!” Sekali lagi. Bibir tipis itu mengucap kata pedas.

 

Manik indah itu kini telah berapi-api. Kesepuluh kuku jari itu pun seperti memanjang seketika. Merasa gatal hendak mencakar paras tampan dengan senyum lebar khas yang ada dihadapannya saat ini.

 

“Kenapa kau itu dingin sekali, hyung? Apa salahnya menjaga kekasihku?”

 

“Jangan teruskan lagi!”

 

“Aku hanya ingin kau cepat sehat kembali. Aku ingin kita cepat main sam-“

 

 

BUUGGGH!

 

 

Tap

 

“Sudah kubilang jangan teruskan! Tuli, hah? Jangan ikuti aku lagi! Pergi jauh-jauh dariku! Atau bukan lagi kepalan dan sikutku yang bertindak, tapi-“

 

“Bibirmu, hyung?” Tidak kapok. Ugh. Dengan santainya dia memotong ucapan kesal Jaejin. Mungkin sebutan 16 dimensi memang sangat pantas disandang lelaki ini. Berapa kali mendapat pukulan Jaejin? Berapa kali ia mengaduh? Berapa kali ia tak kapok? Kurasa Jaejin sudah tak punya sisa kesabaran untuk menjadikan dirinya sebagai orang baik lagi. Saat ini ia merasa sungguh frustasi. Frustasi tingkat dewa! Oke, abaikan!

 

 

‎”Saat ini aku ingin sekali menjadi lelaki gila agar aku bisa mencincangmu tanpa ragu dan kasian. Agar aku tak peduli lagi dengan diriku yang telah menjadi buruk dimata orang lain. Asal aku bisa membunuhmu dengan tenang saat ini! Argh!” Jelas panjang lebar Jaejin yang kemudian berbalik dan berjalan kesal menuju pintu. 

 

“Hyung~ awas!”

 

 

DUAKK!

 

 

“Aww!”

 

“Sudah kubilang ‘awas’, bukan? Kenapa tidak mendengarku?!” Seunghyun mempoutkan bibirnya dan tetap tak bergeming dari kursinya.

 

Cklek

 

“Eum? Jin-ah? Kau kenapa?” Seorang lelaki tampan tiba-tiba menyembul dari luar pintu. Jaejin dan Seunghyun menoleh kesumber suara. Dan detik kemudian sudah dapat dipastikan bahwa wajah merah akibat kesal Jaejin itu telah berubah. Memerah karena malu?

 

“AAAAAAAA WONBIN HYUNG! KENAPA KAU DISINI??” Teriak Jaejin yang terkejut akibat kedatangan Wonbin yang tiba-tiba. Wonbin hanya terkekeh pelan melihat keterkejutan Jaejin yang menurutnya lucu. Lucu? Sedangkan satu lelaki yang tengah duduk tenang di kursi itu hanya memandang adegan yang tak jauh didepannya itu dengan tatapan sinis. Dan… Cemburu, mungkin?

 

“Hei Jaejin hyung, tak perlu berteriak sekeras itu. Telingaku bisa tuli sungguhan. Lagian orang dihadapanmu itu juga bisa mendengarmu tanpa kau harus berteriak seperti itu. Aku yakin telinganya masih normal.” Dingin, kali ini Jaejin menangkap nada ketus dalam kalimat itu. Oh, siapa peduli? Dalam otak Jaejin saat ini hanya ada Wonbin hyungnya. Bukan orang lain, termasuk Seunghyun si manusia purba nan gila -batin Jaejin.

 

“Jin-ah, keningmu kenapa? Coba aku li-“

 

“Ah! Hyu-“

 

“Maaf, WONBIN SUNBAE, Jaejin hyung sedang ada urusan denganku. Jadi kami akan pergi segera. Tolong minggir sebentar!” Seunghyun tiba-tiba membekap mulut Jaejin dan mendekap tubuh itu dari belakang. Membuat lelaki cantik itu membelalakkan mata indahnya tak percaya. Mencoba melepaskan diri dari sepasang lengan kekar itu meski berakhir sia-sia.

“Ah satu lagi, namaku Song Seunghyun, mahasiswa tingkat satu fakultas seni. Dan aku adalah kekasih Jaejin hyung. Salam kenal Wonbin sunbae, senang bertemu denganmu.” Ucap Seunghyun dengan senyuman lebar penuh kemenangannya.

 

Detik itu juga Seunghyun dan Jaejin -masih dalam dekapannya- meninggalkan Wonbin yang masih terpaku di tempatnya. Memandang punggung hoobaenya yang semakin menjauh.

 

“Ck, kekasih? Song Seunghyun? Hm,” gumam Wonbin. Terkikik geli atas apa yang diingatnya dari perkataan hoobae yang baru dikenalnya itu.

 

 

XxxxX

 

 

JDUUGG!

