Belajar menulis…

Strategi Menulis FF

FF merupakan seni menuang kata di ruang terbatas. Ibaratnya, kita diberi beberapa kaleng cat, lantas kita diminta mengecat semua dinding dalam ruangan. Semakin sedikit kaleng yang dipunyai, semakin hati-hati kita mengecat. Agar tidak banyak residu yang terjatuh di lantai.

Membuat FF dengan 1000 kata, tentu berbeda dengan membuat FF dengan 100-200 kata. Dalam FF 1000 kata, kita masih boleh boros dalam pemakaian kata. Alur yang dibuatpun, masih bisa meliuk, seperti benang layang-layang. Tetapi tidak demikian halnya dengan cerpen 100-200 kata. Alur yang kita buat, pantang kendor sedikitpun. Seperti benang gitar, FF 100-200 kata harus tercencang kencang. Padat bahasa dan sarat makna.

4 Langkah Praktis Dalam Meracik FF

 

Langkah #1 : Mulailah Menulis

Setelah membaca Strategi menulis FF, atau beberapa referensi FF lain, sejenak lupakan semua teori FF yang pernah Anda baca. Mulailah menulis.

Tak usah pedulikan seberapa panjang tulisan Anda. Gulirkan semua ide di kepala, tumpahkan dalam bentuk tulisan sepuasnya.

Langkah #2 : Mulailah Mengedit

Setelah tuntas menulis, mulai lakukan pengeditan. Pangkas  pemakaian kata sifat dan kata keterangan yang tidak benar-benar penting. Dalam FF 55 kata atau kurang, pemakaian kedua kata tersebut sedapat mungkin dihindari.

Contoh FF 100 Kata

Sepenggal Kisah Ultah– by Saturindu

Gadis bergaun putih datang tiba-tiba. Berbisik ia pada sobatku Fien, lantas duduk di sebelahnya. Tak lama kemudian ia memegang mic, siap berkaraoke ria. Terdengar kicaunya yang sengau, iringi musik yang kian berisik. Premis awal ia biduanita, terkikis dengan sendirinya.

Fien mengecilkan volume musik. “Eh, kasih ucapan selamat ultah, buat Suga!”

Setelah kami bersalaman, gadis itu didaulat memotong kue ultah.

Fien meraih kameranya, siap membidik momen terbaik. “Ayo, berikan potongan pertama untuk Suga.”

Terdengar suara lain menimpali,”sekalian disuapin ke mulut, yah!”

Setelah menikmati suapannya, gadis itu permisi pergi.

“Wah, siapa tadi, Fien?”tanyaku.

“Gadis setengah mabuk itu? Entahlah, aku juga baru kenal.”

Guna memampatkan cerita,  kata keterangan dan kata sifat seperti : ‘bergaun putih’, ‘berisik’, ‘tak lama kemudian’, ‘sengau’ pada FF 100 Kata di atas mesti dipangkas. Deskripsi ‘Terdengar kicaunya yang sengau, iringi musik yang kian berisik’ juga bisa diganti menjadi deskripsi yang lebih sederhana: ‘musik mengecil’.

Demikian halnya dengan deskripsi ‘Fien meraih kameranya, siap membidik momen terbaik’, yang bisa dibuang. Kata ‘permisi pergi’ juga kurang efektif. Cukup disederhakan menjadi ‘pergi’. hasilnya, FF 100 kata di atas bisa disederhanakan menjadi ff 55 kata, sebagaimana berikut:

Contoh FF 55 kata :

Sepenggal Kisah Ultah– by Saturindu

Seorang gadis datang. Berbisik ia pada Fien, lantas duduk dan siap karaoke.

Musik  mengecil. “Ucapin selamat ultah, buat Suga!”

Setelah kami bersalaman, ia  didaulat Fien memotong kue <span> </span>

“Berikan potongan pertama untuk Suga.”

Suara lain menimpali,”suapin sekalian…”

Setelah sekalian mengecup keningku, gadis itu pergi.

“Siapa tadi, Fien?”tanyaku.

“Gadis setengah mabuk itu? Entahlah, aku juga baru kenal.”

Baca kembali tulisan Anda. Masih terasa masuk akal? Jangan lupa, ganti kalimat pasif dengan kalimat aktif. Kecuali benar-benar perlu, hindari juga pemakaian kalimat majemuk. Pecah kalimat majemuk menjadi dua atau tiga kalimat.

Langkah #3 :  Baca ulang tulisan Anda, lalu jawab   pertanyaan berikut:

A.

Apakah cerita Anda sudah memiliki plot/alur yang jelas?

Coba identifikasi sendiri, sudahkah cerita Anda memiliki bagian permulaan, pertengahan dan ending yang jelas? Masih adakah korelasi yang logis?

Jika jawabannya tidak, bersiaplah untuk merevisinya.

B. 

Sudahkah inti cerita  tersampaikan sesuai dengan tema?

Jika belum, gagas ulang cerita anda.

Bila sudah, Lihat kembali jumlah kata. Sudah memenuhi kriteria yang disyaratkan (misalnya 100 kata)? Atau masih melebihi jumlah yang seharusnya? Atau justru malah kurang?

Jika jumlah kata dalam cerita Anda masih terlampau banyak dari jumlah yang disyaratkan, amati kembali pemakain kata-kata. Sudahkah tiap kata berdaya guna? Masih adakah beberapa kata yang kurang penting pemakaiannya? Segera lakukan pemangkasan. Pangkas juga dialog yang tidak menambah kedalaman makna. Anda bisa menggantinya dengan deskripsi singkat.

Jika jumlah kata dalam cerita Anda masih terlampau sedikit, fokuskan kembali perhatian Anda pada inti cerita. Kembangkan dialog di dalamnya. Pakai teknik “Show, Not Tell” di bagian terpentingnya.

Langkah #4 : Publikasikan Tulisan

Setelah tuntas menjawab langkah ketiga, posting tulisan di Blog Anda atau kirim di media lain.

Untuk perbaikan kualitas tulisan di masa mendatang, tiap akhir pekan sediakan waktu untuk membaca ulang tulisan yang telah dibuat. Anda mungkin akan terkejut mendapati beberapa  ‘lubang’ di sana-sini.  Segera perbaiki. Kebiasaan seperti ini, apabila diasah terus-menerus, akan membuat Anda cepat tanggap terhadap kekurangan diri sendiri. Pada gilirannya nanti, tulisan Anda akan ‘lebih bersih’ dari editting & revisi.

Mari terus menulis, biar cuma sebaris…

3 thoughts on “Belajar menulis…

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s