[ff/fti] endless story

ENDLESS STORY

Oneshot

 

Author : fenti arista

 

 

 

XxxxX

 

 

-All Jonghun POV-

 

 

Rumah sakit, ditempat paling kubenci inilah aku bertemu dengannya. Dia yang selalu tersenyum padaku. Dingin, aku hanya memandangnya dingin. Aku tak suka raut wajahnya yang seakan sedang mengolokku diatas ranjang putih ini. Aku benci orang-orang yang dengan mudahnya tersenyum didepanku. Cih, orang-orang yang tak mengerti bagaimana perasaanku.

Dia menghampiriku. Berjalan riang kearahku. Oh, jadi dia memang sengaja sedang mengejekku? Teruslah! Terus saja bersikap seperti itu padaku!

 

“Hei, namamu siapa? Kau belum lama disini, kan? Aku baru melihatmu.” dia tidak lelah apa? Terus-terusan memasang senyum seperti itu. Dia sungguh tak tahu jika semua itu terlihat begitu memuakkan?!

 

“Apa kau buta? Bukankah kau bisa membacanya sendiri di papan nama pasien itu?!” Dia menghampiri papan nama pasienku, mengamatinya. Kembali menatapku dengan memasang tampang itu lagi?! Uh, membosankan.

 

“Choi Jonghun, 19 tahun. Wah, kita seumuran!” katanya dengan riang gembira. Sungguh bikin eneg saja.

 

“Perkenalkan, aku Hongki. Lee Hongki, pasien kamar sebelah itu. Hehehe,” cih, memangnya siapa yang peduli? Siapa juga yang mau tahu tentangmu dan ruang rawatmu?! Ge-er sekali. Ck.

 

XxxxX

 

Hari ini, dia datang lagi ke ruang rawatku. Mau apa lagi?! Tidak tahukah ia bahwa aku benci orang macam dirinya?! Bukankah ia sama-sama seorang pasien sepertiku? Bisa-bisanya ia mempunyai ekspresi yang seakan ia tak sedang menderita. Kau sakit sepertiku, Lee Hongki! Cih, aku sungguh membenci orang macam dirimu yang membohongi diri sendiri dengan memasang wajah sok bahagia.

 

“Hei Jonghun, apa kau merasa sedih? Kulihat kau jarang sekali berbicara.”

 

“Bukan urusanmu! Jangan sok akrab denganku!” jawabku dingin. Ia tersenyum lagi?

 

“Hei jangan begitu. Aku hanya ingin berteman denganmu. Kenapa kau ketus sekali?!” dia berkata begitu sambil mempoutkan bibirnya. Meskipun ia terlihat menggemaskan. Tapi aku tak akan tertipu!

“Baiklah jika kau tak ingin berteman denganku. Tapi aku akan tetap kemari dan menganggapmu sebagai teman! Hehe.” Terserahmu! Bukan urusanku dan aku tak mau peduli!

 

XxxxX

 

Lagi-lagi ia kemari. Berceloteh tiada henti. Apa bibir mungil itu tidak merasa lelah? Hanya melihatnya saja sudah membuatku capek.

 

Tapi…

 

Aku jadi terbiasa. Dia selalu datang kemari saat orang tuaku pulang. Bercerita banyak hal meski aku tak bergeming. Berusaha membuatku tertawa dengan cerita dan tingkah konyolnya. Meski terkadang sangat tidak lucu dan lebih membuatku merasa geli karena polahnya.

 

“Jonghun, itu gitarmu?” Dia menunjuk gitarku yang ada disudut ruangan ini. Aku hanya mengangguk.

 

“Wah, jadi kau bisa bermain gitar? Asiiiikk!” Ucapnya riang. Entah kenapa. Jangan bilang ia ingin aku memainkan gitar ini untuknya?!

 

“Memangnya kenapa kalau aku bisa? Dan kenapa juga kau sesenang itu?” tanyaku dingin.

 

“Hehehe, aku bisa bernyanyi lho. Lain kali mainkan gitarmu dan aku yang bernyanyi. Bagaimana?” Benar, kan? Sudah kuduga!

 

“Tidak mau!” tolakku.