 

 

”AAAKKH!” Pekik Seunghyun yang merasa kesakitan. Dekapannya pada Jaejin pun terlepas sejalan dengan pekikkan kesakitannya. Tangan itu menggapai telapak kakinya yang sepertinya telah terinjak dengan sangat keras.

 

“Aku harap ini terakhir kalinya kau membuat ulah, atau kau benar-benar aku bunuh tanpa ampun!!!” Ancam Jaejin yang sudah habis kesabarannya. Segera berlari menjauhi sang pembuat ulah terhadapnya.

 

“Uuuh, jika kau membunuhku dengan bibir itu, dengan senang hati aku akan menyerahkan nyawaku padamu hyung~. Kikikik,” ucapnya pelan. Terkikik atas kegemasannya pada sang hyung sekaligus sunbaenya itu.

 

 

XxxxX

 

 

Hari yang cerah. Jaejin meyakini itu. Sekian jam telah ia lewati tanpa ada gangguan dari orang gila seperti kemarin lagi. Dia rasa orang gila -menurutnya- itu telah berhasil terkena ancamannya.

 

“Huah, tak kusangka anak orang utan yang gila itu termakan ancamanku juga. Bebasnya hari ini~” 

 

“Hyung,” panggil seseorang pada Jaejin yang sedang menikmati hari indahnya kini.

 

“Eum? Minan?” Ya, itu suara Minhwan yang sering dipanggil Minan. Adik dari Choi Jonghun, kekasih hyungnya, Lee Hongki.

 

“Jonghun hyung menitipkan surat padaku. Biasa, buat Hongki hyung,” ujar Minhwan sambil memberikan sebuah surat beramplop putih bersih dengan gambar hati di tengahnya kepada Jaejin.

 

“Uh, orang-orang tua itu berlebihan sekali. Bukankah mereka punya ponsel?! Sok romantis sekali pakai acara berkirim surat. Aish.” Ketus Jaejin heran akan kelakuan para hyungnya yang suka sekali mengumbar kemesraan didepan adik-adiknya.

 

Ugh!

 

“Jangan bilang kau sedang iri, hyung. Kikikik.” Cibir Minhwan dengan sedikit terkikik geli.

 

“Apa? Itu tidak akan!” Bantah Jaejin cepat.

 

“Haha. Lalu, bagaimana hubunganmu dengan Seunghyun? Bukankah kau sudah jadi kekasihnya? Kekeke,”

 

“HAAAHH?! Bagaimana kau bisa mengenalnya? Ish, aku berharap tak pernah bertemu anak gila itu lagi!” Jujur Jaejin. Minhwan tertawa dengan tingkah hyungnya yang sepertinya berubah bad mood dan menjadi kesal setelah ia mengungkit nama Seunghyun dihadapannya.

 

“Tapi dia sungguh menyukaimu, hyung. Dia semangat sekali waktu menceritakan tentangmu. Kikikik,” kata Minhwan tertawa lebar. Menunjukan deretan gigi putihnya didepan Jaejin. Membuat hyung cantiknya itu menoleh malas.

 

“Dia temanmu? Bilang padanya, aku akan membunuhnya jika dia berani muncul dihadapanku lagi! Aku mau pergi dul–“

 

“AAAAA~ Jaejin hyung~, aku merindukanmu~”

 

“Bencana telah tiba…” Lirih Jaejin. Matanya menatap lurus pada lelaki jangkung yang kini sedang berjalan menghampirinya dan Minhwan.

 

“Kikikik, Seunghyun itu sungguh-sungguh hyung. Berilah kesemp-“

 

 

CRING!

 

 

Tatapan mata Jaejin kini sungguh setajam samurai yang siap menebas lawannya. Membuat Minhwan bergidik ngeri atas apa yang dilihatnya sekarang. Brrr!

 

“Aku tak peduli dan tak mau peduli akan hal itu. Dia sungguh bencana untukku, dan itulah yang kuyakini!” Minhwan memilih mengangguk kecil daripada harus menjadi korban kekesalan Jaejin yang sedang dalam keadaan tidak baik ini.

 

“Kau itu kemana saja hyung? Kau tahu, sebagai kekasihmu, aku ini sangat khawatir. Bagaimana kalau kau diculik orang, heh?” Seunghyun memeriksa seluruh tubuh Jaejin.

 

Sedangkan Jaejin sedang mengatur pernafasannya. Mengatur batinnya. Dan mengatur agar shikigaminya tidak keluar untuk mengamuk dan menimbulkan kerusakan besar disekitarnya.

 

“Hari cerahku telah ternoda kembali…”

 

“Ah? Kau kenapa hyung? Sakit? Mau aku gendong ke ruang kesehatan lagi? Ayo sini aku gendong!” Seunghyun berjongkok didepan Jaejin yang masih terpaku. Menghadapkan punggungnya pada Jaejin yang sedang berdiri dibelakangnya.

 

“Hyung, jadi digendong tidak?” Tanya Seunghyun menyadarkan Jaejin dari lamunan indahnya.

 

“Hahaha,” Minhwan tertawa lagi. Tertawa dengan tingkah sahabatnya yang super sekali. Dan kali ini kesadaran Jaejin sepenuhnya telah kembali kepada sang empu.

 

“Song Seunghyun…” Panggil Jaejin pelan.

 

“Iya hyung? Ayo cepat kemari, kita berken-“

 

 

JDUAKK!

 

 

BRUAKK!

 

 

“Kau menodai hari indahku lagi… Sungguh tak akan kumaafkan!”

 

 

BAG! BUG! BAG! BUG!

 

 

BUAAKK!!

 

 

“Jaejin hyung! Berhenti!” Minhwan mencoba menghentikan penyiksaan Jaejin terhadap Seunghyun yang sudah tersungkur tak berdaya. Tubuhnya babak belur bak martabak telur tak siap makan, wajahnya pun kini seperti lukisan abstrak yang tak terkira lagi bentuk dan rupanya. Oke, kurasa ini berlebihan.

 

“Jika tak ingin bernasib sama dengan kawanmu, cepat lepaskan aku, CHOI MINHWAN!!!” Ancam Jaejin yang kemudian memberikan deathglare pada Minhwan. Brrr! Bulu kuduk Minhwan berdiri seketika. Seakan ingin segera melarikan diri dari kulit putih majikannya.

 

“Ah hyung, sudahlah! Lihatlah wajah abstrak Seunghyun! Kau tak kasian heh?” Bela Minhwan pada kawannya yang sudah tepar tak berdaya di tanah itu. Mencoba menyadarkan sang hyung akan tindakannya.

 

“Bukan peduliku! Yang aku inginkan hanyalah membunuhnya saat ini juga!”

 

 

GRRRAAAAA

 

 

“Su-sudahlah, hyung!” Minhwan terus memegangi Jaejin yang hampir lepas kendali. Segel kemarahannya telah terbuka. Kemarahannya kini telah mencapai batas maximum.

 

“Ugh, kau menyakitiku lagi, hyung. Kali ini aku tidak mau tinggal diam!” Ujar Seunghyun yang kini telah berdiri dihadapan Jaejin dan Minhwan.

 

“Berani sekali kau bilang sep-“

 

CHU~

 

“AAAH! Kenapa bibirmu sungguh menggoda, hyung?! Aku sungguh tidak bisa menahannya lagi!” Ujar Seunghyun histeris dan gemas bersamaan seusai kegiatannya mencium Jaejin. Membuat sang korban dan sang pengendali(?) -Minhwan- bengong tak percaya.

 

Jaejin, sekian detik berlalu. Tapi matanya tetap tak mau mengerjap. Membulat penuh bak baso siap makan (?).

 

“. . . . .”

 

“. . . . .”

 

“Bibirku… Bibir indahku… Bibir perjakaku yang kubanggakan… Bibir ini…”

 

“. . . .” Minhwan melepaskan pegangannya pada Jaejin. Menoleh pada Seunghyun yang hanya menanggapi gelengan kecil seolah ia pun tak mengerti keadaan sekarang.

 

“…bibir ini… Telah ternoda… Telah ternoda… Telah ternoda…” Gumam Jaejin terus menerus sambil menyentuhkan jarinya pada bibir tipis kebanggaannya.

 

“. . . . . . . .” Minhwan dan Seunghyun berusaha menelan saliva mereka secara perlahan. Seolah takut bila suara mereka itu dapat mendatangkan petaka baru yang tak terduga.

 

“Song Seunghyun. . .” Gumam Jaejin memanggil Seunghyun. Kepalanya kini menunduk dalam. Dan secara tiba-tiba, kabut asap hitam telah bermunculan diberbagai penjuru tubuh seorang Lee Jaejin. Auranya kini berubah horor. Menimbulkan kesan menakutkan bagi siapapun yang melihatnya, terlebih bagi orang yang telah berurusan dengannya.

 

“Kau…”

 

“. . . .” Kedua sahabat itupun segera merapal do’a dan mantra. Berharap hal buruk tak terjadi sebentar lagi. Berharap diri mereka akan selamat jika bencana besar menimpa mereka saat ini. Terlebih Seunghyun yang kini telah berkeringat dingin. Bibirnya pun terus-terusan mengucap do’a keselamatan jiwanya, karena kemungkinan besar nyawanyalah yang telah terancam bahaya.

 

 

“AKAN AKU BUNUH KAU, SONG SEUNGHYUN!!”

 

 

GRAAAAAAAAAAA!

 

 

XxxxX

 

END

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s