 

“Ayolah, paling tidak mainkan satu lagu untukku sebelum aku pulang. Mau, ya??” pintanya memelas. Jadi dia sudah akan pulang? Tch, pantas saja dia selalu memasang wajah riangnya. Kukira ia berpenyakitan parah dan akan mati. Cih.

 

Yah, sepertinya kali ini pertahananku akan runtuh. Ia sungguh memasang wajah memelas yang keterlaluan! Dan entah kenapa, aku jadi peduli akan hal itu. Huh.

 

“Baiklah. Besok bawa aku ke taman rumah sakit ini. Aku tak mau kena marah pasien lain karena suara berisik gitarku.”

 

Seketika ia melonjak senang. Lihat, jarum infusmu bisa copot karena ulahmu itu. Aish!

 

“Terima kasih Jonghunnie~. Ternyata kau itu baik, y?! Hahaha.” Uh? Apa dia bilang barusan? Dia memanggilku apa? Jonghunnie? Ish, menjijikkan sekali!

 

 

XxxxX

 

Orang tuaku sudah pulang. Dan lelaki aneh itu saatnya kemari.

 

Lihatlah tingkah konyolnya! Sedang apa anak itu? Mengintip dari jendela? Sudah jelas ia melihat ayah ibuku keluar, kenapa juga masih mengintip? Sambil sok sibuk makan pisang? Ya ampun!

 

Akhirnya aku angkat tangan kiriku. Dan menggerak-gerakannya, menyuruhnya masuk. Dan saat itu juga ia berlari sambil membawa cairan infus beserta pisangnya.

 

“Jonghun, kau mau pisang?” tawarnya.

 

“Tidak! Cepat bantu aku berpindah ke kursi rodaku!” dan ia pun mengambil kursi rodaku dan membantuku berpindah. Ia mengambilkan gitarku. Dan detik selanjutnya ia sudah mendorong kursi rodaku.

 

“Aku tidak sabar ingin menyanyi lagi..” ucapnya. Sepertinya ia sangat senang akan bernyanyi.

 

“. . .”

 

XxxxX

 

Kami sampai di taman. Ia membiarkanku tetap duduk di kursi rodaku. Sedangkan ia duduk di sebuah bangku panjang. Kami sedang berada di bawah rindang pepohohan yang tak kutahu namanya. Ia menutup mata dan menarik nafasnya panjang.

 

Menengadahkan wajahnya ke langit dan perlahan membuka matanya. Entah mengapa, rasanya aku semakin tertarik dengan wajah itu. Dengan tawa cerianya yang hampir tak pernah luput dari wajahnya.

 

Choi Jonghun, kau telah berubah sepertinya.

 

“Mau mulai?” tanyanya padaku dengan semangatnya. Sesenang itukah?

 

“Ya,” jawabku singkat.

 

Jentikan jari pada gitarku mulai berirama. Aku pun mulai menikmatinya. Menunggunya membuka bibir dan melantunkan sebuah lirik lagu.

 

. . .

 

. .

 

.

 

Sometimes, pause for a moment

 

Far away, on the other side of the road

 

There is us back in those days

 

After you looked back the track that we have been passing through

 

Walk forward to the new world again

 

Find out the vague existence

 

Every day the adventure of life is endless way

 

The answer is always (to) be myself

 

Never compromise

 

Anytime my life, my life

 

We also imagine our future

 

Ourselves making making our dreams come true one by one

 

Sometimes we feel like throwing them away but

 

Everything ends if we give up

 

As many times as we fall down

 

We’ve been getting over with our regained heart

 

Smash down the limit in front of you

 

Anyway anytime it’s the only way yeah

 

Even if getting dusty, be my self

 

Event if you get damaged with many scars

 

It’s okay

 

Be yourself

 

If time never goes back

 

Everyday cherish every moment

 

Not to betray oneself up to this point

 

Fine out the vague existence

 

Everyday the adventure of life is endless way

 

The answer is always (to) be myself

 

Never compromise

 

Anytime my life, my life . . .

 

. . .

 

. .

 

.

 

[EngTrans-Life-FTIsland]

 

Dan satu petikan pada gitarku menandai berakhirnya duet kami.

 

Suara yang indah. Itulah kesan pertama hingga akhir duet kami. Sungguh. Sampai aku tak tahu harus berkata apa untuk mengumpamakan keindahan suara itu. Kali ini aku sungguh tak bisa berbohong, aku menyukainya. Menyukai suara emas miliknya. Suara yang sangat dalam. Suara yang mampu menusuk perasaan hanya dengan sebait lirik yang terucap dari bibirnya. Suara itu, mampu menjatuhkanku dalam lubang penghayatan yang begitu dalam, mengajakku masuk lebih jauh dalam symphony indah yang mengalun dari bibirnya. Satu kalimat yang tak bisa kupungkiri…

 

Aku, Choi Jonghun, telah terpesona dengan indah suara milik seorang Lee Hongki. . .

 

“Terima kasih, ya? Aku sangat senang. Sudah lama sekali aku tak bernyanyi sebahagia ini. Aku kira aku lupa cara bernyanyi dengan riang seperti waktu kecil. Tapi ternyata tidak. Hehe.” Dia bermaksud bercerita padaku?

 

“Memangnya kenapa begitu?” tanyaku yang mulai ingin tahu dengan kisahnya.

 

“Hm, sejak kecil aku selalu dibayangi sesuatu yang aku takutkan. Hingga aku takut aku tak bisa lagi sekedar untuk tersenyum. Aku selalu bertindak semauku untuk menutupi rasa takutku.” Dia menghela nafas dalam. Menerawang langit seakan ia tengah mengingat kembali ke masa lalunya. Takut? Dengan apa?

 

“Apa yang kau takutkan?” tanyaku kemudian. Ia menoleh padaku dan tersenyum.

 

“Kematian,” jawabnya singkat dengan tetap memasang senyumnya.

 

“Hm?” Hanya itu yang keluar dari mulutku.

 

“Hehe, kau tahu, itu hanya pikiran konyol seorang anak kecil, Jonghun.” Katanya, seakan ia tengah mengetahui apa yang ingin aku tanyakan selanjutnya.

“Sejak kecil, jantungku sudah bermasalah. Oleh karena itu, aku jadi takut dengan yang namanya ‘kematian’ yang tiba-tiba menjemputku. Aku takut membuat orang-orang didekatku menjadi sedih karena hal itu.” jelasnya kemudian. Raut wajahnya menjadi muram. Seperti mengingat sesuatu yang pernah membuatnya sedih.

“Pernah suatu ketika ada temanku yang mengolokku, mengolok penyakitku dan bilang aku akan mati tak akan lama lagi, aku sangat marah, aku benci kata itu. Tanpa sadar, aku memukuli temanku itu hingga ia pingsan. Ibuku dipanggil ke sekolah. Saat itu aku diminta untuk meminta maaf pada orang tua temanku. Tapi aku tetap diam. Hingga…” ia menghentikan ucapannya. Menarik nafas panjang sebelum akhirnya membuka mulutnya lagi.

“Ibuku berlutut meminta maaf pada mereka. Saat itu aku sungguh terkejut. Hanya karena kesalahan yang aku buat, ibuku harus berbuat sejauh itu. Aku menyesal. Sungguh menyesal dengan tingkah kekanakanku. Apa kau tahu apa yang dikatakan ibuku setelah kami keluar dari ruang guru?” tanyanya padaku. Aku hanya menggeleng pelan. Menyimak kisahnya yang hendak ia lanjutkan.

“Ibuku berkata, ‘Hongki, kau tidak apa-apa kan? Bagian mana yang sakit? Sini ibu obati!’. Aku hanya diam terpaku menatap ibuku yang sibuk memeriksa keadaan tubuhku. Dan saat itu juga, aku menangisi ulahku. Meminta maaf pada ibu yang sangat kusayangi.”

 

Aku tetap terdiam. Tanpa sadar, air matanya mulai terjatuh. Ia mengusapnya dengan kasar. Dan kembali pada dirinya yang sebelumnya. Memasang senyum diwajahnya.

 

“Dan mulai saat itu juga, aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk membuang jauh-jauh rasa takutku. Dan juga berjanji pada ibuku, aku akan selalu tersenyum bahagia sampai akhir hanya untuknya.” Lanjutnya. Ia menoleh padaku dan tersenyum lebar. Dan untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu, aku tersenyum kembali, meski sekedar senyuman tipis. Bermaksud membalas senyumannya.

“Aku sudah menceritakan kisahku. Ceritakan juga sedikit kisahmu padaku!” pintanya. Tapi…

 

“Aku tidak punya kisah menarik…” kataku dengan maksud menolak menceritakan kisahku. Tak adil? Ya, memang. Tapi aku benci menceritakan kisahku pada orang lain.

 

“Kau belum menganggapku teman, ya? Huft, kukira aku bisa tahu sedikit tentangmu dengan caraku yang telah menceritakan kisahku. ” Ucapnya. Kecewakah ia?

 

“…Aku lumpuh,” kataku tiba-tiba. Ia menoleh kearahku. Menunggu lanjutan ceritaku.

“Berbeda denganmu yang pernah merasa takut mati. Aku sempat mencoba untuk bunuh diri setelah aku divonis lumpuh setahun lalu.” Sepertinya ia terkejut dengan ceritaku. Tapi ia tetap diam. Menungguku melanjutkan kalimatku lagi, mungkin.

“Aku berada disini sekarang, akibat percobaan bunuh diriku untuk ketiga kalinya.” Aku mengakhiri kalimatku. Menghela nafas pelan.

 

“Sebegitu inginnyakah kau mengakhiri hidupmu?” tanyanya padaku dengan melempar senyum tipis padaku.

 

“Hidup dengan menderita lumpuh disisa hidupku, sudah sama seperti mati. Lalu untuk apa aku terus mencoba tetap bertahan hidup?” tanyaku. Tapi tak untuk meminta jawaban darinya.

 

“Untuk orang-orang yang menyayangimu. Setidaknya mereka bisa tetap melihatmu meski keadaanmu yang lumpuh. Mereka tak menuntut apa-apa darimu. Sekedar melihatmu. Pasti hanya itu yang mereka harapkan.” ucapnya kemudian tanpa melihat kearahku. Dan detik kemudian ia melempar senyumnya lagi padaku. Huh!

 

“Sebenarnya mereka juga bersedih melihatmu seperti ini. Bukankah mereka hebat? Bisa menyembunyikan kesedihan mereka darimu? Karena mereka berpikir, jika mereka terlihat bersedih, kau pun pasti akan merasa semakin bersedih. Dan mereka tidak mau itu terjadi.” jelasnya panjang lebar. Tapi… Begitukah? Ia tak mengerti bagaimana perasaanku. Bukankah berkata itu lebih gampang daripada menjalani? Tch.

 

“Kau bisa berkata begitu, karena kau tak ada diposisiku,” kataku dingin. Ia hanya tersenyum.

 

“Jika aku bisa terus hidup untuk melihat orang-orang terdekatku tersenyum bahagia, dengan senang hati aku akan menerima kondisiku yang sepertimu.” ucapnya dengan enteng dan tetap memasang senyumnya.

 

“Sebegitu sayangnyakah pada orang-orang ‘itu’?” tanyaku yang kurang percaya pada apa yang telah diucapkannya.

 

“Ya, sangat-sangat menyayangi mereka.” ucapnya penuh riang dan semangat.

 

“. . .”

 

 

XxxxX

 

Sudah 2 hari ini dia tidak datang. Kenapa aku mengharap kedatangannya? Apa… Aku mulai peduli dengannya? Apa aku mulai menganggapnya teman? Entahlah. . .

 

Mungkin aku telah menganggapnya seorang teman. . .

 

Ya, aku rasa kami memang berteman.

 

Tanpa sadar aku mengulum senyum untuknya. Senyum tulusku untuknya.

 

 

Tok Tok Tok

 

 

Terlihat seorang gadis remaja menyembul dari balik pintu.

 

“Apa benar kau yang bernama Jonghun oppa?” tanya gadis itu. Aku hanya mengangguk. Kemudian ia masuk dan berjalan kearahku.

 

“Hongki oppa menyuruhku memberikan ini padamu,” ia menyerahkan sebuah kertas tanpa amplop itu padaku. Aku belum membukanya.

 

“Memangnya Hongki kemana?” tanyaku. Ia menunduk sedih. Ada apa?

 

“Hongki oppa… Sudah kritis sejak kemarin.”

 

Tu-tunggu!

Kritis?

Bukankah ia sehat-sehat saja?

Bukankah ia bilang akan segera pulang?

 

“Apa maksudmu? Kemarin lusa bukankah ia masih baik-baik saja?” tanyaku mulai khawatir.

 

“Tidak, Hongki oppa sebenarnya tidak baik-baik saja. Ia memang seperti itu, tidak pernah menunjukan kesedihan dan kesakitannya pada orang lain. Dia… Selalu seperti itu demi menjaga agar orang-orang disekitarnya tidak sedih terhadap keadaanya.” jelasnya panjang lebar. Jadi, begitu? Aku telah meremehkanmu selama ini? Ugh.”Hongki oppa telah divonis bahwa ia tak akan bisa bertahan hidup diatas usia 20 tahun..”

 

NYUUUTT

 

“Penyakit jantung itu telah menyiksanya. Selama ini ia hanya bergantung hidup pada obat-obatan yang terus dikonsumsinya. Berharap kematian tak datang lebih awal. Dan sekarang dia… Dia sedang berjuang hidup. Berjuang menggapai kesempatannya menghirup udara bebas lagi.”

 

Tes

 

Air mataku menetes bersamaan dengan pecahnya tangis gadis itu.

 

XxxxX

 

Aku menghampirinya…

Melihatnya dari balik jendela ruang rawatnya. Tubuhnya terpasang begitu banyak benda penyambung nyawanya. Sampai pada satu saat dimana alat pendeteksi detak jantung itu telah berbunyi nyaring nan panjang. Nafas panjangnya terputus tiba-tiba. Satu bulir jatuh dari sudut matanya yang terpejam. Tak lupa, senyuman khas dirinya.

 

Kau telah memenuhi janji itu, Lee Hongki. . .

 

Tersenyum hingga akhir. . .

 

Jadi inilah yang kau maksud dengan ‘Pulang’ waktu itu?

 

 

XxxxX

 

Setahun kemudian. . .

 

 

Aku telah bisa tersenyum pada semua orang. Tersenyum pada orang-orang yang menyayangiku. Aku juga jauh lebih menyayangi dan menjaga tubuhku dengan hati-hati.

 

Kau telah mengubahku, apa kau tahu? Apa kau melihat perubahanku disana?

 

Kau membuatku lebih hidup, Lee Hongki.

 

Surat terakhirmu. . .

 

Akan kusimpan selamanya sebagai bukti kau pernah ada dalam kehidupanku. . .

 

 

XxxxX

 

 

XxxxX

 

Hoi Jonghun! Kau tahu? Akhirnya apa yang aku takutkan itu telah benar-benar terjadi. Sejujurnya aku tetap takut pada semua ini. Hehe. Tapi tidak ada gunanya juga aku mengeluh atau pun memperlihatkannya pada orang lain. Itu hanya akan membuat mereka semua jadi semakin bersedih melihatku. Meski begitu, aku senang bisa ‘pulang’ dengan damai dan bahagia. Setidaknya sampai aku menulis surat ini, aku masih bernafas. Dan ini anugerah, bukan? 

 

Kau tahu, duet kita kemarin benar-benar hal terindah yang aku peroleh sebelum ‘kepulanganku’ ini. Tentu juga karena mendapatkan teman secuek dan seketus dirimu! Hahaha.

 

Hei ingat! Jaga baik-baik tubuhmu! Aku akan mengutukmu dari ‘sana’ jika kau menyia-nyiakannya lagi. Haha.

 

Ah, aku benar-benar bahagia bisa bertemu kalian semua. 

 

Aku yakin kisah kita tak akan berhenti hanya karena ‘kepulanganku’ yang mendahului kalian. 

 

Aku yakin. . .Kisah kita terus berlanjut meski kita berada dalam ‘rumah’ yang berbeda.

 

Dan aku. . .

 

Aku akan melanjutkan kisahku di ‘rumah baru’ ini🙂. 

 

Aku menyayangi kalian :’).

 

 

 

Lee Hongki

 

XxxxX

 

END

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s